Tentang Kesendirian

Menu Atas

Cari Berita

Advertisement

Tentang Kesendirian

MARJIN NEWS
29 December 2018

Foto: Dok. Pribadi

Dalam keheningan malam di sebuah kota kecil bagian selatan Benteng Jawa, Lamba Leda, Manggarai Timur,  seorang pemuda sedang duduk seorang diri. Dia terhanyut oleh sunyi dan sepih. Perlahan ia termangu berpangku dagu, melamun jauh tak karuan. Ia hanya berkarib sepi dan sunyi, tak ada kawan untuk bertukar canda. Tidak ada sahabat untuk berbagi rasa. Mungkin mereka semua telah terlelap pulas dalam kehangatan ranjang. Terbuai dalam mimpi tak berujung pemberian yang esa.

Dia bak sedang memikul salib yang berat yang tak tahu ke mana ia akan menaruh dan kapan ia lepaskan. Malam sunyi di kota kecilnya seakan menarik ingin  untuk kembali mendalami arti dan makna sebuah kesendirian. 

Kesendirian yang sudah tiga tahun lebih ia geluti. Kesendirian yang sempat ingin ia abadikan. Dalam pikirannya ia mencoba menduga-duga, “Apakah kesendirian itu adalah nasib yang harus ia tanggung? Ataukah kesendirian itu adalah sebuah pilihan?”

Selama ini ia dipusingkan oleh cibir sindir orang-orang di sekitarnya, kawan sebaya, teman sepermainan, bahkan keluarganya sendiri. Sindiran-sindiran itu telah mencabik-cabik harga diri dan melemahkan kedewasaannya. Cemoohan demi cemoohan hampir tiap hari harus ia dengar. Dia selalu diejek, bahkan dihina. Tapi ia lumayan bijak.

Sakit hatinya ia luapkan lewat senyum yang terpaksa. Kadang ia akan menghindar dari kerumunan itu lalu menenangkan diri. Kadang juga dalam senggang ia luapkan kemarahannya pada pena dan kertas, lalu mulai menulis semua sakit hati dan rasa benci yang ada hingga tak ada lagi yang tersisa.

Suara jangkrik dari persawahan dekat rumahnya membangunkan ia dari lamunan panjangnya. Lalu tiba-tiba ia teringat kembali akan sebuah syair seorang penyair yang menyatakan bahwa, "nasib adalah kesunyian masing-masing".

Setelah ia merenung sejenak, ia bangkit berdiri. Tampak tersungging senyum dari bibirnya yang tipis. Raut wajah yang mulanya masam mendadak cerah. Kemudian sembari tertawa kecil ia bergumam, "ternyata bukan hanya aku yang sendiri. Dalam satu waktu semua orang juga akan merasa sendiri meski dalam keramaian, karena kesendirian adalah milik semua dan ingin semua”.


Lamba, 2018.



Sheni Lo'ong