NARMADA: Siapkah Kita Menghadapi Revolusi Industri 4.0?
Cari Berita

NARMADA: Siapkah Kita Menghadapi Revolusi Industri 4.0?

MARJIN NEWS
7 December 2018

Dr. I Wayan Jondra Dosen di Politeknik Negeri Bali dan Efraim Mbomba Reda Penulis dan Aktivis PMKRI Cabang Denpasar. (Foto: MarjinNews)

DENPASAR, marjinnews.com - Nalar Mahasiswa dan Pemuda (NARMADA) menggelar diskusi dengan tema, Siapkah Kita Menghadapi Revolusi Industri 4.0? pada Kamis, (6/12) malam, bertempat di Apple Point, Jl. A. Yani 188 Denpasar.

Diskusi yang dihadiri oleh puluhan mahasiswa dari berbagai kampus yang ada di Bali serta para pemuda dipandu oleh Tedy C. Putra, S.T.

Yang menjadi fasilitator dari diskusi ini ialah Dr. I Wayan Jondra yang merupakan Dosen di Politeknik Negeri Bali dan Efraim Mbomba Reda Penulis dan Aktivis PMKRI Cabang Denpasar.

Dalam diskusi tersebut I Wayan Jondra menyampaikan bahwa sebagai generasi milenial harus ada optimisme untuk menghadapi revolusi industri 4.0.

Namun, kata Jondra, optimisme yang dimaksud bukan berarti terlena dengan keadaan yang ada dan tidak berbuat suatu hal untuk mempersiapkan diri menghadapi revolusi industri 4.0.

I Wayan Jondra juga menghimbau agar generasi milenial harus memiliki literasi digital serta mengasah skill atau potensi diri untuk menghadapi revolusi industri 4.0.

"Generasi milenial harus optimis dalam menghadapi revolusi industri 4.0. Kemampuan anak muda Indonesia sama dengan anak muda di negara lain. Yang paling penting adalah generasi milenial harus punya literasi digital yang memadai. Lebih dari pada itu, teruslah mengasah potensi yang dimiliki," ungkap Jondra.

I Wayan Jondra menambahkan, banyak hal sebetulnya dipermudah di era generasi ke empat ini. 

"Dunia menjadi tanpa batas dan semua orang bersaing secara bebas. Revolusi Industri 4.0 adalah sebuah kenyataan yang tidak bisa dilawan, individu harus masuk di dalamnya jika tidak ingin bertahan dalam era disrupsi ini," tandas Jondra.

Dr. I Wayan Jondra mengajak khususnya generasi milenial untuk percaya diri dan segera bertindak untuk menjadi pelaku - pelaku yang akan memenangkan kompetisi di berbagai lini dalam era revolusi industri 4.0. 

"Revolusi industri tidak hanya untuk dibicarakan tetapi untuk diterjemahkan pada ranah praksis lewat tindakan," kata Jondra.

Sementra itu, Efraim Mbomba Reda menyatakan bahwa Indonesia mesti belajar lebih keras, 10 kali lipat dari negara - negara di Eropa, Amerika maupun Singapura agar bisa menghadapi revolusi industri 4.0 dengan baik. 

Menurut Penulis dari Novel Pikiran Itu Nyata ini mengatakan, akan ada banyak lapangan pekerjaan yang akan ditutup karena pemanfaatan terhadap kecanggihan teknologi. 

"Salah satu contoh sederhana adalah berubahnya pusat perbelanjaan konvensional ke belanja Online yang menempatkan internet sebagai Marketplace baru. Itu artinya tidak ada lagi lowongan pekerjaan sebagai karyawan - karyawan di toko - toko konvensional dalam beberapa tahun ke depan, apalagi Indonesia akan menghadapi juga bonus demografi," papar Efraim.

Pada kesempatan tersebut, Mahasiswa dari Fakultas Hukum Universitas Warmadewa ini mengajak agar literasi digital terus ditingkatkan.

Namun sebelum sampai pada tahap literasi digital, kata Efraim, kemampuan literasi biasa harus lebih terlebih dahulu.

"Hasil survei UNESCO menempatkan minat baca Indonesia pada urutan ke 60 dari 61 negara. Ini tentunya sangat menyedihkan, karena sebelum sampai pada tahap literasi digital akan baik jika setiap individu memiliki cukup pengetahuan dan pengetahuan tersebut diperoleh dari membacan," ungkap Efraim.

Efraim Mbomba Reda menyampaikan agar generasi muda rajin membaca buku untuk mendapatkan banyak pengetahuan serta melek digital. Dengan cara ini dapat memenangkan zaman. 

"Mengutip Jack Ma, bahwa pada tahun 70 - an jika suatu negara tidak punya listrik maka negara tersebut akan mati, namun sekarang jika negara tidak punya internet maka negara tersebut akan mati," ujar Efraim Reda.

Untuk diketahui, diskusi tersebut berlangsung interaktif.

I Wayan Darmayasa, salah satu yang menginisiasi pembentukan forum ini menyampaikan bahwa NARMADA dilahirkan karena keinginan beberapa rekan mahasiswa untuk mengelaborasi pikiran kritis  yang meletup-letup, dan menjadikan ruang dialektika mahasiswa. 

Ia bahkan sangat berharap, lewat kelompok diskusi ini lahir kemampuan analisa yang tajam dan berargumentasi dengan baik.

"NARMADA dibentuk karena keinginan dari beberapa rekan mahasiswa yang ingin agar ada ruang dialektika untuk para mahasiswa dan pemuda. Dengan harapan dari forum ini akan lahir analisis - analisis yang tajam dan kemampuan berargumentasi serta mampu memecahkan persoalan," tutur Aktivis KMHDI tersebut.

Diskusi ini akan diselenggarakan setiap hari Minggu dan hari Kamis. Dan ini merupakan diskusi kali ke dua yang dilakukan oleh NARMADA setelah sebelumnya, sudah menggelar diskusi dengan tema 'Apa Kabar Reklamasi Teluk Benoa?

Rencananya, Minggu depan NARMADA
akan kembali menggelar diskusi serupa dengan mengangkat tema tentang HAM.

Forum ini terbuka bagi setiap mahasiswa dan pemuda yang haus akan pengetahuan.

Penulis: Remigius Nahal