Fokus Kegiatan Sosial, Semeton Lapedos Urus Orang Sakit Hingga Meninggal Dunia
Cari Berita

Fokus Kegiatan Sosial, Semeton Lapedos Urus Orang Sakit Hingga Meninggal Dunia

MARJIN NEWS
25 November 2018

Menurut Ketua Semeton Lapedos, Ketut Widhi Yogi Sukrama, wadah ini dibentuk karena ada keprihatinan akan kondisi sosial di masyarakat di Desa Pengastulan. Selain itu, aktivis anak-anak muda di lingkungan desa ini juga vakum. (Foto: Istimewa)
SINGARAJA, marjinnews.com - Pada tahun 2006 silam, sejumlah pemuda di Banjar Dinas Sari, Desa Pengastulan, Kecamatan Seririt, Kabupaten Buleleng, Bali, berinisiatif membentuk wadah bernama Semeton Lapedos. Saat ini, wadah ini beranggotakan 68 orang, dan di bawah arahan Pembina, Mangku Alit. 

Menurut Ketua Semeton Lapedos, Ketut Widhi Yogi Sukrama, wadah ini dibentuk karena ada keprihatinan akan kondisi sosial di masyarakat di Desa Pengastulan. Selain itu, aktivis anak-anak muda di lingkungan desa ini juga vakum. 

Sebagaimana semangat awal pembentukan wadah ini, maka kegiatan - kegiatan yang diselenggarakan lebih fokus pada aksi sosial, seperti mengurus warga yang sakit atau meninggal dunia. 

"Sejak dibentuk hingga saat ini, kami memang lebih banyak fokus pada kegiatan sosial di desa, lebih khusus di banjar. Seperti mengurus orang sakit, termasuk warga yang meninggal dunia," kata Widhi di Singaraja, Buleleng, Minggu (25/11/2018). 

Ia menambahkan, untuk menjalankan kegiatan-kegiatan sosial tersebut, Semeton Lapedos menggalang dana melalui kegiatan bazaar. "Kami biasanya menggalang dana melalui bazaar. Hasilnya kami gunakan untuk kegiatan sosial, seperti mengurus warga yang sakit ataupun meninggal dunia," tuturnya. 

Wadah ini sama sekali tidak dilirik oleh pemerintah, sehingga tidak pernah mendapatkan sumbangan atau bantuan. Padahal, Semeton Lapedos juga mencoba membangkitkan semangat anak-anak muda di desa itu, misalnya dengan menggelar hiburan, musik, seni dan gong. 

"Selama ini, baik anggota dewan maupun pemerintah sama sekali tidak melirik apa yang kami lakukan. Tetapi semoga ke depan, kami dilirik pemerintah, termasuk anggota dewan," tandas Widhi. 

Lalu kenapa wadah ini diberi nama Semeton Lapedos? Ditanya demikian, Widhi menjelaskan, pihaknya bukan tanpa alasan memberi nama tersebut. Lapedos, kata dia, merupakan akronim dari "Laki-laki Penuh Dosa". 

"Tetapi jangan itu dikonotasikan secara negatif. Sebab kami memilih nama ini, atas sebuah kesadaran bahwa jika biasanya orang mengaku dosa di hadapan Tuhan, maka kami mencoba membersihkan diri dengan lebih banyak melakukan kegiatan sosial. Misalnya kalau selama ini sering judi, mabuk, maka kita kurangi dan diganti dengan kegiatan sosial melalui wadah ini," pungkas Widhi. (*)