Gereja Phobia dan Nasib Para Janda
Cari Berita

Gereja Phobia dan Nasib Para Janda

2 December 2018

Foto: Ilustrasi
OPINI, marjinnews.com - Tulisan ini terinspirasi dari kolom konsultasi keluarga di Majalah Hidup yang penulis temukan beberapa waktu lalu. Karena majalah lama dan kebetulan penulis juga lupa dengan tanggal dan tahun terbitnya, penulis mungkin hanya akan menceritakan sedikit apa yang tertera disana secara singkat untuk menghindari dugaan penulis mengarang cerita sebagai pembenaran akan isu paling rentan ini. Kalau pun ada yang merasa dirugikan dengan isi tulisan ini nantinya, biarlah itu terjadi sebagai bahan permenungan kita bersama.

Dalam tulisan tersebut diceritakan seorang ibu rumah tangga, sebut saja Mawar yang menanyakan soal benar tidaknya dia mencintai laki-laki lain yang bukan suaminya ketika suaminya sedang bekerja di luar negeri. Mawar dengan suaminya masih saling berkomunikasi satu sama lain, namun dalam komunikasi tersebut terkadang ada satu dan lain hal yang membuat Mawar merasa tidak nyaman dengan suaminya. 

Pada kondisi itulah dia bertemu dengan lelaki lain yang juga sudah berkeluarga. Lelaki itu merupakan rekan kerjanya di sebuah perusahaan. Di mata Mawar, lelaki tersebut sangatlah baik. Perhatian dan sangat cerdas. Efek pertemuan dan sentuhan yang cukup intens, Mawar kemudian menyadari bahwa dia jatuh cinta dengan lelaki tersebut.

Menanggapi keluhan tersebut, Sang Pastor menanggapi dengan sangat elegan dan membuat penulis sangat terkesima. Menurutnya, persoalan yang dihadapi Mawar adalah wajar dan sangat manusiawi. Dia pun menyarankan Mawar untuk mengusahakan suaminya segera kembali ke tengah-tengah keluarganya. Selain itu, Sang Pastor juga menganjurkan Mawar untuk mencari alternative lain agar hubungan keluarganya tetap harmonis. Bukan cinta kepada suaminya melainkan cinta kepada anak-anaknya dan masa depan mereka. 

Hal itu bagi menurut Sang Pastor akan cukup membantu Mawar untuk tidak terjebak pada sebuah hubungan yang mana dia tidak akan mendapatkan apa-apa, cinta dan kebahagiaan. Menurutnya itu memang berat, namun dengan memikirkan masa depan anak-anak mereka maka Mawar setidaknya akan sekiranya mendapat sedikit pegangan agar tidak jatuh terlalu dalam.

Pembaca sekalian mungkin menganggap cerita tersebut adalah persoalan biasa dan lumrah terjadi di masyarakat. Terkadang, saking lumrahnya kita tidak pernah benar-benar menyadari bahwa ini merupakan sebuah persoalan cukup serius untuk segera diselesaikan secara bersama-sama. Bagi penulis, Mawar adalah sosok yang sangat berani. Dia tidak mengedepankan egonya pribadi dalam kondisi yang cukup rumit seperti itu. Sebuah situasi dimana keluarganya tengah dihadapkan pada sebuah godaan paling dasyat dan menjadi penentu masa depan hubungannya dengan sang suami.

Mari Menengok Lingkungan Kita
Harus diakui bahwa di lingkungan sekitar kita pasti ada begitu banyak Mawar-Mawar yang lain. Kebanyakan di antara mereka adalah perempuan-perempuan yang ditinggal suaminya merantau entah ke luar daerah atau keluar negeri menjadi TKI. Penulis pun sering mendengar dan melihat langsung kondisi mereka. Ada beberapa yang kuat menahan godaan kebutuhan jasmani dan rohani. Namun, tidak sedikit juga yang tidak kuat atau tidak punya pilihan lain untuk kemudian dengan berbagai macam pertimbangan terjebak pada sebuah situasi dimana mereka terpaksa harus mengakui secara tidak langsung sisi kemanusiaan mereka dalam hal kebutuhan jasmani dan rohani.

Persoalan ini memang sangatlah kompleks. Namun, penulis hanya akan membahas satu poin saja tentang perlunya peran Gereja dalam pemenuhan kebutuhan konseling para perempuan ini agar bisa bertahan seperti Mawar dalam cerita di awal tulisan ini. Memang, penulis juga tidak bisa serta merta mengatakan bahwa konseling yang diberikan Sang Pastor kepada Mawar akan berhasil, tetapi setidaknya dia mendapat sedikit peneguhan dan kekuatan ketika sedang berada dalam tekanan semacam itu. 

Realita dalam masyarakat kita sekarang ini sangatlah antithesis dengan harapan penulis dalam tulisan ini. Sejauh pengamatan penulis, Gereja hingga hari ini belum mampu hadir ke tengah-tengah para janda untuk memberikan penguatan jasmani dan rohani. Bagi penulis, Gerejalah yang punya kewenangan penuh untuk menjemput bola atau dengan kata lain datang kepada mereka. 

Hal ini terjadi karena budaya kita selalu menempatkan perempuan yang ditinggal suaminya merantau selalu dikonotasikan negative. Mereka selalu kita anggap akan menjadi batu sandungan bagi keluarga lain ketika mereka tengah berada pada situasi paling manusiawi mereka. Pandangan semacam ini kemudian membuat mereka sungkan untuk membuka diri apalagi jika hendak bertemu Pastor Paroki yang hidupnya selibat.

Bukan hanya itu saja, realita kehidupan menggereja kita yang selama ini tercoreng oleh ulah beberapa imam yang melanggar janji hidup selibat juga menjadi masalah.  Bagi umat, membantu imam untuk tetap setia pada pelayanannya adalah dengan meminimalisir kecenderungan keterlibatan mereka dengan godaan-godaan termasuk para janda. 

Ini masalah serius dan kebanyakan dibicarakan bukan pada tempatnya untuk sama-sama dicarikan solusi konstruktif untuk kehidupan menggereja yang lebih baik. Kebanyakan dibicarakan pada situasi lain seperti ketika sedang ngopi, ngerumpi dan lain-lain. Bagi penulis, kelemahan Gereja dalam kondisi ini adalah soal kepekaannya terhadap masalah-masalah paling fundamental dalam kehidupan jemaatnya.

Di permukaan, semua tampak baik-baik saja. Padahal, iman kita sebagai seorang Kristiani yang taat sedang mengalami situasi dimana kita tengah mengalami krisis iman. Kita hidup dalam kemunafikan. Momen Adven ini harus kita maknai dengan sungguh untuk perubahan. Perlu adanya keterbukaan dalam kehidupan menggereja kita. Jangan sampai, Gereja phobia dalam judul tulisan ini benar-benar terjadi dan semakin banyak hubungan keluarga yang harus dijalankan penuh dengan ketidakharmonisan. 

Kita perlu menjaga semangat para janda yang ditinggal para suaminya merantau seperti Mawar. Karena hanya dengan demikianlah kita berkontribusi menyelamatkan masa depan anak-anak mereka.

Oleh: Andreas Pengki