Tiket Pulang Bukan Ukuran Seorang Pemimpin

Menu Atas

Cari Berita

Advertisement

Tiket Pulang Bukan Ukuran Seorang Pemimpin

16 December 2018

Gambar: KORAN Jakarta
OPINI, marjinnews.com - Siapa yang tidak suka apa-apa itu harus mudah, semua pasti menyukainya, yang mudah, yang enak, yang simple, yang express dan sebagainya. Saya seorang kader organiasasi, saya mungkin kurang pandai dibanding pimpinan-pimpinan saya diatas, saya tidak bicara ideal, saya sudah tahu pasti semua yang dibicarakan pemimpin itu adalah ideal, baik dan terbaik. 

Tatapi saya akan berbicara realita tentang organisasi kemahasiswaan, organisasi pikiran segar nan mulia. Nyatalah semoga semua akan sepakat dengan ini, mari kita membuka kedok, membuka borok, borok kita yang sampai kapan tidak terkena matahari, butuh sinar agar mengering, agar timbul dan tumbuh kulit-kulit baru, meski sakit, meski sabar dan jorok.

Saya bukan bermaksud buruk, ini demi generasi ke depan agar tidak rusak, agar timbul manusia-manusia yang merdeka, manusia yang selesai sebagai manusia. Saya mengalami, saya bertanya kepada semuanya, apa yang bisa diharapkan dari generasi yang selalu berpikiran sempit? Setiap dalam proses permusyawaratan atau perkumpulan, kenapa hasil dan keputusan selalu sejalan dengan siapa yang bisa menyokong tiket pulang, transport pulang, soal kuantitatif materi dan sebagainya, kenapa bukan kualitatif, kenapa bukan kualitas wacana, kualitas pemikiran, gerakan dan sebagainya. 

Jika kepemimpin itu hanya soal siapa yang bisa menuntaskan semuanya secara cepat dan simple, kenapa mie instan juga perlu direbus, ubi bakar pun masih perlu dibakar?. 

Siapa yang tidak mengiyakan realita ini, bisa saja ia hanya menanggung canggung dalam bicara, setengah dalam bersikap, padahal setengah-setengah itu tidak baik, setengah benar sama dengan tidak benar, itulah tegasnya sikap tokoh belanda - Dowes Dekker, yang berdampak pada kemerdekaan Indonesia. 

Malulah kita, malulah jika budaya tersebut tetap saja dimaklumkan, dipupuksuburkan dalam suatu organiasai mahasiswa atau pemuda yang bersandar pada pendidikan. Akan lebih mulia dan baiklah suatu kelompok suporter bola itu, mereka berangkat pada suatu acara-acaranya yang agung atas kecintaan kelompok, atas suka cita yang mendalam, berani berangkat dan berani pulang sendiri tanpa bergantung siapa yang bisa membiayai.

Kembali pada suatu ungkapan saya di atas, bahwa saya tidak lebih pandai daripada pemimpin-pemimpin saya, pemimpin pasti selalu berbicara baik dan ideal, tapi saya berbicara kenyataan, saya mengabarkan suatu kedaruratan generasi yang semakin pandai-pandai ini, yang harusnya tingkat kepandaiaanya itu untuk suatu manfaat bersama, suatu maslakhat buat semua. 

Insyaflah seperti dahulu para pendiri bangsa, peemimpin kita, tokoh ormas, agama dan sebagainya, mereka menghabiskan seluruh usia untuk menggali prinsip hidup, jalan pikiran agung, jadilah organisasi-organisasi besar,mereka yang besar bukan persoalan siapa yang menemukan sandaran-sandaran perekonomian untuk pribadi. Semoga bermanfaat!!

Oleh: Milada Romadhoni Ahmad, S.Sos.