EKSEKUSI: Guru Bermata Banyak
Cari Berita

EKSEKUSI: Guru Bermata Banyak

Tini Pasrin
13 December 2018

foto:istimewa
“Kalian tahu hal paling penting yang bisa mengubah seseorang?” Dia mengangkat alis tebalnya. Matanya terlihat buas.
“Bukan harta, bukan uang melimpah tetapi pendidikan.Pendidikanlah yang mampu membuat hidup kita lebih berarti!” Seisi kelas mengamini kata-kata dosenku dua tahun silam.
******
Joni tertawa melihat Kalis mengangkat celananya yang setengah melorot sementara Yanti dan Novi sibuk membandingkan dari toko mana plastik bermerek yang mereka jinjing untuk menaruh buku.

Lapangan sekolah ramai.

Di sinilah aku sekarang. Kembali ke kampung halaman mengajar sebagai guru honorer dengan gaji sekali per tiga bulan.

Kemarin di dinding kabar berita facebook ramai. Teman guru honorer di kampung sebelah mendapat banyak jempol dan komentar. Statusnya pun banyak di-share.

“Aku bangga menjadi pahlawan tanpa tanda jasa. Melihat anak-anak duduk bersila mendengarku santai dan tertawa.
Anton sesekali melap ingus dari sudut bibir lalu menyapunya ke pipi. 
Anton mengangkat tangan, ‘pak guru apakah aku hanya harus terus membaca tanpa mau berhenti sejenak untuk mencari? Mencari dan menciptakan makna yang tertulis di dalam buku?.’ 
Tiba-tiba ketika engkau dipercaya sebagai jawaban atas semua pertanyaan, engkau pasti akan merasa wajib menjadi lebih.
Belajar untuk merengkuh anak-anak yang 20 tahun ke depan pasti bisa duduk di bangku DPRD, menyuntik semangat pasien, berjas rapi di kantoran, atau mungkin Anton bisa jadi pemimpin negeri hingga ada yang menyambung tutur menjadi guru. Hidup guru! Hidup pahlawan tanpa tanda jasa!” Tulisnya.

Tanpa tanda jasa berarti yang paling penting mulia bagi orang lain bukan? Kalau bagi diri sendiri?
********
“Mencintaimu harus menjadi aku. Tapi aku yang seperti apa?” Pertanyaan bodoh ini. Di sana, Ria dengan baju PNS tertawa lepas bersama guru-guru lain. Aku membuang sisa kopiku ke pasir. Meninggalkan ampas berlumuran di gelas bening. 
Sejenak lari dari imajinasi menuju wajahnya.

Wanita yang pasti diciptakan oleh seniman gila dan liar. Menaruh pipi merona dan bibir ranumnya begitu saja dengan bola mata teduh, tempat paling sejuk untuk menetap.

Tiba-tiba aku merasa dihakimi.Bagaimana aku mempertanggungjawabkan Ria? Membiarkan cintanya yang tulus menempatkannya untuk bertanggungjawab atasku dengan gaji PNSnya? Tidak! Itu banci.

Adik bungsu di rumah wajib diganti susunya setiap bulan. Dengan apa aku tanggung? Mengharapkan gaji sekali per tiga bulan itu?

Bapak merasa tugasnya selesai menamatkan aku hingga sarjana. 
Selanjutnya, diantara keriput wajah dan bahu bungkuk ibu sanggupkah aku menolak menjadi tulang punggung keluarga? Sial! Pendidikan tidak cukup.

Ria muncul di depanku. Dia melempar senyuman iba seakan terlibat gelisah. Aku benci senyuman itu.

Kami pulang dan berpisah di persimpangan jalan. Dia masih sempat menoleh ke arahku. Mengangkat bibir, tersenyum. Menawan. Oh Ria, bagaimana aku memantaskan diri.

Aspal setengah kerikil menemani derap sepatu berwarna abu-abuku.Bekas sepatu wisuda.Bagian depannya seperti diam yang dipaksa, ingin membuang sesuatu tetapi tak kesampaian. Menganga.

“Hei nak.Sini kujahit sepatumu!” seru kakek Tinus setengah berteriak. 
“Sudah jadi guru ko berwajah masam? Gaji tribulanmu belum diterima? Tidak pernah berpikir cara lain menghasilkan uang?” Dia bertanya sekaligus memberi pernyataan tanpa takut ketahuan tidak sopan.

“Pekalah nak, di perempatan jalan ada begitu banyak kendaraan berlalu lalang. Kenapa tidak terbersit untuk menyeduhkan kopi hangat dan pisang goreng yang mengepul di sore hari?Acara-acara pesta merajalela. Memelihara ternak menjadi pilihan tepat.” Aku mengernyit.

“Kenapa? Takut dibilang ‘sarjana kok pikul ternak?’ jangan matikan diri dengan makna sempit.Kau bisa mengajar di pagi hari dengan bersukacita. Sore dan akhir pekan kau akan punya pekerjaan.” Kakek Tinus melahapku habis.

“Selesai!” kaus kaki berlubang dan pengap buru-buru kututup kembali dengan sepatu yang telah dijahitnya rapi.
Aku bingung menjawab apa.

Kualihkan pandangan ke jerami yang tertumpuk di samping rumahnya.
“Jeraminya mau diapakan kek?” Opa pensiunan PNS di kantor kecamatan ini menjawaku santai. 
“Itu sisa panen kemarin.Aku mau membuangnya sebentar sore.”Aku memberontak mendengarnya.

“Jangan kek! Jeraminya bisa dipakai untuk pakan ternak, juga bisa diolah sebagai bahan kecantikan. Oh iya, cara menyuburkan tanah yang baik menggunakan jerami juga bisa dilakukan dengan… Aduh aku lupa. Nanti kubaca lagi di Internet.” Aku nyerocos.

Gigi merah bekas bekas tanda sirih pinangnya nampak. Senyumnya sulit diartikan,“Mengapa menjadi bodoh menjadi pilihan padahal engkau mengetahui banyak?Teramat banyak sawah disini. Dedak padi dan padi bukan batasan penghasilan kan?Berapa keuntungan jika kau mempraktikkan pengetahuanmu tadi ke para petani? Eskesuki!!” Tegasnya.

Aku tersedak. Memeluknya hangat.

“Eksekusi kek,bukan eskesuki.” Kami terdiam. Saling menatap dan tertawa. Air mataku tumpah. Aku menangis dan tertawa bersamaan.

Aku tak sabar melihat wajah anak kampung bergairah ditawari pekerjaan. Mungkin membuka bengkel di persimpangan jalan juga sawah berwajah baru di bulan panen.

Ria pernah berkata,”kadang orang bukan tidak bisa bekerja tetapi tidak menemukan jembatan untuk sampai ke sana.”

Terimakasih kakek telah menjadi jembatan dan membiarkanku menjadi jembatan lain. Aku berpendidikan! Menghasilkan! Aku lebih dari sekedar berarti. Eksekusi!!!

Oleh: Tini Pasrin
*Cerpen ini pernah dimuat di Majalah Warta Flobamora.