Kami Meniup Seruling Bagimu dan Kamu Menari
Cari Berita

Kami Meniup Seruling Bagimu dan Kamu Menari

MARJIN NEWS
20 November 2018

Foto: Dok. Pribadi
OPINI, marjinnews.com - Pengalaman adalah guru terbaik. Itulah salah satu kata-kata mutiara tentang pengalaman dari sekian banyak yang ada. Memang hidup terasa hambar jika kita menjalaninya secara monoton tanpa melakukan hal-hal yang bermanfaat dalam hidup. Pengalaman-pengalaman harian yang kita alami dalam hidup, entah itu yang manis maupun yang pahit wajib kita syukuri. Jangan hanya menyukai dan menginginkan pengalaman-pengalaman yang manis saja karena justru pengalaman-pengalaman pahitlah yang membuat kita menjadi pribadi yang matang dalam menjalani kehidupan ini.
Pengalaman-pengalaman yang kita miliki dalam hidup membuat kita menjadi pribadi yang berisi. Bahwasanya, kehidupan kita bukan lagi secarik kertas putih utuh atau sebuah gelas kosong yang mesti diisi dengan air. Pengalaman-pengalaman yang kita miliki juga, terlebih khusus yang manis, sesewaktu terasa indah untuk dikenang kembali dan kemudian mendorong kita untuk mengimplementasikan dalam hidup nilai-nilai yang kita dapat dari pengalaman-pengalaman itu. 

Tulisan ini adalah sebuah nostalgia penulis saat mengikuti kegiatan Malam Puncak peringatan hari jadi Paroki Vincentius a Paulo Surabaya ke-80. Kegiatannya dilaksanakan pada tanggal 30 September 2018 lalu di Convention Hall Tunjungan Plazza 3 lantai 6. kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan adalah bazar, band, dance, tarian-tarian dan drama musikal. Drama musikal inilah yang dianggap paling keren dan banyak mendapat antusias dari penonton.

Tawaran Keselamatan Allah
Allah selalu menghendaki agar manusia memperoleh keselamatan atau kebahagiaan dalam hidup. Keselamatan itu ia nyatakan lewat orang-orang yang kita jumpai dan dalam kegiatan-kegiatan yang kita lakukan. Persoalannya adalah manusia seringkali tidak menanggapi tawaran keselamatan Allah itu. Dalam injil (Matius, 11:17 dan Lukas 7:32) diterangkan sikap manusia yang tidak menanggapi tawaran keselamatan yang Allah berikan. Maka, tugas kita sekarang adalah kembali menemukan kepekaan kita untuk menanggapi tawaran keselamatan atau kebahagiaan Allah yang dinyatakan-Nya dalam orang-orang yang kita jumpai dan kegiatan-kegiatan yang kita lakukan. 
Acara-acara yang dipentaskan saat acara peringatan hari jadi Paroki St. Vincentius a Paulo Surabaya ke-80 merupakan contoh konkret tindakan yang membawa keselamatan bagi orang lain. Saat penonton merasa antusias dan terhibur dengan acara-acara yang ditampilkan, terlebih khusus drama musikal yang memberi banyak nilai-nilai kehidupan, di saat itulah telah terjadi keselamatan. Manusia mengafirmasi tawaran keselamatan Allah dan yang menjadi sarana Allah di sini dalam menyalurkan keselamatan itu kepada manusia ialah anak-anak muda yang menjadi pemeran dalam acara-acara yang dipentaskan. 

Oleh karena itu, agar kita mencapai keselamatan atau bahasa yang lebih duniawinya kebahagiaan dalam hidup, kita harus mengisi hidup kita dengan pengalaman-pengalaman yang bermanfaat dan itu dapat kita peroleh dari kegiatan-kegiatan yang kita ikuti. Dalam setiap kegiatan positif yang kita ikuti terkandung nilai-nilai yang sungguh berharga bagi kita dalam menjalankan kehidupan ini.

Kaum Muda Berkarya
Perkembangan zaman yang begitu pesat tak dapat kita elak telah membawa dampak-dampak negatif, salah satunya krisis yang terjadi dalam diri kaum muda. Kaum muda sekarang banyak yang mengimplementasikan gaya hidup konsumerisme dan hedonisme. Kaum muda yang mengambil bagian atau berperan aktif dalam kegiatan peringatan Paroki St. Vincentius a Paulo Surabaya ke-80 dan telah menghibur banyak orang, paling tidak memberi harapan bagi kita bahwa masih ada kaum muda yang berkarya untuk hal-hal yang positif dan bermanfaat untuk sesama. 

Oleh karena itu, kegiatan-kegiatan seperti itu kiranya tetap menjadi agenda tahunan dan tidak hanya di paroki St. Vincentius a Paulo, tetapi juga dipraktikkan di tempat-tempat lain.

Mari kita mengisi hidup kita dengan pengalaman-pengalaman yang berharga, yang mengantar kita pada keselamatan atau kebahagiaan, dan itu kita peroleh dengan berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan yang positif. Kita juga perlu ingat bahwa kita mesti menjadi sarana keselamatan atau kebahagiaan bagi orang lain. Saat kita semua bahagia berarti kita ‘melawan dan mengubah’ kata-kata dalam injil menjadi “Kami meniup seruling bagimu dan kamu menari”. Ingat! hidup ini singkat, oleh karena itu terlalu sayang untuk disia-siakan.   
Oleh: Ransis Putra Gaut (Mahasiswa Fakultas Sosiologi UNAIR) dan
          Patricia I. Felany (Mahasiswa Fakultas Hukum UNAIR)