Surat Kecil untuk Dek Chelsea Ndagung
Cari Berita

Surat Kecil untuk Dek Chelsea Ndagung

14 November 2018

Foto: Facebook/Chelsea
Selamat pagi dek, su makan kah? Maaf sapaan kaka harus dimulai dengan pertanyaan seperti itu. Bukannya sok perhatian, tetapi kaka harus memastikan kalau adek kenyang secara jasmani dan rohani layaknya kaka yang selalu merasa kenyang ketika mendengar suaranya adek kala bernyanyi. 

Jujur saja, sudah sejak lama kaka ingin menulis ini. Namun, tugas kuliah yang menumpuk belakangan ini membuat kaka kehilangan banyak waktu walau sebentar untuk sekedar mencoret kata-kata tak bermakna seperti ini untuk dirimu. 

Bukannya curhat, kaka hanya perlu meminta maaf karena terlalu lama memendam rasa kagum terhadap dirimu. Itu sungguh menyiksa kaka dek. Adek pernah kah menaruh rasa suka kepada seseorang, sementara dia menyukai orang lain? Kira-kira begitulah sekilas gambaran perasaan kaka ketika mengabaikan waktu barang sebentar untuk menulis ini kepadamu.

Jadi begini dek, kaka ini tidak bisa menyanyi. Tetapi suka dengar musik. Guru agama kaka waktu kami latihan koor dulu bahkan pernah meledek kaka dengan berkata begini: “Kamu tidak usah menyanyi. Tetawa saja fales..” adek bisa bayangkan sakitnya macam mana. Itu lebih sakit dari pada adek ditinggal seseorang pas lagi sayang-sayangnya. 

Tetapi, itu semua beralih menjadi sebuah harapan ketika kaka mendengar adek bernyanyi. Kaka sudah tidak lagi memelihara bibit kebencian terhadap guru agama kaka yang membuat kaka phobia terhadap lagu-lagu gereja. Meski sering mendengar dan bahkan menyanyikannya, kaka tidak pernah benar-benar tulus melakukan itu semua. Adeklah yang membuat kaka kembali ke jalan yang benar. Bahwa makna Qui Bene Cantat Bis Orat itu benar-benar membuat kaka harus memulai lagi dari nol belajar not-not angka. Dengan suara fales itu tentunya.

Mendengar adek bernyanyi itu membuat kaka merasa sangat bahagia. Itu semacam kebahagiaan tak terkira yang digambarkan ketika adek pernah merasakan sebuah momen di tanggal tua. Dimana dompet hanya berisi uang receh dan nota bon di kantin samping kosan. Tiba-tiba sebuah pesan singkat masuk: “Enu, mama sudah transfer uang untuk bulan ini. Tolong dicek”. Bayangkan dek, coba bayangkan. Di kepala kaka biasanya jika sudah begitu hanya ada paha sama dada. Ayam goreng maksudnya. Hehehe..

Terima kasih sudah membaca sampai disini dek, jangan sungkan untuk tersenyum. Kaka juga setiap malam membayangkan senyumannya adek sebelum tidur. Manisnya itu kayak seseorang yang sudah lama menjomblo, tiba-tiba dia ingat lagi bagaimana caranya jatuh cinta. Nikmat, dan kadang sukar digambarkan dengan kata-kata. 

Dunia itu semacam hanya ada senja dan bintang yang berseliweran di malam hari. Indah. Dan pada kondisi seperti, si mantan jomblo akhirnya tahu bersyukur dan paham bahwa kalimat: “jodoh di tangan Tuhan” itu bukanlah wacana politik lima tahunan yang tidak bisa dipercaya sama sekali.

Maafkan kaka sudah membawa adek berbicara tentang politik yang kotor itu dek. Hati adek terlalu tulus dan bersih lewat nada-nada indah untuk dikotori. Namun, kalau kaka jujur bahwa sampai detik ini kaka sudah punya pacar, adek tidak marah toh? Itu biasa dek. Lumrah. Romo di paroki kaka pernah bilang bahwa cinta itu tidak ada batasnya. Siapa saja boleh jatuh cinta. Seperti kaka yang jatuh cinta dengan suaramu. 

Titip salam buat dia yang telah memenangkan hatimu dek. Jika dia merepotkan adek, katakan bahwa cinta itu indah. Tetapi tidak selamanya keindahan mengandung cinta. Maka, seperti adek mengajarkan kepada kaka soal cinta yang indah itu, tunjukanlah kepada orang lain bahwa cinta itu memang indah dengan karya-karya adek lainnya di masa yang akan datang.

O iya, kaka hampir lupa memperkenalkan diri. Nama kaka Pondik, lelaki biasa dari negeri entah berantah yang mendapat label halal dengan predikat rakat. Salam karya dek, cukup dulu ya. Terima kasih sudah mau membaca ini. Doakan semoga pacar kaka tidak marah saat tahu kaka menyurati adek pagi ini. Tuhan memberkatimu dek..

Oleh: Pondik