Wah!! BLACKPINK akan Konser Dua Hari di Indonesia
Cari Berita

Wah!! BLACKPINK akan Konser Dua Hari di Indonesia

MARJIN NEWS
18 December 2018

Foto: Istimewa
JAKARTA, marjinnews.com  - Girlband asal Korea Selatan, BLACKPINK, akan mengadakan konser tambahan di Indonesia pada Januari 2019.

Hal itu berarti konser BLACKPINK bentukan YG Entertainment ini nantinya berlangsung dua hari.

Promotor IME Indonesia mengumumkan kabar gembira untuk para BLINK (nama fandom BLACKPINK) itu melalui akun Instagram @ime_indonesia.

"BLINKS Indonesia.. Terima kasih atas dukungan kalian yang luar biasa. Kami paham bahwa masih banyak penggemar yang belum mendapatkan tiket," tulis IME Indonesia seperti dikutip Kompas.com, Selasa (18/12/2018).

"Kami punya kabar baik bagi kalian. Kami akan melakukan konser tambahan pada 19 Januari 2019. Detail selanjutnya akan segera diumumkan," imbuh mereka.

Penambahan hari tersebut karena tiket konser BLACKPINK untuk 20 Januari 2019 telah habis terjual. Kurang lebih ada 8.000 tiket konser BLACKPINK yang dijual sejak 7 Desember 2018.

BLACKPINK akan menggelar konser bertajuk 2019 World Tour BLACKPINK [IN YOUR AREA JAKARTA] di ICE (Indonesia Convention Exhibition) BSD, Tangerang.

"Kepada para BLINK. Terima kasih atas dukungan kalian. Tiket BLACKPINK 2019 WORLD TOUR [IN YOUR AREA) JAKARTA sudah habis terjual. #BLACKPINK2019WORLDTOUR #INYOURAREA #INYOURAREAJAKARTA #LIVENATION #YG #iMeID," tulis akun 

Penayangan Iklan BLAKPINK yang Sempat Ditegur KPI

Media sosial sempat riuh ketika tersebar petisi berjudul “Hentikan Iklan Blackpink Shopee” yang dibuat oleh Maimon Herawati beberapa waktu lalu. Petisi itu menuntut Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) menurunkan tayangan iklan Shopee yang menampilkan sosok girlband asal Korea Selatan, Blackpink. 

KPI merespons suara protes itu dengan mengeluarkan peringatan keras kepada sebelas stasiun televisi yang menyiarkan iklan tersebut.  KPI menilai muatan iklan tersebut berpotensi melanggar Pasal 9 Ayat (1) Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS) Tahun 2012 tentang Kewajiban Program Siaran dalam memperhatikan norma kesopanan dan kesusilaan yang dijunjung oleh keberagaman khalayak terkait budaya.

Ketua KPI Yuliandre Darwis mengatakan peringatan keras yang dikeluarkan KPI bukan hanya dilandaskan oleh petisi yang beredar, tapi juga karena banyak aduan yang masuk terkait iklan tersebut. KPI menilai iklan tersebut terlalu vulgar, terutama jika ditayangkan pada jam tayang anak.

“Kalau ada iklan pada jam tayang anak, janganlah bawa visual yang membuat anak akan meniru,” kata Yuliandre pada Senin (17/12/2018).

Yuliandre menilai iklan Shopee tersebut tidak cocok untuk ditayangkan pada jam tayang anak, lantaran penampilan personel Blackpink dalam iklan tersebut tidak senonoh. Ketidaksenonohan yang dimaksud Yuliandre adalah rok mini dan tarian yang ditampilkan oleh empat perempuan tersebut dinilai tidak sesuai norma yang berlaku di Indonesia.

“Kami hanya memperingatkan. Kalau dianggap benar, silakan melanjutkan, tapi alasannya apa,” kata Yuliandre.

Menanggapi hal tersebut, Country Brand Manager Shopee Rezki Yanuar menyampaikan pihaknya telah mengantongi izin dari Lembaga Sensor Film Indonesia untuk menayangkan iklan tersebut. Shopee telah mengganti iklan tersebut sejak memasuki Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas). 

"Kami juga ingin menekankan bahwa kami mengikuti semua regulasi yang ada dari setiap pemangku kepentingan yang ada di Indonesia,” ujar Rezki dalam keterangan tertulis, Selasa (11/12/2018) seperti dikutip Tirto.id.

Peneliti media dari Remotivi Roy Thaniago justru menilai iklan Shopee tersebut tidak melanggar ketentuan P3SPS terkait pelarangan dan pembatasan seksualitas.

Dalam P3SPS Pasal 18 (h), terang Roy, dinyatakan bahwa yang tergolong pelanggaran adalah apabila terdapat tampilan yang, “mengeksploitasi dan/atau menampilkan bagian-bagian tubuh tertentu, seperti paha, bokong, payudara secara close up dan/atau medium shot.” 

“Nah, itu enggak ada di iklan Shopee,” kata Roy, Senin (17/12/2018).

Roy melihat larangan KPI lahir dari semacam kepanikan moral atas budaya atau kebiasaan yang terlanjur mapan di masyarakat. KPI seolah khawatir budaya lama yang dipegang masyarakat luntur hanya karena sebuah iklan.

“Aku ingin bicara soal kepanikan moral bagaimana. Bagaimana sebuah budaya baru, apapun itu, entah musik atau pakaian, pada awalnya selalu mengalami ketidaksetujuan, dan mayoritas itu oleh kelompok yang lebih tua,” kata Roy.

Namun, kata Roy, alasan moral atau norma yang dijabarkan oleh KPI belum jelas, terutama batasan-batasannya.  “Saya melihat KPI mengadopsi mentalitas yang sama,” imbuh Roy. (*)

Editor: Remigius Nahal.
Dirangkum dari berbgai Sumber