Masalah Utang Negara, Bagaimana Mesti Bersikap?

OPINI, marjinnews.com - 4.996,6 triliun bukan jumlah yang  sedikit. Inilah jumlah utang bangsa Indonesia yang dirilis oleh  Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia. Opini yang berkembang mengenai utang di masyarakat beragam ada yang menilai baik ada pula yang memberi stigma buruk terhadap utang.

Beberapa diskusi yang saya ikuti dengan teman-teman mahasiswa berbicara terkait utang negara ini menarik. Argumentasinya kebanyakan didasarkan pada pemberitaan media baik itu cetak dan elektronik. Tetapi ada baiknya juga untuk tidak terburu-buru untuk memberikan penilaian sebelum mengerti duduk persoalannya bukan?.

Baca Juga: Arogansi Budaya Patriarki Terhadap Perempuan

Berbicara tentang utang sebenarnya tidak lepas dari kehidupan kita sehari-hari. Jika suatu saat kiriman orang tua terlambat dan ada kebutuhan mendesak maka biasanya kita meminjam uang teman bukan?. Ketika sedang berbelanja di  supermarket saat uang kita kurang tentu kita akan menoleh ke teman kita untuk meminta  bantuannya bukan?.

Jika bantuan yang diberikan disertai dengan kewajiban untuk mengembalikannya pada waktu tertentu maka itulah utang. Nah begitu pun halnya dengan negara. Ketika negara berutang sebenarnya negara sedang membutuhkan sumber daya keuangan untuk membiayai biaya operasionalnya.  Apa itu biaya operasional negara?

Baca Juga: Jangan Salahkan Pejabat Jika Mereka Korupsi

Jika kita memiliki sebuah sepeda motor maka pengeluaran untuk bensin dan perawatan kendaraan itulah yang kita namakan biaya operasional. Nah biaya inilah jika dalam skup negara dirancang dalam yang namanya APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara). Dari mana sumber pendapatannya? Sumber pendapatan negara yang terbesar adalah pajak.

Siapa yang membayar pajak? Ya masyarakat anda dan saya. Kalau kita belanja ke supermarket kita akan mendapatkan nota belanja coba perhatikan dengan teliti dibagian bawah biasanya tertera dua singkatan diserati angka dalam bentuk presentasi atau nominal rupiah. Di depan angka tersebut akan ditulis singkatan dalam huruf besar yakni PP dan PPN.

Baca Juga: Membangun Desa, Bergurulah kepada Rakyat

Kedua kata ini merupakan singkatan dari Pajak Pendapatan dan Pajak Pertambahan Nilai. Siapa yang menanggung kedua pajak ini?, ya anda yang sudah berbelanja. Ini merupakan salah satu contoh. Pendapatan negara lainnya berasalan dari kegiatan lain seperti ekspor, atau usaha negara yang dijalankan oleh BUMN (Badan Usaha Milik Negara).

Nah jika pajaknya kecil, pendapatan dari usaha pun kecil sementara biaya yang harus ditanggung lebih besar maka itulah yang kita sebut defisit anggaran. Sebagai tambahan sumber pendapatan, maka negara perlu berutang. Kepada siap negara berutang? Ada dua jenis yaitu utang pada negara lain yang kita sebut utang luar negeri, dan utang kepada masyarakatnya sendiri  yang kita sebut utang dalam negeri.

Baca Juga: Caleg Perempuan Masih Rawan Gagal pada Pemilu 2019

Bagaimana kita tahu negara berutang pada masyarakatnya karena selama ini yang kita lihat di media hanya utang luar negeri? Anda punya tabungan di bank? Jika punya maka itu sangat baik karena anda telah membantu negara dengan meminjamkan uang kepada negara melalui tabungan anda, itulah salah satu manfaat tabungan.

Pertanyaan selanjutnya  adalah kenapa negara lain mau memberi utang kepada kita?  Pertanyaan ini juga saya ajukan untuk anda, kenapa teman anda mau meminjamkan uangnya? Tentu karena dia percaya kepada anda sebagai temannya, minimal ada dua alasan.

Pertama bahwa uang itu kembali atau jika suatu saat nanti teman anda kesulitan bukan hanya dalam hal keuangan makan anda juga akan membantunya karena dia teman anda bukan?  Utang negara kita memang tidak sesederhana contoh ini, ada tiga sudut pandang teori ekonomi bagaimana cara  melihat dan menilai utang negara kita.

Baca Juga: Sabda Hak Bela Negara dan Elektabilitas

Pertama,  teori pertumbuhan ekonomi linear. Teori ini di cetuskan oleh David Ricardo seorang pakar ekonomi politik dari Inggris yang hidup tahun 1772-1823. Dalam teori ini dijelaskan bahwa setiap negara punya tahapan perkembangan yaitu tahap tradisional, tahap pra tinggal landas, tahap stabilitas, dan tahap konsumsi massal.

Nah, beberapa peneliti menggolongkan Indonesia sebagai negara yang sesuai dengan teori ini. Untuk melakukan pembangunan dari satu tahap ke tahap selanjutnya maka diperlukan yang namanya mobilisasi tabungan baik dalam negeri maupun luar negeri.

Kedua ialah teori depedency atau teori ketergantungan.  Teori ini menjelaskan bahwa keterbelakangan yang dialami negara berkembang seperti Indonesia akibat intervensi negara asing baik yang dilakukan melalui investasi maupun dengan memberi utang yang besar untuk bisa mengontrol negara tersebut sehingga menghilangkan kedaulatan negara bersangkutan.

Baca Juga: Loyalitas dalam Organisasi Belajar

Ketiga  sudut pandang negara donatur. Pemberian bantuan utang tidak melulu alasan ekonomi tapi juga bisa alasan ideologi. Misalnya, ketika Jepang kalah dalam Perang Dunia ke-2 negara pemenang perang Amerika Serikat memberi bantuan kepada Jepang untuk membangun kembali negara tersebut dan menangkal pengaruh Komunis dari Cina. Pada masa Orde Lama, Amerika Serikat sempat menolak membantu Indonesia dalam hal ekonomi karena dituduh terlalu dekat dengan Cina dan Rusia.

Bagaimana saat ini?  Dunia saat ini sudah mulai terbuka, batasan ideologi tidak menjadi soal yang begitu diperhatikan dalam menjalin hubungan ekonomi. Ada sebuah kesadaran bahwa hubungan atau relasi antara negara perlu dibangun tanpa harus mengedepankan prasangka buruk yang berlebihan. Meski demikian kembali pada utang luar negeri kita perlu cermat dalam menilainya dengan indikator-indikator standar yang anda.

Baca Juga: PRAJURIT

Pertama, dasar hukum. Negara tentu bertindak wajib melandasinya dengan hukum yang jelas dan rasional. UU Nomor 17 Tahun 2003 menetapkan batas maksimal utang 60% dari GDP. Utang luar negeri pemerintah saat ini 28 % dari GDP.

Kedua, rasio utang terhadap PDB dan Cadangan Defisa. Alat ukur utang standar adalah nilai total produksi  yang dihasilkan oleh warga negara dalam satu periode (PDP), jika rasionya lebih besar dari utang maka negara berpeluang untuk melakukan utang.

Begitu pula dengan cadangan devisa yang merupakan total keseluruhan uang beredar. Utang kita saat ini adalah 30 % dari cadangan devisa yang kita miliki, itu berarti sebenarnya negara dari segi kemampuan pengembalian utang dinilai layak utang.

Baca Juga: Boros atau Inflasi?

Ketiga, Good Governance terkait moral pemerintahan yang meliputi transparansi, dan akuntabilitas. Pemerintah tentunya memiliki program kerja yang didanai oleh APBN, saat ini kita bisa mengecek penggunaan anggaran negara secara terbuka sampai sektor  sektor terkecil dengan memanfaatkan data maupun penelitian.

Tingkat korupsi yang rendah, dan efisiensi penggunaan anggaran merupakan ciri dari pemerintahan saat ini. Gencarnya pembangunan infrastruktur berdampak pada efektivitas dan efisiensi dalam bidang ekonomi. Namun perlu menjadi catatan, kemampuan pemerintah pusat dibatasi oleh otonomi setiap daerah dalam tata kelola sumber daya.

Maka, titik evaluasi yang juga tidak boleh dihindari ialah kemampuan aparatur di setiap provinsi dan kabupaten dalam mengelola anggaran. Kasus busung lapar yang terjadi di Asmat, dan beberapa daerah lain, ketimpangan ekonomi antara desa dan kota yang masih terjadi lebih pada lambannya peran aparatur ditingkat lokal dalam melaksanakan kebijakan.

Baca Juga: Demokrasi Berkoperasi

Keempat, Politik internasional. Politik dunia terus berkembang, mulai dari politik dominasi melalui imperialisme sampai pada politik yang sifatnya kompromi antara bangsa dan menghormati harkat dan martabat masing -masing bangsa. Dengan melihat banyaknya kerjasama dalam berbagai bidang antar negara maka rasa saling membutuhkan antara satu negara dengan yang lainnya sudah tumbuh, artinya tidak melulu persaingan yang ditonjolkan.

Ingat pesan Soekarno? Bawa kita adalah bagian dari masyrakat dunia?. Meskipun pada satu sisi sikap waspada tidak boleh surut, apalagi dengan adanya perang dagang yang menurut hemat saya merupakan sisa-sisa peradaban masa lalu yang masih menghantui negara-negara seperti USA dan China sampai saat ini.

Kelima, menyelidiki dan merasakan. Tahun 2011 teman -teman saya yang menggunakan kapal Feri menuju Flores (NTT) dari Banyuwangi (Jawa Timur) biaya yang harus dikeluarkan oleh satu orang kisaran 700.000 ribu rupiah. Biaya ini termasuk transport dan uang makan. Ketika saya berangkat dari Surabaya ke Banyuwangi dengan tujuan utama Bali mengejar jadwal Kapal Tilong Kabila yang akan menuju Flores NTT total keseluruhan biaya yang harus saya keluarkan ialah Rp.650.000.

Baca Juga: Imam dan Seorang Gila

Jika saya akumulasi dengan  biaya keberangkatan saya ke Flores dan Kembali ke Surabaya akan menjadi setara dengan gaji pegawai negeri sipil golongan IA didaerah saya yang waktu itu sebesar Rp 1.300.000. Waktu tempuh kapal saat itu ialah 3 hari dua malam. Ketika Tol laut dioperasionalkan maka biaya perjalanan Rp 320.000, berarti jika dibandingkan harga tahun sebelumnya saya mengalami surplus Rp 330.000 sampai Rp 430.000.

Inilah salah satu bentuk realisasi utang yang kita rasakan. Ketika saya ke Palembang, mulai dari bandara sampai wilaya Jatibaring dan terus mengelilingi kota Palembang sebuah Jalur term sedang dibangun. Efek jalur term ini dalam jangka panjang sangat baik bagi pertmbuhan ekonomi wilayah setempat. Saat saya berangkat dari bandara menuju Jakabaring, saya harus membayar taksi sebesar Rp 200.000, sementara kalau jalur term ini kelak beroperasi, saya hanya mengaluarkan Rp 3000 tanpa engalami kemacetan, tentu warga yang berpendapatan standar pasti sangat terbantu.

Baca Juga: Kartu Kuning dalam Tirani

Awal  bulan september 2017, saya tiba di terminal Pulo Gebang Jakarta Selatan. Dengan bermodalkan Rp 40.000 saya bisa berkeliling Jakarta sehari penuh hanya bermodalkan kartu elektronik Transjakarta. Kemudahan mengakses fasilitas publik dengan biaya rendah mengurangi beban hidup masyarakat.

Keenam, pribadi yang rasional, realistis, dan kritis. Rasional berarti berpikir masuk akal dan menjadi realistis berarti tidak menolak fakta. Meskipun kita mengutip dari banyak sumber terutama media masa tapi gunakan ilmu yang tepat untuk menelaah untuk mengkaji hal-hal itu.

Ketika kita menerima informasi tentang sesuatu maka informasi itu merupakan pengetahuan bagi kita nah informasi atau pengetahuan tidak bisa begitu saja menjadi sudut pandang kita untuk memberikan penilaian pada sesuatu tanpa penyelidikan untuk memastikan kebenarannya. Pada titik ini sikap ilmiah sangat disarankan.

Oleh: Stenly Jemparut

COMMENTS

Name

Artikel,140,Bali,109,Bedah Buku,1,Ben Senang Galus,1,Bencana Alam,1,Berita,144,Bhineka,2,BNI,1,Bola,2,bom,1,Bom Bunuh Diri,4,Borong,3,BPJS,1,Budaya,41,Bung Karno,1,Bunuh Diri,3,Bupati Mabar,1,Camilian,1,Cerpen,175,Chelsea Islan,1,Chiristian Rotok,1,Daerah,537,Daerah. Riau,1,Dana Desa,1,Dari Kami,2,Demokrasi,22,Denpasar,18,Desa,2,Destinasi,1,Diaspora,2,Dilan,4,Donny Isman,1,DPR RI,4,E-KTP,4,Editorial,34,Ekonomi,5,Ekspresi,1,Ende,6,Entrepreneur,1,Feature,36,festival Komodo,2,Film,7,Filsafat,2,Fitur,1,Flobamora Cup,1,Flores,11,Focus Discussion,4,FPI,1,Gantung diri,2,Gaya,1,gaya hidup,4,Gedged,1,Gempa,6,Gereja,3,Gereja Katolik,3,Gerindra,1,GMKI,1,GMNI,3,Golkar,1,Gusti Dulla,1,HAM,1,Hand Phone,1,Hari Buruh,2,hari buruh internasional,1,Hari Perempuan Internasional,1,Hiburan,25,HMPCK,1,Hoax,2,hukum,60,Human Trafficking,4,IBT Expo,1,Idul Fitri,1,IJM,1,IKEMAS CUP,7,Imlek,1,Indonesia,1,Indonesian Idol,8,Inspirasi,13,Internasional,16,Internet,2,Investasi,1,Iriana Jokowi,1,Ivan Nestorman,1,IYC Jatim,1,Jabar,1,JAD,1,Jakarta,5,Jatim,3,Jawa Tengah,1,Jawa Timur,1,JK,1,Jogyakarta,2,Jokowi,18,JRUK Sumba,2,jurnal Terbaru,1,jurnalistik,3,Kalimantan,5,Kampanye,2,Kampus,3,Kapolri,1,Kar. Ilmiah,4,Karanganyar,1,Karya Sastra,272,KDRT,1,Keagamaan,7,kebakaran,4,Kebangsaan,1,kebudayaan,2,kecelakaan,2,Kecelakaan Lalu Lintas,2,Kediri,2,Kejadian. Jakarta,1,kejahatan,2,Kemahasiswaan,2,Kemanusiaan,62,kemenkominfo,1,Kemiskinan,2,kepala daerah,1,Kepemuaan,5,Kepemudaan,154,kepemudan,8,kerohanian,2,Kesehatan,8,Ketahanan Nasional,1,KNPI,2,Komodo,9,Komunikasi,1,Komunitas,5,Koperasi,1,Korban,1,Korupsi,60,KPK,12,KPU,1,Kreatif,1,Kriminal,51,Kritik Sastra,4,Kupang,24,Labuan Bajo,51,Lakalantas,9,Larantuka,1,Lembata,2,Lifestyle,6,Lingkungan Hidup,15,Literasi,14,lombok,1,LP Cipinang,1,Luar Negeri,4,Mahasiswa,41,Makanan Khas,1,Makasar,6,Makassar,4,Malang,3,Manggarai,112,Manggarai Barat,20,Manggarai Timur,24,Marianus Sae,1,Marion Jola,3,Masalah Rokok,1,Masyarakat,1,Mataram,2,Maumere,7,Media,2,Media Sosial,3,Medsos,2,Mendikbud,3,Menkominfo,1,Milenials,52,Motang Rua,1,Muda Petani,1,musik,1,Narkoba,8,Nasional,275,Natal,19,Ngada,7,Novanto,2,Novel,16,NTT,200,Nyepi,2,Olahraga,11,Opini,400,Orang Muda,15,Otomotif,1,OTT,2,Papua,15,Pariwisata,26,Partai Politik,25,Pasangan,16,Paskah,2,pelajar,2,Pembangunan,5,pemerkosaan,1,Pemilu,17,Pemuda,3,Pencurian,2,Pendidikan,89,Penerbangan,4,penyanyi,1,Peradi,1,Perdamaian,1,Perempuan,20,Perindo,1,Peristiwa,1031,Peritiwa,2,Pers,3,Perzinahan,1,Petani,1,Piala Dunia,1,Piala Oscar,1,pileg 2019,1,Pilgub,41,Pilkada,102,Pilpres 2019,23,PKRI,1,PKS,1,PMII,1,PMKRI,22,PMKRI Bogor,1,Pmkri Jogja,1,Poco Ranaka,1,Pojok Redaksi,34,Polisi,25,politik,90,Politikus,6,POLRI,5,PP PMKRI,1,Pristiwa,31,Prosa,1,PSK,1,Puisi,85,Puteri Indonesia,2,Radikalisme,1,Ratna Sarumpaet,4,Refleksi,15,reformasi,1,Regional,6,Religi,2,Remaja,1,Rensi Ambang,1,Riau,1,Ricuh,1,Rindu,1,Risma,1,Rizieq Shihab,7,Rote Ndao,1,Ruteng,26,RUU,1,Sabu,1,Sail Komodo,1,Sajak,9,Sam Aliano,1,Sastra,3,Sejarah,2,Sekilas Info,23,seleb,1,Selebritas,18,Sidoarjo,1,situs pornografi,1,Somasi,1,Sosial,3,Sosial Politik,1,Sosok,19,Sospol,39,Start Up,1,Suara Muda,45,Sumba,8,Surabaya,36,Tahun Baru,9,Tahun Baru. Remigius Nahal,1,Tarakan,1,Tata Kota,1,Teknologi,11,Tentang Mereka,44,Tenun Manggarai,1,Terorisme,16,Terorismes,4,TKI,4,TNI,1,TNK,1,Togar Situmorang,5,Tokoh,17,Tol Laut,1,Toleransi,2,Tour Jurnalistik,1,traveling,9,UNITRI-Malang,1,Unwira,1,UU MD3,7,Valentine,2,Viral,3,Wisata,4,Wisuda,1,WNA,1,
ltr
item
Muda Membaca Dunia: Masalah Utang Negara, Bagaimana Mesti Bersikap?
Masalah Utang Negara, Bagaimana Mesti Bersikap?
Teori ini di cetuskan oleh David Ricardo seorang pakar ekonomi politik dari Inggris yang hidup tahun 1772-1823. Dalam teori ini dijelaskan bahwa setiap negara punya tahapan perkembangan yaitu tahap tradisional, tahap pra tinggal landas, tahap stabilitas, dan tahap konsumsi massal.
https://2.bp.blogspot.com/-vl9pLnPbZQE/W-BX5PhF69I/AAAAAAAAB_k/Rf9NKWfypzsCYyiLhmcMsT2H0nRw4oZEgCLcBGAs/s320/IMG_6409.JPG
https://2.bp.blogspot.com/-vl9pLnPbZQE/W-BX5PhF69I/AAAAAAAAB_k/Rf9NKWfypzsCYyiLhmcMsT2H0nRw4oZEgCLcBGAs/s72-c/IMG_6409.JPG
Muda Membaca Dunia
http://www.marjinnews.com/2018/11/masalah-utang-negara-bagaimana-mesti-bersikap.html
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/2018/11/masalah-utang-negara-bagaimana-mesti-bersikap.html
true
971126874416220402
UTF-8
POSTINGAN LAIN Not found any posts LAINNYA Selengkapnya Reply Cancel reply Delete Oleh Home PAGES Kiriman Baca Semua Rekomendasi untuk Anda LABEL ARCHIVE CARI Semua Kiriman Tidak Ditemukan Apa yang Anda Cari Back Home Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 menit yang lalu $$1$$ minutes ago 1 Jam yang lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Pengikut Ikuti THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy