Menakar Janji Politik dengan Konsep George T Doran
Cari Berita

Menakar Janji Politik dengan Konsep George T Doran

9 November 2018

(Gambar: Istimewa)


OPINI, marjinnews.com - Beberapa bulan terakhir rakyat Indonesia dihadapkan dengan situasi riuh gemuruh dan gema pesta demokrasi yang puncaknya akan digelar pada 17 April 2019. Euforia pemilu sudah menjadi trending topic dan bahkan makanan sehari hari rakyat Indonesia. Sebab tahun politk (2019) akan menentukan nasib bangsa indonesia lima tahun yang akan datang.

Pesta demokrasi (lima tahunan) substansinya bukan mengarah pada definisi hura-hura dan penuh kegilaan dalam praktiknya. Tetapi esensinya adalah suatu moment dimana semua rakyat Indonesia ikut terlibat dalam pergelaran politik para elite yang ada di Negara ini. pada sisi inilah demokrasi menjadi titik kesimpulannya yaitu melibatkan semua rakyat Indonesia dalam moment bangsa dan Negara.

Pesta demokrasi tersebut akan menghadirkan pemimpin baru, mulai dari wakil rakyat (DPRD kabupaten/kota, provinsi, dan DPR RI, DPD) dan juga akan menentukan nahkoda baru Negara Kesatuan Republik Indonesia (presiden).

Untuk melangkah ke panggung dan kursi empuk pemerintahan dan parlemen, tentunya para elite politik sedang dan akan melakukan safari politik di tengah masyarakat. Berbagai cara dan strategi akan dilakukan oleh tokoh bangsa Indonesia. contoh konkretnya adalah dengan memajangkan baliho di setiap titik kumpul maupun simpang jalan yang strategis. Tujuannya sangat sederhana yaitu memperkenalkan sosok/figure yang akan mengikuti kontestasi politik yang akan digelar pada bulan april mendatang. 

Selain itu, kampanye politik melalui tatap muka pun sudah dilakukan oleh beberapa figure yang dimaksud. Ada tujuan yang menjadi titik fokusnya adalah untuk meyakinkan rakyat indonesia atas gagasan dari tokoh politik tersebut. 

Dari berbagai pandangan positif tentang tahun politk yang spesifikasinya adalah kampanye politik, ada hal tersirat dan tersurat yang didengungkan oleh sebagian dan mungkin seluruh rakyat Indonesia yaitu berbicara tentang kampanye politik dengan contain penjustisan janji politik. Janji politik bagi rakyat Indonesia sekarang bukan lagi dinilai sebagai penjabaran gagasan atau visi misi dari calon yang akan mengikuti kontestasi politik.

Sebab hadirnya persepsi ini tentunya mengarah pada penilaian masyarakat tentang realisasi janji politik politisi pada periode sebelumnya. Contain negative sudah menjadi momok pembicaraan masyarakat. selain itu trauma untuk percaya dan yakin terhadap janji politik sudah menurun presentasinya dihadapan kacamata publik. ini adalah catatan refleksi bagi masyarakat dan juga bagi politisi. Tetapi, sesungguhnya janji adalah serpihan point dari visi dan misi para politisi yang dibungkus dalam satu kata “janji”.

Bagamainakah caranya supaya rakyat indonesia tidak terjebak pada janji politik politikus? 
Penulis akan membantu masyarakat untuk bisa menakar janji atau tawaran gagasan/program politik dari para politikus. sebab tidak sedikit pula para politikus yang berpidato berisi angin. dan bahkan di tempat yang tidak ada sungai pun dia akan berjanji untuk membangun jembatan. 

Cara mudah untuk menakar janji politik para politisi adalah dengan menggunakan konsep dari George T. Doran. konsep yang ditawarkan beliau adalah SMART (Specific, Measureable, Attainable, Relevant, and Timely). Konsep ini pertama kali diperkenalkan oleh George T. Doran pada tahun 1981 dalam Majalah Management review edisi November 1981. konsep ini membantu masyarakat untuk melihat lebih jelas tentang apa yang disampaikan dan apa yang dicapai secara konkret.

Spesific, artinya masyarakat melihat dengan jeli isi janji politik dari politikus secara detail dalam hal target dari gagasan yang diutarakan. Poin pentingnya bahwa target dari gagasan tersebut jelas dan spesifikasinya jelas sehingga kesempatan pencapaian lebih tinggi. Rakyat harus cerdas untuk menganalisis target dari program atau gagasan dari politisi. 

Measureable, target janji politik dari politikus dapat diukur pencapaiannya dengan menggunakan indikator yang tepat sehinggga dapat melakukan peninjauan ulang , mengevaluasi pencapaian serta dapat melakukan perbaikan yang seperlunya. Politikus biasanya hanya menebar janji tanpa memiliki target pencapaian yang jelas. Janji hanya dijadikan sebagai bumbu pemanis moment. 

Attainable, rakyat sebagai pemegang kedaulatan harus bisa menilai bahwa target dari janji politik para politikus dapat dicapai. artinya rakyat Indonesia bisa menganalisis letak kemampuan dan kinerja sebelumnya dan mempertimbangkan kinerja yang akan datang sehingga usaha untuk mencapai target dapat tercapai melalui usaha usahanya.

Realistic (Realistis), rakyat menakar janjinya,apakah itu realistis atau tidak. Kebiasaan politikus bahwasannya mereka memberikan janji yang seyogyanya tidak bisa direalisasikan di tempat tersebut. misalnya bangun jembatan di tempat yang tidak ada sungainya. Perlu diingat juga bahwa realistis dalam gagasan dan pencapaiannya harus disesuaikan dengan batas waktu yang ditentukan.

Timely (tepat waktu), dalam kasus ini rakyat harus liahi dan mengetahui batas waktu dari target yang disampaikan oleh politisi. tanpa ada batas waktu maka target akan susah terealisasi dan lebih parahnya lagi rakyat akan dikibuli pada janji yang sama. 

Pada akhir tulisan ini yang hanya merupakan serpihan gagasan penulis, penulis ingin sampaikan bahwa janji politik pra-pesta demokrasi merupakan hal yang substansial jika dimanfaatkan baik oleh politisi sebagai sarana menyampaikan gagasan dan serpihan visi misi. Rakyat pada umumnya juga seyogyanya lihai dalam menilai serpihan gagasan dari sejumlah politisi sehingga pada akhirnya rakyat tidak merasa dikibuli dan politisi tidak diklaim pembohong.*

Oleh: Tarsisius Derson Wesa
Editor: Viki Purnama