Abu dan Debu, Puisi - Puisi Melita Encik
Cari Berita

Abu dan Debu, Puisi - Puisi Melita Encik

6 December 2018

(Foto: Dok. Pribadi)


Gregorius

Sunyi adalah kitab hidup
Menampung jawaban seluruh
Ruang terluas menumpah sesal
Ranjang ternyaman rebahkan jiwa yang hampa
Sunyi adalah pintu kekal
Membuka akal pada arah yang jelas
Selalu mengucapkan selamat datang bagi hati yang patah
Kembali, dihantarkan dengan kata baik-baik saja
Sebab sunyi adalah kitab hidup
Menampung doa juga ruang tuntaskan dosa.
Sunyi adalah melodi waktu tak bergaung.
Diam, isi kepala penuh nada-nada taubat.
Sunyi adalah kitab hidup.

           
Taman doa,2018


Bartimeus

Bartimeus,
Kau lelaki berhati baja,
Tegar kau merawat lara,
Bisu kau teguhkan segala sendu.
Pada gaduh sepatu anak Daud,
Kau bersikukuh Ia datang mencumbui matamu,
Menikmati doa juga dosa kau yang rapat
Kalau saja aku ada dekatmu,
Kubantu kau keraskan teriakmu,
Sebab aku tak ada bedanya dengan kau.
Matamu tak dapat melihat, hatiku tak dapat membuka mata
Bahwa gelap selalu melanda,
Nafsu kalbu liar bertumbuh dalam segala waktu
Imanmu telah menyelamtkan engkau,
Nafsuku telah mematikan hatiku.

Bartimeus,
Kita belum terlambat,
Masih ada sebakul waktu untuk merunduk,
Tepat pada pukul tujuh itu, kita telah jadi baru.
Jangan takut, Iman adalah batu penjuru .

Taman doa,2018


Abu dan Debu

Aku adalah daun
Selalu berdecak kagum pada abu dan debu
Mereka senantiasa setia mencium tapak
sekalipun belum saling mengenal apalagi jumpa temu
Setia menerima asa yang hampa dari manusia
Dicabiknya dari rasa lalu sumpah serapah ke tanah
Mereka bergandengan terbang luas dan liar
Barangkali mereka sama sepertiku
Mencintai yang tidak dicintai oleh orang
Menerima yang tidak diterima oleh orang
Sebab jatuh berkali-kali seperti matipun adalah kawan sejati dari hati
Abu dan debu setia menanti daun yang jatuh namun tidak pernah menjatuhkannya dengan mau
Sebab mereka sendiri ialah empunya sang jatuh 
Abu dan debu setia menanti pulang yang telah diciptakan dapat terbang
Abu dan debu setia menjelma menjadi ranjang ternyaman bagi jiwa-jiwa yang menyudahi ziarah dosa juga doa.
Abu dan debu tak pernah memilah waktu
Apalagi berpilih kasih teruntuk yang memang sudah usai
Abu dan debu tak pernah cemburu
Pada aku sang daun,
Pada dahan, pada angin
Pada yang segalanya berada di atas tubuhnya
Pada segala yang menjadi tuan-tuan jalanan
Pada yang segalanya diciptakan dapat bersuara
Pada yang segalanya diciptakan dapat menjamu tubuh, nafsu juga rindu.
Pada yang segalanya diciptakan dapat berucap selesai juga Amin.
Abu dan debu,
Adalah alfa dan omega
Setelah yang dinamakan Pencipta.


Asrama, 2018


Meja Kecil di Sebuah Kaffe

Ada rintik juga musik.
Lalu rindu .
Tentang segala hal yang jenuh.
Tentang segelas teh yang pernah kita seduh.
Tentang segala tanya apa kabarmu?
Tentang segala yang terangkai oleh waktu.
Meja kecil ini,
Ada kau di bagian baratnya.
Kau duduk bersimpuh senyum.
Menatapku .
Tapi semu. Itu imajinasiku.
Meja kecil ini,
Ada pelayan perempuan
Sedikit seksi tapi cantik sekali
Tersenyum sepanjang cerita masuk keluar sang tamu
Ada aku,
Ada rinduku,
Ada kesepianku,
Ada bayang kau
Terekam jejak oleh mata perempuan itu 
Ia tersenyum.
Katanya, Aku semakin tak terlihat cantik.
Wajah murung juga rambut tak terurus.
Badan kurus dengan baju yang digerus peluh dan keluh
Aku, tidak secantik dulu.


Kampus,2018


Hari Minggu

Ada banyak pintu yang terbuka
Ada banyak wajah yang bersua
Ada banyak sesal yang bertumpah,
Dijejer rel kereta juga sepanjang roda berpijak
Mulut-mulut merapal dan bergumam tanpa suara
Bisik pelan-pelan yang sepekan menindih kepala dan dada.
Setelahnya memetik buah dari nada pembuka hingga nada tutup misa .

Hari minggu,
Timbunan keluh meluruh
Bersimpuh dengan banyak cara meredup
Dengan duduk, merunduk dan mengangguk
Lekas setelah semuanya bias,
Ada alasan, Hari minggu hari Tuhan.

 Lalu, bagaimana hari minggumu?

Aku menyanjung debu
Doa menjaga ibu
Tidak lupa menyebut nama kau
Yang tak pernah kau tahu, bahwa kita adalah saudara abu
Tercipta pada awal waktu
Berakhir kembali pada waktu
Kau,
Masih anggap aku asing?

Oeleta,2018 


Oleh: Melita Encik
Mahasiswa semester 3 jurusan bahasa dan seni, Program studi Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Nusa Cendana Kupang.