Politik Sontoloyo


OPINI, marjinnews.com - Menjelang pemilu 2019 yang tidak lama lagi, euforia politik semakin terasa kencang setidaknya bisa dilihat dalam dua hal yaitu: pertama, semarak baliho dan segala atribut kampanye calon legislatif baik di jalan raya maupun di dalam rumah kita; kedua, melek politik pada politisi dalam mengonstruksi progress pemenangan melalui pertemuan-pertemuan terbatas hingga mengunjungi keluarga maupun kerabat.

Perbincangan politik pun terproduksi setiap harinya bahkan dimana saja. perbincangan politik paling deras justru tumbuh di pusaran kelompok menengah yaitu kelompok masyarakat yang tidak terlibat aktif sebagai kandidat seperti aktivis pemuda, mahasiswa, masyarakat terpelajar dan para konsultan pemenangnya. Sentrumnya ada di warung kopi, ruang-ruang publik, diskusi - diskusi terbatas maupun media sosial.

Pada pusaran kelompok menengah inilah kontestasi pemilu seolah olah menjadi lebih sederhana dan dibaluti argumentasi bervariasi, disanalah terbangun isu - isu soal figur - figur yang kuat dan potensi menjadi pemenang pemilu. Bahkan di pusaran merekalah aktor-aktor politik yang mempunyai sumber daya politik paling besar bisa di teropong, basis argumentasinya sangat rasional, faktual dan seringkali menggunakan variabel-variabel tertentu misalnya faktor ketokohan kandidat, incambent atau bukan, faktor geneologis maupun ideologis.

Kelompok menengah memiliki posisi strategis pada proses demokrasi melalui pembentukan opini publik di kalangan menengah ke atas, namun mereka juga harus melakukan proses pencerahan dan pendidikan politik di lapisan masyarakat awam. Wacana yang mereka bangun harusnya tidak sekedar memanaskan pergulatan tensi ditengah persaingan perebutan kekuasaan, tetapi juga mentransformasikan isu-isu politik dan demokrasi di masyarakat bawah sehingga menjadi lebih ringan dan produktif.

Lalu bagaimana perbincangan politik di kalangan masyarakat awam? masyarakat awam yang belakangan diklaim lebih cerdas berpolitik justru memiliki asumsi tersendiri yang masih sangat negatif. salah satu yang paling kuat adalah perbincangan seputar Caleg potensial. Di kalangan awam caleg potensial masih saja diasosiasikan dengan modal financial seorang kandidat, mayoritas pemilih kita masih meyakini bahwa politisi yang memiliki uang banyak, baik itu untuk membiayai tim suksesnya maupun persiapan serangan fajar money politik masih berpotensi menang. Asumsi ini kemudian mewabah demikian luas dan kemudian akan menjadi preferensi masyarakat dalam memilih.

Menguatnya wabah politik uang justru diendus oleh para politisi. politisi yang ingin bertarung sangat menyadari hal tersebut dan pekerjaan pertama yang mereka lakukan adalah memperbesar kantong kantong pendanaan. sebagian besar caleg memperoleh nya dari dana pribadi, sumbangan keluarga atau kerabat dan dari hasil penjualan harta benda miliknya. Itu artinya, para caleg akan menghabiskan uang dengan nominal yang tidak terbatas karena kebutuhan memperoleh suara yang sangat mahal.

Karena anggapan modal financial diyakini sebagian besar kandidat dapat mendongkrak perolehan suaranya, maka pertarungan di tengah masyarakat semakin panas bahkan masyarakat juga memanfaatkan sebagai lahan basah. pemikiran seperti ini terbangun karena ada persepsi di kalangan masyarakat bahwa politik adalah apa dan berapa yang bisa diperoleh dari para politisi menjelang pemilihan?

Basis pemilih mayoritas secara sadar akan membuka peluang berkomunikasi dengan sebanyak mungkin kandidat, semakin banyak kandidat yang bisa melakukan pendekatan maka semakin banyak pula keuntungan yang didapat oleh pemilih pragmatis. Dalam kompetisi pemilu dan super liberal seperti ini kran munculnya pemilih palsu atau pemilih berkaki seribu sangat potensial. pemilih palsu itu akan mengeksploitasi sebanyak mungkin kandidat, karena mereka beranggapan bahwa hanya dengan cara itulah mereka dapat mengambil keuntungan dari sebuah proses demokrasi.

Ketika para caleg tidak cerdas mengelola basis dan jaringan pemilihnya, maka mereka dengan mudah dipermainkan karena basis pemilih berkaki seribu atau pemilik palsu sangat besar. pemilih palsu itu akan memanfaatkan akses ke sebanyak mungkin caleg dengan berbagai dalil yang ia sampaikan supaya bisa dipercaya walaupun sebenarnya ia hanya mengejar uang dari para caleg, dalam istilah sehari-hari; ambil uangnya semua dan pilihlah salah satu diantaranya yang paling banyak uangnya atau kalau perlu pilih semuanya biar adil (golput).

Bukan hanya itu para caleg juga akan direpotkan dengan ajakan dari semua tokoh masyarakat atau komunitas-komunitas yang mengklaim bisa punya basis massa, kemudian caleg diminta untuk membiayai kegiatan yang mereka lakukan atau dana-dana pengamanan basis, padahal sebagian besar ajakan itu belum tentu benar dan hanya untuk menghabiskan dana caleg bersangkutan. apalagi ketika para caleg dengan mudah mempercayai ajakan mereka tanpa mengetahui lebih jelas Apakah benar atau tidak dan sebagian besar caleg juga kurang mengerti kondisi sosiologis masyarakat, demografi pemilih dan pemetaan politik. para caleg Justru lebih senang pada klaim-klaim suara yang membuat dia berangan-angan ketimbang perhitungan basis secara riil.

Pemilih palsu atau pemilih berkaki seribu bermunculan demikian masif sebagai imbas dari kegagalan bangsa ini menghadirkan Pemilu maupun pemilihan legislatif yang solutif dan bertanggung jawab. Mereka kehilangan keyakinan pada setiap proses demokrasi bahkan secara ekstrem beranggapan bahwa para politisi harus disabotase sebelum Wakil Rakyat yang kelak akan menjadi seperti kacang yang lupa akan kulitnya itu mengeksploitasi hak hak publik mereka.

Anggapan seperti ini semakin diperburuk oleh perilaku politisi dalam beberapa tahun terakhir yang terlibat dalam pusaran korupsi. Aktor-aktor yang pernah tampil bahkan tercitrakan sebagai politisi bersih justru ramai tergugat sebagai tersangka korupsi. lalu mereka datang kembali menjelang pileg 2019 seakan sebagai pahlawan perubahan.

Di mata pemilih berkaki seribu kualitas memang sangat diperlukan wakil rakyat di parlemen, tetapi aspek kapasitas saja tidak cukup untuk memenangkan pertarungan. pemilih yang tersebar di pelosok-pelosok apalagi mereka yang masih menderita secara ekonomi lebih yakin pada siapa saja kandidat yang bisa memenuhi kebutuhan sehari-harinya saat ini. Perkara lima tahun akan menderita bila ternyata salah pilih, itu diyakini bukan urusan mereka.
Mereka beranggapan bahwa urusan politik dan pemerintahannya tidak ada hubungannya pula dengan kemaslahatan mereka. Keyakinan seperti ini bermunculan sekali lagi sebagai efek trauma publik dan sebagai fakta otentik bahwa Wakil Rakyat tidak pernah ada pada penderitaan rakyat.

Apapun itu menjelang Pemilu 2019 semua caleg akan melakukan apa saja untuk bisa menang dan itu berarti secara psikologis sesungguhnya sebagian besar caleg lebih siap menderita kalah daripada menang. Karena kekalahan akan membuatnya lebih fokus membenahi pengorbanan besar yang dikeluarkan sedangkan seandainya mereka menang akan menikmati dua penderitaan sekaligus yaitu memikirkan beban besar yang telah dikeluarkan dan memikirkan apakah dirinya Sanggup menghadapi beban besar sebagai wakil rakyat.

Singkatnya kita membutuhkan wakil rakyat yang sudah siap segala-galanya, terutama siap menang dengan pola pemenangan yang baik, lebih bermartabat dan dipilih karena kapasitas kepemimpinannya. Dan yang paling penting adalah politisi harus piawai mengendus apa sebenarnya gejala psikologis pemilih. sebaliknya, masyarakat juga harus pandai mengendus Apa isi kepala seorang caleg bukan hanya melihat Berapa isi dompet para caleg.

Dalam perhelatan pesta demokrasi masyarakat bisa menjadi korban kebohongan politisi saat kampanye. tetapi, politisi juga bisa menjadi korban dari masyarakat yang pragmatis atau pemilih palsu. itulah politik SONTOLOYO..!! jika tidak sesuai lagi dengan Apa tujuan politik sebenarnya.

Semoga Pemilu 2019 tidak hanya melahirkan aktor-aktor politik yang hanya akan pandai bergosip di parlemen dan kita semua juga harus menjadi pemilih yang rasional yang memilih berdasarkan kualitas dan kemampuan kepemimpinan caleg, bukan menjadi pemilih pragmatis atau pemilih berkaki seribu.



Oleh: Pepy Kurniawan 
Sekretaris GMNI Cabang Makassar

COMMENTS

Name

Artikel,140,Bali,108,Bedah Buku,1,Ben Senang Galus,1,Bencana Alam,1,Berita,142,Bhineka,2,BNI,1,Bola,2,bom,1,Bom Bunuh Diri,4,Borong,3,BPJS,1,Budaya,41,Bung Karno,1,Bunuh Diri,3,Bupati Mabar,1,Camilian,1,Cerpen,174,Chelsea Islan,1,Chiristian Rotok,1,Daerah,529,Daerah. Riau,1,Dana Desa,1,Dari Kami,2,Demokrasi,22,Denpasar,18,Desa,2,Destinasi,1,Diaspora,2,Dilan,4,Donny Isman,1,DPR RI,4,E-KTP,4,Editorial,34,Ekonomi,5,Ekspresi,1,Ende,6,Entrepreneur,1,Feature,36,festival Komodo,2,Film,7,Filsafat,2,Fitur,1,Flobamora Cup,1,Flores,11,Focus Discussion,4,FPI,1,Gantung diri,2,Gaya,1,gaya hidup,4,Gedged,1,Gempa,6,Gereja,3,Gereja Katolik,3,Gerindra,1,GMKI,1,GMNI,3,Golkar,1,Gusti Dulla,1,HAM,1,Hand Phone,1,Hari Buruh,2,hari buruh internasional,1,Hari Perempuan Internasional,1,Hiburan,25,HMPCK,1,Hoax,2,hukum,59,Human Trafficking,4,IBT Expo,1,Idul Fitri,1,IJM,1,IKEMAS CUP,7,Imlek,1,Indonesia,1,Indonesian Idol,8,Inspirasi,13,Internasional,16,Internet,2,Investasi,1,Iriana Jokowi,1,Ivan Nestorman,1,IYC Jatim,1,Jabar,1,JAD,1,Jakarta,5,Jatim,3,Jawa Tengah,1,Jawa Timur,1,JK,1,Jogyakarta,2,Jokowi,18,JRUK Sumba,2,jurnal Terbaru,1,jurnalistik,3,Kalimantan,5,Kampanye,2,Kampus,3,Kapolri,1,Kar. Ilmiah,4,Karanganyar,1,Karya Sastra,272,KDRT,1,Keagamaan,7,kebakaran,4,Kebangsaan,1,kebudayaan,2,kecelakaan,2,Kecelakaan Lalu Lintas,2,Kediri,2,Kejadian. Jakarta,1,kejahatan,2,Kemahasiswaan,2,Kemanusiaan,62,kemenkominfo,1,Kemiskinan,2,kepala daerah,1,Kepemuaan,5,Kepemudaan,154,kepemudan,8,kerohanian,2,Kesehatan,8,Ketahanan Nasional,1,KNPI,2,Komodo,9,Komunikasi,1,Komunitas,5,Koperasi,1,Korban,1,Korupsi,60,KPK,12,KPU,1,Kreatif,1,Kriminal,51,Kritik Sastra,4,Kupang,24,Labuan Bajo,51,Lakalantas,9,Larantuka,1,Lembata,2,Lifestyle,6,Lingkungan Hidup,15,Literasi,14,lombok,1,LP Cipinang,1,Luar Negeri,4,Mahasiswa,41,Makanan Khas,1,Makasar,6,Makassar,4,Malang,3,Manggarai,112,Manggarai Barat,20,Manggarai Timur,24,Marianus Sae,1,Marion Jola,3,Masalah Rokok,1,Masyarakat,1,Mataram,2,Maumere,7,Media,2,Media Sosial,3,Medsos,2,Mendikbud,3,Menkominfo,1,Milenials,51,Motang Rua,1,Muda Petani,1,musik,1,Narkoba,8,Nasional,275,Natal,19,Ngada,7,Novanto,2,Novel,16,NTT,199,Nyepi,2,Olahraga,11,Opini,400,Orang Muda,15,Otomotif,1,OTT,2,Papua,15,Pariwisata,26,Partai Politik,25,Pasangan,15,Paskah,2,pelajar,2,Pembangunan,5,pemerkosaan,1,Pemilu,17,Pemuda,3,Pencurian,2,Pendidikan,89,Penerbangan,4,penyanyi,1,Peradi,1,Perdamaian,1,Perempuan,20,Perindo,1,Peristiwa,1021,Peritiwa,2,Pers,3,Perzinahan,1,Petani,1,Piala Dunia,1,Piala Oscar,1,pileg 2019,1,Pilgub,41,Pilkada,102,Pilpres 2019,23,PKRI,1,PKS,1,PMII,1,PMKRI,22,PMKRI Bogor,1,Pmkri Jogja,1,Poco Ranaka,1,Pojok Redaksi,34,Polisi,25,politik,89,Politikus,6,POLRI,5,PP PMKRI,1,Pristiwa,31,Prosa,1,PSK,1,Puisi,84,Puteri Indonesia,2,Radikalisme,1,Ratna Sarumpaet,4,Refleksi,15,reformasi,1,Regional,6,Religi,2,Remaja,1,Rensi Ambang,1,Riau,1,Ricuh,1,Rindu,1,Risma,1,Rizieq Shihab,7,Rote Ndao,1,Ruteng,26,RUU,1,Sabu,1,Sail Komodo,1,Sajak,9,Sam Aliano,1,Sastra,3,Sejarah,2,Sekilas Info,23,seleb,1,Selebritas,18,Sidoarjo,1,situs pornografi,1,Somasi,1,Sosial,3,Sosial Politik,1,Sosok,18,Sospol,39,Start Up,1,Suara Muda,43,Sumba,8,Surabaya,36,Tahun Baru,9,Tahun Baru. Remigius Nahal,1,Tarakan,1,Tata Kota,1,Teknologi,11,Tentang Mereka,43,Tenun Manggarai,1,Terorisme,16,Terorismes,4,TKI,4,TNI,1,TNK,1,Togar Situmorang,5,Tokoh,17,Tol Laut,1,Toleransi,2,Tour Jurnalistik,1,traveling,9,UNITRI-Malang,1,Unwira,1,UU MD3,7,Valentine,2,Viral,3,Wisata,4,Wisuda,1,WNA,1,
ltr
item
Muda Membaca Dunia: Politik Sontoloyo
Politik Sontoloyo
https://3.bp.blogspot.com/-0zGVF2mOkc4/W9r4wxe_MUI/AAAAAAAAAYg/H8KW7sp90O0cbcwTECAbbKdwIpoU2z7WgCLcBGAs/s320/20181101_195852_0001.png
https://3.bp.blogspot.com/-0zGVF2mOkc4/W9r4wxe_MUI/AAAAAAAAAYg/H8KW7sp90O0cbcwTECAbbKdwIpoU2z7WgCLcBGAs/s72-c/20181101_195852_0001.png
Muda Membaca Dunia
http://www.marjinnews.com/2018/11/politik-sontoloyo.html
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/2018/11/politik-sontoloyo.html
true
971126874416220402
UTF-8
POSTINGAN LAIN Not found any posts LAINNYA Selengkapnya Reply Cancel reply Delete Oleh Home PAGES Kiriman Baca Semua Rekomendasi untuk Anda LABEL ARCHIVE CARI Semua Kiriman Tidak Ditemukan Apa yang Anda Cari Back Home Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 menit yang lalu $$1$$ minutes ago 1 Jam yang lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Pengikut Ikuti THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy