Cerita Tentang Perasaan Kepada Gadis Ruteng
Cari Berita

Cerita Tentang Perasaan Kepada Gadis Ruteng

MARJIN NEWS
17 December 2018

Foto: Yuyun Efvhanber
CERPEN, marjinnews.com - Kita semua tahu, bahwa cinta adalah anugerah dari Tuhan. Mengenai hal ini sempat terlintas dalam benakku tentang bagaimana caranya Tuhan menitipkan anugerah itu kepada insannya.

Harus diakui, tak sedikit manusia memiliki rasa kepada lawan jenisnya hanya karena hal sederhana.

Tiba-tiba hati kita menginginkan dia lebih dari teman, menurutku, itu sesuatu yang wajar.

Ini cerita tentang rasa yang aku miliki sekarang. Cerita tentang rasa yang selalu menggelora di dalam hati yang lagi mendambakan seorang kekasih.

Aku dan dirinya pertama kali bertemu dan mengenal di dalam sebuah organisasi. Di perjumpaan pertama itu, diriku seperti dibius oleh keanggunan yang dia miliki.

Semenjak perjumpaan pertama itu, selalu saja dirinya terbayang di dalam kesepianku. Wajahnya yang cantik, senyumannya yang manis selalu saja terlintas dalam setiap hentakan nafas yang aku hembuskan.

Di organisasi ini  banyak kegiatan yang membuat kami sering bertemu, bersenda gurau melepas lelah, dan banyak hal konyol yang kita lakukan.

Dia, si gadis Ruteng itu telah merasuk jiwa dan pikiranku. Aku dilema antara ingin mengungkapkan apa yang menggema di dalam hatiku ini.

Awalnya aku tak tahu bahkan tak mengerti apa yang aku rasa. Yang aku tahu aku nyaman bersamanya, aku menjadi diriku sendiri, aku yang utuh, aku yang bersemangat, dan tentunya aku yang ceria.

Aku menyayanginya lebih dari Weta, tapi aku tak berani untuk menunjukkan sayang itu.

Rasa cinta, sayang, dan kekagumanku terhadap dirinya sungguh melampaui batas.

Jujur, ketika aku sedang menatap  gadis Ruteng itu, rasanya seperti memiliki kenikmatan tersendiri, apalagi jika berbincang walau satu kata dengannya adalah suatu karunia yang terindah.

Sejak awal pertemuan itu, aku merasa ada yang aneh pada diriku kala melihatnya. Seperti ada sesuatu yang bergetar. Entah apa, aku juga tidak tahu dan tak pernah ingin tahu. Biarlah waktu yang menjawab semuanya itu.

Aku suka mencuri-curi kesempatan untuk melihatnya. Melihatnya tersenyum dan tertawa, adalah salah satu pemandangan favorit bagiku. Aku selalu berharap, kala aku menoleh, dirinya juga harus memandangiku.

Aku tidak pernah menginginkah rasa ini tumbuh. Tapi perasaan ini tidak bisa dibendung. Terus saja rasa ini ingin memiliki Gadis Ruteng itu secara penuh.

Tentang gadis Ruteng itu, senyum pertama yang ia berikan disertai dengan tatapan membuat aku merasa ada yang aneh yang terjadi di antara kami. Tentunya dengan rasa yang kumiliki ini.

Ketika aku sedang merindukannya, aku hanya bisa memejamkan mataku dan merasakannya dia ada disampingku.

Hati kecil ini selalu berbisik, dapatkah Ia merasakan apa yang sekarang kurasakan? Dapatkah dirinya peka terhadap sebuah perasaan? Bisakah aku memilikinya setelah aku berusaha membuktikan cintaku kepadanya?

Gumamku itu terus saja menjadi beban tersendiri yang harus aku pikul.

Namun, satu kewaspadaanku juga saat ini yaitu takut jika dia menganggap semua ini tak berarti apa-apa. Aku takut jika perasaan yang menggebu ini tak mungkin bisa terbalaskan. 

Tambah celaka lagi, jika pada akhirnya ia memang tak memiliki rasa itu terhadapku.

Aku takut, setelah dirinya tahu bahwa aku mencintainya, ia malah membenciku dan pergi dari hidupku.

Tak banyak kata yang bisa kusampaikan, hanya ini.

Namun sebelum aku mengakhiri kisahku ini, ijinkanlah aku mempersembahkan lantunan kalimat-kalimat indah untukmu.

***
Terdiam aku dalam bahasa yang tak bisa dilafalkan tapi aku mengerti

Menyembunyikan jejak sebuah rahasia hati yang tak mampu tegak berdiri

Dari kamu dan juga mereka yang bisa meniupkan badai pada pelita cinta yang ku coba jaga

Di balik dinding-dinding dan pelupuk mata, dia bernyawa tanpa kecut

Untuk segala sudut kamu selalu jadi biang bahagiaku

Bahkan aromamu lebih dari kasih yang mampu menutupi kesedihan yang terus menoreh hati

Bau bau sepi di mana aku yang bukan jadi bagian hidupmu

membuat kisah terparah di ruang sempit yang ku luaskan untukmu

Saat itu aku hanya mampu hidup di imajinasi yang ku lukis dalam harapan besar

Hai kamu yang sudah menjalar di nadi tanpa bisa lagi ku hentikan bekasnya

Ragaku meracau saat ketajaman matamu ingin membongkar ruang rahasia yang ku sembunyikan dalam diam

Kekuatiranku untuk sebuah jarak yang seketika akan kamu ciptakan saat mengetahuinya

Sebuah rasa yang harusnya indah bila hatimu adalah cerminan isi hatiku

***
Sampai jumpa ditulisan saya berikutnya. Salam! 

Oleh: Remigius Nahal
Penulis adalah Pecinta Kopi Manggarai