Demi Motor dan HP, Pelajar di Kota Kupang Rela Jadi PSK, Gaet Pelanggan Lewat Medsos
Cari Berita

Demi Motor dan HP, Pelajar di Kota Kupang Rela Jadi PSK, Gaet Pelanggan Lewat Medsos

MARJIN NEWS
1 December 2018

Foto: Ilustrasi
KUPANG, marjinnews.com – Prostitusi Online sudah marak terjadi di Kota Kupang sebelum Pemerintah Kota Kupang gencar mengkampanyekan penutupan tempat Prostitusi Karang Dempel, dan tempat prostitusi lainnya. Media sosial yang paling banyak digunakan sebagai tempat mnjajakan diri kepada lelaki hidung belang adalah grup facebook, BeeTalk. WeeChat, Line dan WhatsApp.

Penulusuran media ini, ditemukan bahwa para Pekerja Seks Komersial (PSK) ini cenderung menggunakan media sosial karena takut ketahuan siapa mereka yang sebenarnya. Pekerjaan itupun ditutup-tutupi dari keluarga dan orang sekitarnya karena mayoritas PSK tersebut adalah wanita lokal kota Kupang.

Devy (bukan nama sebenarnya) yang bersama media ini mengaku bahwa dirinya melakukan pekerjaan ini karena desakan kebutuhan ekonomi. Dia menyatakan bahwa dengan menggunakan aplikasi BeeTalk. WeeChat, Line atau facebook dan WhatsApp cukup menutupi privasinya sebagai pelajar di salah satu Sekolah Menengah Atas di Kota Kupang.

Ditanya mengapa tidak bergabung pada tempat prostitusi resmi, dia menyatakan bahwa di tempat prostitusi resmi seperti Karang Dempel, Citra dan Pitrad bayarannya lebih kecil dan sifatnya terbuka untuk umum.

“Kalau dengan BeeTalk atau facebook dan WhatsApp, saya selalu minta kirim dulu foto, selanjutnya bahas harga, atau kalau tidak saya minta tamu untuk datang buka kamar, hotel atau home stay. Disana saya minta dia selfie. Saat itu saya cek, apakah orang ini tetangga saya atau kenal saya. Kalau tidak kenal dan sepakat harga saya siap untuk layani,” beber Devy sembari meminta wartawan agar tidak menulis nama aslinya.

Ditanya sejak kapan Ia menekuni pekerjaan itu, dia katakan sejak menjelang naik kelas XI, dia mengaku pekerjaan tersebut diperkenalkan oleh teman sekolahnya, sementara temannya bekerja sama dengan teman-teman lain.

“Pertama kali saya diperkenalkan teman, ada beberapa kita saling kenal juga, tapi tidak berarti kita punya mucikari atau papi mami. Kita saling koordinasi saja supaya tetap saling mengisi, misalnya kalau saya dapat orderan dan tida mampu untuk melayani yang lain maka kita cek kawan yang kosong dan bersedia dengan harga yang ditawarkan tamu,” kisahnya.

Soal pertama kali melakukan pekerjaan ini, dia memang merasa sangat menyesal tetapi apa daya, dirinya harus melakukan itu karena kebutuhannya semakin hari semakin meningkat. Dia mengaku melakukan itu lantaran ingin memiliki barang-barang mewah seperti kawan-kawan lainnya.

“Saya lemah dan sangat menyesal awalnya. Bayarannya saat itu lumayan buat uang muka kredit sepeda motor. Sebagian buat beli Handphone. Sakit yang saya rasakan terobati dengan rupiah yang tidak pernah saya pegang. Sakit lagi om, tapi enak, hehehe,” bebernya sambil tertawa kecil dan sesekali menyeruput sebatang rokok Marllboro mentol di tangannya.

Dia juga menuturkan bahwa sebelum rencana pemerintah Kota kupang menutup semua tempat Prostitusi, dirinya sudah lama melakukan pekerjaan. Jadi baginya, pekerjaan ini tidak hubungannya dengan penutupatn lokalisasi di Kota Kupang.

“Ada banyak dan sudah lama menggeluti pekerjaan ini, kami tidak mau bergabung ke lokalisasi dengan pertimbangan kami sendiri. Kami memilih bersolo karir tidak berarti kami tidak bersih. Kami juga pastikan bahwa bebas dari virus menular. Saya selalu memaksakan untuk pakai kondom, bukan menyarankan tapi kewajiban,” jelasnya.

Terkait tarif sekali kecan, Devy menyebutkan bahwa saat ini tidak mematok harga seperti harga saat masih perawan. 

“Kalau satu kali keluar aer (sekali kencan), saya minta bayaran Rp.750 ribu. Kalau tawar pasti mentok di bayaran Rp. 500 ribu. Ada juga yang harga Rp 1 juta saat ini, itu karena dia masih sangat mudah, baru umur 17 tahun dan rata-rata usia dari kawan-kawan 20 sampai 28 tahun,” ujarnya.

Terkait dengan barang-barang yang dianggap mewah dan mahal milik mereka, apakah tidak pernah ditanya orang tentang status kepemilikan barang tersebut.

Devy menuturkan bahwa setiap mereka meiliki alasan masing-masing tentang uang yang mereka dapatkan. 

“Kalau saya alasan uang saya dapat itu dari hasil lomba di Sekolah. Ada juga yang alasan dapat undian. Ada yang lain mengelabui dengan bisnis pulsa, pokoknya bermacam-macamlah om,” tutupnya.

Sumber: NTT-News.com,
Editor: Remigius Nahal