Andi Arief Soal Novel Baswedan, Ini Tanggapan Dua Kubu Jelang Pilpres 2019
Cari Berita

Andi Arief Soal Novel Baswedan, Ini Tanggapan Dua Kubu Jelang Pilpres 2019

MARJIN NEWS
31 December 2018

Foto: Istimewa
JAKARTA, marjinnews.com - Wasekjen Partai Demokrat (PD) Andi Arief menantang Presiden Joko Widodo (Jokowi) memberikan sebelah matanya untuk penyidik senior KPK, Novel Baswedan, yang menjadi korban penyiraman air keras.

Tantangan Andi Arief kepada Jokowi itu disampaikan melalui akun Twitter-nya. Andi menantang Jokowi untuk memberikan sebelah matanya kepada Novel, karena sampai saat ini pelaku terornya belum terungkap. Menurut Andi, percuma Jokowi punya mata tapi tak mampu menuntaskan kasus penyiraman air keras terhadap Novel.

Andi Arief dalam akun twitter pribadi sebelumnya mencuitkan kasus Novel yang mandek karena pelakunya belum juga ketemu. Wakil Sekjen Partai Demokrat itu menuliskan 'Kalau masih ada yang berkoar soal penculikan atau pembunuhan masa lalu, sebaiknya besok pagi lihat mata Novel Baswedan. Tanyakan pada sebelah matanya, Jokowi ngapain aja?'. Cuitan ini sekaligus menanggapi pernyataan Ma'ruf yang beberapa waktu lalu menyebut Jokowi tak pernah menculik maupun membunuh orang.

Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin, Johnny G. Plate menilai pernyataan Andi Arief tentang dugaan pelanggaran Hak Asasi Manusia dalam kasus penyiraman air keras penyidik KPK Novel Baswedan kasar dan tak bermutu. Andi mengaitkan kasus Novel itu dengan sikap Jokowi yang tak tegas karena pelaku tak kunjung ditemukan. 

Mengomentari itu, Johnny justru menyebut Jokowi-Ma'ruf sama sekali tak memiliki catatan kelam masalah hukum dan HAM. Berbeda dengan rekam jejak dugaan pelanggaran HAM terkait calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto yang dinilai dapat lebih mudah ditemukan di media sosial. 

"Rekam digital masih menyimpan catatan kelam HAM terkait Prabowo," ujar Johnny seperti dilansir  CNNIndonesia.com pada Senin (31/12/2018). 

Namun demikian, Johnny melihat, dugaan pelanggaran HAM Prabowo justru lebih konkret dan memiliki bukti yang lebih jelas. Salah satunya saat Prabowo diberhentikan dari jabatan Pangkostrad pada tahun 1998. Sekjen Partai Nasdem ini mengatakan, pemberhentian Prabowo bahkan diketahui Ketua Umum Partai Demokrat Soesilo Bambang Yudhoyono yang ketika itu merupakan salah satu anggota Dewan Kehormatan Perwira (DKP) yang turut memeriksa. 

"SBY salah satu anggota DKP yang memeriksa, menulis pertimbangan, serta merekomendasikan pemberhentian Prabowo dari dinas keprajuritan TNI. Rakyat masih menunggu jawaban sebenarnya. Apakah mereka semua lupa akan catatan dan rekam jejak tersebut?" katanya.

Johnny pun meminta agar semua pihak memeriksa kembali rekam jejak masing-masing pasangan calon presiden-calon wakil presiden. Ia juga meminta Andi dapat lebih santun menyikapi pertarungan Pilpres 2019.

"Periksa semua catatan dan rekam jejak paslon sebelum memilih. Hindarilah provokasi yang menghasut. Pemilu harus tetap dalam suasana yang ceria," ucapnya.

Sementara itu Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno menilai wajar tantangan yang disampaikan oleh Andi tersebut. 

"Tantangan Andi Arief ini wajar, beliau juga kan aktivis HAM," ujar juru bicara BPN Prabowo-Sandiaga, Andry Arief Bulu, kepada wartawan, Senin (31/12/2018).

Andry meyakini tantangan yang disampaikan Andi itu juga bukan secara harfiah. Menurut dia, hal itu hanya sebagai pengingat bahwa kasus Novel ini harus segera dituntaskan. 

"Maksudnya bukan letterled seperti itu bahwa Pak Jokowi harus melepas mata, tapi terlebih agar kasus Novel Baswedan ini memang harus diselesaikan dan diungkapkan dengan terang benderang, ungkap pelakunya dan terapkan hukumannya," katanya. 

"Apalagi ditambah kasus terbaru di Papua yang sepertinya juga akan lama baru selesai, semua ini jangan menjadi tumpukan kasus HAM yang tidak selesai di zaman Pak Jokowi," imbuh Politikus Gerindra itu. 

Andry pun meminta kubu Jokowi menanggapi tantangan itu dengan bijak. Bukan malah menyeret kasus-kasus lain. Seperti diketahui, kubu Jokowi telah ramai-ramai menanggapi tantangan Andi itu. Mereka menyinggung kasus Kudatuli, Century, hingga kasus penculikan aktivis '98.

"Bang Andi Arief ini kan menyinggung kasus Novel, itu tuntaskan dulu, ini kasus di depan mata tapi di buat seperti tak terlihat, atur skala prioritasnya," kata dia seperti dilansir detik.com. 

Novel Baswedan sendiri telah menanggapi tantangan Andi Arief. Menurut Novel, seharusnya Jokowi mau mengungkap pelaku yang menyerangnya.

"Bagi saya sederhana saja, Jokowi ungkap penyerang saya dan penyerang orang-orang di KPK yang menculik, meneror, dan lain sebagainya, itu realistis," ujar Novel Baswedan kepada wartawan, Senin (31/12). (EC/MN)