Ribuan Mahasiswa dari Perguruan Tinggi Se-Bali Gelar Deklarasi Kebangsaan Lawan Radikalisme

Menu Atas

Cari Berita

Advertisement

Ribuan Mahasiswa dari Perguruan Tinggi Se-Bali Gelar Deklarasi Kebangsaan Lawan Radikalisme

MARJIN NEWS
10 November 2018

Foto: MN/ R Nahal
DENPASAR, marjinnews.com - Delapan ribu lebih Mahasiswa yang berasal dari berbagai perguruan tinggi di Bali hari ini berkumpul untuk melaksanakan Deklarasi Kebangsaan Melawan Radikalisme.

Kegiatan deklarasi tersebut dilaksanakan di lapangan kampus Unud Jl. Sudirman Denpasar pada Sabtu (10/11) pagi dihadiri juga oleh Perwakilan dari TNI/POLRI, pimpinan Perguruan tinggi se Bali, dan para Pimpinan BEM dari berbagai Perguruan Tinggi di Bali.
Koordinator acara Deklarasi Kebangsaan perguruan tinggi se-Bali melawan radikalisme, Dr. Ida Bagus Radendra Suastama, S.H.M.H dalam keterangannya menyampaikan bahwa latar belakang kegiatan dari Civitas akademika se Bali ini dilatarbelakangi oleh keprihatinan, dan kesadaran terhadap ancaman Pancasila dari ideologi lain.

"Tadi kita katakan kepada ade-ade (mahasiswa-red) ada ideologi Pancasila yang menyatakan perdamaian, kemudian ada ideologi lain yang menyatakan permusuhan antar agama, antar golongan. Damai atau konflik, mereka (mahasiswa-red) dengan tegas menyatakan damai," ujar Ida Bagus Radendra Suastama.

Ia menjelaskan, ketika para mahasiswa itu ditanya pilih Pancasila atau ideologi lain. Mereka dengan tegas mengatakan pilih Pancasila.

"Kembali ditanyakan, siap tidak, menjaga Pancasila agar tetap damai. Mereka menjawab, siap," terang Ida Bagus Redrndra Suastama yang saat ini juga menjabat sebagai ketua yayasan Handayani.
Lebih lanjut ia mengatakan, bahwa Pancasila itu jangan terlalu dibuat ruwet. Pancasila harus dibuat dengan cara milenial.

"Anak-anak sekarang itu tidak terlalu penting ideologis itu apakah menentang kapitalis, apakah menentang sosialisme. Semua itu tidak terlalu konsen," papar Ida Bagus Redendra Suastama.

Advokat yang juga akademisi ini menambahkan, katanya, "saya beri satu contoh, Suriah lebih dulu merdeka dari Indonesia, dia lebih maju dari kita sebetulnya. Tetapi lihat sekarang hancur berantakan. Lapangan pekerjaan tidak ada. Itu semua dimulai dari ideologi radikal. Ada mulai tagline dulu ganti presiden di Suriah. Itu semua diawali oleh ideologi radikal dimana ajarannya agama itu bersikap eksklusife. Itulah awal-awal dari kehancuran Suriah. Tadi ditanya ke para mahasiswa. Apakah ingin seperti itu. Jawab mereka tidak," terang Ida Bagus Redendra Sustama.
Menurut Ida Bagus Redendra Sustama, apa bila ideologi ini tumbuh di Indonesia maka para mahasiswa yang nantinya akan lulus bisa susah dalam mendapatkan lapangan pekerjaan karena kondisi negara sudah kacau balau oleh konflik radikalisme ini.

"Jadi pendekatan-pendekatan seperti ini yang kita lakukan. Semoga dengan cara ini mereka akan sadar bahwa Pancasila bukan benda lama yang kuno. Bukan warisan lama yang ketinggalan jaman. Jadi dia itu (Pancasila-red) sangat relevan dengan keadaan sekarang," ujar Ida Bagus Redendra Suastama.

Ia melanjutkan, bahwa Pancasila mengajarkan damai dalam hati nurani. Hal itulah yang membuat para mahasiswa ini cinta akan ideologi Pancasila.

"Mereka (mahasiswa-red) siap menjaga Pancasila. Karena menjaga Pancasila bukan saja kepentingan bangsa atau negara. Melainkan kepentingan kita bersama. Sekali lagi kalau mau masa depan suram. Ganti ideologi Pancasila. Tetapi kalau mau aman, nyaman dan damai, mari jaga bersama Pancasila. Itulah pendekatan-pendekatan yang kita lakukan kepada para generasi milenial sekarang," tutup Ida Bagus Subagia.
Sementara itu Presiden Mahasiswa dari Universitas Ngurah Rai, Endang Bunga yang ikut menjadi pemimpin dalam deklarasi ini menjelaskan, kegiatan ini terdiri dari pembacaan orasi oleh setiap pimpinan BEM dari perguruan tinggi se Bali dan diakhiri dengan pembacaan empat konsensus besar bangsa Indonesia yaitu; Satu ideologi Pancasila, satu konstitusi, UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Satu Negara, Negara Kesatuan Republik Indonesia, Satu Semboyan, Bhineka Tunggal Ika, dan Satu Tekad, Melawan Radikalisme dan Intoleransi.

Penulis: Remigius Nahal