Hai, Lena
Cari Berita

Hai, Lena

MARJIN NEWS
22 January 2019

Ilustrasi. Dok. Istimewa

CERPEN, marjinnews.com - Andai aku bisa undur diri dari rasa ini mungkin sudah kulakukan dari jauh jauh hari , namun semakin kucoba melupakan semakin kuterjebak dalam perasaan yang tak karuan.

Aku bukanlah seorang pujangga yang pandai merangkai puisi tentang cinta. Bukan pula sang penyair yang pintar menyusun kalimat puisi romantis. Yang aku rasa. Hatiku selalu tertaut padamu ketika aku lelah. Pikiranku selalu tertuju padamu ketika aku bingung dalam keadaan getir akan perasaan untuk memiliki dirimu seutuhnya.

Mungkin aku tak mengerti tentang cinta. Hanya sebait pendek dari kalimat syahdu  ini, aku utarakan perasaan cinta. Cinta sejati yang tulus dan murni untukmu yang saat ini merasuk jiwakuAku mencintaimu seperti aku mencintai diriku sendiri.

****
Namanya, Lena. Perempuan pemilik senyum simpul. Parasnya cantik, memiliki kulit sawo matang. Siapa saja laki-laki yang melihatnya pasti akan jatuh hati. 

Di pertengahan Januari ini, aku sepertinya terbius oleh sosok ini. Semenjak perjumpaan pertama itu, seakan senyuman yang pernah ia lemparkan kepadaku terus saja terbayangi olehku setiap kali aku mengingatnya.

“Hai, dari mana?’’ Tanyaku saat perjumpaan pertama kali dengannya waktu itu.
‘’Oh ya, nama kamu siapa,’’ lanjutku.

Tangannya yang begitu halus bagaikan kain sutra itu disodorkan kepadaku, yang saat itu sedang dug dag, oleh sebuah rasa yang saat itu datang secara tiba-tiba.

‘’Lena kak,’’ jawabnya singkat, sembari melemparkan senyuman yang membuat hatiku terkelepek-kelepek.

‘’Saya dari Ruteng Kak,’’ sambungnya.

Saat itu, bukan hanya kami berdua yang ada. Ada Lendong yang saya perhatikan terus-menerus mencuri pandang melihat kami berdua. Kemudian ada Oncak, seorang laki-laki yang tak pernah meninggalkan gitarnya kemanapun ia pergi. Apa lagi lelaki yang satu ini, namanya Wawek. Dia kami juluki sebagai panglima. Tahu saja, kami biasa mengarang jabatan seseorang. Ya, itulah kami. Bukan lagi kami namanya jika tidak begitu.

‘’Kaka dari mana?’ tanya Lena kepadaku.

‘’Saya dari Borong,’’ jawabku sembari mengusap layar gedged di tanganku.

Riaknya obrolan saat itu dari teman-teman yang lain membuat perkenalan antara kami berdua tidak terlalu serius. Apalagi saat itu adalah waktu diskusi yang digelar oleh sebuah perkumpulan mahasiswa. Seriusnya perdebatan, dan saling melempar argument menjadi seru jalannya diskusi kami di malam itu.

Tak terasa, waktu sudah menunjukan pukul 22.00 malam. Kami harus menyudahi diskusi ini. Mengingat juga dengan tetangga sebelah yang ingin beristirahat malam. Takut terganggu, kata pemandu diskusi, yakni abang Wawek.

Kami semua balik ke kos masing-masing. Sebelum beranjak pulang, tak lupa diriku untuk meminta kontak WA-nya Lena. Dia pun memberikannya.

Tiba di kos, sebelum beranjak ke kasur, terlebih dahulu aku melemparkan,  ‘’P’’ kepada Lena, sebagai tanda itulah kontak WA milikku.

Pesan WhatsApp-ku masuk, namun belum dibaca oleh Lena. Lama saya menunggunya, hampir sepuluh menit. Pesanku belum juga dibaca. Saya beranggapan mungkin Lena sudah tidur.

Pagi sekitar jam 8,  muncul pesan WA darinya. Ia nampaknya baru membaca WA dariku yang dikirim semalam.

‘’Pagi kaka, maaf baru saya balas. Semalam saya ketiduran,’’ balasnya.

‘’Pagi juga dik, apa kabar, lagi ngapain sekarang,’’ timpalku, sembari menyeruput kopi di pagi itu.

Pagi itu menjadi awal yang tepat untuk aku ungkapkan isi hati yang sesungguhnya kepada Lena. Saat itu, aku menirukan kembali jargon yang pernah disampaikan oleh salah satu calon Presiden kita dulu Jusuf Kalla yakni lebih cepat lebik baik.

Sebatang rokok di tangan  menjadi penyemangatku di pagi itu, ditambah alunan musik yang volumenya hanya dinaikan seperempat.

“Tidak ada buat kaka,’’ jawab Lena singkat.

‘’Gitu ya dek,’’ balasku.

Sebelum ia membalas lagi pesanku, segudang konsep telah tersusun rapi dalam pikiranku. Haruskah diriku secepat ini untuk mengungapkan isi hatiku kepada Lena? Sempat kuberpikir juga saat itu, wanita secantik Lena, masa belum punya pacar. Dan apakah diriku harus secepat ini untuk mengutarakan niatku kepadanya, sementara kami baru bertemu semalam. Ah, tidak. Itu hanyalah sebuah alasan klasik, dan jika memang niat dan keinginan yang tulus untuk memilikinya kenapa tidak bisa. Lebih cepat lebih baik. Dan walaupun dia sudah punya pacar, hukumnya sudah ada, sebelum janur kuning melengkung, dia masih punya orang banyak. Sejenak merenung, semoga apa yang ada dalam hatiku terwujud.

‘’Tuhan.. semoga saja,’’ bisikku dalam hati.

Sementara aku masih berkutat dalam permenungan itu, tiba-tiba muncul pesan WA dari Lena.

‘’Kaka, ngomong-ngomong udah pada minum kopi?’’ Tanya Lena.

‘’Sementara minum kopi dek. Kalau ade?’’ Balasku.

‘’Lagi minum juga kak.’’ 

Sementara diriku asyik berchatingan dengan Lena di pagi itu, tiba-tiba muncul panggilan masuk dari seorang rekan. Pagi itu ia ingin mengajakku untuk menghadiri sebuah acara pada jam 10 pagi. Aku menengok jam di Hand Phoneku sudah menunjukan pukul 09.00 artinya acara tersebut akan dimulai satu jam lagi. Tanpa menghiraukan HP dan melanjutkan chatinggan dengn Lena, aku langsung bergegas ke kamar mandi. Lalu mempersiapkan pakaian dan sebagianya.

***
Di atas sepeda motor, saya selalu membayangkan, tentang kemelut di dalam hatiku saat ini yaitu bagaimana cara agar apa yang kurasakan ini yaitu tentang perasaan cinta kepada Lena cepat tersampaikan. Rasaku untuk memilikinyaa begitu kuat. Dan tak pernah sedikitpun berubah, bahkan hilang. Hasutan perasaan terus berbisik. Apa akan harus terus begini?

“Silahkan masuk Pimpinan” rekanku mempersilahkan aku masuk. Namanya Alfred.

“Jangan panggil aku pimpinan, lah,” ucapku sembari tertawa.

“Hahahhaa. Kan om Jeri pimpinan besar, pantas toh jika dipanggil pimpinan” timpalnya sambil ketawa juga. Kami tertawa bersama.

Alfred adalah lelaki paruh usia. Pekerjaannya sama sepertiku. Menjadi budak-budak kabar terbaru. Ya, kami adalah jurnalis, pemburu segala macam masalah. Kurang lebih seperti itulah orang menilai kami.

Pekerjaan sebagai wartawan membuat aku banyak membuang waktu dengan Handponeku, sehingga kadang aku tidak menghiraukan orang-orang di sekelilingku.

“Hai, kaka. Ikut kesini juga tadi kah?” Seorang wanita menyapaku dengan suara khas.
Suaranya tidak asing lagi bagiku. Aku menoleh ke sumber suara. Dan ternyata itu Lena. Wanita yang terus menjadi tuan atas rasa cintaku.

“Iii. Iya, dek,” jawabku gerogi.

“Kenapa adek, bisa ada di sini? Aku balik bertanya.

“Aduh kaka, kami panitia acara ini,'' jawab wanita berparas ayu itu dengan polos.

Mungkin ini yang namanya kebetulan yang telah direncanakan waktu. Dan aku yakin ini aku dan Lena pasti akan mendapat restu dari waktu.

Singkat cerita acara itu pun usai. Kami semua bubar. Tidak terkecuali Lena.

“Dek. Ayo pulang bareng kaka,” ajakku.

“Apa tidak merepotkan?”

“Tidak apa-apa. Ayo cepat naik.”

Hari itu hujan turun dengan lebat. Aku tidak membawa jas hujan. Aku mengajak Lena untuk berhenti, tetapi dia menolak. Kami akhirnya melanjutkan perjalanan. Aku katakan, kawan berjalan dengan seorang wanita di bawa deras hujan adalah seesuatu yang sangat asyik sekali.

Jadi begini, saat itu Lena kedinginan. Tangannya sudah mulai bergerak dan menggapai pinggangku. Dia lalu merangkulku. Ya, dia memeluk aku layaknya seorang wanita yang memeluk kekasihnya. Kami betul-betul seperti sepasang kekasih waktu itu.

Di sebuah jembatan, tiba-tiba Lena meminta untuk menepi. Katanya dia ingin melihat derasnya aliran sungai ketika sedang hujan. Aku tidak keberatan. Kupinggirkan sepeda motor ke trotoar.

“Kenapa memilih berhenti? Inikan masih hujan?” Tanyaku pura-pura.

“Aku menyukai hujan. Hujan membantuku melepas segala penat yang sudah lama menggumpal dalam kepalaku,” jawabnya sembari menengadah ke langit. Dia seperti sedang mencari tahu dari mana datangnya butiran hujan itu.

“Hmmmm. Aku baru tahu, ternyata ada malaikat yang menyukai hujan,” ucapku tanpa menoleh ke arahnya.

“Kaka mulai gombal, rupanya.”

“Bukan gombal. Tatapi begitu adanya. Adek sepeti malaikat. Cantik dan memesona. Tapi sayang sudah ada yang punya.”

“Maksud kaka?” Dia bertanya kepadaku.

“Maksud aku, ya adek cantik, tetapi sayangnya sudah ada pacar,” ucapku.

“Aku belum punya pacar kok kaka,” jawabnya tenang.

“Kalau begitu, ada yang ingin akau sampaikan, dek,” lanjutku terus terang.

“Perihal apa? Kaka mau minta aku jadi pacarnya kaka?” jawabnya sambil tersenyum genit. Dia sepertinya sudah menyadari gerak-gerikku. Dia sepertinya sudah tahu tentang perasaanku kepadanya. Aku tidak berani menjawanya.

“Sudahlah kaka. Aku bahkan sudah menganggap kaka sebagai pacar kaka, semenjak kaka meminta nomor WA-ku,” ucapnya serius sambil menatap ke dalam retina mataku.

Aku senang sekali. Bahkan tidak bisa menggambarkan bagaimana berbunga-bunganya hatiku saat itu. Aku seperti seorang Sarjana muda yang baru saja mendapat kabar lulus tes CPNS.

“Berarti kaka bisa peluk adek sekarang kah. Hhahahhha?

“Jangan sekarang. Nanti saja. Setelah kaka membawa belis untuk ibu dan bapakku,” jawabnya sambil ketawa.

Kami akhirnya ketawa bersama.  Merayakan kesenangan yang baru saja kami ramu dalam sebuah ikatan yang sangat aku nantikan. Mendapatkan wanita yang kita inginkan adalah sesuatu yang sangat luar biasa sekali. Aku kemudian memeluknya. Mencium keningnya dengan lembut.

Tanpa mempedulikan lagi ucapannya tadi. Bukankah belis itu sesuatu yang bisa dibicarakan belakangan? Yang terpenting sekarang adalah cinta yang ada di antara dua belah pihak benar-benar menyatu.

Oleh: Remigius Nahal
Penulis adalah Pecinta Kopi Manggarai

Cerita ini hanyalah fiktif belaka. Apabila ada kesamaan nama tokoh dan tempat itu hanyalah kebetulan.