Marion Jola, Rakat dan Drama Korea
Cari Berita

Marion Jola, Rakat dan Drama Korea

12 December 2018

Gambar: Istimewa
OPINI, marjinnews.com - Bicara tentang Marion Jola, mungkin saya termasuk salah satu penggemarnya yang radikal meski sampai sekarang saya belum difollback juga sama gadis belia yang akrab disapa Lala itu di instagram. Lala bagi saya merupakan seorang gadis bertalenta luar biasa. Dengan usianya yang masih cukup muda itu dia berhasil keluar dari zona nyaman dan mengesampingkan egonya untuk menjadi lebih dari sekadar seorang bintang. 

Jika menyelisik latar belakang pergaulan Marion Jola, mulai dari keluarga, lingkungan dan sekolah, hampir semuanya tidak jauh berbeda dengan anak-anak seusianya di Nusa Tenggara Timur. Mengapa dia menjadi besar seperti sekarang? Tulisan ini akan mengantar kita menemukan sebuah persoalan paling fundamental yang dialami anak-anak muda kita dalam mengembangkan bakat mereka di bidang apapun. Terkhusus soal bakat dan minat mereka di beberapa bidang yang bernilai jual tinggi di tanah air.

Fenomena Rakat
Rakat adalah singkatan dari Rakyat Timur. Bagi anak-anak Indonesia Timur yang keluar daerah, istilah Rakat bukanlah hal asing untuk dimengerti maknanya. Kata Rakat acap kali dikonotasikan negatif. Pemberian label Rakat untuk anak-anak Indonesia Timur bagi saya adalah sesuatu yang harus disyukuri meski kadang dipakai untuk menyindir dan mengolok sekelompok orang berciri khas: kulit hitam manis, mata menyala dan berambut keriting.

Beruntung salah satu band beraliran hip hop di Bali bernama Muka Rakat mempopulerkan istilah ini sehingga tampak keren dan sedikit menutupi konotasi negatif terhadap anak-anak Indonesia Timur. Kita juga harus berterima kasih kepada seorang Lipooz Manti atas dedikasinya yang luar biasa melalui 16 BAR miliknya di media social Youtube. Karenanya, sekelompok anak muda kemudian berani berkata dengan lantang: kami Rakat, kau mau apa?.

Terlepas dari kesemuanya itu, hal paling menarik dari istilah Rakat tersebut adalah soal kebiasaan kita sehari-hari yang selanjutnya akan saya sebut dengan dua kata: Fenomena Rakat. Fenomena ini hampir dialami oleh para Rakat tanpa terkecuali, yaitu menggandrungi Drakor atau Drama Korea secara berlebihan. Tidak tanggung-tanggung, kecintaan akan Drakor ini membeludak dan bahkan sangat mempengaruhi kehidupan kita setiap hari. Budaya pop seperti cara berpakaian, gaya bicara, bahasa tubuh, postingan di media social hingga belajar bahasa Korea secara otodidak benar-benar tertanam cukup dalam di hati dan pikiran kita.

Fenomena ini bagus jika dimanfaatkan dengan baik. Namun, kalau hanya dimaknai sebagai sebuah lifestyle atau gaya hidup semata, itu akan membunuh karakter dalam diri setiap orang yang kemudian memicu timbulnya rasa kehilangan identitas diri. Seperti menonton Drama Korea misalnya, seorang kawan saya bahkan sungkan mengungkapkan perasaannya kepada si doi karena merasa tidak percaya diri akibat selera orang yang dia sukai itu harus seperfect artis-artis dalam serial Drama Korea. Masa sih? Hanya anda sendiri yang bisa menjawabnya.

Ketika menulis ini, saya jadi tertarik dengan tulisan Indra Tranggono dalam kolom Opini Kompas cetak edisi Senin (10/12/2018) berjudul: Drama Tanpa Orientasi Nilai. Meski cenderung membahas keterkaitan drama dengan situasi politik nasional hari ini, namun saya mencoba memaknai tulisan Indra Tranggono tersebut agar sesuai dengan isi tulisan yang sedang kita baca ini.

Menurut Indra, drama diyakini sebagai seni pertunjukan yang mengandung pertautan tema, cerita, persoalan, tokoh-tokoh, konflik dan cara menyelesaikan konflik. Pementasan drama yang berhasil menurut Pemerhati Kebudayaan ini biasanya didukung oleh kekuatan naskah, penyutradaraan, keaktoran, tata cahaya, musik, tata artistik, dan unsur lainnya. 

Dari situ kemudian lahirlah berbagai peristiwa dramatic yang menyentuh dan menggugah. Para penonton pun mengalami kataris (pencucian jiwa) lalu melakukan refleksi atas eksistensinya di tengah kepungan persoalan. Seni drama yang baik bagi Indra tidak hanya menghibur, tetapi juga mencerahkan, membebaskan, sekaligus meninggikan eksistensi manusia.

Pemahaman akan drama semacam inilah yang menjadi kendala kita terjebak dalam sebuah situasi dilematis. Kita mengalaminya namun dalam hal ini satu sisi efek fiksi drama membuka ruang imajinasi positif kita terbuka untuk melakukan sesuatu yang besar, di sisi lain kita para Rakat bingung harus memulai keinginan yang lahir dari imajinasi itu dalam kehidupan kita sehari-hari. Disinilah kita perlu belajar dari Marion Jola.

Setelah dinyatakan sebagai salah satu pemenang nominasi penyanyi pendatang baru di Korea Selatan pada Senin (11/12/2018) malam waktu Indonesia, dalam postingan instagramnya Marion Jola mengaku sudah mengagumi event bernama MAMA itu sejak tahun 2013. Dia bahkan pernah sekali waktu meminta kado ulang tahun kepada orang tuanya untuk menonton secara langsung event itu di Hongkong. Meski tidak terkabul pada waktu itu, toh dia sendiri yang kemudian memperjuangkannya dan berhasil bukan sebagai penonton tetapi menjadi bintang dan pemenang dalam event itu.

Marion Jola benar-benar merespon imajinasinya dari sudut pandang sangat positif dan optimis. Secara bertahap dia berjuang. Mulai dari mengcover lagu-lagu lewat media sosial Instagram dan youtube. Memberanikan diri ikut kompetisi bergensi nasional. Hasilnya, meski pun dia tidak keluar sebagai sang idola di ajang Indonesian Idola, dia mampu menjadi bahkan lebih dari pada itu. Bermain di level internasional.

Apa yang hendak saya sampaikan sebenarnya sangat sederhana, Rakat silahkan menonton Drama Korea. Tetapi, penting untuk menentukan mana Drama Berorientasi Nilai dan mana Drama Tanpa Orientasi Nilai dalam pemaknaanya dalam kehidupan sehari-hari kita. Mari menjadi Rakat yang lebih berfaedah. Karena Muka Rakat su biking katong pu kapala ta angkat tanpa takut dinilai selalu salah. Salam.. 

Oleh: Andi Andur
Penggemar Paling Radikal Marion Jola