Viktor Laiskodat Tekankan Bank NTT Harus Dapat Laba Rp 500 M Tahun 2019
Cari Berita

Viktor Laiskodat Tekankan Bank NTT Harus Dapat Laba Rp 500 M Tahun 2019

29 November 2018

Foto: CNN Indonesia
KUPANG, marjinnews.com - Usai digelarnya RUPS Luar Biasa Bank NTT yang dilaksanakan pada Rabu (28/11/2018), Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat menyampaikan keinginannya agar laba Bank NTT pada tahun 2019 mendatang harus mencapai 500 M. Sedangkan pada tahun 2020, Bank NTT sudah menjadi bank devisa.

"Selaku pemegang saham kita inginkan agar tahun depan itu laba bersih harus Rp 500 M dan tahun 2020 bank ini sudah jadi bank devisa," kata Viktor.

Sedangkan soal hasil RUPS LB, ia mengakui, akan melakukan proses ulang terhadap komisaris dan dewan direksi.

Menaggapi keinginan luar biasa Gubernur NTT tersebut, Wakil Bupati Flores Timur, Agust Payong Boli menekankan agar siapa pun yang terpilih menjadi pemimpin di Bank NTT bisa menandatangani pakta integritas dengan Gubernur NTT supaya target tersebut bisa tercapai.

"Siapapun dia yang akan menjadi pemimpin di Bank NTT, saya minta supaya tanda tangan pakta integritas ‎dengan Gubernur NTT. Apalagi, target yang diberikan agar laba Bank NTT Rp 500 milyar di tahun 2019," ungkap Agust seperti dilansir kupang.tribunnews.com pada Rabu (28/11/2018).

Menurut Agus, perlu ada pakta integritas, agar direksi dan komisaris yang baru bisa bekerja sesuai target yang diberikan selain profesional.

‎"Jadi ini untuk mendukung mimpi besar bapak Gubernur NTT agar Bank NTT menjadi bank yang profit oriented. Karena itu siapapun direksi harus tanda tangan pakta integritas," kata Agus.

Dia mengakui, Pemerintah Flotim sebagai salah satu pemegang saham mendukung RUPSLB yang dilakukan ‎agar ada restrukturisasi.

"Harapan kita direksi yang baru harus bekerja sungguh-sungguh dan profesional. Kalau tidak maka mundur saja, sehingga butuh pakta integritas," katanya.

Dia mengakui, dengan kondisi itu, maka kinerja dewan direksi bisa teruji. Sedangkan soal gaji direksi, ia mengaui cukup besar, karena itu gaji harus standar dulu, kemudian diberi target, apabila enam bulan tidak mencapai target maka gajinya diturunkan. Sebaliknya jika penuhi atau melampaui target, barulah gajinya dinaikan.

"Ini bank milik rakyat, jadi harus beda dengan bank umum lainnya,sehingga harus social oriented /orientasi sosial, kemudian juga soal bunga Bank NTT" ungkapnya.

Dikatakan, keluhan ini bukan saja di Flotim, tapi hampir seluruh daerah, karena bank milik rakyat, tapi kurang memihak kepada masyarakat.

"Jika memberi pinjaman, maka untuk home-home industri dan Kredit Usaha Rakyat (KUR) harus dengan bunga terjangkau. Bank NTT ini hadir untuk membawa keluar masyarakat‎ dari kemiskinan," kata Agus. (EC/MN)