Apa Itu Revolusi Industri 4.0?

Menu Atas

Cari Berita

Advertisement

Apa Itu Revolusi Industri 4.0?

MARJIN NEWS
28 December 2018

Foto: Dok. Pribadi
SUARA MUDA, marjinnews.com - Pada saat ini kita sering mendengar kata revolusi industri 4.0 baik di media televisi, media cetak, media sosial, ataupun dalam kehidupan sehari-hari. Namun pada kenyataannya begitu banyak orang yang belum memahami apa sebenarnya maksud dari revolusi industri 4.0 itu sendiri.

Saya akan mencoba menjelaskan sedikit terkait dengan revolusi industri 4.0. Kenapa namanya harus revolusi industri 4.0? Jawabannya cukup singkat, karena ini revolusi industri yang ke-4. Lalu muncul pertanyaan berikutnya, berarti ada revolusi industri 1.0, 2.0, dan 3.0?

Jawabannya lebih singkat lagi, ya
saya mencoba menjelaskan 3 revolusi industri tersebut sebelum masuk ke revolusi industri 4.0.

Revolusi industri 1.0 (pertama) terjadi di inggris dimulai sekitar tahun 1764 di mana terjadi penemuan mesin uap dan kereta api yang kemudian membuat industri di Inggris lebih efisien dan efektif dalam proses produksinya kala itu. Tentu saja hal ini menyebar ke negara-negara Eropa lainnya dan menjadi titik awal penggunaan mesin dalam peradaban manusia.

Revolusi Industri 2.0 (kedua) dimulai sekitar tahun 1870 yang ditandai dengan penemuan listrik, alat-alat komunikasi, minyak, bahan-bahan kimia. Pada tahap ini industri jauh lebih efektif dan efisien dari pada sebelumnya. Ini merupakan titik awal dari penerapan konsep produksi masal dalam dunia industri.

Pada Revolusi Industri 3.0 (ketiga) dimulai sekitar tahun 1960 yang ditandai dengan beberapa penemuan yang sangat mempangaruhi perkembagan dunia pada saat ini seperti penemuan komputer, internet, telepon genggam, dll. 

Pada tahap ini karena didukung dengan perkembangan teknologi maka mulai diterapkan otomatisasi proses produksi dalam industri sehingga kegiatan produksi jauh lebih efisien, efektif dan masif dari pada sebelumnya.

Pada pertemuan tahunan Forum Ekonomi Dunia (world economic forum) tahun 2016 di Davos, Swiss disepakati bahwa revolusi industri ke empat (4.0) akan menjadi fokus utama perhatian dunia. 

Revolusi Industri 4.0 (keempat). Pada awalnya istilah revolusi Industri 4.0 berasal dari proyek strategis canggih pemerintah Jerman yang mengutamakan komputerisasi pada semua pabrik di Negeri itu.

Perkembangan terknologi revolusi indurtri 4.0 juga merupakan fase yang secara umum tentang otomatisasi dan pertukaran data dalam teknologi pabrik, robotic dan artificial intelligence. Fase yang kemudiaan menghasilakan smart process yang tersusun dengan sistematis dan efisien.

Revolusi industri 4.0 kemudian dianggap sebagai lanjutan dari revolusi sebelumnya dimana masih berkaitan dengan penggunaan teknologi tetapi yang membedakan adalah bersatunya beberapa teknologi sehingga kita melihat dan merasakan era baru dalam peradaban manusia. 

Kita bisa melihat penggunaan teknologi digital yang begitu masif seperti: tren e-comerce yang mengalami peningkatan cukup signifikan dari tahun ke tahun, penggunaan sosial media yang terus mengalami peningkatan, Internet of Thing (IoT) yang tentu saja menjadi dasar sehingga mengurangi penggunaan tenaga kerja dan faktor produksi jauh lebih sedikit tetapi menghasilkan output yang jauh lebih banyak.

Era teknologi merupakan sebuah era di mana kehidupan dan aktivitas masyarakat akan lebih mudah dan efektif dikarenakan peran dunia digital yang begitu masif dan menyentuh seluruh aspek kehidupan manusia. 

Salah satu jenis startup yang mulai naik daun pada saat ini adalah pada bidang Fintech. Fintech adalah sebuah sebutan yang disingkat dari kata financial dan technology di mana artinya adalah sebuah inovasi di dalam bidang jasa keuangan. 

Beberapa contoh bisnis yang tergabung di dalam Fintech adalah: Proses jual beli saham, Pembayaran, Peminjaman uang (lending) secara peer to peer, transfer dana, investasi ritel, Perencanaan keuangan (personal finance), dan lainnya.

Selain itu revolusi industri 4.0 mempunyai potensi memberdayakan individu dan masyarakat karena revolusi pada fase ini dapat menciptakan peluang baru bagi ekonomi, sosial maupun pengembangan diri pribadi. 

Pada fase ini juga perkembangan teknologi begitu menyentuh ranah pribadi seperti mengatur keuangan melalui mobile banking, mengatur perjalanan wisata, mengelola investasi, mengatur kesehatan, dan bahkan makan dan tranportasi pun juga dikendalikan oleh teknologi. Bukan tidak mungkin di masa mendatang tidak akan  ada lagi kuliah tatap muka langsung dengan dosen di dalam ruang kelas karena peran itu bisa dijalankan oleh robot.

Tetapi di sisi yang lain hal ini bisa menyebabkan pengkerdilan dan peminggiran beberapa kelompok dan ini tentu saja bisa memperburuk hubungan sosial di dalam masyarakat serta bisa menciptakan resiko keamanan. 

Dari dampak yang ditimbulkan oleh revolusi industri ini harus disikapi dengan cara yang terintegrasi dan komprehensif. Sehingga dalam perkembangannya humanity tetap sebagai pelaku utama, sedangkan teknologi itu tetap pada fungsi awalnya yaitu sebagai support system

Untuk mencapai itu tentunya dibutuhkan kerjasama dari seluruh elemen bangsa mulai dari pemerintah, pihak swasta, akademisi dan masyarakat luas. 

Saat ini yang sedang  diusahakan oleh pemerintah guna mengatasi dampak dari revolusi industri 4.0 adalah salah satunya dalam bidang pendidikan yaitu program pendidikan vokasi link and match artinya pendidikan dirancang sedemikian rupa untuk meningkatkan relevansi antara sekolah kejuruan dengan kebutuhan dunia kerja, dunia usaha dan dunia industri.

Satu hal yang harus kita pahami bersama bahwa revolusi industri itu muncul didasari oleh inovasi, artinya ada sesuatu yang ingin dirubah atau diganti karena dirasa sudah tidak efisien lagi untuk digunakan pada masa ini oleh karena itu dimunculkan inovasi baru sehingga yang sebelumnya tidak efektif dan efisien akan digantikan oleh sesuatu yang jauh lebih efektif dan efisien. 

Dalam hal ini berarti ada sesuatu yang lama (pemain lama) dan ada sesuatau yang baru (pendatang baru/ new entries). Sebagai pemain lama tentunya kita harus siap menghadapi segala kemungkinan yang ditimbulkan oleh para pendatang baru, tersebut karena pendatang baru itu muncul bukan secara kebetulan tetapi atas dasar inovasi dan gagasan yang tersistem.

Pada saat ini kita tidak dalam posisi sedang bertanya atau menduga-duga kapan pendatang baru (new entries) itu muncul karena mereka sudah masuk dalam sendi-sendi kehidupan kita. Oleh sebab itu sebuah keniscayaan bagi kita untuk terus memperbarui diri dalam menghadapi pendatang baru tersebut.  

Seiring berjalannya waktu, para pemain lama akan tergantikan oleh pendatang baru (new entries) oleh sebab itu salah satu jalan keluar bagi pemain lama adalah harus mampu menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi dan yang lebih tepat lagi adalah harus mampu berkolaborasi dengan inovasi teknologi baru yang muncul.

“Perubahan adalah sebuah keniscayaan, berkolaborasilah dengan perubahan tersebut untuk melahirkan perubahan-perubahan berikutnya.”

Oleh : Wens Ngampus
Mahasiswa Fakultas IPS, Jurusan Pendidikan Ekonomi IKIP PGRI Bali
Saat ini menjabat sebagai Ketua Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) IKIP PGRI Bali