Perjalanan Cinta Sang Musafir

Foto: Osyn Adar
CERPEN, marjinnews.com - Semua poin positif yang melekat dalam dirimu, membuatku semakin cinta. Tetapi tentu cinta tetaplah cinta, dan kesempurnaanmu tetaplah kesempurnaanmu. Jika pada suatu hari semua hal positif yang pernah aku rapalkan dalam kesan itu, hilang. Tentulah aku tetap tinggal, dan mencintaimu. Sebab jika itu terjadi, sebetulnya yang berubah bukan kamu, tetapi aku.

****
Kala itu, senja di Pantai Niko, Nusa Dua-Bali jatuh di pangkuan kita. Perlahan-lahan cahaya jingga menyentuh seluruh ruang yang terjangkau angin. Lautan yang terbentang masih diam bak melodi lagu perpisahan. Suara deru kendaraan tidak sampai di situ. Pantai itu terletak lumayan jauh dari keramaian.

Aku yang saat itu sedang terombang-ambing takdir, pergi ke tempat itu untuk menyepi dengan keberuntungan. Dan keberuntungan itu adalah meminang kita dalam sebuah ikatan. Tetapi tentu aku tidak bisa langsung melompat. 

Pertemuan pertama kita kala itu adalah sebuah awal yang telah aku rencana bersama sunyi. Aku berniat membunuh sepih yang merantai kalbu. Dan kamu adalah parterku dalam misi tersebut. Begitulah yang kupikirkan waktu itu. Tetapi yang kulihat saat itu hanyalah gelap. Tak ada binar harapan untuk mendapatkan rindumu. Gelagat acuh tak acuhmu membuat niatku surut dimakan waktu. 

Kita kemudian pulang. Kamu dan saudara-saudaramu membawa suka yang begitu cita. Sedang aku kembali membawa sunyi yang kau titipkan pada angin. Tetapi aku belum menyerah. 

Selepas pulang dari pantai itu, aku membajak nomor teleponmu di saudara sepupuku. Dia tak bersedia memberikannya. Katanya, tak enak hati dia memberikan nomormu kepadaku. Tetapi aku tetap bersih keras. Laki-laki memang harus begitu, bukan? Sebab yang kutahu cinta itu harus dijemput, bukan malah berpangku tangan menunggu yang tepat datang. Kala itu aku yakin, orang yang tepat untukku adalah kamu. 

Lalu besoknya, dengan ketakutan yang melampaui batas normal, aku menghubungimu. Suaramu terdengar sangat lembut di kalbu. Tetapi responsmu yang merupakan umpan balik dari pembicaraanku membuat hatiku ngilu. Bukan hanya itu, responsmu yang acuh tak acuh juga membuat perasaan malu mencoreng wajah gantengku (piss). Aku malu besar kala itu. 

Dengan kegetiran yang belum berhenti aku meminta pamit, agar pembicaraan canggung kita lekas usai. Telepon aku matikan. Tetapi aku tak kuasa memadamkan kesesakan bercampur malu yang menjamuriku. 

Karena respons datarmu dalam telepon tadi, hatiku menjadi tak karuan. Malu dan sakit, berkejaran membunuh gairahku malam itu. Kemudian sebagaimana yang dianjurkan orang-orang, bahwa ketika stres membuat kepala pening, cobalah tegukan segelas alkohol. Berkat maklumat itu, aku dengan tergesa-gesa melangkah ke Mini Market yang tidak jauh dari kosanku. Aku membeli sebotol Bir dan sebungkus rokok. 

Aku kemudian pergi ke Lapangan yang letaknya lumayan jauh dari kosanku. Tempat di mana saudara-saudaraku tidak bisa menjangkauku. Aku menenggakkan tetesan Bir itu ke dalam tenggorokanku. Rasanya pahit namun menenangkan. 

Langit malam kala itu masih mengisahkan tentang bulan yang kesepian. Sedangkan aku masih berusaha membunuh sesak dan malu yang mengendap. Dan aku separuh berhasil, tetapi berhasil menghitung binar cahaya bintang yang meranum di puncak langit. Miris sekali.

Rumput-rumput yang terbentang di lapangan itu sedang mereparasi dirinya. Malam memang saat-saat terbaik untuk beristirahat, bahkan untuk rumput sekalipun. Bayangkan seharian rumput-rumput itu tertindih oleh manusia. Dan malam itu warna hijau yang melekat pada daunnya bereuforia dengan embun. Selamat untukmu rumput. 

Tak terasa Bir di botolku habis. Rokok juga hampir habis. Tetapi sesak dan malu yang mengendap masih terus berjalan. Menusuk dan mengambil gairahku. Rupanya respons kurang respek darimu, membuat aku berada di tingkat trauma akut. Aku berniat pulang. Namun ekspresi sakitku masih tergurat jelas. Maka dengan itu, aku menahan diri lebih lama di lapangan itu. Biar saudara-saudaraku tidak mengolok, karena melihat muram yang tergaris di wajahku.

Malam makin larut. Bunyi kendaraan yang lalu lalang di jalanan berjeda cukup jarak. Keadaan semakin sunyi. Aku juga semakin sepih. Aku betul-betul terpukul sekali. Andai saja kamu melihatku kala itu, mungkin kamu dengan arogansimu akan mengatakan bahwa “aku adalah lelaki yang sangat menyedihkan”.

Pukul tegah malam, saat semua orang sedang berbondong-bondong merayap ke kasur, aku masih di lapangan itu, membunuh sepih dan malu, yang seperti kubilang tadi. Tatapi semakin aku melakukan hal bodoh itu semakin kuat pula sepih dan malu merantaiku.  

Tetapi untunglah, kewarasan masih setia menempel di otak kecilku. Sehingga pada gilirannya, aku sadar bahwa membunuh sepih sepertinya hanya akan membunuh diriku sendiri. Sebab sepih dan aku sudah seperti dua mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Saling berpaut. Terhubung melalui hari-hariku yang payah. 

Lalu dengan setengah hati aku berpasrah. Menyerahkan semuanya kepada waktu. Membiarkan waktu merapal maklumatnya melalui nasib. “Jika kerinduanku yang tulus ini tak dihiraukan waktu, maka mungkin sebetulnya waktu belum merestui kita”. Begitulah akhir dari ceritaku malam itu.

***
Sebulan telah berlalu. Aku hampir lupa pernah tergila-gila olehmu, sebelum akhirnya sang waktu kembali mempertemukan kita. Lagi-lagi pertemuan yang kedua itu merupakan sesuatu yang telah aku rencanakan, meskipun tidak sepenuhnya benar. 

Saat itu, saudara sepupuku mengajak aku untuk bertamu ke tempatmu. Alih-alih bertamu, aku kemudian menyelipkan sedikit harapan di celah-celah perjumpaan yang kedua itu. Dan sepertinya semesta sedang berpihak padaku kala itu. Aku beruntung. Saat itu kamu terlihat sedikit respek.

Keberuntungan terus terjadi. Pertemuan ketiga menghantar kita pada sebuah keakraban yang cukup mengikat. Aku mulai menyadari ada remah-remah kagum yang berserak dihatimu untukku. 

Pertemuan ketiga ini membawa kita pada momen di mana panorama senja di Pantai Pandawa melukis rindu lebih dalam dari biasanya. Aku semakin mencintaimu. Dan kamu mulai mencipta nyaman di kebersamaan kita. 

Api harap yang menyala di dadaku membesar, membakar gairahku untuk terus memperjuangkanmu dalam segala hal. Aku yakin kita akan menjadi rindu yang satu. Cinta yang satu, yang kemudian akan kita pintal dalam kebahagiaan yang suci. 

Berkat kebersamaan di Pantai Pandawa waktu itu, aku mulai bisa mengambil kesan atas kepribadianmu yang polos. Yang pertama kamu jelita. Yang kedua kamu baik. rendah hati, dan tidak sombong. Dan yang paling super adalah kamu begitu mengagumkan. Dan belakangan aku tahu, ternyata kamu berangkat dari keluarga terhormat. Kamu betul-betul bukan gadis sembarangan. 

“Semua poin positif yang melekat dalam dirimu, membuatku semakin cinta. Tetapi tentu cinta tetaplah cinta, dan kesempurnaanmu tetaplah kesempurnaanmu. Jika pada suatu hari semua hal positif yang pernah aku rapalkan dalam kesan itu, hilang. Tentulah aku tetap tinggal, dan mencintaimu. Sebab jika itu terjadi, sebetulnya yang berubah bukan kamu, tetapi aku”. Begitulah sepenggal janji sunyiku saat itu, yang kusampaikan pada petang yang sudah separuh tenggelam di ufuk barat dunia ini. 

Petang telah berlalu. Malam mulai menyapa melalui temaram langit, dan kita semua bergegas pulang. Aku, kamu dan saudara-saudaraku, begitu juga dengan saudara-saudaramu tergesa-gesa membelah malam. Kita satu motor, sebagaimana saat kita datang ke tempat itu, tadinya. 

Dengan kesengajaan yang nakal, aku memperlambat laju motor, sehingga membuat kita berpaut cukup jauh dengan saudara-saudara kita. Kamu kemudian menceritakan tentang remeh temeh kesibukanmu. Termasuk kesibukan mendaftar kuliah.

Berbekal sedikit pengalaman yang kudapat saat daftar masuk pertama kuliah, aku kemudian mengguruimu dengan lembut. Kau hanya mengangguk setuju. Aku semakin semangat merapal setiap kata. Saking semangatnya, kata-kataku pun berdesakan di tenggorokan. Sehingga membuatku kehausan.

Hari itu, perjalanan kita menyusuri setiap inci keindahan yang disuguhkan Pantai Pandawa, menyisakan banyak momen indah yang aku tulis dalam diari hatiku. dan yang terpenting dari semuanya itu adalah perihal keyakinanku untuk mendapatkanmu semakin kuat. Persentase peluang untuk memelukmu dalam kebahagiaan naik. Aku betul-betul sadar itu. 

Di hari yang lain, yang seingatku merupakan pertemuan ke empat kita. Aku pernah membawamu pergi ke sebuah rumah. Rumah yang sering orang menyebutnya sebagai tempat untuk berpulang menemukan Tuhan. iya, kita mengunjungi Rumah Tuhan saat itu. 

Hingar-bingar pujian yang dikumandangkan terdengar sangat bersuka. Aku kemudian mencuri pandang, mengamatimu. Kau menunduk. Wajahmu terlihat teduh. Kau begitu tenang ketika berada di bawa atap Rumah Tuhan. Dan itu membuatmu semakin jelita. 

Dalam hatiku, doa dan harapan terus aku rapal. Dan salah satunya adalah berdoa untukmu, agar engkau cepat menyadari ketulusan yang selalu kusiapkan untukmu. Di altarnya kudus Pastor menceritakan tentang kebaikan yang paling murni. 

Aku melihat kamu merenungnya. Menikmati setiap nasihat baik yang diceritakan Pastor tersebut. Meneguknya seperti meneguk air. Aku tak mengganggumu. Kubiarkan ketenangan mengaliri jiwamu yang polos. Setelah perayaan misa selesai, kita langsung pulang. 

Aku mengantarmu ke kosanmu, dan aku langsung kembali ke kosanku, karena hari itu aku dapat sif siang di tempat kerja.

Jujur saja setelah pertemuan ke empat itu aku semakin yakin, bahwa separuh hatimu telah tertambat di aku. Dan dengan segenap ketulusan, aku akan menjaganya. Membuatnya tetap seperti itu. Membuatmu selalu nyaman. Karena yang kutahu semua gadis selalu mendambakan kenyamanan. Tidak terkecuali kamu. 

Sepanjang waktu, hari itu. Selepas kita bersua di bawah atap Rumah Tuhan.  Aku merasakan kebahagiaan yang berpadu dengan senyum, yang tentunya menambah nikmat kopi pertama dari gelas yang aku minum. 

Ketika malam menjelang, waktu itu, aku sibuk menghitung rasi bintang yang bertebaran di langit. Jumlahnya tak terhitung. Dan seperti itulah jumlah kebahagiaan yang aku teguk bersama kopi kedua yang aku minum di jam istirahat kerja. 

“Odilia. Kamu adalah gadis yang dititipkan semesta untukku”. Bisikku kepada diam waktu itu.  Selepas jam kerja, aku membawa lelah dalam tidurku. Dan membiarkan bayangmu yang menghapus lelah itu. Hingga aku terlelap dalam mimpi. Mimpi tentang kita. 

Sebelum tidur aku merapal doa paling tulus malam itu, semoga semesta merestui kita. Merestui keyakinanku yang paling tulus. 

***
Untuk saat ini, hanya ini yang bisa kutuliskan tentang kita. Untuk kisah selanjutnya akan aku tulis lagi di kesempatan yang lain. Jadi bersabarlah hingga tulisan berikutnya selesai. Dan kau boleh merasakan flashback yang paling manis.

Oleh: Eman Jabur
Penulis: Jurnalis MarjinNews Wilayah Bali

COMMENTS

Name

Artikel,140,Bali,113,Batam,1,Bedah Buku,1,Ben Senang Galus,1,Bencana Alam,1,Berita,151,Bhineka,2,BNI,1,Bola,2,bom,1,Bom Bunuh Diri,4,Borong,3,BPJS,1,Budaya,41,Bung Karno,1,Bunuh Diri,3,Bupati Mabar,1,Camilian,1,Cerpen,176,Chelsea Islan,1,Chiristian Rotok,1,Daerah,545,Daerah. Riau,1,Dana Desa,1,Dari Kami,3,Demokrasi,22,Denpasar,18,Desa,2,Destinasi,1,Diaspora,2,Dilan,4,Donny Isman,1,DPR RI,4,E-KTP,4,Editorial,35,Ekonomi,5,Ekspresi,1,Ende,6,Entrepreneur,1,Feature,36,festival Komodo,2,Film,7,Filsafat,2,Fitur,1,Flobamora Cup,1,Flores,11,Focus Discussion,4,FPI,1,Gantung diri,2,Gaya,1,gaya hidup,4,Gedged,1,Gempa,6,Gereja,3,Gereja Katolik,3,Gerindra,1,GMKI,1,GMNI,4,Golkar,1,Gusti Dulla,1,HAM,1,Hand Phone,1,Hari Buruh,2,hari buruh internasional,1,Hari Perempuan Internasional,1,Hiburan,26,HMPCK,1,Hoax,2,hukum,60,Human Trafficking,4,IBT Expo,1,Idul Fitri,1,IJM,1,IKEMAS CUP,7,Imlek,1,Indonesia,1,Indonesian Idol,8,Inspirasi,13,Internasional,16,Internet,2,Investasi,1,Iriana Jokowi,1,Ivan Nestorman,1,IYC Jatim,1,Jabar,1,JAD,1,Jakarta,5,Jatim,3,Jawa Tengah,1,Jawa Timur,1,JK,1,Jogyakarta,2,Jokowi,18,JRUK Sumba,2,jurnal Terbaru,1,jurnalistik,3,Kalimantan,5,Kampanye,2,Kampus,3,Kapolri,1,Kar. Ilmiah,4,Karanganyar,1,Karya Sastra,273,KDRT,1,Keagamaan,7,kebakaran,4,Kebangsaan,1,kebudayaan,2,kecelakaan,2,Kecelakaan Lalu Lintas,2,Kediri,2,Kejadian. Jakarta,1,kejahatan,2,Kemahasiswaan,2,Kemanusiaan,62,kemenkominfo,1,Kemiskinan,2,kepala daerah,1,Kepemuaan,5,Kepemudaan,155,kepemudan,8,kerohanian,2,Kesehatan,8,Ketahanan Nasional,1,KNPI,2,Komodo,9,Komunikasi,1,Komunitas,5,Koperasi,1,Korban,1,Korupsi,60,KPK,12,KPU,1,Kreatif,1,Kriminal,51,Kritik Sastra,4,Kupang,24,Labuan Bajo,51,Lakalantas,9,Larantuka,1,Lembata,2,Lifestyle,6,Lingkungan Hidup,15,Literasi,14,lombok,1,LP Cipinang,1,Luar Negeri,4,Mahasiswa,42,Makanan Khas,1,Makasar,6,Makassar,4,Malang,3,Manggarai,113,Manggarai Barat,20,Manggarai Timur,24,Marianus Sae,1,Marion Jola,3,Masalah Rokok,1,Masyarakat,1,Mataram,2,Maumere,7,Media,2,Media Sosial,3,Medsos,2,Mendikbud,3,Menkominfo,1,Milenials,52,Motang Rua,1,Muda Petani,1,musik,1,Narkoba,8,Nasional,276,Natal,19,Ngada,7,Novanto,2,Novel,16,NTT,204,Nyepi,2,Olahraga,11,Opini,403,Orang Muda,15,Otomotif,1,OTT,2,Papua,15,Pariwisata,26,Partai Politik,25,Pasangan,16,Paskah,2,pelajar,2,Pembangunan,5,pemerkosaan,1,Pemilu,17,Pemuda,3,Pencurian,2,Pendidikan,89,Penerbangan,4,penyanyi,1,Peradi,1,Perdamaian,1,Perempuan,20,Perindo,1,Peristiwa,1040,Peritiwa,2,Pers,3,Perzinahan,1,Petani,1,Piala Dunia,1,Piala Oscar,1,pileg 2019,1,Pilgub,41,Pilkada,102,Pilpres 2019,23,PKRI,1,PKS,1,PMII,1,PMKRI,22,PMKRI Bogor,1,Pmkri Jogja,1,Poco Ranaka,1,Pojok Redaksi,35,Polisi,25,politik,90,Politikus,6,POLRI,5,PP PMKRI,1,Pristiwa,31,Prosa,1,PSK,1,Puisi,85,Puteri Indonesia,2,Radikalisme,1,Ratna Sarumpaet,4,Refleksi,15,reformasi,1,Regional,6,Religi,2,Remaja,1,Rensi Ambang,1,Riau,1,Ricuh,1,Rindu,1,Risma,1,Rizieq Shihab,7,Rote Ndao,1,Ruteng,27,RUU,1,Sabu,1,Sail Komodo,1,Sajak,9,Sam Aliano,1,Sastra,3,Sejarah,2,Sekilas Info,23,seleb,1,Selebritas,18,Sidoarjo,1,situs pornografi,1,Somasi,1,Sosial,3,Sosial Politik,1,Sosok,19,Sospol,39,Start Up,1,Suara Muda,49,Sumba,8,Surabaya,36,Tahun Baru,9,Tahun Baru. Remigius Nahal,1,Tarakan,1,Tata Kota,1,Teknologi,11,Tentang Mereka,44,Tenun Manggarai,1,Terorisme,16,Terorismes,4,TKI,4,TNI,1,TNK,1,Togar Situmorang,7,Tokoh,17,Tol Laut,1,Toleransi,2,Tour Jurnalistik,1,traveling,9,UNITRI-Malang,1,Unwira,1,UU MD3,7,Valentine,2,Viral,3,Wisata,4,Wisuda,1,WNA,1,
ltr
item
Muda Membaca Dunia: Perjalanan Cinta Sang Musafir
Perjalanan Cinta Sang Musafir
https://2.bp.blogspot.com/-2OzV9vFICPQ/W-W2cwhkeaI/AAAAAAAADj8/BOsJgleGQmowCYCHrolqnQv-R5LNuXJjgCLcBGAs/s320/IMG-20181110-WA0000.jpg
https://2.bp.blogspot.com/-2OzV9vFICPQ/W-W2cwhkeaI/AAAAAAAADj8/BOsJgleGQmowCYCHrolqnQv-R5LNuXJjgCLcBGAs/s72-c/IMG-20181110-WA0000.jpg
Muda Membaca Dunia
http://www.marjinnews.com/2018/11/perjalanan-cinta-musafir.html
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/2018/11/perjalanan-cinta-musafir.html
true
971126874416220402
UTF-8
POSTINGAN LAIN Not found any posts LAINNYA Selengkapnya Reply Cancel reply Delete Oleh Home PAGES Kiriman Baca Semua Rekomendasi untuk Anda LABEL ARCHIVE CARI Semua Kiriman Tidak Ditemukan Apa yang Anda Cari Back Home Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 menit yang lalu $$1$$ minutes ago 1 Jam yang lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Pengikut Ikuti THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy