Ketika Soimah Menikah, Sakitnya Bukan Main!
Cari Berita

Ketika Soimah Menikah, Sakitnya Bukan Main!

3 December 2018

Gambar: Ilustrasi
CERPEN, marjinnews.com - Soimah, begitu dia akrab disapa. Gadis ayu berwajah lembut itu imutnya minta ampun. Meski dia sedikit pesek tetapi pipi tembemnya membuat dia sangat mempesona. Aku kadang sering membayangkan pipinya itu. Enak dicubit, empuk digigit. Akh, Soimah luar biasa memang. Setiap hari Soimah selalu anggun. Sigap menyeduh kopi, ramah kepada pembeli. Yah, dia penjaga warung milik bapaknya yang sedang sakit-sakitan. 

Ada banyak laki-laki datang ke tempatnya. Aku ingat seseorang pernah datang dengan sengaja sekali menunjukkan bunyi teleponnya dibikin agak keras supaya Soimah mendengar dia sedang menelpon orang penting. Padahal, dia hanya juru kampanye seorang calon presiden yang jelas-jelas kalah pada Pemilu mendatang. Bukankah dia tengah menunjukkan masa depan yang suram? Terkadang, Soimah hanya senyum saja setiap kali dia omong besar. 

Bukan hanya itu, ada orang lain lagi yang membikin aku kesal. Caranya mendekati Soimah sangat tidak bermoral. Pura-pura dia membantu Soimah membikin teh. Tetapi matanya liar memandang ke antara bongkahan dada Soimah yang sedang menunduk. Jahat memang, aku juga sering melakukan hal seperti itu tetapi tidak dengan cara sontoloyo macam yang dia lakukan. 

Bukan hanya itu juga, aku pernah memergoki seseorang ngiler melihat pinggul Soimah yang aduhai. Sambil merokok dia mencuri pandang. Soimah yang berdaster duduk mencuci piring. Entah karena gerah atau lupa, tidak tampak gambaran segi tiga di balik dasternya. Pada waktu itu aku sebenarnya kesal karena aku gagal menarasikan bentuk pinggul Soimah dalam ruang imajinasi liar khas lelaki seperti aku ini. Mungkin kau juga. Jujur saja, jika kau takut dosa masuk Katolik saja. Tuhan mereka menjanjikan keselamatan di akhir zaman tanpa kau harus membunuh orang dengan bom bunuh diri. Mati konyol karena janji dilayani 72 bidadari. Omong kosong macam apa itu? Hahaha.. kadang saya suka tertawa mendengar cerita macam begitu di negeri entah berantah ini.

Jujur, waktu itu aku naik pitam. Mengapa pula lelaki tua bangka ini melihat pinggul Soimah sambil memegang kelaminnya yang hanya seukuran kacang? Namun, aku juga takut. Takut kalau Soimah tahu aku termasuk pengagum rahasianya yang tidak pernah berkata jujur. Mengagumi senyumannya yang manja. Tatapannya yang anggun memesona. Hingga buah dadanya yang timbul muncul mantul bak bola. Anak-anak Indonesia Timur bilang, perasaan seperti disebut bukan kaleng-kaleng. Eh..

Rasaku kepada Soimah hanya sekitar itu saja. Aku sadar bahwa apa yang aku lakukan benar-benar tidak menunjukkan rasa hormatku kepadanya. Memikirkan dia tampil tanpa busana, membayangkan dia mendesah riang di atas ranjang, hingga mempraktekkan adegan syur Mia Khalifah dengan lelaki berkulit hitam dan berkelamin macam pisang. Aku mengakui itu dosa. Aku berdosa sejak dalam pikiran. Narasi-narasi tolak kekerasan terhadap perempuan kini hanya bualan belaka. Mengapa pula laki-laki menjadi pejuang untuk menolak kekerasan terhadap perempuan?

Entahlah, mungkin mereka adalah orang-orang bodoh yang mau dianggap sebagai pahlawan. Pahlawan yang bangunnya kesiangan. Mereka adalah lelaki tidak normal. Masa iya mereka tidak punya selera seksual tinggi seperti lelaki pada umumnya? Akh, biarlah. Jangan sampai kasus semacam Baiq Nuril dan perempuan-perempuan lain di Indonesia ini terjadi lagi. Tanpa diminta pun aku juga akan turut menjadi pejuang untuk mereka. Sebagai sebuah penghormatan kepada ibuku yang luar biasa hebatnya.

Aku menulis ini karena aku sedang galau. Seisi jagat sepertinya runtuh seketika. Soimah, kekasih dalam imajinasi liarku dikabarkan menikah dengan orang lain. Aku belum siap menerima kenyataan bahwa untuk hari-hari selanjutnya, Soimah tidak lagi menyeduh kopi untukku. Aku belum siap menerima kenyataan bahwa rasa kagum yang berujung pada rasa saling memiliki itu kemudian hanyalah angan dan bualan belaka. 

Aku belum siap menerima kenyataan bahwa mimpiku menciptakan keringat semalam suntuk bersamanya kini hanya angan saja. Aku belum siap menerima kenyataan bahwa kehangatan dari ujung buah dadanya yang memberontak dan kenikmatan dari lorong gelap di antara jepitan pahanya menjadi hanya semacam cerita fiksi berujung onani. Aku kalut. Lidahku kelu. Aku sakit hati membayangkan malam pertama Soimah dengan suaminya. Tuhan, Engkau memang sangat tidak adil.

Sejak saat ini aku berjanji. Nanti ketika dia bosan dengan suaminya, akan kuakui semua rasa ini. Berkata jujur dan mengajak dia berkencan walau hanya sebentar. Melumat bibirnya dengan sungguh sampai dia kesulitan bernapas meski aku tahu kalau napas bukan hanya pakai mulut tetapi juga bisa pakai hidung. Akan aku berikan dia kenikmatan. Akan aku berikan dia pelayanan terbaik dariku. Akan aku jangkau seluruh tubuhnya dengan lidahku. Membuat dia memejamkan mata dan dengan sedikit desahan dia berbisik: “kapan kita bercumbu lagi?”.

Bagiku itu adalah sebuah kemenangan, meski aku tidak lagi mendapat keperawanan. Soimah juga harus tahu bahwa pada kondisi seperti itulah aku tidak akan memakai rasa kepadanya. Bukannya pelit, aku tidak mau dia tahu bahwa aku sangat membenci dia karena memberikan hatinya kepada orang lain.   

Oleh: Hendri Gratia