Aku dan Kampung Halamanku: Rindu
Cari Berita

Aku dan Kampung Halamanku: Rindu

Marjin News
31 January 2019

(foto: dok. pribadi)

Saya berasal dari sebuah desa, namanya desa Mokel. Desa Mokel adalah salah satu dari 22 desa di kecamatan Kota Komba, kabupaten Manggarai Timur, provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Jarak tempuh dari desaku ke Kota kecamatan kurang lebih dua jam dengan kendaraan bermotor. Sedangkan ke kota kabupaten kurang lebih satu jam.

Desaku sangat dingin dan sejuk. Pagi, sore dan malam hari terasa dingin sedangkan siang hari udaranya sedang tidak terlalu panas maupun dingin. Desaku berada didekat bukit, bagian utara terdapat hutan lindung namanya Dangkung dan hutan Ndolang yang masih hijau.
Hamparan sawah ( sawah satar ) yang berada ditengah desa menjadi pemandangan yang indah. Sumber mata air yang banyak, sehingga masyarakat tidak kekurangan air bersih.
Kebiasaan masyarakat yang ramah menerima orang baru atau tamu. Tamu adalah orang paling istimewa. Kebudayaan kami, tamu dianggap orang yang paling dihormati dan dihargai. Kehidupan masyarakat desa Mokel sangat rukun dan harmonis tanpa memandang suku dan status sosial.

***

Teruntuk gerimis teman seperjuanganku, aku ingin menceritakan sebuah kisah padamu. Tentang seorang pemuda dengan segala resah di hatinya. Menyimpan sebuah ragu akan jalan yang ditempuhnya. Pemuda itu adalah aku, yang kini tengah dirundung pilu.

Hanya bisa menuliskan curahan hati pada sebuah kertas. Lembar demi lembar  kutuliskan sebuah cerita tentang kerasnya hidup dikota, tentang perjuangan meraih cita-cita.

Tak lupa kutuliskan untuk jiwa-jiwa yang begitu setia mengorbankan segalanya, ayah, ibu. Aku berdoa semoga kalian baik-baik saja, selalu lindungan Tuhan, dilancarkan segala urusan dan selalu diberi kesehatan.

Di dalam bilik sempit ini aku mengukir rindu, rinduku pada bocah cilik bermata sendu, rinduku pada hangat peluk Ayah dan Ibu, rinduku pada kokok ayam di pagi hari, rinduku untuk kembali ke desaku.
Telah ku torehkan begitu banyak kenangan, telah ku rangkai dengan indah sebuah cerita, telah kujatuhkan hatiku pada kampung halamanku. Desa yang asri dengan udara sejuk dan ramah penduduk. Desa kecil mengajariku banyak hal akan arti persahabatan, persaudaraan, dan makna sebuah kehidupan.

Desaku sejauh dimata memandang selalu datang gambar-gambar samar dalam ingatan. Saksi bisu perjuangan pemuda cilik yang mencoba membawa mimpi-mimpinya terbang, dan benar saja sebuah mimpi membawaku berlari ke kota ini.
Terasingkan dan kesepian. Hanya sebuah tekad sebagai teman. Entah berapa banyak air mata yang telah ku titihkan, demi sebuah cerita indah di hari kepulangan. Aku menyadari banyak harapan yang menantiku di sana.

Ada yang tak berhenti berjuang dan berdoa. Dalam malam-malam sunyi ia bersimpuh memohon yang terbaik untuk anak pemudanya. Andai ku bisa ingin percepat perputaran waktu. Tak ingin kau melewati masa ini. Tapi aku sadar, sukses adalah sebuah proses panjang dengan tak sedikit perjuangan, jadi aku harus menerimanya dengan hati yang lapang.

Kota memang menawarkanku begitu banyak kemudahan, memberiku begitu banyak pengalaman. Mengenalkanku pada sebuah kata, yaitu kemewahan. Meski demikian, hatiku tak pernah pergi dari kampung halaman. Di sana menyimpan sejuta kenangan.

Aku ingin pulang, menyapa kembali mentari jingga menjelang petang dan menikmati gerimis dengan tenang. Menjadi anak desa bukanlah suatu kehinaan tapi justru hadiah indah yang Tuhan berikan.
Dengan segala keindahan alam yang menawan, menjadikannya tempat yang begitu nyaman. Sungai, sawah dan ladang sebagai teman sepanjang perjalanan. Setiap sudutnya memberiku begitu banyak pelajaran, mengajariku arti kesederhanaan dan kesahajaan.

Itulah gambaran singkat desaku. Aku lahir dan di besarkan di desa Mokel. Hingga aku bisa seperti sekarang ini. Nantikan kedatanganku desaku.



Oleh : Arifanus Apur