Perjalanan Cinta Sang Musafir, Part 2


CERPEN, marjinnews.com - Penolakan yang telah kamu lakukan malah membuat aku semangat untuk terus berpacu dengan segala kemungkinan-kemungkinan yang mungkin akan terjadi. Bagiku waktu itu, penolakan yang telah kamu tegaskan hanyalah sebaris kalimat yang tidak perlu aku baca, apalagi aku maknai.

***
Pagi-pagi buta, kamu bangun. Hari itu adalah hari kamu mengikuti tes masuk kuliah di sebuah Universitas Swasta yang ada di Bali. Hari itu juga merupakan hari kita bertemu untuk ke sekian kalinya.

Kamu tampak bersemangat. Di wajahmu kulihat ada harap yang terselubung. Kamu menarik nafas dalam sekali.

 “semoga hari ini lancar dan sukses”. Kira-kira begitulah yang kau ucap dalam hatimu.

Di depan sebuah pintu kau berdiri kebingungan. Kamu kemudian membaca daftar nama-nama yang tertempel di pintu itu. Matamu membelalak. Sesekali kamu melihat kertas yang kamu bawa, yang beberapa hari sebelumnya diberikan oleh panitia penerimaan mahasiswa baru.

“Ketemu”. Ucapmu dibarengi senyum yang merekah di bibir tipismu. Ucapan itu bukan untukku, tapi untuk dirimu sendiri. 

Kau masuk ke ruangan. Aku mengikutimu. Kau mendapat tempat duduk di bagian paling belakang.

 “Kaka boleh pulang. Sebentar, setelah ujian selesai, aku akan menghubungi kakak”. Katamu lagi. 

Aku mengindahkan ucapanmu. Aku kemudian meninggalkan ruangan itu. Membiarkan kamu bertarung melawan gagal yang selama ini selalu menang. 

Pukul tengah hari, ketika perut sudah mulai membunyikan alarm, petanda bahwa saatnya mengisi kembali dengan makanan. Aku mendapat pesan darimu. Katamu bahwa ujian seleksi telah usai. Aku menjemputmu. Di depan gerbang kampus kamu berdiri. Wajahmu kelelahan.

 “Tadi kaka Kristian mau menjemputku, tetapi aku menolaknya”. Katamu dengan polos.

Kristian, sama sepertiku. Misinya waktu itu adalah memenangkan hatimu. Aku mengetahuinya dari sepupuku. Kata sepupuku dia bahkan telah menjumpaimu sebelum pertemuan pertama kita terjadi. 

Akhirnya perjuanganku waktu itu semakin rumit. Belakangan juga aku tahu bahwa ternyata kamu telah memiliki kekasih, tetapi sedang putus. Putus sementara, barangkali. 

Begitulah. Saat itu aku menyadari bahwa tugasku bukan hanya membuatmu jatuh cinta, tetapi lebih daripada itu adalah mengeliminasi kedua sainganku. Yang pertama mantan kekasihmu dan yang kedua adalah Kristian (Lelaki yang tak malu dengan usia, sebab dia sudah pantas dipanggil kakek.).

Apa yang aku lakukan memang sangat tidak adil bagi mantan kekasihmu. Tapi, toh kalian sudah putus. Yang penting aku tidak mendekatimu sebelum hubungan kalian benar-benar berakhir. Bukankah keputusanku untuk memperjuangkanmu sudah bijak? 

Di jalan aku menanyakan perihal ujian yang baru saja selesai. Kamu mengatakan bahwa semua aman, soalnya tidak terlalu rumit. Di depan sebuah warung di pinggir jalan aku menghentikan sepeda motor . Lalu mengajakmu makan. 

“Aku tidak bawa uang”. Katamu
“Tenang saja. Untuk kali ini, aku yang traktir”. ucapku sembari menyungging senyum. 

“Baiklah. Tapi ini bukan modus kan?”. Katamu dibarengi ekspresimu yang datar.

Jujur aku tidak tahu apakah itu hanya guyon atau malah sebuah peringatan. Ah. sudahlah. Aku tidak peduli. Intinya sebagai lelaki aku harus berjuang. Bukankah kamu pantas untuk diperjuangkan?

“Apa aku kelihatan sedang modus-modusin kamu?” Aku balik bertanya. Pertanyaan itu sebetulnya hanyalah argumentasi pembelaan yang tidak perlu dikeluarkan.  

“Sepertinya begitu” Ucapmu sambil tersenyum manis. “Aku bercanda kali ”. Ucapmu lagi.

Aku tersenyum. Namun senyum getir karena malu. “Tapi bercandamu bikin aku malu” Ucapku dalam hati. 

Beberapa menit kemudian pelayan warung mendekati meja yang kita tempati. Pelayan itu menanyakan perihal menu yang akan kita pesan. Aku memilih sepiring nasi goreng, dan kau hanya mengikuti apa yang aku pesan.

Di luar sangat panas. Ditambah lagi jalanan macet. aku terus mendekatkan tubuh ke kipas angin yang tergantung di dinding warung itu. Sedangkan kamu sibuk mengipas wajahmu dengan papan LJK yang tadi kamu pakai untuk mengerjakan soal seleksi masuk kuliahmu. 

Selesai makan, aku langsung mengantarmu pulang. Kamu memilih pulang melalui jalan tol. Aku tak kuasa untuk menolak keinginanmu. Di atas badan jalan tol, angin bertiup cukup kencang, sehingga akhirnya mengalahkan panasnya terik matahari siang itu. 

“Angin ini bisa membawa pergi beban dan kehilangan yang selama ini kamu pikul” Ucapku setengah berteriak, sebab suara angin sangat kencang.

“Mungkin sebaiknya kita berhenti sejenak di sini dan mengisahkan tentang hidup kepada laut dan angin” Katamu meladen pembicaraanku. 

“Bisa. Asal kamu bersedia membayar pengacara yang membela kita di Pengadilan nanti” Jawabku sambil ketawa. 

“Memangnya berhenti di tengah jalan tol itu, melanggar hukum?” Tanyamu.

“Aku rasa begitu. Lagi pula itu sudah ada rambu simbol dilarang berhenti” Jawabku. 

“Oh” ujarmu singkat.

Setalah itu kita diam. Diam tapi berjalan. Mungkin sedang menikmati angin yang sedang bersiul. Atau barangkali kita telah jenuh dengan pembicaraan yang terlalu garing. 
Beberapa saat setelahnya, kita sampai di kosanmu.

Aku tidak mampir, tapi langsung pulang, sebab masih banyak urusan yang mesti aku selesaikan. Salah satunya adalah menyelesaikan khayalan yang tadi malam belum kelar. Khayalan tentang kamu. Tentang kita (piss). 

***
Di pertemuan kita yang lain, yang entah untuk ke berapa kalinya, aku sudah banyak mengetahui tentangmu. Kamu secara perlahan menceritakan tentang masa lalumu dengan kekasihmu. termasuk menceritakan tentang bagaimana kamu mencintainya dulu.
Aku dengan setia mendengarkanmu. 

Lalu aku menyelipkan sepenggal kalimat bijak di sela-sela waktu jedamu bersuara. Aku juga berkisah tentang masa laluku. Tentang wanita yang pernah aku banggakan kepada dunia dahulu. 

Kau juga setia mendengarkanku berkisah. Kita saling berbagi dan saling memahami. Aku rasa itu sudah cukup untuk membuat kita nyaman waktu itu. 

Pertemuan demi pertemuan terus terjadi. Terkadang ada pertemuan yang aku lakukan karena aku sedang merindukanmu. Dan, kamu selalu siap bertemu denganku. 

Keadaan demikianlah yang membuat kita semakin dekat di setiap harinya. 
Tetapi kulihat masih ada kebimbangan yang tergurat di wajahmu. Dan aku tahu, aku masih belum bisa memenangkan hatimu. 

Maka dari itu, kukuburkan niatku untuk mengungkapkan perasaanku padamu. 

Menurutku ada banyak hal yang membuatmu ragu yaitu, yang pertama karena masih tak enak hati dengan mantan kekasihmu. Yang kedua karena kehadiran Kristian (lelaki yang tak pernah malu dengan usia) . Dan, yang ketiga karena kamu tidak lagi percaya pada cinta. 

Ketiga alasan di atas adalah tembok penghalang yang cukup kuat untuk membuat aku menyerah. Tetapi laki-laki tidak boleh menyerah, bukan? 

Berkat rasa percaya diri, yang di mana sebagian besarnya karena umpan balik darimu yang kurasa merupakan sinyal positif agar aku lekas meminang hatimu, aku lalu mengungkapkan perasaanku padamu. 

Melalui pesan WhatsAap aku mengungkapkan perasaanku. Saat itu malam belum terlalu larut, dan kau belum tidur. 

Sebab sepanjang malam itu kita saling berbalas pesan WhatsAap. Kemungkinan bukan hanya kita, sebab pasti ada Kristian di sela-sela pesanku yang masuk. Atau mungkin yang lainnya, yang juga sedang mendekatimu. 

Malam itu, untuk pertama kalinya kamu menjawab “tidak” atas apa yang telah aku utarakan. Kamu malah bilang aku seperti kakak bagimu. Sungguh itu jawaban yang sangat klise. 

Jawaban seperti itu sering dijadikan kalimat candaan oleh Komedian yang sedang membawakan materi komedi seputar hubungan pria dan wanita. 

Tetapi anehnya, waktu itu aku tidak malu. Penolakan yang kau lakukan juga tidak membuat aku sakit hati. Mungkin karena kita sudah terlalu dekat. Atau barang kali karena ada hal lain, yang tidak aku ketahui. 

Sungguh, responsku waktu itu sama sekali beda dengan yang waktu pertama kali aku menghubungimu, yang kamu meladen pembicaraanku dengan acuh tak acuh. 

Yang hingga membuat aku malu dan sakit hati. 

Penolakan yang telah kamu lakukan malah membuat aku semangat untuk terus berpacu dengan segala kemungkinan-kemungkinan yang mungkin akan terjadi. Bagiku waktu itu, penolakan yang telah kamu tegaskan hanyalah sebaris kalimat yang tidak perlu aku baca, apalagi aku maknai. 

***
Di sebuah warung makan, di waktu yang berbeda, aku kembali menanyakan perihal kamu dan Kristian, lelaki yang tak malu dengan usia itu. Kamu juga mengatakan bahwa dia tidak lebih dari sosok seorang kakak bagimu. 

Antara aku dan dia mungkin tidak ada bedanya bagimu. Begitulah yang kupikirkan waktu itu. Tetapi kemudian ada kesenangan yang mengalir di setiap embusan nafasku, saat setelah kamu mengatakan bahwa bersama denganku lebih nyaman ketimbang dengan Kristian, lelaki yang tak malu dengan usia itu. 

“Lantas, kenapa kita tak kunjung jadian?” gerutuku dalam hati, sambil menenggakkan es teh manis yang sedari tadi tersedia di atas meja.

“Tetapi nyaman saja tidak cukup untuk membuat dua insan menyatu. Perlu adanya komitmen untuk saling menerima kekurangan yang akan terlihat dikemudian hari. 

Sebab ketika sudah berpacaran, kita tidak pernah bisa terus menutupi sifat kita yang paling murni” Ucapmu seolah bisa menebak apa yang tengah aku pikirkan. 

“Aku pasti bisa menerima kekuranganmu” Tandasku serius. 

“Aku tidak ingin memercayai kaka melalui kata-kata yang bisa saja dusta. Aku butuh bukti melalui sikap dan sifat. Itulah sebabnya aku ingin mengenal kaka lebih dalam, lewat hubungan pertemanan ini” Jawabmu.

“Apa itu artinya kamu menyuruh aku menunggu?” Tanyaku menuntut kepastian.

“Tidak juga. Aku hanya mau bilang agar kaka menjaga nyaman di antara kita, hingga akhirnya keputusan datang untuk memberi kabar” Katamu sambil menatap dalam ke mataku. 

Pembicaraan kita akhirnya buyar ketika handponemu berbunyi. Aku meliriknya. Kulihat nama kontak yang menghubungimu bertuliskan Mamaku. Rupanya yang menelepon adalah mamamu.

Aku terdiam dan hanya memerhatikanmu berbicara. 
Berbicara mengenai “diam”, seorang penulis buku pernah mengatakan bahwa “diam adalah bergerak.” 

Mungkin diam sesungguhnya ada perbincanganku dengan sunyi, yang kemudian di dalamnya ada kamu yang menjadi fokus utama dari perbincangan itu. 

Atau mungkin diam adalah bahasa rinduku yang membeku, yang terus menebarkan aroma irama decak kagumku padamu. Mungkinkah begitu?

Ketika telepon telah diputuskan, kita tidak lagi membahas persoalan yang tadi. Kita berlanjut ke topik yang lain. Topik yang tidak terlalu penting untuk aku ceritakan di sini. 

Kebersamaan kita di warung itu, yang entah merupakan pertemuan yang ke berapa kalinya, aku merasakan ada harapan yang naik sedikit lebih tinggi dari sebelumnya. 

Jika sebelumnya aku sangat cemas atas kehadiran Kristian, lelaki yang tak malu dengan usia itu, sekarang sudah tidak lagi. Itu semua berkat ucapanmu, yang mengatakan bahwa bersamaku lebih nyaman ketimbang dengan Kristian, lelaki yang tak malu dengan usia itu. (BERSAMBUNG).

Penulis: Eman Jabur
Jurnalis MarjinNews wilayah Bali

COMMENTS

PUISI$type=carousel$sn=0$cols=3$va=0$count=5

POJOK REDAKSI$type=grid$count=3$m=0$sn=0$rm=0

Name

Artikel,140,Bali,115,Bedah Buku,1,Ben Senang Galus,1,Bencana Alam,1,Berita,162,Bhineka,2,BNI,1,Bola,2,bom,1,Bom Bunuh Diri,4,Borong,3,BPJS,1,Budaya,41,Bung Karno,1,Bunuh Diri,3,Bupati Mabar,1,Camilian,1,Cerpen,182,Chelsea Islan,1,Chiristian Rotok,1,Daerah,570,Daerah. Riau,1,Dana Desa,1,Dari Kami,3,Demokrasi,22,Denpasar,18,Desa,2,Destinasi,1,Diaspora,2,Dilan,4,Donny Isman,1,DPR RI,4,E-KTP,4,Editorial,37,Ekonomi,5,Ekspresi,1,Ende,6,Entrepreneur,1,Feature,36,festival Komodo,2,Film,7,Filsafat,2,Fitur,1,Flobamora Cup,1,Flores,11,Focus Discussion,4,FPI,1,Gantung diri,2,Gaya,1,gaya hidup,8,Gedged,1,Gempa,6,Gereja,4,Gereja Katolik,4,Gerindra,1,GMKI,1,GMNI,7,Golkar,1,Gusti Dulla,1,HAM,1,Hand Phone,1,Hari Buruh,2,hari buruh internasional,1,Hari Perempuan Internasional,1,Hiburan,27,HMPCK,1,Hoax,2,hukum,61,Human Trafficking,4,IBT Expo,1,Idul Fitri,1,IJM,1,IKEMAS CUP,7,Imlek,1,Indonesia,1,Indonesian Idol,8,Inspirasi,15,Internasional,16,Internet,2,Investasi,1,Iriana Jokowi,1,Ivan Nestorman,1,IYC Jatim,1,Jabar,1,JAD,1,Jakarta,5,Jatim,3,Jawa Tengah,1,Jawa Timur,1,JK,1,Jogyakarta,2,Jokowi,18,JRUK Sumba,2,jurnal Terbaru,1,jurnalistik,3,Kalimantan,5,Kampanye,2,Kampus,3,Kapolri,1,Kar. Ilmiah,4,Karanganyar,1,Karya Sastra,278,KDRT,1,Keagamaan,7,kebakaran,4,Kebangsaan,1,kebudayaan,2,kecelakaan,2,Kecelakaan Lalu Lintas,2,Kediri,2,Kejadian. Jakarta,1,kejahatan,2,Kemahasiswaan,2,Kemanusiaan,62,kemenkominfo,1,Kemiskinan,2,kepala daerah,1,Kepemuaan,5,Kepemudaan,156,kepemudan,8,kerohanian,2,Kesehatan,8,Ketahanan Nasional,1,KNPI,2,Komodo,9,Komunikasi,1,Komunitas,5,Koperasi,1,Korban,1,Korupsi,60,KPK,12,KPU,1,Kreatif,1,Kriminal,51,Kritik Sastra,4,Kupang,24,Labuan Bajo,52,Lakalantas,9,Larantuka,1,Lembata,2,Lifestyle,6,Lingkungan Hidup,15,Literasi,14,lombok,1,LP Cipinang,1,Luar Negeri,5,Mahasiswa,42,Makanan Khas,1,Makasar,6,Makassar,4,Malang,3,Manggarai,117,Manggarai Barat,20,Manggarai Timur,24,Marianus Sae,1,Marion Jola,3,Masalah Rokok,1,Masyarakat,1,Mataram,2,Maumere,7,Media,2,Media Sosial,3,Medsos,2,Mendikbud,3,Menkominfo,1,Milenials,62,Motang Rua,1,Muda Petani,1,musik,1,Narkoba,8,Nasional,291,Natal,19,Ngada,7,Novanto,2,Novel,16,NTT,257,Nyepi,2,Olahraga,11,Opini,416,Orang Muda,15,Otomotif,1,OTT,2,Papua,15,Pariwisata,27,Partai Politik,25,Pasangan,19,Paskah,2,pelajar,2,Pembangunan,5,pemerkosaan,1,Pemilu,17,Pemuda,3,Pencurian,2,Pendidikan,89,Penerbangan,4,penyanyi,1,Peradi,1,Perdamaian,1,Perempuan,20,Perindo,1,Peristiwa,1136,Peritiwa,2,Pers,3,Perzinahan,1,Petani,1,Piala Dunia,1,Piala Oscar,1,pileg 2019,1,Pilgub,41,Pilkada,102,Pilpres 2019,23,PKRI,1,PKS,1,PMII,1,PMKRI,22,PMKRI Bogor,1,Pmkri Jogja,1,Poco Ranaka,1,Pojok Redaksi,37,Polisi,25,politik,90,Politikus,6,POLRI,5,PP PMKRI,1,Pristiwa,31,Prosa,1,PSK,1,Puisi,87,Puteri Indonesia,2,Radikalisme,1,Ratna Sarumpaet,4,Refleksi,15,reformasi,1,Regional,6,Religi,2,Remaja,1,Rensi Ambang,1,Riau,1,Ricuh,1,Rindu,1,Risma,1,Rizieq Shihab,7,Rote Ndao,1,Ruteng,26,RUU,1,Sabu,1,Sail Komodo,1,Sajak,9,Sam Aliano,1,Sastra,3,Sejarah,2,Sekilas Info,24,seleb,1,Selebritas,19,Sidoarjo,1,situs pornografi,1,Somasi,1,Sosial,3,Sosial Politik,1,Sosok,19,Sospol,39,Start Up,1,Suara Muda,68,Sumba,8,Surabaya,36,Tahun Baru,9,Tahun Baru. Remigius Nahal,1,Tarakan,1,Tata Kota,1,Teknologi,11,Tentang Mereka,46,Tenun Manggarai,1,Terorisme,16,Terorismes,4,TKI,4,TNI,1,TNK,1,Togar Situmorang,7,Tokoh,17,Tol Laut,1,Toleransi,2,Tour Jurnalistik,1,traveling,10,UNITRI-Malang,1,Unwira,1,UU MD3,7,Valentine,2,Viral,3,Wisata,5,Wisuda,1,WNA,1,
ltr
item
MARJINNEWS.COM: Perjalanan Cinta Sang Musafir, Part 2
Perjalanan Cinta Sang Musafir, Part 2
https://1.bp.blogspot.com/-XshCkgenNDY/W_g740J0yiI/AAAAAAAADyg/0X9VynCnPo01_EyVeqgsvPdmMCpup0ndQCLcBGAs/s320/IMG-20181123-WA0066.jpg
https://1.bp.blogspot.com/-XshCkgenNDY/W_g740J0yiI/AAAAAAAADyg/0X9VynCnPo01_EyVeqgsvPdmMCpup0ndQCLcBGAs/s72-c/IMG-20181123-WA0066.jpg
MARJINNEWS.COM
http://www.marjinnews.com/2018/11/perjalanan-cinta-sang-musafir-part-2.html
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/2018/11/perjalanan-cinta-sang-musafir-part-2.html
true
971126874416220402
UTF-8
POSTINGAN LAIN Not found any posts LAINNYA Selengkapnya Reply Cancel reply Delete Oleh Home PAGES Kiriman Baca Semua Rekomendasi untuk Anda LABEL ARCHIVE CARI Semua Kiriman Tidak Ditemukan Apa yang Anda Cari Back Home Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 menit yang lalu $$1$$ minutes ago 1 Jam yang lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Pengikut Ikuti THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy
close