Ingin Kuberi Kejutan, Ternyata Pacarku Telah Berbadan Dua
Cari Berita

Ingin Kuberi Kejutan, Ternyata Pacarku Telah Berbadan Dua

MARJIN NEWS
24 January 2019

Ilustrasi. Dok.Istimewa

CERPEN, marjinnews.com  - Benar kata orang, Wanita itu seperti Blutoot, selalu tersambung dengan perangkat yang terdekat. Jika perangkat itu menjauh, maka ia akan mencari perangkat yang lain.

***
Intan, begitu namanya disapa. Nama lengkapnya Martina Ananda Tan. Putri ketiga dari pasangan, yang ayahnya adalah seorang  mantan Kades sedangkan ibunya mantan Ibu PKK di sebuah Desa di Manggarai. Kini kedua orang tuanya telah pindah ke Ruteng. Semenjak tak lagi menjabat sebagai kepala desa, ternyata ayah Intan lolos di Pileg perode lalu, dan kini mencalonkan lagi, namun pindah partai, akibatnya ayah Intan di PAW.

Intan, adalah salah satu penggemar artis Vanessa Angel, namun sayang, ketika Vanessa terjerat kasus prostitusi online, kini Intan beralih menjadi penggemarnya Fitus. Mengenai siapa Fitus, akan dikupas tuntas setajam pisau dapur berikut ini.

Intan itu seorang gadis pemberani, namun cuman berani dengan adiknya yang masih kelas 5 SD. Intan juga masih masuk nominasi gadis cantik, mempesona. Jika saja di RT mereka ada penghargaan seperti penganugrahan putri Indonesia. Bagaimana tidak, Intan kurang apa, bodi sudah bohai. Pokoknya, membuat laki-laki merasa aduhai ketika melihatnya. Senyumannya yang khas, dari pipi lesungnya sangat terpancar. Jika disapa ia selalu menjawab dengan nada suara yang corak, agak sedikit halus seperti suaranya sinden dalam pagelaran pewayangan.

Dia adalah satu-satunya cewek yang setiap kali aku tegur saat bertemu, selalu berjabat tangan.
Berbeda dengan Resty, salah satu temannya Intan. Jika aku beretemu Resty, hanya menyapa alakadarnya saja, bahkan  kadang juga hanya mengangguk tidak bersuara. Apalagi Heny, gadis bermata empat, tidak berbeda jauh dengan pola Resty, sama-sama melakoni hal serupa jika saya sapa.

Ketiga darah jelita ini berasal dari daerah yang sama yaitu berasal dari wilayah yang terletak di ujung Flores bagian Barat. Namun, ketiganya beda kabupaten. Intan dari Manggarai Tengah, kampungnya masih terletak di dalam lingkaran kota Ruteng, Ibukota Kabupaten Manggarai. Sedangkan Resty berasal dari Manggarai Timur. Kampungnya persis berada di wilayah penghasil kopi. Tidak salah jika oleh teman-temannya yang sesama dari Manggarai, Ia kerap dipanggil gadis Kopacol yakni Kopi Pa’it Colol. Dan Heny, gadis yang memakai kaca mata ini boleh disebut pemiliknya Komodo. Sebab Ia berasal dari Labuan Bajo.

Singkat cerita, ketiga molas Nuca Lale  yang masing-masing memiliki paras cantik dengan gaya khas tersendiri sedang mengenyam pendidikan di salah satu Perguruan Tinggi ternama di Pulau Dewata. Ketiganya mengambil kosentrasi jurusan di Fakultas yang berbeda.. Jika Intan di Fakultas Ekonomi, maka Resty di Fakultas Hukum, serta Heny di Fisipol.

Intan adalah satu- satunya gadis yang aku kenal lebih dekat. Bukan karena sesama dari Ruteng. Tetapi karena ada Fitus. Dari gosip yang beredar di jagat gang tempat kami tinggal, disertai juga oleh laporan dari tetangga sebelah, bahwa antara Fitus dan Intan sedang menjalin  koalisi hati yang boleh dianggap sudah semi permanen.

Antara aku dan Fitus disebut temanan. Ceritanya begini, waktu SMA dulu kami satu sekolah. Kami bertemu kembali ketika di Bali. Waktu SMA Fitus di Jurusan IPS sedangkan saya di Jurusan Bahasa. Oh ya, hampir lupa, aku adalah murid pindahan dari salah satu sekolah favorit di kota Ruteng. Biar Pembaca tidak penasaran saja, aku pindah gara-gara berantem dengan teman karena rebutan cewek. Memang sih, antara aku dan Fitus waktu SMA dulu tidak terlalu akrab. Namun ketika kami di Bali akrabnya kami minta ampun.

Di sini, tempat tinggal kami tidak terlalu berjauhan. masih di satu gang. Fitus selalu bermain ke kosku jika ia tidak ada rokok, begitu juga sebalinya saya. Walaupun, jika saya ke kosnya Fitus sering duduk kosong akibat ijin bon di warung bu pojok telah dicabut gara-gara salah satu teman kami kabur sampai sekarang dengan tunggakan pembayaran mencapai Rp. 37.500. 

Bu Pojok tagihnya ke Fitus, dan sesekali tanya ke saya mengenai keberadaan teman itu. Kami hanya mejawab, sabar ibu, teman kami itu bukan bang Toyip yang tidak pulang-pulang. Sabar, orang sabar disayang suami. Ibu pojok hanya tersenyum mendengar guyonan iu, proses penagihan bon itu akhirnya hilang sejenak, meski keesokan harinya ditagih lagi dan ditagih lagi sampai bu Pojok pikun sendiri di bagian bon teman kami yang kabur tersebut. 

Pada hal jika dipikir-pikir sebenarnya kami seharusnya yang bayar itu bon. Sebab, waktu itu kalau tidak salah teman kami itu hanya pasang nama saja di buku daftar bon bu pojok. Sekarang teman kami itu sudah pindah kos. Dia tinggal di mesh milik majikannya di Nusa Dua.

Dalam pergumulan dan berdasarkan penerawangan saya, jika diperhatikan secara saksama dan dalam tempo satu minggu belakangan ini, gelagat Fitus semakin bertingkah. Anaknya om Anjing (mereka banyak peliharaan Anjing di rumah) ini seperti lagi ketiban durian runtuh. 

Spekulasi di otaku pun mulai beroperasi. Jangan-jangan ini yang disebut sebuah gejala akibat telah terjadi sesuatu yaitu telah berhasil mendapatkan Intan, seperti isu yang tengah berhembus di kalangan warga gang. Pada suatu waktu saya ingin mengkonfrontasi Fitus untuk mendapat kepastian mengenai desas desus yang terus menjadi biang gosip di antara kami kaum yang sedang menyandang gelar jomblo. 

Bukan tanpa alasan diriku untuk melakukan hal tersebut. Paham saja, semenjak aku mengenal Intan, sebagai seorang lelaki tulen, pastilah  didriku memiliki perasaan yang lebih untuk menggarap hatinya. Bisa disebut, diriku sebenarnya lagi mengincar Intan. Bahkan niatku sudah 98%  ingin menembak dia, namun tidak enak, aku  masih mempertimbagkan harkat dan martabat Fitus sebagai teman satu gang untuk melakukan hal itu.

‘’Tus, benar kamu pacaran dengan Intan,’’ Sahutku bercampur canda.

‘’Emang kenapa teman,’’ jawabnya dengan nada sedikit santun.

‘’Saya dengar begitu ewm, benar kha,’’ tanyaku penasaran.

Sementara kami berbincang muncul telepon masuk di Hand phone Fitus. Ternyata itu adalah telpon dari Intan. Rencana konfrontasi dengan sendirinya gugur seketika. Tanpa diperintah oleh siapapun Intan dan Fitus akhrinya mengklarifikasi itu di hadapan diriku. Dan pada akhirnya,aku paham dengan desas desus itu ternyata benar adanya. Alias bukan hoaks. Dengan segala hormat kepada tuan kamar, aku pun pamit pulang dan memepersilahkan Fitus untuk terus bebicara dengan Intan. Saya sengaja  tidak ingin mendengar gurauan dan percakapan yang berisi romantis diantara mereka waktu itu.

Seiring berjalannya waktu, saya memperhatikan antara Fitus dan Intan sering beduaan dan mulai lengket seperti perangko. Jika Itan hendak pergi ke kampus Fitus selalu mengantarnya. Begitupun kalau pulang. Boleh disebut Fitus bisa jadi bang gojek garis miring menjabat sebagai pacar.

Hampir lupa lagi kuceritakan, Fitus sebenarnya tidak kuliah. Dia bekerja di sebuah tempat cuci sepeda motor milik pak Tut. Fitus orangnya tidak pelit, gajinya setandar UMK Kota Denpasar. Fitus orangnya royal. Sudah tiga bulan ia bekerja di tempat cuci motor itu. Setiap kali menerima gajian selalu ajak kami untuk minum ar*k.

Progres Fitus selama menjalani hubungan asmara dengan Intan lumayan meningkat drastis. Fitus kini terlihat mulai berubah. Kalau biasanya selalu becerangkarama dengan kami di kala pulang kerja, sekarang Fitus lebih banyak menyisahkan waktunya bersama Intan sang pacar kandung. Begitulah ia sebut.

Kalau Intan ada print tugas, selalu Fitus yang mengantarnya ke tempat print. Kemana-manapun selalu Fitus yang mengantarnya. Kecuali ke toilet karena itu ranahnya jamban beserta bak air dan gayung. Jika sebelumnya di kos Fitus sering masak, kini lebih angkat gengsi yakni makan di luar atau hang out. Pernah sekali Fitus meneceritakan kepada tanta warung pojok saat beli rokok batangan, bahwa mereka sudah pernah ke mall untuk membeli baju hadiah ulang tahun untuk Intan. Tanta warung pojok menceritakan kembali kepada saya dan saya melanjutkan ceritanya ke nona dari Maumere yang kemudian nona Maumere itu menceritakan kembali kepada Fitus.

Pengorbanan yang dilakukan Fitus kepada Intan begitu besar. Sebesar danau Rana Mese yang besar itu. Dalam hitungan saya, hampir separuh atau bahkan mungkin seluruh uang gaji Fitus setiap bulan bisa dikatakan focus penggunaanya diproritaskan hanya untuk Intan. 

Perhitungan itu saya lakukan atas dasar gejala yang terjadi, sebab Fitus tidak seperti biasanya saat sebelum berpacaran dengan Intan. Bayangkan, kini Fitus mulai minta join rokok dengan saya yang sudah jelas-jelas rokoknya saya itu juga join dari teman. 

Saat saya menganalisis Fitus dari segi pemasukan dan anggaran di dalam  pacaran mereka, sepertinya yang menjadi menteri keuangan Fitus saat ini adalah Intan. Dan mungkin juga, mereka sedang menerapkan pengiritan yang besar-besaran. Seperti kata bang Doyok salah satu pemeran film komedi yang bermain bersama Kadir, mana kita tahu, sebab, mungkin saja demi beli tempe yang kata Sandi Uno seorang calon wakil Presiden kita, tempe sekarang tebalnya setipis ATM. Makanya Fitus dan Intan melakukan penghematan. Itu hanya analisis saya, sebab jika Rocki Gerung yang menganalisis pacarannya Fitus dengan Intan pasti dalilnya adalah bukan Intan yang salah tetapi Fitus. Maka layaklah Fitus disebut kedungan dalam berpacaran.  

Lagi ranumnya kisah cinta anatara Fitus dengan Intan, Fitus tiba-tiba terkena musibah. Fitus kecelakaan motor. Ia ditabrak. Kondisinya cukup parah. Oleh Dokter yang menanganinya, kakinya dinyatakan harus diamputasi. Orang tua Fitus di kampung tidak tahan mendengar vonis yang diterima anak mereka itu.

Orang tuanya tetap ngotot. Ayah Fitus tidak mau kaki anaknya itu diamputasi. Sang ayah memaksa agar Fitus dipulangkan saja ke Manggarai untuk diobati secara tardisional. Kata ayah Fitus ada seorang dukun di kampung mereka yang bisa mengobati itu, separah apapun patahnya. Dokter di rumah sakit pun tidak bisa menjalankan amputasi itu.

Dibantu oleh saudaranya yang sekampung dengannya, Fitus akhirnya dipulangkan ke kampung halaman dengan menggunakan Pesawat. Ayah Fitus mejemputnya di Bandara Komodo Labuan Bajo.
Sebelum balik ke Manggarai, Fitus memberi pesan kepada Intan sang kekasih.

‘’Intan saya pulang dulu. Kamu baik-baik yach disini. Rajin kuliah dan jaga cinta kita. Jika aku udah sembuh aku akan balik lagi ke Bali,’’pesan  Fitus kepada Intan.

Dengan air mata yang sudah menetes di pipi, Intan mencium tangan Fitus. Intan hanya menjawab dengan anggukan pesan yang disampaikan oleh Fitus.

Hampir dua bulan Fitus mejalani pengobatan di kampung. Awal hidup di kampung, antara Fitus dan Intan masih menjalani komunikasi yang biasa layaknya sepasang kekasih tengah menjalani hubungan jarak jauh alias LDR.

Dalam hati kecil Fitus selalu mengaharapkan agar jika kelak sudah sembuh akan kembali lagi ke Bali untuk bisa bersama lagi dengan Intan. Sosok Intan oleh Fitus sudah diperkenalkan juga kepada orang tuannya. Ibu Fitus sangat mendukung anaknya itu dengan Intan. Apalagi mendengar bahwa Intan pacarnya itu sedang kuliah, betapa bangganya mereka. Suatu waktu Intan menelpon Fitus, tak disangka yang mengangkat telponnya itu adalah ibunnya Fitus, Saat itu Fitus sedang menjalani ritual pengobatan bersama dukun kampung yang mengobati kakinya yang patah.

Lama Intan dan Ibunya Fitus bicara. Ibunya Fitus menerangkan semua kepada Intan mengenai kondisi Fitus sekarang.

Kini Fitus sudah memasuki empat bulan menjalani pengobatan di kampung. Dari pengobatan yang dijalaninya  sudah ada sedikit perubahan. Kaki Fitus mulai bisa digerakan. Namun harus perlu perawatan terus hingga satu bulan lagi untuk bisa berjalan. Dan berdasarkan penjelasan sang dukun minimal sampai 1 bulan lagi baru bisa normal seperti biasa. Mendengar penjelasan itu hati Fitus dan kedua orang tuanya mulai lega.

Seiring lamanya Fitus di kampung, komunikasi antara Intan dan  Fitus secara perlahan mulai redup. Jika biasanya setiap hari Intan mengirim pesan menanyakan kabar Fitus, kini berubah, hampir selama sepekan tidak ada sama sekali.

Karena tidak tahan melepas rasa kangen, Fitus mencoba meenelpon Intan. Namun sayang, saat itu, Intan menolak panggilannya. Jelang semenit kemudian menyusul pesan dari Intan agar jangan diganggu, lagi mengerjkan tugas makalah yang sebentar lagi akn dipresentasikan.

Fitus mencoba untuk menunggu dengan perkiraan sampai pengerjaan makalah itu selesai, sampai beberapa jam Fitus mencoba untuk menelpon kembali, Nomornya Intan sedang sibuk. Fitus kembali mengirim pesan namun Intan tidak membalasnya.

Setiap kali  Fitus menelpon selalu saja ada alasan dari Intan. Fitus pun tidak terlalu menanyakan, ia tetap percaya dengan semua yang dikatakan Intan…….

Bersambung…..

Oleh: Remigius Naahal
Penulis adalah Pecinta Kopi Manggarai

Cerita ini hanyalaah Fiktif belaka, apabila ada kesamaan nama tokoh dan tempat itulah hanya kebetulan.