Ca Nai #kitabukansaya, dari Steve Jobs Hingga Rumah Wunut yang Berdaya Guna
Cari Berita

Ca Nai #kitabukansaya, dari Steve Jobs Hingga Rumah Wunut yang Berdaya Guna

5 December 2018

Foto: Istimewa
RUTENG, marjinnews.com - "Para orang tua akan duduk dan bertanya 'apa itu?', tetapi anak muda akan bertanya 'apa yang bisa saya lakukan dengan itu?'”. Ungkapan Steve Jobs inilah yang kira-kira mampu menggambarkan bagaimana kreativitas anak-anak muda di Kota Ruteng, Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT) dalam memanfaatkan daya guna Rumah 'Wunut', salah satu ikon tengah kota bercuaca dingin itu untuk mengembangkan bakat, budaya dan kearifan lokal masyarakat setempat.

Mereka yang tergabung dalam Komunitas Ca Nai ini patut mendapat apresiasi atas keinginan dan niat baik mengubah wajah Rumah Wunut yang terletak di Kelurahan Watu, Kecamatan Langke Rembong tersebut menjadi lebih asri, nyaman, bersih dan mampu menarik semakin banyak orang mengunjunginya.

Seperti kita ketahui dan bagaimana media lokal maupun nasional pernah dan bahkan sering menyoroti potret Rumah Wunut sebelum kehadiran kelompok orang muda berkesadaran ini, sangat memprihatinkan. Terlihat  jelas di dinding Rumah Wunut dipenuhi dengan tindakan vandalisme, sampah berserakkan, kaca jendela pecah, dan kondisi dalam ruangannya gelap gulita karena tidak ada penerangan. Dan masih banyak lagi gambaran kondisi yang sangat tidak layak untuk rumah adat orang Manggarai yang terletak di tengah kota tersebut.

Kami berhasil menghubungi aktor di balik kemunculan komunitas ini. Dalam perbincangan melalui via telepon, salah satu pencetus agenda besar ini, Nardy Dahur mengakui bahwa di balik kesuksesan mereka memoles kembali kondisi Rumah Wunut, ada sumbangsih pemikiran luar biasa dari teman-temannya seperti Tedy Nahas, Louis Nahas, Ronal Tembot, Rudi ‘Tato’ dkk. 

Menariknya, ide ini ternyata muncul ketika mereka sedang duduk minum kopi sambil ngobrol santai dan geram melihat kasus vandalisme di media sosial yang terjadi di Rumah Wunut. Lebih dari itu mereka melihat ada banyak pihak yang hanya bisa mengkritik tetapi tidak bertindak apa-apa. Ide-ide mereka berkeliaran; bagi mereka tidak ada cara lain untuk menghidupkan ide selain menaruhnya menjadi tindakan!

Pada peringatan Hari Pahlawan yang jatuh pada 10 November 2018 silam, teman-teman Komunitas Ca Nai berkumpul lagi dalam sebuah acara ulang tahun dari salah satu kerabat dan membicarakan ide itu secara serius. 

"Setelah malam berdiskusi, besoknya langsung dieksekusi yang diawali dengan membincangkan hal tersebut dengan Bapak Bupati Deno Kamelus. Beliau menyambut dengan antusias hal ini dan meminta komunitas Ca Nai agar langsung membersihkan rumah wunut terlebih dahulu"ungkap Nardy.

Selain eksis di media sosial komunitas Ca Nai juga menggandeng media partner dua radio di Manggarai yang salah satunya radio pemerintah dan bekerjasama dengan beberapa komunitas seperti Lentera Sastra, Komunitas MCC (Manggarai Motor Classic), Scrub (Skuter Ruteng Bersatu), Tarung Drajat, RRC (Republik Ruteng Clan), The Friends dan masih banyak lainnya yang membuat gebrakan Ca Nai #kitabukansaya lebih gampang dikenal dan bukan hanya menarik minat anak muda untuk sama-sama membersihkan Rumah Wunut tetapi juga berkontribusi dalam bentuk lain.  

Ca nai #kitabukansaya dijelaskan oleh Nardy Dahur sebagai ungkapan bahwa dalam membangun perubahan tidak ada ego pribadi.  Membangun pun bukan hanya dilakukan sekelompok orang tetapi melibatkan ‘kita’ semua.

“Ca Nai #kitabukansaya lebih jauh mengajak semua orang bergabung dan mempunyai rasa ‘memiliki’ yang sama terhadap Rumah Wunut. Entah dengan menjual kuliner khas Manggarai setiap malam minggu atau bergabung bersama untuk berkontribusi sesuai kemampuan masing-masing. Ide-ide baru dari anak muda  akan diterima dengan tangan terbuka asalkan sesuai dengan prioritas kita yaitu Rumah Wunut yang ramah lingkungan, ramah anak dan ramah keluarga” katanya.

Dilansir dari tribunibukota salah satu penggagas komunitas Ca Nai Tedy Nahas dalam sambutannya saat acara pentas seni di pelataran Rumah Wunut Sabtu (24/11/2018) malam  lebih jauh  menjelaskan komunitas Ca Nai tidak bekerja sendiri tetapi ada keterlibatan Pemerintah Daerah dan stakeholder lainnya.

“Rumah wunut bisa seperti ini karena keterlibatan semua pihak, ada Bapak Bupati Manggarai, Pak Kadis Pariwisata, Pak Kapolres  Pak Dandim, Pak Keminfo, pak Kabag Umum, komunitas-komunitas, dan skateholders lainnya,” papar Tedy.

Great People are Standing Together.” Salam satu darah, beribu cara, beribu budaya!!

Oleh: Tini Pasrin
marjinnews.com Malang