RONITA
Cari Berita

RONITA

22 November 2018

Foto: Ilustrasi
CERPEN, marjinnews.com - Riuh gemuruh pergolakan kaum ibu dalam melahirkan anak pertama menjadi sedu sedan tersendiri. Hidup tak lurus-lurus saja, tidak ada ciri tradisi dalam unsur kehampaan bahwa menjadi istri biasa-biasa saja yang bersuami orang biasa pula tidak menjadi jaminan kalau hidup diterima sebegitu apa adanya. 

Adalah Vero seorang istri yang sedang hamil 5 bulan.  Terus mengelu-elukkan  Joni si pemanjat tiang bendera yang diberi beasiswa hingga S1 oleh PLN; di antara semua jenis kebanggaan yang ditawarkan dunia untuk Joni yang dia lihat di TV,  Vero berharap anaknya kelak kebagian rezeki yang satu itu. Sang suami tamatan SMP dan Vero tidak menamatkan pendidikan apa-apa. Anaknya harus berpendidikan!

Masa kehamilan pertama membuat usia pernikahan yang masih hangat-hangatnya begitu bergema di sudut-sudut langit rumah dan memantul kembali pada aktivitas mereka. Vero lebih banyak meminta. Dia akan meminta “nio tapa” (kelapa bakar) jika dia ingin keramas. Nio tapa itu pun sudah dikunyah dengan suka rela oleh Lias, si suami. Lebih baik dan licin daripada diparut katanya. 

Pun setiap kunyahan yang sudah bertukar dengan ludah itu lebih panas dan tercampur cinta untuk istri terkasih di dalamnya. Vero ketergantungan, pada nio tapa juga hasil kunyahan sang suami. Selebihnya Vero akan pasrah saat rambut sebahunya dipijat manja sang suami yang perlahan dibaluti dengan nio tapa beraroma harum berbeda. Terbakar, keras, matang dan nikmat. 

“Tapi wangimu lebih harum; seperti bunga mawar yang pertama kali muncul dari dalam tanah di bulan November. Bau basah hujan dan harapan.” Bisik mesra Lias yang menyapu dari leher Vero dan berakhir  pada desahan di telinga wanita pemilik senyum manis itu. Lias menyapu mesra rambut sang istri dengan hati-hati. 

“Mau engkau namakan siapa anak kita nanti?” kata Vero bergairah. 

“Joni jika lelaki. Engkau menyukai anak beruntung itu. aku tau.” Siapa lagi yang saling memahami keduanya kalau bukan percakapan dan komunikasi yang hampir tak ada batasan. 

“Tetapi jika wanita akan kunamakan, emmmm” kata Vero berpikir. Dia melihat kelapa bakar yang masih tersisa dalam genggamannya. “Ronita!!”

“Kenapa Ronita?”

“Rono nio tapa!!” mereka berdua tertawa keras. Lias mencubit mesra lengan istrinya. Ada-ada saja. Hal tak biasa itulah yang sedari dulu membuatnya jatuh hati.

Si Vero adalah istri yang tidak ketinggalan informasi. Dimanjakan Lias untuk tidak bekerja berat membuat dia tidak mau mematikan otaknya. Dia setia menonton berita update terbaru di TV atau membaca lipatan koran berwarna sebelum dipakai sebagai pembungkus bawang dan  bungkus tempe untuk jualansuaminya di pasar. Mengurangi konsumsi plastic kata suaminya. Terbiasa begitu membuat Vero berpikir, berimajinasi dan tertawa hingga meringis atau sekedar diam tanpa ekspresi sambil mengelus perut buncitnya. 

Setelah Joni orang kedua yang menjadi dambaannya adalahpemilik nama Jojo Christie yang dengan selebrasi heboh menunjukkan six packnya secara tidak sengaja kala kemenangandi laga badminton beberapa pekan lalu. Seorang anak yang berprestasi di usia muda, penuh caption inspiratif di sosmed, mengandalkan kekuatan Tuhan dan hal kecil paling manis adalah ketika dia memeluk hangat ibunya dalam puncak kemenangan. Akh, anak pujaan.

Selain olahraga, hiburan dan hal lain Vero juga ikut menikmati peristiwa politik di negeri ini. Ada banyak yang berakhir bencana namun ada saja hal yang bisa dibuat menjadibahan tertawa dari hal tersebut. Mulai dari kasus Ratna Sarumpaet yang akhirnya membuat planga-plongo salah satu pasangan capres-cawapres, atau ketika pesawat Lion Air jatuh dan Indonesia berduka masih saja ada yang menyebarkan fake news untuk kepentingan politik. 

Tidak sadar bahwa masyarakat sudah cerdas dan akhirnya pembuat fake news menjadi sasaran empuk  menjadi tempat kembali untuk dicaci, dimaki hingga ditertawakan. 

“Azab pembuat fake news; dia meninggal tetapi tidak ada yang melayat karena dikira hoax” begitulah tulis salah satu akun yang berinisial C di akun medsosnya.

​Tiga nama dalam kepala Vero; Joni, Jojo dan dalam politik, yah,  Joko. 

“Selama malam-malam panjang kita yang mungkin hanya diisi dengan cinta kasih pada setiap menu sederhana, hingga siang tanpamu karena engkau mengejar cita-citamu atau hingga hari tuamu nanti semoga Indonesia ini tetap dipimpin juragan yang sama. Joko Widodo.” Kata Vero penuh haru terbawa pelukan hangat dan air mata  seorang mama tua yang hijabnya melorot dan senyum khas Jokowi di TV. Selebihnya Vero berbicara pada sebuah lemari di samping TV, lalu menyahut pada dua kursi kayu baru di sampingnya.

“Engkau harus menjadi si sulung yang mampu menjadi pemimpin, dicintai sesama dan lebih banyak bertindak daripada membual. Sebagai sulung, bisakah engkau datang berwujud laki-laki? Agar aku dan ayahmu bersemangat meramu malam panjang untuk mendatangkan adik perempuanmu si Ronita 3-4 tahun lagi? Agar gilaku lebih awet dan Ronita punya ‘Lias’ senior yang menjaga bedanya.” Kata Vero mendesak sambil merayu perut dan semesta.  

Sisa empat bulan terakhir cukup melegakan. Selain ingin dimanja pakai “nio tapa” untuk keramas keinginan sederhana lain Vero tidak berbeda jauh; menyemangati suaminya dari bawah pohon nangka. Pria mana yang tidak menyebut dirinya sebagai pahlawan akan hal yang mampu dia lakukan dan dianggap super oleh belahan jiwa. Akh, lihatlah Lias; dia memanjat mesra pohon nangka sambil sesekali menghalau daun untuk mengambil anak nangka sambil melirik istrinya di bawah pohon dan memperingati untuk memungut anak-anak nangka yang hampir berjumlah belasan itu.

Mereka pulang ke rumah. Lias membakar kelapa,sementara Vero menggoreng bawang merah setengah matang sambil mempersiapkan micin dan garam. Mereka mencapur semuanya dalam satu wadah lalu mengiris tipis anak nangka kemudian menumbuk dengan semangat di luar rumah. 

Sibuk menumbuk, Vero menyelinap dibelakang Linus dan dengan tangan mungilnya memetik cabai berwarna hijau. Dia memeluk Lias spontan. 

“Terimakasih sudah berbahagia dalam hal kecil seperti ini. Aku padamu” ucap  Lias yang banyak memiliki bulu tangan, tapi alih-alih sibuk bercukur dia selalu bersyukur. 

“Kamu di dalamku” kata Vero kepada suaminya yang sudah menoleh ke belakangnya. Yah begitulah, kesempatan itu digunakannya untuk menaruh cabai di dalam campuran anaknangka tadi. Kasih tidak harus memanjakan kata Lias selalu. Jadi dia menolak keras Vero memakan cabai dan hal tabu lainnya yang dilarang kala hamil. Cinta seperti apa itu? Yah seperti itu. Akan tetapi wanita selalu punya daya. Kalau lelaki? Mari kita lihat bersama ketika Lias akan mencicipi makanan itu sebelum memastikan masuk ke dalam tubuh anak dan istrinya. 

Oleh: Tini Pasrin

*Rono: Bahasa Manggarai, Flores, NTT yang berarti keramas; biasanya dilakukan oleh perempuan Manggarai tanpa menggunakan shampo tetapi kelapa yang diparut atau dikunyah terlebih dahulu.
*Nio Tapa: Bahasa Manggarai, Flores, NTT yang terdiri dari kata 'Nio: Kelapa' dan 'Tapa: Membakar", Nio Tapa: Kelapa yang dibakar