Filosofi Paduan Suara di Mata Jokowi, Simbol Kerukunan di Indonesia
Cari Berita

Filosofi Paduan Suara di Mata Jokowi, Simbol Kerukunan di Indonesia

13 November 2018

Foto: Istimewa
BOGOR, marjinnews.com - Qui Bene Cantat bis Orat, bernyanyi dengan baik sama halnya dengan berdoa dua kali. Demikianlah anak-anak Sekami, Sekar, Orang Muda Katolik dan siapa saja yang hendak belajar menyanyi dalam lingkungan Gereja diperingatkan. Kalimat singkat berbahasa Latin ini memiliki makna yang cukup dalam, setidaknya mampu membuat siapapun yang belajar menyanyi tetap ingin bernyanyi meskipun pengetahuannya dalam hal menyanyi masih cukup minim. 

Dampaknya sangat luar biasa, terciptalah sebuah kolaborasi luar biasa yang merupakan gabungan dari berbagai varian suara dalam sesuatu yang kemudian kita sebut paduan suara. Lantas bagaimana kita memaknai segala sesuatu di balik keindahan suara-suara itu? 


Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo mengatakan paduan suara juga dapat mengajarkan mengenai filosofi dari kerukunan yang dibutuhkan bangsa Indonesia. Menurutnya, paduan suara mampu mengharmoniskan karakter-karakter vokal yang beragam menjadi sebuah kesatuan yang lengkap dan indah.

"Suara sopran, alto, tenor, dan bas semua harus saling menghargai. Enggak mungkin satu minta dominan, satu lainnya minta terus-terusan. Harus saling menjaga dan mengurangi ego masing-masing untuk mendapat sebuah suara yang padu, harmonis, dan indah," katanya saat bersilaturahmi dengan panitia dan pemenang Pesta Paduan Suara Gerejani (Pesparani) Tahun 2018 di Istana Bogor, Jawa Barat, Senin (12/11/2018)

Selain itu, Kepala Negara mengajak para peserta Pesparani untuk turut mengingatkan masyarakat akan pentingnya persatuan dan persaudaraan. Saat ini, bangsa Indonesia membutuhkan pemahaman lebih soal pentingnya menjaga persatuan dan persaudaraan antarelemen bangsa.


"Kebutuhan kita saat ini akan persatuan, mengingatkan akan pentingnya persatuan. Saya ingin itu betul-betul terus disampaikan kepada masyarakat. Karena banyak kita ini yang tidak ingat bahwa negara ini memang sangat beragam," lanjut Kepala Negara.

"Jangan sampai intoleransi dan ekstremisme menganggap dirinya yang paling benar dan merasuk ke mana-mana. Akhirnya nantinya masyarakat merasa tidak rukun. Itu yang sangat berbahaya," tandasnya.

Turut hadir mendampingi Presiden, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko, Kepala Badan Ekonomi Kreatif Triawan Munaf, dan Ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) Mgr Ignatius Suharyo.