Kisah Suami yang Alami KDRT: Gaji Diambil Istri, Hingga Dilempar Pakai Piring
Cari Berita

Kisah Suami yang Alami KDRT: Gaji Diambil Istri, Hingga Dilempar Pakai Piring

21 December 2018

Matthew Cunningham, staf yang bekerja di rumah singgah, mengatakan laki-laki yang menjadi korban kekerasan rumah tangga biasanya tidak melaporkan diri atau meminta bantuan. (Foto: BBC)
LUAR NEGERI, marjinnews.com - Berkaitan dengan kekerasan dalam rumah tangga yang dialami oleh pria atau anak laki-laki dalam hubungan intim seperti pernikahan, hidup bersama, kencan, atau dalam keluarga. Seperti kekerasan dalam rumah tangga terhadap perempuan, kekerasan terhadap pria mungkin merupakan kejahatan, namun hukum bervariasi di antara wilayah hukum. 

Norma sosial budaya mengenai perlakuan pria dengan wanita, dan wanita oleh pria, berbeda tergantung pada wilayah geografis, dan perilaku kasar secara fisik oleh salah satu pasangan terhadap yang lain dianggap berbeda sebagai kejahatan serius untuk masalah yang lebih pribadi.

Sedangkan perempuan yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga secara terbuka didorong untuk melaporkannya kepada pihak berwenang, telah berpendapat bahwa pria yang mengalami kekerasan seperti sering menghadapi tekanan terhadap pelaporan, dengan pria yang menghadapi stigma sosial tentang kurangnya dirasakan mereka kejantanan dan fitnah lainnya tentang maskulinitas mereka.

Selain itu, kekerasan pasangan intim (KPI) terhadap laki-laki umumnya kurang dikenal oleh masyarakat dibandingkan KPI terhadap perempuan, yang dapat bertindak sebagai halangan lebih lanjut untuk pria melaporkan situasi mereka. Prevalensi dan frekuensi KPI terhadap pria sangat diperdebatkan, dengan studi yang berbeda datang ke kesimpulan yang berbeda untuk negara yang berbeda, dan banyak negara tidak memiliki data sama sekali.

Dalam penelitian Watson, Dorothy; Parsons, Sara (2005) berjudul Domestic Abuse of Women and Men in Ireland: Report on The National Study of Domestic Abuse, (hlm. 169) mengatakan bahwa beberapa peneliti percaya kalau jumlah sebenarnya korban pria cenderung lebih besar dari statistik yang dinyatakan oleh penegakan hukum, karena tingginya jumlah pria yang tidak melaporkan kekerasan terhadap mereka.

Beberapa waktu lalu sebuah kabar dari London, Inggris menunjukkan sebuah fakta menarik soal fenomena ini. Ada laki-laki yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga selama bertahun-tahun. Dalam pengakuannya, Dean, bukan nama sebenarnya secara gamblang menceritakan betapa penindasan terhadap dirinya sebagai laki-laki sangat kejam selama bertahun-tahun.

"Dia sangat menguasai kehidupan saya. Setiap kali saya menerima gaji, ia langsung mengambilnya dari bank. Dia juga sering melempar barang-barang ke muka saya..." kata Dean, dalam acara BBC Victoria Derbyshire.

Akibat perlakuan yang demikian, Dean merasa tidak tahan lalu memutuskan untuk meninggalkan pasangan dan tinggal di satu rumah singgah. Ia mengatakan kekerasan yang ia alami lebih sering berupa kekerasan verbal dari pasangannya. 

"Ia sering berteriak ke saya, selain juga melempar barang, seperti piring ke muka. Saya punya bekas luka di kepala terkena lemparan piring," katanya.

Dan dirujuk ke rumah singgah Northamptonshire Domestic Abuse Service (NDAS) atas rujukan rumah sakit setelah ia tiba-tiba saja jatuh pingsan di kantor. Ia mengatakan, ia pingsan karena dilarang makan oleh pasangannya dan ia mengalami dehidrasi.

"Saya tak boleh makan di rumah," kata Dean.

Di Inggris, diperkirakan satu dari enam laki-laki menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga, namun jumlah yang mencari pertolongan sangat minim. Dean mengatakan dirinya selama ini tidak mencari pertolongan karena ia tak pernah mengira ada lembaga yang memberi bantuan bagi korban-korban kekerasan dalam rumah tangga.

Menganggap bukan korban
Matthew Cunningham, staf yang bekerja di rumah singgah, mengatakan bisa dipahami jika laki-laki yang menjadi korban kekerasan rumah tangga tidak melaporkan diri atau meminta bantuan.

"Memang tak banyak yang memberi perhatian atas masalah ini," kata Cunningham.

"Kaum laki-laki tak menganggap mereka sebagai korban, mereka tak sadar bahwa kasus yang mereka hadapi adalah kekerasan dalam rumah tangga dan karenanya tidak meminta bantuan," katanya.

Rumah singgah NDAS didirikan sepuluh bulan lalu dan bisa menampung tiga laki-laki dan satu anak. Ini adalah satu-satunya rumah singgah bagi laki-laki di Inggris. Hanya beberapa pekan setelah dibuka, tiga kamar di rumah singgah ini langsung terisi. Mereka menolak menampung 50 laki-laki yang dirujuk rumah sakit karena tidak ada tempat bagi mereka. Meski demikian NDAS terancam tutup karena kekurangan dana operasional.

Pengelola sudah meminta bantuan pemerintah daerah, namun karena pemerintah daerah mengalami kesulitan keuangan, NDAS tak bisa mendapatkan bantuan. Pada Juli lalu pemerintah mengatakan telah mengalokasikan tambahan dana sebesar Pound 19 juta atau sekitar hampir Rp350 miliar untuk menangani kasus serangan seksual dan kekerasan dalam rumah tangga.

Sejauh ini, NDAS tak termasuk lembaga yang menerima dana tersebut. Bagi Dean ini bukan kabar yang menggembirakan. Ia ingin ada pihak yang membantu NDAS sehingga para korban seperti dirinya bisa dibantu untuk bisa mandiri.

"Saya berharap bisa bekerja kembali seperti dulu ... saya ingin mandiri," katanya. (EC/MN)