$type=ticker$count=12$cols=4$cate=0$sn=0

Margaret

..
CERPEN, marjinnews.com - Manusia tidak pernah kehilangan apa-apa, karena kita semua tidak pernah memiliki apa-apa. Kepemilikan atau merasa memiliki adalah fatamorgana yang selama hidup kita yakini keberadaannya. Selama ini kita sudah ter racuni dengan pemikiran-pemikiran yang tidak masuk akal, sama sekali tidak logis namun kita percayai dan yakini.

***

Riuh resah terus menyelimuti hati Margaret. Dia terlihat sering murung di setiap harinya. Kesedihan adalah teman hidupnya. Kesunyian demi kesunyian harus dengan tulus dikecupnya. 

Bukan karena tidak punya harta, tapi karena hilangnya dua lelaki yang amat dicintainya. Yang pertama putra semata wayangnya lalu kemudian yang ke berikutnya adalah suaminya.

Maut terlalu keji mengambil mereka darinya. “Apakah Maut tidak berperasaan, sehingga begitu teganya membawa semua orang yang berharga dariku?” Gerutunya sambil menengadah ke arah langit.

Hidup dan mati memang bak hanya dipisahkan oleh selaput darah perawan. Dan semua bisa saja terjadi. Tidak ada yang bisa menduga kapan selaput pemisah itu akan hancur, tidak ada, bahkan Dukun sekalipun ataupun Dokter.

Margaret menyimpan terlalu banyak kenangan manis bersama mereka. Kenangan-kenangan manis itu melebur menjadi satu dalam penat yang selalu dideritanya. 

Ditambah lagi satu garis kenangan buruk yang menjadi awal dari semua duka yang dikecupnya hari ini. 

Sejuta kenangan manis tentu saja hanya akan menjadi bumerang yang kemudian akan berbalik menyerang kita jika garis kehilangan terukir di antaranya.

Apa yang kalian paham dari kehilangan? Apakah kesedihan sesaat, lalu move on dalam waktu singkat? 

Atau kah kesunyian yang akan menjadi menu pengisi harimu yang pilu?
Semua telah terjadi. Jalan terjal yang tiada ujungnya harus ditelusuri Margaret seorang diri. 

Tiada teman yang bisa menghapus larah. Hanya berbagai macam obat-obatan yang jumlahnya tak terhitung yang terus diminumnya. 

Tidak ada keluarga yang betul-betul ikhlas untuk peduli. Mereka hanya datang untuk menghibur sebentar lalu pergi dengan membawa secuil harta kekayaannya.

Kematian suaminya memang meninggalkan harta warisan yang cukup banyak. Sehingga banyak bahkan hampir seluruh keluarganya memanfaatkan situasi ini untuk memerasnya. 

Peras secara halus memang awalnya tidak sesak namun cukup menusuk saat Margaret sadar mereka hanya pura-pura peduli. 

Tapi tentu Margaret bisa paham dengan mereka. Toh.. semua manusia juga memiliki ketamakan yang sama. Rakus akan uang. 

“Bu, jangan terlalu resah. Tekan kecemasan itu. Hapus kesunyian. Dan mulailah dengan semangat hidup baru”. Ucap seorang perawat muda yang usianya kira-kira sama seperti putranya.

***
Sesaat setelah kabar kecelakaan putra dan suaminya terdengar, Margaret langsung syok. Otaknya tidak bisa  berpikir jernih. Semua yang dilihat , didengar dan dirasakan oleh indranya adalah kesalahan. 

Bunyi lonceng dari Gereja Katedral Renon terdengar seperti benturan antara dua mobil yang sedang bertabrakan. 

Pikirannya didominasi oleh kehilangan. Dan akhir-akhir ini Margaret sudah mulai tidak ingat dengan semua orang. 

Bahkan dua orang lelaki yang adalah dokter dan perawat yang kerap berada di sisinya setiap saat sering dikiranya seperti orang baru kenal. Padahal sudah hampir satu tahun mereka merawatnya.

Margaret betul-betul kacau. Satu-satunya ingatan yang paling kuat yang ada dalam  kepalanya adalah soal berita kecelakaan putra dan suaminya.

“Aku mau ke makam putra dan suamiku” Ucap Margaret dengan nada membentak perawat yang dengan setia duduk di sebelah tempat tidurnya.

Perawat itu mengangguk dan mengantar Margaret ke sudut kiri halaman rumahnya. Di sana ada dua kuburan yang hanya memakai batu sebagai tanda bahwa itu adalah kuburan. 

Margaret menangis dan berbicara seolah putra dan suaminya ada di situ untuk mendengar. Dia memuntahkan segala penatnya. 

Setiap kata yang  keluar selalu saja diikuti satu butir air mata yang jatuh. Kata dan air mata berbicara bersamaan. 

Di sebelah kirinya tampak perawat itu menjatuhkan air matanya juga. Perawat itu membelai rambut Margaret, “ibu harus lebih sabar dan ikhlas”.

Beberapa menit kemudian seorang lelaki yang berusia senja menghampiri mereka.

“Ibu, sudah minum obat?” Tanya lelaki senja itu.

“Sudah dok” jawab Margaret sambil menghapus air matanya. “dok, kalau aku mati nanti, jangan lupa aku dikuburkan di samping kiri putraku. Biar aku dan suamiku bisa mengapit putra kami”

Dokter itu tersenyum dan mengangguk. Senyuman itu terlihat ikhlas seperti biasanya. Senyuman yang mampu menyejukkan setiap orang.  

“Mungkin saat sekolah atau kuliah dulu para dokter ataupun perawat secara khusus diberi mata pelajaran atau mata kuliah cara senyum yang baik,” pikir Margaret.

“Suamiku, putraku. Aku masuk ke rumah dulu. Tunggulah aku. Dalam waktu dekat aku pasti menyusul kalian” kata Margaret sambil meninggalkan kedua kuburan itu.

Kuburan-kuburan itu tampak sangat sederhana. Hanya bertandakan satu buah batu berdiameter seratus senti meter di atas masing-masing dari kuburan itu. 

Model kuburan orang zaman dulu. Padahal sekarang sudah 2018, ditambah lagi Margaret itu keluarga berada. 

Untuk membuat dua kuburan mewah berukuran dua meter kali satu meter sebetulnya bukanlah hal yang sulit baginya. 

Tetapi mengapa putra dan suaminya bahkan tak dikubur menggunakan satu ember pun campuran semen dan pasir?

Dokter dan perawat itu mengantar Margaret ke kamarnya. 
“aku mau ke toilet dulu,” kata Margaret.

“Baik bu,” jawab perawat muda itu.

Setelah sampai di depan toilet, Margaret meminta agar perawat muda itu menunggunya di luar. 

Beberapa saat setelah masuk terdengar bunyi air keran yang dibuka Margaret. 

Lalu kemudian terdengar suara benturan yang sangat keras.  Darah mengalir keluar dari toilet.

“Bu..bu..ibu kenapa?
Perawat muda itu panik sekali. Karena panggilannya tak kunjung dijawab oleh Margaret maka dia menggedor pintu toilet itu dengan linggis yang kebetulan berada tidak jauh darinya. 

Ketika sampai di dalam dia melihat Margaret terkapar tak berdaya. Dia pingsan. Dari kepalanya keluar darah yang sangat banyak.

Perawat itu berteriak dan meminta tolong. Mendengar teriakan itu dokter yang berusia senja itu mendatangi mereka ke toilet. 

Dokter itu juga terlihat sangat panik ketika melihat Margaret. Dengan segera mereka mengangkat Margaret dan melarikannya ke RSUD Sanglah Denpasar.

Keesokan harinya Margaret siuman. Dia mendapati dirinya berada dalam sebuah kamar yang sangat aneh. Mulutnya terpasang oksigen. 

Di sebelahnya terdapat sebuah monitor yang menampilkan frekuensi tekanan jantungnya. 

Margaret akhirnya tahu dirinya berada dalam rumah sakit. Ketika Margaret sementara mengamati isi ruangan itu, pintu kamarnya berbunyi dan terbuka. Dia terkejut, sangat terkejut. 

Tidak pernah dalam hidupnya dia merasakan keterkejutan seperti itu. Dari luar pintu itu dua orang lelaki yang dicintainya, masuk. 

Mereka juga terkejut dan bahagia melihat Margaret membuka matanya. Kedua lelaki itu adalah suami dan putranya.

Putra dan suaminya berlari ke arah tempat tidur Margaret. Mereka memberikan kecupan termanis dan pelukan penuh kasih kepada Margaret. Begitu pula sebaliknya, Margaret mengecup mereka dengan penuh kebahagiaan.

Dalam situasi itu, ruangan tempat Margaret dirawat seolah menghembuskan banyak kebahagiaan. 

Monitor yang menampilkan frekuensi tekanan jantung Margaret seakan berubah menjadi layar televisi yang sedang menampilkan acara kesukaan mereka. 

Detak detik seolah berhenti. Bunyi suara langkah kaki dari luar ruangan itu seolah sedang mengisahkan tentang kebahagiaan. Mereka merasa sangat bahagia sekali.

“Putraku. Suamiku. Akhirnya aku pulang. Ke tempat di mana segala siklus kehidupan dimulai. Di rumah Bapak kita” kata Margaret sembari memeluk erat mereka berdua.

“Apa yang mama bicarakan?” Tanya putranya kebingungan

“Bukankah kita sekarang di Surga? Lihatlah aku sudah menyusul kalian kesini”

Suami dan putranya saling memandang kebingungan. Kemudian suaminya mulai berbicara. 

“Sayang, kita masih di Bumi. Dan itu artinya kita masih hidup. Selama ini, selama kurang lebih satu bulan kamu pingsan. Kamu dirawat di sini karena kamu mengalami kecelakaan mobil jln. Diponegoro satu bulan yang lalu saat kamu hendak pergi kerja. Memang sering kali kami melihat kamu menjatuhkan air mata dalam keadaan tak siuman. Kami tahu kamu pasti sedang mengalami mimpi buruk dalam tidurmu yang panjang.”

Margaret termenung sebentar.“jadi yang selama ini terjadi, semua  itu hanya kejadian yang direkayasa oleh pikiranku sendiri? 

Tentang berita kalian mengalami tabrakan? Tentang keluarga yang datang untuk mengambil sedikit demi sedikit harta kita? 

Tentang dua kuburan di samping rumah kita?

Tentang dua orang lelaki ( dokter dan perawat ) yang merawat saya di rumah kita? 

Semua itu hanya dunia di dalam mimpi burukku?

Putra dan suaminya mengangguk. “iya mama…iyaa sayang…” jawab putra dan suaminya secara bersamaan sambil tersenyum.

Oleh: Eman Jabur
Penulis adalah Jurnalis MarjinNews wilayah Bali

Cerpen ini hanyalah imajinasi penulis. Apabila ada kesamaan nama dan kisah, maka tentu itu hanya kebetulan.

COMMENTS

Name

Artikel,141,Bali,115,Bedah Buku,1,Ben Senang Galus,1,Bencana Alam,1,Berita,160,Bhineka,2,BNI,1,Bola,2,bom,1,Bom Bunuh Diri,3,Borong,3,BPJS,1,Budaya,38,Bung Karno,1,Bunuh Diri,3,Bupati Mabar,1,Camilian,1,Cerpen,183,Chelsea Islan,1,Chiristian Rotok,1,Daerah,579,Dana Desa,1,Dari Kami,3,Demokrasi,22,Denpasar,18,Desa,2,Destinasi,1,Diaspora,2,Dilan,4,Donny Isman,1,DPR RI,4,E-KTP,4,Editorial,38,Ekonomi,5,Ekspresi,1,Ende,6,Entrepreneur,1,Feature,35,festival Komodo,2,Film,7,Filsafat,2,Fitur,1,Flobamora Cup,1,Flores,11,Focus Discussion,4,FPI,1,Gantung diri,2,Gaya,1,gaya hidup,8,Gedged,1,Gempa,6,Gereja,3,Gereja Katolik,3,Gerindra,1,GMKI,1,GMNI,7,Golkar,1,Gusti Dulla,1,HAM,1,Hand Phone,1,Hari Buruh,2,hari buruh internasional,1,Hari Perempuan Internasional,1,Hiburan,27,HMPCK,1,Hoax,2,hukum,60,Human Trafficking,4,IBT Expo,1,Idul Fitri,1,IJM,1,IKEMAS CUP,7,Imlek,1,Indonesia,1,Indonesian Idol,8,Inspirasi,15,Internasional,16,Internet,2,Investasi,1,Iriana Jokowi,1,Ivan Nestorman,1,IYC Jatim,1,Jabar,1,JAD,1,Jakarta,5,Jatim,3,Jawa Tengah,1,Jawa Timur,1,JK,1,Jogyakarta,2,Jokowi,18,JRUK Sumba,2,jurnal Terbaru,1,jurnalistik,3,Kalimantan,5,Kampanye,2,Kampus,3,Kapolri,1,Kar. Ilmiah,4,Karanganyar,1,Karya Sastra,280,KDRT,1,Keagamaan,7,kebakaran,4,Kebangsaan,1,kebudayaan,2,kecelakaan,2,Kecelakaan Lalu Lintas,2,Kediri,2,Kejadian. Jakarta,1,kejahatan,2,Kemahasiswaan,2,Kemanusiaan,62,kemenkominfo,1,Kemiskinan,2,kepala daerah,1,Kepemuaan,5,Kepemudaan,154,kepemudan,8,kerohanian,2,Kesehatan,8,Ketahanan Nasional,1,KNPI,2,Komodo,9,Komunikasi,1,Komunitas,5,Koperasi,1,Korban,1,Korupsi,60,KPK,12,KPU,1,Kreatif,1,Kriminal,50,Kritik Sastra,4,Kupang,24,Labuan Bajo,51,Lakalantas,9,Larantuka,1,Lembata,2,Lifestyle,6,Lingkungan Hidup,15,Literasi,14,lombok,1,LP Cipinang,1,Luar Negeri,5,Mahasiswa,42,Makanan Khas,1,Makasar,6,Makassar,4,Malang,3,Manggarai,114,Manggarai Barat,20,Manggarai Timur,24,Marianus Sae,1,Marion Jola,3,Masalah Rokok,1,Masyarakat,1,Mataram,2,Maumere,7,Media,2,Media Sosial,3,Medsos,2,Mendikbud,3,Menkominfo,1,Milenials,71,Motang Rua,1,Muda Petani,1,musik,1,Narkoba,8,Nasional,294,Natal,19,Ngada,7,Novanto,2,Novel,16,NTT,258,Nyepi,2,Olahraga,11,Opini,419,Orang Muda,15,Otomotif,1,OTT,2,Papua,15,Pariwisata,27,Partai Politik,25,Pasangan,20,Paskah,2,pelajar,2,Pembangunan,5,pemerkosaan,1,Pemilu,17,Pemuda,3,Pencurian,2,Pendidikan,89,Penerbangan,4,penyanyi,1,Peradi,1,Perdamaian,1,Perempuan,20,Perindo,1,Peristiwa,1148,Pers,3,Perzinahan,1,Petani,1,Piala Dunia,1,Piala Oscar,1,pileg 2019,1,Pilgub,41,Pilkada,102,Pilpres 2019,23,PKRI,1,PKS,1,PMII,1,PMKRI,22,PMKRI Bogor,1,Pmkri Jogja,1,Poco Ranaka,1,Pojok Redaksi,38,Polisi,25,politik,90,Politikus,6,POLRI,5,PP PMKRI,1,Pristiwa,31,Prosa,1,PSK,1,Puisi,88,Puteri Indonesia,2,Radikalisme,1,Ratna Sarumpaet,4,Refleksi,15,reformasi,1,Regional,6,Religi,2,Remaja,1,Rensi Ambang,1,Riau,1,Ricuh,1,Rindu,1,Risma,1,Rizieq Shihab,7,Rote Ndao,1,Ruteng,26,RUU,1,Sabu,1,Sail Komodo,1,Sajak,9,Sam Aliano,1,Sastra,3,Sejarah,2,Sekilas Info,24,seleb,1,Selebritas,20,Sidoarjo,1,situs pornografi,1,Somasi,1,Sosial,3,Sosial Politik,1,Sosok,20,Sospol,39,Start Up,1,Suara Muda,71,Sumba,8,Surabaya,35,Tahun Baru,9,Tahun Baru. Remigius Nahal,1,Tarakan,1,Tata Kota,1,Teknologi,11,Tentang Mereka,48,Tenun Manggarai,1,Terorisme,14,Terorismes,4,TKI,4,TNI,1,TNK,1,Togar Situmorang,7,Tokoh,16,Tol Laut,1,Toleransi,2,Tour Jurnalistik,1,UNITRI-Malang,1,Unwira,1,UU MD3,7,Valentine,2,Viral,3,Wisata,14,Wisuda,1,WNA,1,
ltr
item
MARJINNEWS.COM: Margaret
Margaret
https://1.bp.blogspot.com/-4RoNDBYiizE/W_HKRbMNwNI/AAAAAAAADu0/lKo3HzdEGPUVop-XKfFMEiZQARsCbHceQCLcBGAs/s320/IMG-20181117-WA0015.jpg
https://1.bp.blogspot.com/-4RoNDBYiizE/W_HKRbMNwNI/AAAAAAAADu0/lKo3HzdEGPUVop-XKfFMEiZQARsCbHceQCLcBGAs/s72-c/IMG-20181117-WA0015.jpg
MARJINNEWS.COM
http://www.marjinnews.com/2018/11/margaret.html
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/2018/11/margaret.html
true
971126874416220402
UTF-8
POSTINGAN LAIN Not found any posts LAINNYA Selengkapnya Reply Cancel reply Delete Oleh Home PAGES Kiriman Baca Semua Rekomendasi untuk Anda LABEL ARCHIVE CARI Semua Kiriman Tidak Ditemukan Apa yang Anda Cari Back Home Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 menit yang lalu $$1$$ minutes ago 1 Jam yang lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Pengikut Ikuti THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy
close