Agama Sebagai Pencegah Kerusakan Lingkungan
Cari Berita

Agama Sebagai Pencegah Kerusakan Lingkungan

MARJIN NEWS
19 January 2019

Foto: Dok. Pribadi



OPINI, marjinnews.com- Paradigma baru mengenai ekologi tidak muncul saat Islam hadir pertama kali di Arab Saudi. Islam yang kita percayai sebagai agama yang mencakup seluruh sendi kehidupan tentu mengatur juga tentang kelestarian alam dan membela yang lemah. 

Masalah mengenai ekologi barulah muncul pada akhir-akhir ini, saat banyak dampak kerusakan lingkungan yang timbul dikarenakan ulah tangan manusia itu sendiri. Masyarakat Indonesia harus sadar bahwa krisis multidimensi dan bencana yang datang bertubi-tubi seperti tanah longsor, banjir, kekeringan, kebakaran hutan, tanaman diserang hama dan lainnya adalah karena ulah manusia itu sendiri. Seperti dengan firman Allah SWT di dalam Alquran :

"Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar". (QS. Ar-Rum: 41)".

Dalam ayat-ayat tersebut di atas  Allah SWT secara tegas menjelaskan tentang akibat yang ditimbulkan karena perbuatan manusia  yang mengeksploitasi lingkungan yang berlebihan. Ayat-ayat Al-Qur'an ini sekaligus juga menjadi sebuah terobosan paradigma baru untuk melakukan pengelolaan lingkungan melalui sebuah ajaran religi, sehingga hak atas lingkungan adalah hak bagi setiap umat di dunia. 

Agama sebagai dasar pandangan hidup manusia dianggap ikut berperan dalam kerusakan yang dilakukan oleh manusia. Hal ini diungkapkan Mujiyono Abdillah dalam bukunya Agama Ramah Lingkungan Perspektif Al-Qur’an. Beliau mencoba ikut andil dalam mendamaikan antara Islam, lingkungan, dan manusia.

Mujiyono berusaha menyampaikan tentang konsep ekologi yang dibangun oleh Alquran dengan cara merekonstruksi pemaknaan ayat dan memunculkan istilah-istilah ekologi. Beliau menerangkan bahwa tugas manusia sebagai Khilafah di Bumi adalah memakmurkan bumi dengan melakukan pertama, al-intifa’ yakni mengambil manfaat dan menggunakan sebaik-baiknya. Kedua, al-i’tibar yaitu mengambil pelajaran, memikirkan, mensyukuri, seraya menggali rahasia-rahasia di balik alam ciptaan Allah. Ketiga, al-ishlah ialah memelihara dan menjaga kelestarian alam sesuai dengan kemaslahatan dan kemakmuran manusia, dan tetap terjaganya harmoni kehidupan alam.

Namun banyak dari kita yang mengaku sebagai Muslim yang baik, umat terbaik yang diturunkan oleh Allah SWT tidak pernah mengkaji bahkan tidak peduli lagi dengan permasalahan lingkungan. Padahal Allah SWT  juga telah mengingatkan kita untuk tidak membuat kerusakan kepada tumbuh-tumbuhan maupun hewan di muka bumi seperti dalam firman-Nya :

"Dan apabila ia berpaling (dari kamu), ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanam-tanaman dan binatang ternak, dan  Allah tidak menyukai kebinasaan. (Al-Baqarah : 205)"

Ayat di atas berbicara mengenai orang-orang munafik dalam artian beriman hanya secara lisan (di bibir saja). Agama hanya akan digunakan apabila menguntungkan bagi mereka dan membuat mereka aman, jika merugikan akan ditinggalkan. Termasuk dalam melestarikan lingkungan hidup bahwa konsep Islam tetap dapat digunakan. Mengenai ayat di atas sebagian  ulama berpendapat bahwa barang siapa membunuh keledai dan membakar pohon  kurma maka akan mendapat celaan pada hari kiamat, dan Imam Al-Qurthubi menyatakan bahwa ayat di atas memberi petunjuk agar manusia mengelola dan mengembangkan potensi yang ada di bumi berupa tumbuh-tumbuhan dan binatang. Beliau menolak pendapat orang yang tidak setuju dengan prinsip kausalitas, artinya usaha manusia akan memiliki manfaat yang lebih dibandingkan orang yang hanya pasrah dan berdoa saja. 

Sikap positif dan ramah terhadap lingkungan yang paling sederhana telah Nabi Muhammad SAW contohkan, mulai dari menanam pohon dan menghemat penggunaan air dalam berwudhu. Yang pada akhirnya akan tercipta keselarasan hidup dalam lingkungan. Yang tidak kalah penting adalah perlunya mengimplementasikan slogan para aktivis lingkungan yaitu 3-R (Reduce, Reuse, Recycle). Dan terakhir penulis mengingatkan akan adagium “Kekayaan alam dan seisinya adalah titipan dari Allah SWT dan wajib dikelola secara kolektif”. 

_Oleh : Afrizky Fajar Purnawan (Kader Hijau Muhammadiyah)_

*Lawanlah kegelisahanmu dengan menulis*