Budaya Sekejap

Gambar: ilustrasi


Membayangkan dunia tanpa pengaruh teknologi ibarat mengharapkan adanya garam yang terasa manis. Sebab tidak ada lagi segi hidup manusia yang terlepas dari pengaruh teknologi. Semuanya berada dalam domain pengaruh teknologi. Media-media komunikasi dengan segala variannya yang serba canggih – anak pinak bukti kemajuan teknologi – kini memberikan pengaruhnya yang sangat besar bagi kehidupan manusia. Pengaruh itu pulalah yang turut memberikan perubahan terhadap tindak tanduk dan cara berperilaku manusia. Salah satu buahnya ialah lahirnya budaya sekejap. Sebuah budaya baru yang menandai perubahan hidup manusia masa kini.


Budaya Sekejap: Budaya Barunya Manusia Modern

Jika pada zaman dahulu, pembuat berita hanya terbatas pada kalangan wartawan/ti, kini semua orang bisa menjadi pembuat berita (news maker). Jika pada zaman dahulu, mayoritas masyarakat manusia menjadi subyek penikmat (konsumen) berita namun kini semua orang menjadi subyek yang melahirkan (produsen) berita.  Ada banyak deretan perbandingan yang bisa dibuat jika kita ingin mengkomparasikan antargenerasi terdahulu dengan kini. Hal itu bisa dimaklumi. Hal yang memungkinkan semuanya itu ialah kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi yang setiap detiknya bisa menawarkan produk-produknya yang sekaligus terbaru dan super canggih.


Slogan yang mengatakan bahwa ‘dunia dalam genggaman’ kini telah diwujudnyatakan dalam berbagai bentuk. Hp-Hp pintar sebagaimana adanya sekarang menjadi jawaban perwujudnyataan itu. Dengan jari-jari tangannya, semua orang bisa menjangkau semua belahan dunia ini. Timur, Barat, Utara, dan Selatan kini melebur menjadi satu. Dunia kini menjadi desa global dan masyarakat manusia bergabung menjadi satu dalam warga masyarakat internet. Internet memungkinkan semua dan segalanya terhubung satu sama lain.


Konsekuensi yang paling nyata dari masyarakat internet itu ialah lahirnya budaya baru. Sebuah budaya yang sebelumnya mungkin tidak pernah dibayangkan akan terlahir. Budaya baru itu ialah “budaya sekejap”. Budaya sekejap merujuk pada sikap dan perilaku manusia yang ingin mendapatkan banyak hal dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Hanya dengan memainkan jari tangannya, manusia mendapatkan apa yang ia inginkan. Itulah konsep  yang tepat untuk menjelaskan budaya sekejap.


Buah kandung yang ulung dari budaya sekejap itu ialah google. Untuk mendapatkan segala jawaban dari segala kegelisahan dan pertanyaannya, manusia tidak perlu membuka buku sebagai referensi jawabannya. Ia hanya perlu memainkan jari-jari tangannya untuk mampir dan bertanya pada mbah google. Setiap pertanyaan itu pasti akan mendapat jawabannya secara cepat. Syaratnya kecil yakni setiap orang memiliki situs jaringannya (World Wide Web). Situs itulah yang menjadi jalan masuk menuju dunia yang serba memiliki jawaban akan setiap pertanyaan.


Manusia-manusia modern saat ini pun terjebak dalam budaya baru itu. Modern dalam konteks ini tidak hendak merujuk pada periode pemikiran filsafat. Manusia modern dalam konteks ini hanya merujuk pada generasi yang sungguh-sungguh lahir bersamaan dengan lahirnya media-media komunikasi terbaru. Bukti terjebaknya manusia modern dalam budaya sekejap dapat kita amati dalam banyak hal. Dari semua hal yang banyak itu, salah satu ciri yang paling nyata ialah menjamurnya semangat dalam diri manusia modern untuk menjadi fokus dan pusat perbincangan warga masyarakat internet. Menjadi fokus dan pusat pembicaraan warga internet itu amat familiar dengan sebutan ‘viral’. Menjadi viral  merupakan logam mulianya budaya sekejap.


Viral: Anak Emasnya Budaya Sekejap

Salah satu tanda  menyolok dari budaya sekejap ini ialah lahirnya kemungkinan setiap orang untuk menjadi pusat perhatian dunia virtual. Hal itu dimungkinkan hanya dengan mengunggah aktivitas, foto, video, dan unggahan lainnya ke dunia maya. Setiap orang berlomba untuk mengunggah apa yang menjadi aktivitas dan kegiatannya masing-masing. Unggahan yang menarik, menertawakan, dan yang bisa menggugah perhatian khalayak warga internet menjadi pemenangnya. Pemenang itulah yang akan menjadi berita utama dunia maya. Dan itu yang sering kita sebut sebaga viral.


Menjadi viral bisa dikatakan sebagai tujuan utama dan bahkan anak emasnya budaya  sekejap. Demi menjadi viral, semua orang berlomba untuk menjadi orang pertama yang mengunggah entah foto, status, ataupun video. Tidaklah mengherankan jika semangat untuk swafoto (Selfie), membuat V-log, dan membuat berita (yang nyata atau hanya sekedar Hoax) begitu menjamur di kalangan anak milenial. Itulah sebabnya mengapa di bagian awal saya mengatakan bahwa setiap orang saat ini menjadi pembuat berita. Finalitas yang ingin dicapai ialah menjadi viral.


Begitu banyak contoh yang kita dapat saat ini tentang kisah, berita, atau kejadian yang menjadi viral. Menarik bahwa apa yang viral di dunia virtual turut menjadi viral pula di dunia nyata. Fenomena itu yang turut menggugah semangat manusia zaman ini untuk semakin berpacu dalam lomba menjadi pusat perhatian dunia. Tidak ada orang yang tidak ingin ketinggalan dari aktivitas dunia maya. Logikanya ialah ketika seseorang mengunggah foto, video, tulisan, ataupun unggahan lainnya pada saat yang sama ia ingin mengetahui berapa banyak orang yang lihat, suka, atau bahkan membagikan unggahannya. Dengan demikian, ia akan selalu terdorong untuk mengenal dan mengetahui reaksi warga internet terhadap unggahannya.


Menjaga Keutamaan di Tengah Budaya Sekejap

Mengakarnya budaya sekejap dan menjadikan viral sebagai nilai hidup tentu bukanlah suatu hal yang utama dalam hidup ini. Mengapa? Jawabannya jelas. Setiap orang akan terjebak dalam semangat menjadikan mental instan sebagai karakter hidup. Semua orang ingin mendapatkan segala yang baik dan menyenangkan dalam hidup ini tanpa adanya pengorbanan melainkan hanya dengan cari gampangnya saja.  Banyak nilai dan keutamaan hidup dikorbankan demi prinsip mendapatkan segalanya dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.


Karakter yang terbentuk dalam diri di tengah meningkatnya budaya sekejap ini ialah artifisial dan bukan kedalaman, komunikasi dan bukan kontak (pertemuan). Dalam budaya sekejap orang lebih mengutamakan apa yang tampak dalam hidup ini. Mode, gaya, trend, dan cara bicara sungguh dipengaruhi oleh gaya dunia virtual. Semuanya dikejar dan diusahakan guna mengikuti model yang sedang trend dalam dunia virtual. Akibatnya orang hanya mengutamakan gaya hidup yang superfisial dan artifisial semata. Refleksi dan pendalaman kehidupan diabaikan. Orang tidak lagi menemukan pentingnya semangat untuk berefleksi atas kehidupan sebab itu hanya menjadi urusan kaum spiritualis. Sebab bagi anak zaman ini, yang penting dikejar ialah menjadi pemenang dalam lomba untuk menjadi viral. Karenanya, semua usaha dan potensi digali guna memenangkan perlombaan itu.


Demi memenangkan perlombaan dunia virtual, semua orang berusaha untuk menjalankan komunikasi dengan sebanyak mungkin orang, entah dikenal atau pun yang tidak dikenal. Caranya ialah berusaha untuk berteman dengan sebanyak mungkin orang dalam komunitas warga masyarakat internet. Komunikasi pun terjadi tanpa adanya kontak. Semua orang sibuk bertegur sapa dengan warga masyarakat internet sampai melupakan semua orang yang ada di sekitarnya dalam dunia yang nyata. 


Slogan ‘menjauhkan yang dekat dan mendekatkan yang jauh’ menjadi fenomena aktual yang ada dan dihidupi sekarang. Padahal, setiap komunikasi mengandaikan adanya pertemuan atau kontak. Dalam pertemuan atau kontak, ada tatapan, ada ekspresi, ada sentuhan yang memungkinkan orang untuk saling merasakan betapa pentingnya spiritualitas kehadiran dalam setiap perjumpaan. Spiritualitas itu tidak akan pernah tergantikan oleh yang namanya Panggilan Video sekalipun. Namun semangat pertemuan itu mulai menghilang seiring canggihnya media yang meleburkan jarak dan ruang. 


Keutamaan refleksi dan perjumpaan merupakan bagian kecil dari banyaknya keutamaan yang saat ini mulai terkuras dan hilang. Padahal dua keutamaan itu sangat penting untuk dihidupi jika kita tidak ingin menjadi manusia-manusia autis di era digital saat ini. Kemajuan dunia Ilmu Pengetahuan dan Teknologi sejatinya memudahkan segala kerja manusia namun kini berbalik menjadi penjajah manusia. Itulah sebabnya, di tengah budaya sekejap ini kita tetap berharap agar keutamaan-keutamaan hidup yang dimiliki tidak hilang begitu saja. 


Kita harus tetap memiliki filter untuk menyaring dan menyangkal segala arus negatif yang dilahirkan oleh budaya sekejap. Hal ini membutuhkan komitmen dan konsistensi diri jika tidak ingin dihempas oleh badai informasi dan perlombaan-perlombaan virtual. Dengan demikian, keutamaan-keutamaan hidup tetap menjadi yang utama daripada hanya sekedar menjadi viral dalam dunia maya yang pastinya mengabaikan segala keutamaan-keutamaan hidup.
Oleh: Hiro Edison

Diskusi Bupati Manggarai Barat Mencari Pemimpin

Name

anak muda,2,Badung,1,Bali,135,Ben Senang Galus,2,Bencana Alam,2,Berita,186,Bhineka,2,Birokrasi,2,BNI,1,Bola,3,bom,1,Bom Bunuh Diri,3,Borong,4,BPJS,1,Budaya,34,Bung Karno,1,Bunuh Diri,4,Bupati Mabar,2,Camilian,1,Celoteh,7,Cerpen,202,Chelsea Islan,1,Chiristian Rotok,1,Daerah,647,Dana Desa,1,Dari Kami,3,Demokrasi,22,Denpasar,19,Desa,2,Destinasi,1,Diaspora,2,Dilan,3,Donny Isman,1,DPR RI,4,E-KTP,5,Editorial,30,Ekonomi,5,Ekspresi,1,Ende,6,Entrepreneur,1,Feature,35,festival Komodo,2,Film,7,Filsafat,2,Fitur,1,Flobamora Cup,1,Flores,10,Focus Discussion,1,FPI,1,Gantung diri,2,Gaya,1,gaya hidup,8,Gedged,1,Gempa,7,Gereja,3,Gereja Katolik,3,Gerindra,1,GMNI,4,Golkar,1,Gusti Dulla,1,HAM,2,Hand Phone,1,Hari Buruh,2,hari buruh internasional,1,Hari Perempuan Internasional,1,Hiburan,27,HMPCK,1,Hoax,2,hukum,68,Human Trafficking,4,IBT Expo,1,Idul Fitri,1,IJM,1,IKEMAS CUP,9,Imlek,1,In-Depth,18,Indonesia,1,Indonesian Idol,8,Inspirasi,17,Internasional,17,Internet,2,Investasi,1,IPD,3,Iriana Jokowi,1,Ivan Nestorman,1,IYC Jatim,1,Jabar,1,JAD,1,Jakarta,5,Jatim,3,Jawa Tengah,1,Jawa Timur,4,JK,1,Jogja,2,Jogyakarta,3,Jokowi,18,JRUK Sumba,2,jurnalistik,3,Kalimantan,5,Kampanye,2,Kampus,3,Kapolri,1,Kar. Ilmiah,4,Karanganyar,1,Karya Sastra,308,Kata Mereka,2,KDRT,1,Keagamaan,6,kebakaran,4,kebudayaan,3,kecelakaan,2,Kecelakaan Lalu Lintas,2,Kediri,2,Kejadian. Jakarta,1,kejahatan,2,Kemahasiswaan,6,Kemanusiaan,55,kemenkominfo,1,Kemiskinan,2,kepala daerah,1,Kepemuaan,5,Kepemudaan,155,kepemudan,7,kerohanian,2,Kesehatan,5,Ketahanan Nasional,1,Keuangan,1,KNPI,2,Komodo,9,Komunikasi,1,Komunitas,5,Koperasi,1,Korban,1,Korupsi,55,KPK,11,KPU,1,Kreatif,1,Kriminal,52,Kritik Sastra,3,Kupang,25,Labuan Bajo,51,Lakalantas,11,Larantuka,1,Legenda,1,Lembata,2,Lifestyle,3,Lingkungan Hidup,13,Literasi,14,lombok,1,LP Cipinang,1,Luar Negeri,15,Mahasiswa,47,Makasar,6,Makassar,4,Malang,4,Manggarai,121,Manggarai Barat,21,Manggarai Timur,27,Marianus Sae,1,Marion Jola,3,Masalah Rokok,1,Masyarakat,1,Mataram,2,Maumere,7,Media,1,Media Sosial,3,Medsos,2,Mendikbud,3,Menkominfo,1,Milenials,104,MMC,1,musik,1,Narkoba,8,Nasional,351,Natal,18,Ngada,8,Novanto,2,Novel,16,NTT,346,Nyepi,2,Olahraga,13,Opini,554,Orang Muda,7,Otomotif,1,OTT,2,Padang,1,Papua,16,Pariwisata,26,Partai Politik,25,Pasangan,25,Paskah,2,pelajar,2,Pembangunan,5,pemerkosaan,1,Pemilu,19,Pemuda,3,Pencurian,2,Pendidikan,89,Penerbangan,4,penyanyi,1,Peradi,1,Perdamaian,1,Perempuan,19,Perindo,1,Peristiwa,1386,Pers,3,Perzinahan,1,Petani,1,Petrus Selestinus,1,Piala Dunia,1,Piala Oscar,1,pileg 2019,1,Pilgub,40,Pilkada,98,Pilpres 2019,25,PKRI,1,PKS,1,PMII,1,PMKRI,23,PMKRI Bogor,1,Pmkri Jogja,1,Poco Ranaka,1,Pojok Redaksi,32,Polisi,24,politik,89,Politikus,6,POLRI,8,PP PMKRI,1,Pristiwa,39,Prosa,1,PSK,1,Puisi,100,Puteri Indonesia,2,Radikalisme,1,Ratna Sarumpaet,4,Refleksi,9,reformasi,1,Regional,6,Religi,2,Remaja,1,Rensi Ambang,1,Riau,1,Ricuh,1,Rindu,1,Risma,1,Rizieq Shihab,7,Rote Ndao,2,Ruang Publik,24,Ruteng,30,RUU,1,Sabu,1,Sail Komodo,1,Sajak,14,Sam Aliano,1,Sastra,3,Sejarah,1,Sekilas Info,42,Sekolah,2,seleb,1,Selebritas,28,selingkuh,1,Sidoarjo,1,situs pornografi,1,Somasi,1,Sosial,3,Sosial Politik,1,Sosok,31,Sospol,35,Spesial Valentine,1,Start Up,1,Suara Muda,229,Sumba,8,Surabaya,36,Tahun Baru,10,Tarakan,1,Tata Kota,1,Teknologi,9,Tentang Mereka,68,Tenun Manggarai,1,Terorisme,14,Terorismes,4,TKI,4,TNI,1,TNK,1,Togar Situmorang,11,Tokoh,16,Tol Laut,1,Toleransi,2,Tour Jurnalistik,1,Ujian Nasional,1,UNITRI-Malang,1,Unwira,1,UU MD3,7,Valentine,2,Viral,3,Wisata,21,Wisuda,1,WNA,1,
ltr
item
MARJINNEWS.COM: Budaya Sekejap
Budaya Sekejap
https://1.bp.blogspot.com/-0vNKzWS9EQU/XE7_JJ_ecVI/AAAAAAAAAOU/4_lVPh_k9xI2hcx3oqYhXcW8W-LgAwwkwCLcBGAs/s320/Screenshot_2019-01-28-21-09-05-1.png
https://1.bp.blogspot.com/-0vNKzWS9EQU/XE7_JJ_ecVI/AAAAAAAAAOU/4_lVPh_k9xI2hcx3oqYhXcW8W-LgAwwkwCLcBGAs/s72-c/Screenshot_2019-01-28-21-09-05-1.png
MARJINNEWS.COM
http://www.marjinnews.com/2019/01/budaya-sekejap.html
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/2019/01/budaya-sekejap.html
true
971126874416220402
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy