Hak Jawab dan Klarifikasi Silvano Keo Bhaghi atas Tulisannya yang Dimuat Ulang MARJINNEWS.COM
Cari Berita

Hak Jawab dan Klarifikasi Silvano Keo Bhaghi atas Tulisannya yang Dimuat Ulang MARJINNEWS.COM

16 December 2018

Gambar: Ilustrasi
EDITORIAL, marjinnews.com - Dalam rangka mendukung terjadinya komunikasi ruang publik yang aman dan damai, terutama soal bagaimana jurnalisme seharusnya hadir sebagai pencerah atas berbagai macam realitas sosial masyarakat Indonesia agar semakin beradab, berikut kami lampirkan hak jawab pemilik tulisan berjudul "Orang Miskin Dilarang Masuk Sekolah Katolik di Flores" atas kekeliruan redaksi kami beberapa hari lalu. Semoga, para pembaca yang budiman bisa selalu dan terus memberikan masukkan yang konstruktif kepada kami di hari-hari berikutnya.

Surat Terbuka untuk Pemilik Media dan Redaksi Marjinnews.com

Saya dalam keadaan flu berat dan pusing saat membaca postingan status Kae Armin Bell berjudul “Mengapa IndoProgress dan Marjinnews Menyiarkan Artikel yang Sama?” (Facebook, Minggu, 16/12). Flu dan pusing saya seperti tambah parah saat baca isi status ini. 

Blogger Ranalino.id ini mempersoalkan, mengapa IndoProgress dan Marjinnews.com menyiarkan artikel saya berjudul “Orang Miskin Dilarang Masuk Sekolah Katolik di Flores” secara bersamaan? Apakah Marjinnews.com sudah meminta izin ke IndoProgress selaku media penayang pertama artikel dan saya selaku Penulisnya? Jika tidak minta izin, maka menurutnya, Marjinnews.com sudah melanggar etika media. Berikut adalah tanggapan, pertanggungjawaban, sekaligus surat terbuka saya untuk Pemilik Media dan Redaksi Marjinnews.com dan terutama publik pembaca yang budiman.

Pertama, saya tidak pernah kirim artikel itu ke Redaksi Marjinnews.com. Redaksi Marjinnews.com juga tidak pernah menghubungi dan meminta izin saya untuk memuat ulang tulisan itu. Satu-satunya media online, selain dinding Facebook, tempat saya kirim dan terbitkan tulisan saya itu adalah Harian Online IndoProgress, media progresif non-profit yang fokus pada isu-isu ekonomi politik terutama kapitalisme. Saya kirim tulisan itu pada Kamis, (13/12) malam dan IndoProgress memuatnya dengan judul “Orang Miskin Dilarang Masuk Sekolah Katolik di Flores” pada Jumat (14/12) (https://indoprogress.com/2018/12/orang-miskin-dilarang-masuk-sekolah-katolik-di-flores/). 

Oleh karena itu, kedua, saya menilai, Marjinnews.com, yang “mencoba tampil profesional dengan tetap mempertimbangkan nilai-nilai kemanusiaan dan mengedepankan pesan-pesan moral kepada pembacanya”, telah melakukan kecurangan, pencurian, dan perampokan terhadap Intellectual Property Rights (IPR) atau Hak Kekayaan Intelektual (HKI) saya. 

Ketiga, atas dasar Undang-Undang Nomor 28 tentang Hak Cipta, saya menuntut Redaksi Marjinnews.com mengakui kesalahan dan menyampaikan permintaan maaf kepada publik atas kecurangan, pencurian, dan perampokan hak intelektual ini. Setelah akui kesalahan dan minta maaf, saya menuntut Anda mencabut tulisan itu dari peredaran karena berpotensi menyesatkan publik pembaca. 

Keempat, walau saya tidak punya dasar untuk melakukannya, izinkan saya minta maaf kepada Harian Online IndoProgress atas perilaku tidak senonoh Marjinnews.com. Perilaku kontra-demokrasi ini sungguh memalukan, terutama karena karya intelektual dijadikan ladang basah media-media kapitalis untuk mengakumulasi kekayaan. Untuk media-media seperti ini, tidak ada kata lain selain lawan! 

Kelima, saya mempertanyakan profesionalitas Redaksi Marjinnews.com untuk beberapa kekeliruan editing berikut. 

Satu, judul asli “Orang Miskin Dilarang Masuk Sekolah Katolik di Flores” diubah menjadi “Di Flores, Orang Miskin Dilarang Masuk Sekolah Katolik.” Saya percaya, setiap Penulis mati pada saat tulisannya diterbitkan dan setiap tulisan punya hak menentukan nasib sendiri, termasuk hak diinterpretasi dengan cara apa saja oleh publik pembaca. 

Akan tetapi, judul hasil editing Redaktur, Remigius Nahal di atas bermasalah karena mengubah “opini” satir saya bahwa “Orang Miskin Dilarang Masuk Sekolah di Flores” menjadi seolah “berita” faktual bahwa memang ada fakta “Di Flores, Orang Miskin Dilarang Masuk Sekolah Katolik.” Padahal, dalam kenyataannya, tidak pernah ada larangan masuk sekolah Katolik di Flores bagi orang miskin. 

Sesuatu yang saya tulis sebagai opini di tangan Redaktur Remigius disulap menjadi berita. Sebagai pembaca, saya anggap berita ini hoax. Karena hoax, selain Undang-Undang tentang Hak Cipta, Marjinnews.com bisa terkena delik pidana Undang-Undang tentang Informasi Transaksi Elektronik (ITE). 

Dua, Redaktur Remigius menghilangkan kata “Pada” pada kalimat pertama dalam paragraf pertama sehingga kalimat pertama itu menjadi aneh, “masa pemerintahan kolonial Hindia Belanda dulu, pernah ada pengumuman di ruang-ruang publik seperti gerbang masuk kolam renang dan bioskop: “Verboden Voor honden en inlander”, artinya, “Anjing dan Pribumi dilarang masuk!” Boleh jadi, penghilangan kata ini tidak dibuat sengaja, tetapi karena ketidaksigapan dalam copy paste. Copy paste tanpa izin Penulis dan sebut sumber adalah plagiasi.

Tiga, kalimat “Orang tua saya mesti membayar berkali lipat ganda” diedit oleh Remigius menjadi “Orang tua saya dibayar berkali lipat ganda.” Kalau orang tua saya dibayar berkali lipat ganda setiap kali mengutang, tentu artikel ini tidak pernah hadir di bawah kolong langit ini karena mereka sudah kaya. Redaktur sepertinya harus belajar ulang penggunaan kalimat aktif dan kalimat pasif. 

Empat, kata “the people” diedit menjadi “thepeople.” Kesalahan ini bisa dimaafkan karena Inggris bukan bahasa ibu Redaktur Remigius. Akan tetapi, maaf diberikan disertai sesal yang mendalam karena orang yang mendaku dirinya redaktur tidak tahu istilah dasar bahasa internasional ini.

Lima, selain isi, Redaktur Remigius juga ubah bentuk tulisan dengan cara penggal-penggal paragraf. Akibatnya, selain logika dan koherensi antarkalimat dan paragraf menjadi susah diikuti, artikel ini menjadi tidak ilmiah. Sebagai Penulis artikel, sa malah menjadi tidak mengerti dengan bentuk tulisan yang sudah diedit itu.

Akhirnya, dengan surat terbuka ini, saya berharap, pertama, Marjinnews.com bersikap profesional dengan mengakui kesalahan dan menyampaikan permintaan maaf kepada publik. Saya mengizinkan Anda copy paste isi surat terbuka ini untuk dilampirkan dalam berita permintaan maaf Anda. Hanya dengan minta maaf secara jantan, Anda bisa raih kembali kepercayaan publik. 

Kedua, Marjinnews.com mencabut tulisan itu dari peredaran karena, selain berpotensi menyesatkan publik, tetapi juga karena menyiarkan hasil perampokan kekayaan intelektual orang lain untuk dilihat pembaca adalah kebodohan tingkat dewa yang akan ditertawakan para perampok profesional.  

Ketiga, Marjinnews.com menjadikan pengalaman buruk ini semacam “blessing in disguise”, “berkat dalam bencana.” Berkat yang saya maksudkan bukan karena semakin banyak “klik” akibat kebodohan dan kejahatan Anda merampok hak moral dan hak ekonomi tulisan saya dan Anda ketiban rezeki rupiah yang melimpah ruah, tetapi berkat karena Anda mau belajar menjadi Pers yang mengabdi kemanusiaan. 

Salam.

Silvano Keo Bhaghi

Catatan Redaksi:  Berdasarkan pertimbangan dan permintaan penulis, kami akhirnya mencabut pemberitaan dengan judul "Di Flores, Orang Miskin Dilarang Masuk Sekolah Katolik." Segenap redaksi MARJINNEWS.COM menyampaikan permohonan maaf atas kesalahpahaman yang telah terjadi.

Segala bentuk masukan dan saran dari pembaca, silahkan hubungi email: marjinnews@gmail.com dan redmarjinnews@gmail.com

Salam: Jika Membaca itu Melawan, maka Menulislah untuk Perubahan!
Redaksi MARJINNEWS.COM