Agama Sebagai Apinya Dapur

Menu Atas

Cari Berita

Advertisement

Agama Sebagai Apinya Dapur

MARJIN NEWS
27 December 2018

Foto: Dok. Pribadi
Mitos Teori Sekulerisasi
Seorang sosiolog kenamaan pernah mengatakan prihal muka peradaban ke depan. Menurutnya, ke depan siapa yang berani mengabaikan agama di dalam setiap perwacanaanya, ia akan menanggung resiko yang sangat besar – Peter L. Berger. Padahal semenjak awal ilmuwan tersebut sangat terkenal dengan teori sekulerisme-nya, teori yang memberikan suatu tegas bahwa realitas kehidupan ke depan akan berselimut pada menipisnya legalitas dogma-dogma suatu agama, agama yang akan tergeser karena arus pencerahan. Pencerahan yang melahirkan nalar modernitas, pencerahan yang membawa logika terang akan titik persoalan suatu abad yang dikata gelap didalam abad pertengahan. 

Suatu diskursus yang menyoal tetang agama dan Tuhan pada abad bertengahan, telah mampu digeser pada konsentrasi menuju diskursus obyek ‘manusia’, manusia menjadi pusat, pusat yang membuat pergerakan dan kemandekan, keber’ada’an dan ketidakber’ada’an tentang semesta. Maka lahirlah segala pengilmuan tentang manusia dan kehidupannya, tentang negara, ekonomi, sosiologi, kesehatan, sampai pada muncullah pernak-pernik persekolahan, perguruan tinggi, fakultas-fakultas serta beragam jurusan, disitulah muncul suatu harapan baru yang menggeser keyakinan agama manjadi keyakinan pada sains sebagai rumus hidup. 

Dengan berbekal sains tersebut, mulai dari ilmu alam hingga per-manusia-an, pembangunan dan kehidupan hendak ditata, dikelola, dianalisa suatu peluang dan tantangan kedepan, agama dan tuhan telah menjadi soal kedua atau bahkan yang kesekian. Maka ilmuwan Berger merasa sangat yakin akan teori sekulerisasinya tersebut, namun sekonyong-konyong apa hendak dikata, kenyataan menampakkan suatu wajah lain, konflik, kemelut serta ekspresi keberagamaan nyatanya semakin mendengung, tak berhenti menghiasi segala perwartaan negara-negara hingga perwartaan dunia. 

Tidak jauh-jauh dalam percontohannya, di Indonesia sendiri dapat kita lihat suatu wajah kenyataan tersebut, agama telah menjadi diskursus yang menarik, mendengung menjadi lebah dan nyamuk-nyamuk yang memutari telinga, mengerubungi hidung, menjadi penampakan mata kita semua. Kita ambil fenomena terdekat, sejak pasal penistaan agama yang mengemuka pada tahun 2016 kemarin, permasalahan agama menjadi pasal keprihatinan bersama, gerakan-gerakan telah muncul, semangat-semangat telah menyala, berkumpul berjuta manusia di pusat perkotaan, melakukan pembelaan atas tindakan mantan gubernur DKI Jakarta yang disebut menyinggung berjuta umat-umat Islam.

Kita semua tidak bisa menyangkal kenyataan itu, terlepas benar atau salahnya, berbagai perspektif yang diketengahkan pada publik nyatanya bahwa reaksi itu ada, gerakan itu telah ada, fenomena itu memang telah ada.

Hingga saat ini, kita akui bersama atau tidak, bahwa gejolak tersebut masih menggenggam di sebagian tangan-tangan masyarakat, emosi serta reaksi tidak bisa kita sangkal dan tahan begitu saja dengan pernyataan-pernyataan perdamaian, dalil-dalil agama yang mendamaikan serta menenangkan. 

Sehingga atas fenomena inilah kita tidak bisa meng’iya’kan kebenaran per-teor-ian Ilmuan Berger diatas, dunia tidak lantas tersekulerkan, tidak lantas agama menjadi pasal kedua atau kesekian untuk diperhitungkan, agama masih menjadi soal ampuh, poin serius didalam lajunya kehidupan yang digendrungi modernitas ini. 

Akhirnya menjadi runtuhlah teori sekuleriasi Ilmuan Berger tersebut, oleh karena itu kita menjadi mengerti kenapa Ilmuan Berger berbelok melontarkan suatu ungkapan diatas, suatu keterbelalakan terhadap fenomena agama dengan pernyataan: ‘bahwa kedepan siapa yang berani mengabaikan agama di dalam setiap perwacanaanya, ia akan menanggung resiko yang sangat besar.’

Perjuangan Iman atau Identitas
Di tengah semangat agama yang masih mengemuka, kita menjadi mengerti bahwa tidak bisa setiap kelompok akan mengabaikan kekuatan ini, mengabaikan energi atau api-nya agama yang masih menyala ini, namun energi ini apakah dapat terselurkan pada asas kemanfaatan sesama atau justru terjebak pada emosi yang membahayakan. 

Menjadi apinya dapur atau apinya suatu musibah, jika menjadi apinya dapur, maka semangat ini akan membantu melangsungkan perkara kebutuhan keluarga dan kehidupan, memasak nasi, memasak lauk, merebus air dan lain sebagainya, melangsungkan hajat kehidupan. Namun jika menjadi suatu apinya musibah, inilah yang menjadi perkara kita bersama, api yang melalap rumah, bangunan-bangunan, hanguslah kehidupan. 

Tidak bisa dipungkiri, di dalam negara-negara yang hangus, tentu seketika hanguslah pula masa depan, hanguslah cita-cita dan harapan, lihatlah negara-negara yang dihanguskan oleh konflik antar agama, antar sekte dan antar golongan, datanglah perang, pembunuhan, aksi bom bunuh diri hingga tragedi genosida mengerikan, semua itu telah menjadi resiko yang tidak bisa kita tawar-tawar lagi.

Atas dasar antisipasi timbulnya perkara ini, jika kita sekarang jeli melihat fenomena agama di Indonesia, bahkan juga di dunia, kenpa seolah agama justru menjadi sebab musabab pertikaian dan kerusuhan. Semangat agama yang secara esensial harusnya suatu jalan yang sama-sama untuk mendekat kepada Tuhan, kenapa justru dipakai melukai sesama, karena suatu suatu perbedaan, baik perbedaanpilihan politik, perbedaan pemahaman ritual serta budaya keagamaan dan lain sebagainya. 

Logika agama kenapa harus tertuju pada agenda mengalahkan, menyingkirkan dan bahkan memerangi antar umat beragama sendiri, dan lebih-lebih saat ini kita melihat sendiri realita di Indonesia, agama telah menjadi alat legitimasi calon-calon kandidat dalam kompetisi perebutan kursi kekuasaan negara. Berbagai umpatan, fitnah, isu dan sara seoalah telah menjadi fenomena wajar, pada nalar konsep jihad dalam kemenangan uamt beragama.

Bukan berarti kita bermaksud memisahkan suatu urusan agama dan politik, akan tetapi dalam hal ini jika kita senantiasa larut dalam kemelut persinggungan suatu masalah yang didasari pada semangat agama, semangat agama tersebut harusnya bukan suatu semanagat yang menyoalkan urusan semu (Aksi bela Islam, bela Tauhid, dan sebagainya), semu disini adalah suatu masalah yang masih depatebel. 

Sebagai contohnya, sekarang siapa yang bisa megetahui kadar atau ukuran iman, serta keislaman setiap hamba kepada Tuhan-nya?, dan siapa yang bisa mengetahui secara pasti sekte A dan sekte B, bahwa siapa yang paling benar?, karena pasti setiap pihak akan sama-sama saling meyakini ritus kebenaran peribadatan masing-masing tersebut. Inilah yang dimaksud sebagai suatu masalah semu, masalah yang masih sama-sama meraba. 

Perjuangan Iman atau perjuangan Identitas adalah kunci dari pergolakan ini, jika mengacu pada realitas adanya aksi bela Islam dan tauhid sebagai contohnya, saya akan sodorkan suatu pertanyaan mendasar, jika suatu ‘standart’ Iman atau Islam itu kita ketengahkan kepada pandangan umum, masihkah akan berlaku sebagai yang sejati? Tentu saya akan sangat menyangkal jika suatu ukuran itu sudah kita ketengahkan kepada publik adalah suatu yang sejati (Iman), akan tetapi yang bisa kita lihat hanyalah suatu ‘identitas’, suatu kebenaran yang telah disepakati kelompok tersebut (rezim kebenaran). 

Namun saya lebih setuju meyebut suatu ‘Iman’ itu adalah perkara standart pribadi, prinsip individu, tali hidup seseorang yang berangkat dari pengalaman agama, pengalaman batin dan pribadi, bukan suatu bentukan-bentukan umum. Sehingga bagi lain dari mereka yang tidak pernah menjadi bagian dari aksi-aksi tersebut, atau turut bergerak didalamnya, hadir di acara reoni dan tidak bersepakat pada agenda (bela Islam dan tauhid) tersebut, bukan berarti mereka tidak lagi punya perkakas Iman dan Islam di dalam dirinya.

Inilah kita harusnya paham dalam memandang soal‘Iman’ dan ‘Identitas’. Iman adalah jalan privat setiap hamba kepada Tuhan yang tidak satupun bisa mengukur dan melabelkan, sedangkan identitas adalah suatu kesepekatan umum yang rentan akan genggaman sifat ketamakkan dan kuasa. Sehingga istilah ‘Bela Tauhid atau Bela Islam’ tidak bisa kita jadikan dasar dalam misi mengakomodir masa, menggalang masa, melakukan perlawanan untuk kemenangan atas nama jihad agama. 

Narasi-narasi jihad atas nama agama tersebut harus bergeser pada narasi perjuangan ruang hidup kemanusiaan, kelestarian lingkungan di dalam lajunya pembangunan yang tamak ini, perjuangan kelompok miskin yang termarjinalkan, rumah mereka yang tergusur dan lain sebahainya. 

Disitulah seketika nanti martabat agama akan ikut naik kelas, jika misi kemanusiaan ini ditinggikan, agama akan turut tersegani bukan menjadi ditakuti. Simpulnya perjuangan atas nama agama adalah bukan hanya emosi kerumunan yang membludak dengan cara mengibarkan bendera-bendera agama, yang justru seolah larut pada nalar eksistensi ‘Identitas agama’ yang bukan ‘Iman agama’.

Sehingga semangat agama yang masih ada ini, janganlah justru menjadi energi apinya suatu ‘musibah’, akan tetapi semangat agama harus menjadi suatu apinya ‘dapur’, dapur tempat ibu-ibu untuk memasak makanan demi suami dan keluarga tercinta, agama sebagai api untuk suatu kehidupan, bukan peperangan atas nama kebenaran. Semoga bermanfaat.


Oleh: Milada Romadhoni Ahmad, S.Sos.