PSK di Larantuka Mengaku Kesal dengan Oknum Pol PP, Habis "Main" Kabur

Menu Atas

Cari Berita

Advertisement

PSK di Larantuka Mengaku Kesal dengan Oknum Pol PP, Habis "Main" Kabur

MARJIN NEWS
14 December 2018

Foto: Ilustrasi
LARANTUKA, marjinnews.com - Seorang PSK yang dijaring Pol PP Flotim Senin (10/12/2018) mengaku kesal dengan seorang oknum Pol PP Flores Timur.

Oknum anggota Pol PP ini setelah menggunakan jasanya, ia tidak membayar.

Adapun hutang "bermain" yang belum dibayar anggota Pol PP ini sekitar Rp 600.000.

"Kalau dua kali main hitung sendiri saja. Satu kali main kan Rp 300.000," kata seorang PSK berinisial M dan menjelaskan oknum Pol PP itu menipunya dengan mengatakan pergi membeli makanan.

Kasat Pol PP Flotim Donatus Kopong Weran kepada wartawan di ruang kerjanya Selasa (11/12/2018) mengaku sangat malu sengan perilaku oknum anggotanya.

Perilaku anggota itu telah mencoreng lembaga Pol PP yang dipercayakan untuk menegakan Peraturan Daerah. "Ia telah menurunkan semangat anggota saya yang lain,"kata Kopong Weran.

Kopong Weran berjanji akan memeriksa Pol PP yang bersangkutan. "Nanti saya akan panggil dan kumpulkan semua mereka," kata Kopong Weran.

Kopong Weran menambahkan Pol PP akan tetap melakukan operasi penertiban terhadap praktek-praktek prostitusi di rumah-rumah.

"Daripada kami yang bongkar dan mempermalukan kamu, sebaiknya rumah yang melakukan praktek ini segera dihentikan," kata Kopong Weran.

Kopong Weran mengatakan telah mengantongi data-data dan informasi keberadaan rumah yang dipakai untuk prostitusi.

"Ada yang mereka sebut kandang ayam ada juga kandang kambing. Kita minta hentikan sudah praktek ini," kata Kopong Weran.

Meski mengantongi berbagai informasi, kata Kopong Weran Pol PP tidak bisa melakukan tindakan yang gegabah.

"Kita tetap melakukan tindakan yang terukur," kata Kopong Weran.

Sebelumnya diberitakan, Polisi Pamong Praja atau Pol PP Flores Timur menangkap lima perempuan yang diduga berprofesi sebagai pekerja seks komersial (PSK).

Lima PSK itu ditangkap di salah satu rumah penduduk di dekat Pura Kelurahan Weri Kota Larantuka.

Persis di pintu masuk Kota Larantuka selepas Meting Doeng.

Kelima PSK itu dijemput dan digelandang ke Kantor Bupati Flotim dengan mobil Pol PP.

Mereka diantar bertemu Wakil Bupati Flotim Agustinus Payong Boli.

Di dalam ruangan Wakil Bupati Flotim terungkap identitas dan asal para korban.

Dua orang berasal dari Flores Timur, satu dari Alor, satu dari Toraja dan satu lagi dari Lembata.

Kasat Pol PP Flotim Donatus Kopong Weran kepada wartawan mengatakan operasi dilakukan setelah mendapat telepon dari Bupati Flotim Antonius Hubertus Gege Hadjon.

"Pak Bupati telpon sekitar Pukul 06.00 wita dan saya langsung ketika tiba di kantor langsung meluncur ke lokasi," kata Kopong Weran.

Di rumah salah satu warga sudah berkumpul beberapa perempuan yang sedang menunggu para pelanggan yang datang.

"Mereka akui bahwa mereka benar melakukan praktek seperti itu," kata Kopong Weran.

Semula para PSK dan pemilik rumah enggan berterus terang di hadapan penyidik PPNS Carol Leton.

Wakil Bupati Agus Boli langsung mengambil alih penyelidikan.

Belum sampai 10 menit penyelidikan, akhirnya kelima PSK dan pemilik rumah mengakui perbuatan mereka.

Bahwa selama ini mereka melakukan praktek prostitusi.

Untuk diketahui, prostitusi terselubung dengan menggunakan rumah penduduk ternyata memiliki banyak cerita miris.

Selain kisah seorang difabel yang terjebak dalam dunia prostitusi, ternyata Pol PP mengendus ada modus lain prostitusi di Kota Larantuka.

Kasat Pol PP Donatus Kopong Weran kepada wartawan di ruang kerjanya, Selasa (11/12/2018) mengisahkan seorang perempuan yang terjaring rasia Pol PP beberapa waktu lalu.

Seorang perempuan dari salah satu desa di Flotim adalah seorang ibu rumah tangga. Setiap hari ke Kota Larantuka diantar oleh suaminya.

Setiap pagi, kata Kopong Weran ibu rumah tangga ini dintar ke pasar Inpres Larantuka, dan sore harinya dijemput pulang oleh suaminya.

"Saya tanya dia, apakah suamimu tahu kamu lakukan ini? Dia jawab suami tidak tahu," kata Kopong Weran.

Menjadi keanehan, kata Kopong Weran ibu rumah tangga ini bukan pedagang di Pasar Inpres Larantuka.

"Setiap hari diantar suami di pasar, bukan untuk berjualan. Kalau dia datang belanja, tidak masuk akal suaminya tidak tanya buat apa di pasar," kata Kopong Weran.

Dari kisah itu, Kopong Weran berkesimpulan suaminya pasti tahu apa yang dilakukan istrinya setiap hari di Kota Larantuka.

"Kalau istrinya belanja di pasar pasti langsung pulang. Ini diantar pagi dan dijemput sore," kata Kopong Weran.

Menyaksikan para penjajak tubuh ini adalah orang berwajah lokal, membuat hati kasat Pol PP ini sedih.

"Saya pernah menangis dan saya tidak tahan lihat yang begini. Saya pernah suruh mereka pulang segera dan saya kasih mereka uang,"kata Kopong Weran. (*)

Sumber: Poskupang.com
Editor: Remigius Nahal