Dia dari Matim, Kutemukan di Mabar Ternyata Milik Orang Manggarai Part.5
Cari Berita

Dia dari Matim, Kutemukan di Mabar Ternyata Milik Orang Manggarai Part.5

MARJIN NEWS
19 December 2018

Foto: Melty Sain
CERPEN, marjinews.com -- “Tuhan…apakah Engkau sungguh ada? Aku tak pernah tahu tentang Engkau. Aku tak pernah melihat diriMu. Namun banyak orang mengatakan bahwa malam ini Engkau yang jauh di atas sana akan menjelma menjadi seorang manusia sama seperti diriku dan mendengarkan setiap harapan yang ada di dasar setiap hati. Tuhan kalau Engkau sungguh ada dan malam ini mengetuk hatiku, aku akan mengatakan kepadaMu bahwa aku sedang mengingkan Ana untuk menjadi kekasihku. Aku tahu bahwa harapanku ini bukanlah sesuatu yang baru, karena sejak perjumpaan pertama kami secara terus-menerus aku merindukan hal ini.

***
Hiruk pikuk stasiun Jayabaya menggetarkan sukma yang sementara merindu. Dari dalam kereta aku dapat melihat orang yang sedang antri di stasiun. Mereka tampak bahagia. 

Di antara krumunan orang-orang itu, berdirillah salah satu sosok yang selama ini aku rindukan. Wajahnya menampakan ekspresi ketidaksabaran. Aku menduga sosok itu mungkin sedang tidak sabar bertemu denganku.

Saat kereta berhenti, kulihat dia mulai tidak tenang. Matanya meyapu seluruh pintu keluar kereta. Rambut panjangnya beterbangan tertiup angin, itu semua ia tidak dihiraukannya. Dia hanya sibuk memerhatikan semua orang yang keluar dari pintu kereta.
Ketika saya turun, sosok yang selama ini aku rindukan yakni Ana langsung mendapatiku. Seyumnya merekah. Pipihnya merona. Aku bisa merasakan kesenangan yang menyelimuti hatinya sungguh bergelora. Aku juga begitu. Senang dan bahagia sekali.

“Aku senang sekali melihat kamu ada di sini sekarang," ucapnya sambil menjawat tanganku. Bibirnya tidak mau berhenti tersenyum. Aku rasa dia memang tak kuasa menahan kebahagiaan dalam hatinya.

“Aku juga senang bisa bertemu denganmu lagi," jawabku sembari tersenyum.

Ana juga menyalami Maria. Tetapi menyalam dengan cara mereka. Berpelukan tepatnya. Andaikan aku juga diberikan pelukan seperti itu, mungkin aku tidak akan melepaskannya lagi, dan membuat semua laki-laki yang kebetulan ada di tempat tersebut irih. Tapi apalah daya, itu tidak mungkin. Aku belum punya ijin untuk hal seperti itu.

Ana mengajak kami untuk segera mencari Angkot. Tidak butuh waktu lama bagi kami untuk menemukannya, sebab ada pangkalan Angkot di dekat stasiun tersebut. Kami lalu menumpangi angkot itu dan berangkat menuju kosnya Ana.

Malam Natal akhirnya tiba. Semarak kebahagian terpancar di semua wajah yang berlabuh ke Gereja. Semua orang berbondong-bondong membawa suka cita yang mereka letakan di bagian paling dalam di hati mereka.

Aku, Ana dan Maria pergi mengikuti perayaam misa Natal bersama-sama. Oh iya, hampir lupa kuceritakan bahwa aku tidak menginap di kosnya Ana. Aku menginap di kosnya kawan lamaku. Teman SMA ku dulu. Jadi kalian (pembaca) tidak usah berpikir yang aneh-aneh.

Pada malam Natal itu, kami tidak mendapat tempat duduk di dalam Gereja karena keterbatasan ruangan dengan tumpah ruahnya umat yang hadir. Jadinya kami duduk di luar. Tidak apa-apa sebenarnya. Hanya saja yang aku khawatirkan adalah seandainya waktu itu hujan, maka kami pasti akan basah. Tetapi untungnya saja waktu itu tidak turun hujan. Tuhan merestui doa kami. Gumamku dalam hati waktu itu.

Doaku di malam natal itu, Tuhan…apakah Engkau sungguh ada? Aku tak pernah tahu tentang Engkau. Aku tak pernah melihat diriMu. Namun banyak orang mengatakan bahwa malam ini Engkau yang jauh di atas sana akan menjelma menjadi seorang manusia sama seperti diriku dan mendengarkan setiap harapan yang ada di dasar setiap hati. Tuhan kalau Engkau sungguh ada dan malam ini mengetuk hatiku, aku akan mengatakan kepadaMu bahwa aku sedang mengingkan Ana untuk menjadi kekasihku. Aku tahu bahwa harapanku ini bukanlah sesuatu yang baru, karena sejak perjumpaan pertama kami secara terus-menerus aku merindukan hal ini

***
Sebagaimana yang dirasakan oleh pria kebanyakan, malam natal ditemani oleh wanita idaman tentu rasanya bahagia sekali. Bahkan tidak ada puisi yang bisa menggambarkan kebahagianku saat itu. Namun belum sempat kebahagiaan itu sampai kepada puncaknya, Paulus muncul.
Lelaki jangkung itu tiba-tiba saja ada di sebelah Ana. Entah dari mana datangnya, aku tidak tahu. Ana juga sepertinya tidak tahu. Aku bisa melihat dari ekspresinya ketika dia menyadari keberadaan Paulus. Selain itu Ana juga tidak pernah bilang bahwa Paulus akan ke sini.

“Sejak kapan kamu ada di Surabaya?” Tanya Ana membisik ke telinga Paulus.

“Barusan sampai. Aku langsung ke sini,"  jawab Paulus dengan suara pelan juga.

Sejak Paulus berada di antara kami bertiga, kebahagian yang tadinya meluap-luap di dalam dadaku, pupus tersurut api cemburu yang membara. Semua seakan lenyap seketika. Suka cita natal hilang bersamaan dengan muncul lelaki jangkung itu. 
Pendar cahaya lilin meredup dengan sendirnya. Jemaah gereja yang tadi terlihat bahagia olehku serentak menjadi seperti orang yang sedang bersedih.

Aku betul-betul merasa sakit sekali. Bagaimana mungkin Tuhan menghadirkan luka di antara suka cita natal yang sedang bergelora.

Kenapa harus malam ini. Kenapa tidak besok saja. Atau bila perlu jangan saja ada situasi yang seperti ini. Sungguh kehadiran Paulus merusak malam natalku.

Kami (Aku, Maria, dan Paulus) bersalaman. Tapi tidak ada suara yang keluar, sebab perayaan misa belum selesai, takut umat lain terganggu, hanya senyum getir yang terpancar dari bibirku.

Beberapa menit kemudian misa akhirnya selesai. Kami berencana pulang untuk naik angkot, tetapi kemudian semuanya berantakan sebab Paulus mengajak Ana untuk berboncengan dengannya menggunakan sepeda motor. Ana sebenarnya tidak mau, tetapi karena dipaksa olehku dan Maria, dia akhirnya mau.

Maria dan aku menumpangi angkot menuju kosnya Ana. Ketika kami sampai, sepertinya Ana dan Paulus sudah tiba lebih dulu. Mereka menunggu kami di teras depan kos. Aku melihat mereka duduk bersama, tapi saling mendiami. Mungkin mereka sedang cek-cok. Jika demikian, tentu senanglah hatiku. Harapanku memang jahat, tetapi begitulah adanya. Aku memang mengharapkan mereka putus saja. Begitulah yang kuinginkan saat itu.

Di sepanjang perayaan misa di Gereja tadi, aku tidak pernah memperhatikan Maria. Begitu pula di saat kami berada di dalam angkot. Keberadaan Maria, seperti tidak ada waktu itu. Hanya bayangan. Jahat memang. Tetapi begitulah yang terjadi waktu itu.

Melihat kami turun dari angkot Ana langsung berdiri dan memanggil kami. Kegirangan di wajahnya kembali terpancar. Sedangkan Paulus masih dengan ekspresinya yang datar, macam preman kurang makan.

Kebetulan di Gereja kami belum kenanalan. Jadi, setelah sampai di kosnya Ana akhirnya kami berkenalan. Sebuah perkenalan yang sebetulnya bagiku tidak perlu, sebab Ana sudah menceritakan semua tentangnya kepadaku, jauh sebelum Aku bertemu Paulus  di Gereja tadi.

Bahkan ketika kami bertemu di Gereja itu, aku sudah menebak bahwa dia adalah Paulus, lelaki brengsek yang tega menduakan kesetian yang selalu di perjuangkan Ana selama ini.

Aku juga tidak habis pikir, bagaimana mugkin dia tidak merasa malu dengan dirinya sendiri, ketika dia sudah jelas-jelas menduakan cintanya Ana, lalu kemudian datang dengan gelagat seolah tidak bersalah. Entahlah. Laki-laki memang kebanyakan memiliki tabiat serupa. Tidak berakhlak. Tidak berfaedah. Brengsek dan pecudang (Tentunya tidak termasuk aku).

Aku tidak bisa berlama-lama di situ, sebab jam sudah menunjukan pukul 24:00 WIB, sudah waktunya untuk tidur. Apalagi besok kami harus mengikuti misa pagi. Paulus juga begitu, dia juga mohon pamit.

Karena angkot tidak lagi ada yang lewat, Paulus pun menawariku untuk naik motorya. Waktu itu aku tidak punya pilihan lain, jadi aku terpaksa menerima tawarannya.

Di sepanjang  perjalanan Paulus menanyakan prihal bagaimana sampai aku bisa kenal dengan Ana dan Maria. 

Aku tidak mengatakan yang sebenarnya, aku tidak menceritakan kepadanya tentang pertemuan pertama kami. Aku malah mengaku bahwa Maria adalah kekasihku. Jadi secara tidak sengaja aku dan Ana bisa menjadi teman. Begitulah, aku tidak mau sesuatu yang buruk terjadi. Jangan sampai ada pertengkaran di antara kami. Bukankah itu keputusan yang bijak?

Sampailah aku di kos kawanku. Aku langsung tidur. Tidur dengan hati masih terbuka, tepatnya. Aku tak menghiraukan  teman-temanku yang masih asyik minum s##i. 

Mereka terus memakasa menawariku, tetapi aku menolaknya. Bagiku mabuk bukanlah pilihan terbaik untuk menghapus luka hati. Bagi kebanyakan orang mungkin mabuk adalah pilihan terbaik ketika cinta mencambuk dirinya, tetapi bagiku tidak. Itu betul-betul  bukan pilhan yang bijak. Begitu menurutku.

Lalu dengan mata tertutup, dan dengan pikiran yang masih melayang, aku mencoba menghibur diri dengan membayangkan kebahagian yang lain. Misalnya, membayangkan, ketika bangun besok pagi, aku langsung mendapat kotak masuk di WhatsAap, bahwasannya surat lamaran yang aku kirim ke Redaksi Kompas diterima. Dan aku akhirnya menjadi wartawan di Media ternama itu.

Tetapi hayalan itu tidak bisa bertahan lama, ketika sekilas saja bayangan tentang Ana muncul. Apalagi ketika Paulus muncul di sela-selanya. Hancurlah semua. Kehadiran Paulus betul-betul tak terduga. Sebuah kejutan yang cukup menyakitkan tentunya bagiku.
Di tengah kegalauan yang memuncak aku merabah kantong celanaku, dengan mata masih tertutup tentunya. Aku kemudian memencet tombon On di smartponeku, sebab dari tadi sengaja aku matikan. Ketika sudah menyala, beberapa pesan WhatsAap masuk. Salah satu di antara pengirim pesan itu adalah Ana.

“Maaf, Jem. Aku tidak bermaksud membuatmu tersinggung dan cemburu. Tetapi kehadiran Paulus di sini bukan atas permintaanku. Dia bahkan tidak pernah mengabariku untuk ke sini. Jadi, jangan berpikir bahwa aku sengaja membuat kecanggungan ini," kata Ana dalam pesan WhatsAppnya.

“Iya, aku tahu kok. Santai saja. Tadi juga aku sudah bilang bahwa kita hanya teman, dan memang begitu adanya. Bahkan aku mengatakan kepadanya bahwa aku pacar sama Maria. Jadi sampaikan maafku  kepada Maria untuk pengakuan palsuku itu, ya," balasku.

“Kenapa kamu tidak jujur saja kepadanya?” Balas Ana.

“Jujur tentang apa?” Jawabku.
Aku sempat menyelami maksud di balik apa yang disampaikan Ana. Tetapi kemudian usahaku untuk memahami ucapan Ana melalui WhatsAap itu buyar, sebab pesan balasan dari Ana kembali masuk.

“Tidak jadi. Lupakan saja. Selamat tidur ya. Have a good to night," balas Ana mengakhiri chatingan kami waktu itu.

***
Pagi hari, besoknya, kami bertemu lagi di Gereja. Hari itu aku tidak bergairah untuk mengikuti perayaan Natal. Sebab, Paulus lagi-lagi ada di antara kita. 

Sebagaimana yang telah aku ceritakan kepada Paulus bahwa aku dan Maria pacaran, maka saat itu aku berpura-pura menjadi pacarnya. Aku juga sudah meminta kepada Maria agar bisa bekerja sama. Untunglah Maria tidak keberatan.

Hari itu, bisa aku bayangkan merupakan hari yang penuh kepalsuan dan cemburu. Tetapi bagaimana pun juga, aku tidak bisa menutup lebih dalam lagi tentang perasaanku kepada Ana, dan Paulus sepertinya mulai menyadarinya.

Aku yakin begitu. Sebab aku sering tertangkap basah oleh Paulus ketika aku sedang memperhatikan Ana dengan tatapan yang tidak biasa. Tatapan penuh rasa kagum yang luar biasa besarnya. Tatapan penuh cinta tentunya. Namun, Paulus tidak punya hak untuk melarang aku, bukan?

Tetapi akankah Paulus diam saja jika seadainya aku mengatakan kepadanya tentang kebenaran yang bersemayam dalam hatiku? Akankah dia memilih pergi dengan damai dan menghindari pertengkaran di antara kami berdua? Jujur saja aku tidak biasa bertengkar karena wanita. Tetapi jika pertengkaran adalah  jalan yang harus ditempuh untuk mendapatkan Ana, maka biarlah itu terjadi.

Mengikuti perayaan natal di Kota Surabaya sudah selesai. Seminggu aku di sana. Sementara Maria masih menunggu habis merayakan tahun baru, baru balik ke Malang.

Keputusanku untuk cepat balik ke Malang bukan tanpa alasan. Aku tidak mau menjadi penonton setia tentang romantika yang dilakoni Ana dengan Paulus. 

Walaupun jujur, serpihan hati gadis dari Matim ini separuhnya telah dia persembahkan untukku, namun apalah daya kekuasaan cinta Paulus masih menguasainya.

Bagaimana kisah kami selanjutnya?
Nantikan di episode berikutnya...

Oleh: Remigius Nahal
Penulis adalah Pecinta Kopi Manggarai