Ini Dampak yang akan Terjadi Bila Impor Distop Seperti Janji Prabowo

Menu Atas

Cari Berita

Advertisement

Ini Dampak yang akan Terjadi Bila Impor Distop Seperti Janji Prabowo

MARJIN NEWS
5 November 2018



JAKARTA, marjinnews.com - Capres nomor urut 02 Prabowo Subianto ingin Indonesia berdiri di atas sendiri jika terpilih menjadi presiden. Artinya, Prabowo ingin Indonesia tidak impor. 

Hal tersebut disampaikan Prabowo dalam acara di GOR Soemantri Brodjonegoro, Kuningan, Jakarta Selatan, Minggu (4/11/2018). Prabowo awalnya berbicara soal pentingnya perubahan dan tugasnya sebagai alat bangsa.

"Sebagai alat, saya mengerti tugas saya menjalankan amanah dari rakyat. Tugas kami adalah sebenarnya sangat sederhana, dua tugas kami. Satu, menghilangkan kemiskinan dari bangsa Indonesia; dan kedua, menegakkan keadilan, keadilan untuk seluruh rakyat Indonesia," ucap Prabowo.

Lantas, apa dampaknya jika impor disetop? 

Ekonom dari Universitas Indonesia Fithra Faisal menerangkan, impor merupakan bagian yang tak terlepaskan dari industri yang merupakan bagian dari dari perekonomian. Saat ini 90% bahan baku maupun barang modal industri dipenuhi dari impor. Artinya, lanjut dia, jika impor disetop maka industri tidak berproduksi.

"Kalau setop impor berarti tidak bisa berproduksi, karena 90% kebutuhan industri dari impor," kata dia seperti dikutip, detik.com, Senin (5/11/2018).

Dia mengatakan, masalah Indonesia saat ini ialah defisit transaksi berjalan. Defisit transaksi berjalan sendiri bisa diselesaikan dengan mendorong ekspor. Kembali lagi, dia mengatakan, untuk mendorong ekspor perlu adanya barang-barang impor tersebut.

"Kemudian untuk boosting ekspor dari barang-barang kebutuhan impor tadi yang mana 90% justru untuk industri, yang pada akhirnya bagian tak terpisahkan ekspor," ujarnya.

Sebab itu, dia mengatakan, merupakan hal yang mustahil menyetop impor. Sebab, impor bagian dari perekonomian nasional.

"Jadi sekali lagi apakah impor bisa 0 kan hampir nggak mungkin bahkan mustahil di negara manapun yang tidak impor," ujarnya.

Selain itu, dia mengatakan, impor juga menjadi solusi untuk mengontrol harga. Sebab, kapasitas produksi di masing-masing negara berbeda. Di sektor pangan misalnya, impor diperlukan untuk mengontrol harga saat ada gangguan produksi.

"Memang, jadi itu kan sektor pangan sendiri dari macam-macam item, dalam konteks itu walaupun unggul sektor ini tapi tidak semuanya bisa kemudian diproduksi di Indonesia. Apalagi bicara dinamika perjalanan supply dan demand di mana produk pangan sangat rentan cuaca dan lain-lain. Impor bisa berfungsi sebagai buffer menstabilkan harga," tutupnya.

Sebelumnya, Calon presiden nomor urut 2 Prabowo Subianto berjanji tidak akan impor apapun. Jika terpilih menjadi presiden pada 2019 mendatang, Prabowo mengatakan, Indonesia akan berdiri di atas kaki sendiri alias tidak impor.

"Saya bersaksi di sini, kalau Insya Allah saya menerima amanat dari rakyat Indonesia, saya akan bikin Indonesia berdiri di atas kaki kita sendiri! Kita tidak perlu impor apa-apa. Saudara-saudara sekalian! Kita harus dan kita mampu swasembada pangan! Mampu!" kata Prabowo di GOR Soemantri Brodjonegoro, Kuningan, Jakarta Selatan, Minggu (4/11/2018)

Prabowo menegaskan, Indonesia harus swasembada. Menurutnya, Indonesia tak perlu mengeluarkan devisa untuk impor tersebut.

"Kita juga harus dan mampu swasembada energi, swasembada bahan bakar! Kita tidak perlu impor 1,3 juta barel tiap hari. Kita tidak perlu mengirim US$ 30 miliar tiap tahun ke luar negeri hanya untuk bayar bahan bakar," ujarnya.

Bukan sekali Prabowo mengeluarkan pernyataan tersebut. Saat bertemu relawan Rhoma Irama, di Soneta Record Depok, Minggu (28/10/2018), Prabowo juga mengatakan tidak ingin impor. Sebab, impor menghancurkan rakyat Indonesia sendiri.

"Kita tidak perlu impor-impor lagi makanan. Impor-impor itu adalah sebetulnya langkah langkah yang menghancurkan rakyat Indonesia sendiri, menghancurkan petani-petani kita sendiri," katanya.

Prabowo menjelaskan bahwa Indonesia bisa mengurangi impor dengan cara melakukan swasembada di tiga sektor. Tiga sektor yang dia maksud yaitu swasembada pangan, swasembada energi, dan swasembada air.

"Harus swasembada pangan, dan pangan harus tersedia serta terjangkau untuk seluruh rakyat, lalu swasembada energi dengan menanam bahan bahan yang bisa menghasilkan energi, bahan bakar dari tanaman," tutur Prabowo.

"Kalau sudah swasembada pangan dan energi, kita harus swasembada air, kita akan bikin Indonesia tidak kesulitan air. Ada teknologinya tinggal kehendak atau tidak," sambungnya.

Prabowo mengatakan dasar tugasnya yang kedua memiliki makna yang luas. Dia lalu berbicara soal nama koalisinya, Koalisi Indonesia Adil dan Makmur. Di sinilah Prabowo mulai berbicara soal impor.

"Dasar kedua ini maknanya sangat luas karena itu kita menamakan koalisi kita adalah Koalisi Adil dan Makmur. Kalau Indonesia adil dan makmur, berarti seluruh bangsa Indonesia akan aman. Kemakmuran itu sumber dari keamanan. Gaji-gaji akan cukup, kita tidak perlu impor apa-apa lagi," tegas Prabowo.

Dalam momen ini, Prabowo melontarkan janji jika terpilih menjadi presiden. Indonesia, katanya, akan dibuatnya menjadi negara yang tidak perlu mengimpor apa pun.

"Saya bersaksi di sini, kalau insyaallah saya menerima amanat dari rakyat Indonesia, saya akan bikin Indonesia berdiri di atas kaki kita sendiri! Kita tidak perlu impor apa-apa Saudara-saudara sekalian! Kita harus dan kita mampu swasembada pangan! Mampu!" tegas Prabowo. 

"Kita juga harus dan mampu swasembada energi, swasembada bahan bakar! Kita tidak perlu impor 1,3 juta barel tiap hari. Kita tidak perlu mengirim 30 miliar dolar tiap tahun ke luar negeri hanya untuk bayar bahan bakar," pungkas eks Danjen Kopassus itu. (*)

Editor: Remigius Nahal