Gerakan Indonesia Mini, Menembus Tapal Batas Identitas Mahasiswa
Cari Berita

Gerakan Indonesia Mini, Menembus Tapal Batas Identitas Mahasiswa

Marjin News
9 November 2018

Beberapa anggota Indonesia Mini. (Foto: dok. Pribadi)

YOGYAKARTA, marjinnews.com - Di tengah maraknya isu SARA dan politik identitas menuju perhelatan tahun politik 2019, mahasiswa STPMD "APMD" Yogyakarta angkatan 2018 menginisiasi sebuah gerakan kebhinekaan untuk memperkuat kesatuan, nasionalisme dan rasionalisme mahasiswa dan masyarakat lintas SARA (Suku, Agama, Ras dan Antargolongan).

Gerakan kolektif yang mereka namai Indonesia Mini tersebut dibentuk atas dasar kesadaran dan kepedulian mahasiswa terhadap NKRI yang akhir-akhir ini demokrasinya kian di rongrong oleh isu SARA. Selain itu, Indonesia Mini pada awal gerakanya difokuskan untuk mahasiswa APMD angkatan 2018 dengan tujuan memperkuat kembali persaudaaran yang mereka bangun sejak SIKAM pada masa awal perkuliahan.

"Alasan mendasar bentuknya Indonesia Mini di APMD adalah untuk memperkuat lagi hubungan antar mahasiswa angkatan 2018 yang sudah kita bentuk sejak SIKAM. Salah satu jargon kita saat SIKAM adalah Indonesia Mini, sebenarnya ini dimulai dari sana. Bahwasanya STPMD "APMD" adalah miniatur dari Indonesia, mahasiswanya ada dari setiap daerah di Indonesia" ungkap Alex, salah satu anggota Indonesia Mini saat ditemui marjinnews.com, pada Kamis (08/11) malam.

Lebih lanjut, mahasiswa Ilmu Pemerintahan tersebut menjelaskan bahwasanya STPMD "APMD" selama ini tidak menunjukan dirinya sebagai miniatur Indonesia yang harmonis dan menghargai perbedaan antar mahasiswa dan organisasi.

"Selama ini, yang kami lihat di APMD, mahasiswanya seperti sangat kental dengan identitas organisasi, kedaerahan, agama, dan identitas lain yang kemudian membuat mahasiswa semakin ekslusif. Juga sekat antar organisasi (UKM,HMJ, LPM-red) kampus maupun organisasi luar kampus yang semakin kental dan nampak. Apalagi menuju tahun politik 2019 dan negara yang semakin disibukan dengan isu SARA, seharusnya mulai dari kampus kita harus bangun yang namanya kebhinekaan sebagai kepentingan bersama". Tandasnya

Pada kesempatan yang sama, Lino salah satu anggota Indonesia Mini menyesali egoisme mahasiswa APMD yang sangat tinggi. Menurutnya, kebiasaan mahasiswa APMD yang selalu berkumpul dan berinteraksi hanya dengan sesama daerahnya masing-masing atau hanya dengan sesama organisasinya masing-masing memicu perpecahan antar mahasiswa yang merembes hingga pada tahap yang lebih besar.

"Kami kecewa dan sedih dengan sikap Mahasiswa kita (APMD-red) yang hanya bergaul dan berkumpul dengan sesama daerhanya masing-masing, dengan sesama organisasinya masing-masing. Justru itu yang kemudian memicu perpecahan antar mahasiswa, jika tidak segera dihilangkan kebiasaan tersebut, ini bisa merembes ke hal yang lebih besar, negara misalnya. Untuk apa kita bicara soal demokrasi negara kalau dilingkup mahasiswa kita sendiri belum menunjukan itu". Jelas mahasiswa asal Manggarai tersebut.

"Indonesia Mini hadir untuk memberi kesadaran dan memperkuat kembali tali persaudaraan kita sebagai satu bangsa Indonesia, mempertegas kembali bahwasanya kita semakin kuat dan merdeka jika kita bersama. Kita harus bisa menembus tapal batas identitas SARA untuk Indonesia yang semakin baik, kita mulai dari mahasiswa sebagai agent of changce" tutup Lino.

Diketahui, Indonesia Mini adalah gerakan kolektif yang tidak memiliki struktur administratif keorganisasian. Segala hal dalam agenda bersama dilakukan secara kolektif kolegial. Keanggotanya berasal dari semua daerah di Indonesia yang menyebar di berbagai organisasi kampus.*


Oleh: Viki Purnama