Ekonomi dan Krisis Nalar Anak Bangsa
Cari Berita

Ekonomi dan Krisis Nalar Anak Bangsa

7 November 2018

Krisis ekonomi dan politik  melanda Venezuela saat ini. Banyak warga negara yang memilih untuk meninggalkan negaranya dan hijrah ke negara tetangga yang ekonominya stabil. Lalu kita lantas bertanya, dimanakah nasionalisme? bukankah semangat nasionalisme mampu membuat orang rela mati untuk negaranya?, kenapa pada saat krisis ekonomi orang kehilangan alasan untuk bertahan?.

Kebanyakan orang memang selalu memilih situasi yang menguntungkan dirinya, atau bisa juga dikatakan memilih peluang yang memberi manfaat terbaik untuk diri sendiri. Dalam ilmu ekonomi prilaku ekonomi selalu mengacu pada biaya peluang (Oportunity Cost) yakni tindakan   memilih salah satu alternatif yang paling ekonomis dari sekian alternatif yang ada.

Siapapun tidak ingin mati sia-sia. Orang berkorban karena dia tahu ada manfaat dari pengorbanannya. Dulu orang mempertahankan negara hanya dengan bambu runcing dan sedikit makan bukan karena mereka begitu saja mau melakukannya. Orang memilih berjuang untuk mati demi negaranya karena itu  paling realistis kalau bangsa ini mau merdeka.

Baca Juga: PNS Bukan Pilihan Utama Generasi Milenial

Kerelaan untuk berkorban ialah biaya peluang (Oportunity Cost) yang dipilih untuk mendatangkan manfaat jangka panjang agar anda dan saya hidup dengan kebebasan tanpa dijajah. Jika kita sedikit mau berkontemplasi tentang sudut pandang para pejuang kemerdekaan, mungkin anda akan sadar bahwa bagi mereka darah dan nyawa tidak ada artinya dibanding sebuah visi besar yaitu kebahagiaan anda dan saya.

Mereka tidak menenteng senjata dengan kekusutan pikiran, menyongsong kematian dengan jiwa yang bergelora namun yang anda perlu camkan baik-baik mereka tidak kehilangan rasa kamanusiaan sekalipun situasi memaksa mereka menjadi buas seperti binatang.

Realitas yang dihadapi bangsa kita saat ini, ruang publik didominasi oleh retorika kebencian daripada bahasa perdamaian, kita lebih senang membesar-besarkan keadaan daripada belajar mencari fakta lalu menemukan solusi, lebih gemar menebar ketakutan daripada menyemai bibit harapan.

Baca Juga: Pendidikan Tinggi di NTT dan Kemitraan Global

Para elit intelektual kita menjadi buas dan lantang mengutarakan pendapat, menguji ketajaman literasi dihadapan sorotan kamera para pemodal. Para politisi mengumbar opini, berdebat dengan caci maki seolah-olah khalayak yang menyimak sudah tak punya perasaan lagi.

Ruang publik kita menjadi pasar di siang bolong panas, pengap, dan sesak dengan opini-opini sampah dan buas. Pertanyaan mendasarnya ialah apakah semua tindakan tersebut merupakan wujud dari kemampuan kita dalam memilih oportunity cost dengan skala risiko yang paling rendah untuk bangsa ini?

Sebagai warga negara, kita semua juga adalah “pelaku ekonomi” pilihan tindakan kita baik kelompok maupun individu akan selalu membawa konsekuensi tertentu. Dalam konteks pasar, melemahnya nilai tukar, inflasi, dan stagnasi ekonomi mendesak kita untuk menentukan sikap berteriak menyalahkan pemerintah, atau diam mengamati keadaan, atau mencari alternatif terbaik menghadapi tantatangan pasar?

Baca Juga: Pendidikan Harus Kembalikan Idealisme Mahasiswa

Iman dan Ilmu
Fenomena bahwa manusia selalu memilih biaya peluang terbaik untuk dirinya ialah fakta dalam perspektif ilmu ekonomi. Sebagai cabang dari ilmu pengetahuan (sciencia), ekonomi memiliki porsi terbatas untuk mengidentifikasi dan menjelaskan realitas. Ilmu ekonomi menilai fakta berdasarkan tindakan ekonomi,  “ekspektasi” hasil dari intepretasi atau cara pandang merupakan realitas yang diakui sebagai fakta  ketika sudah meraga dalam tindakan.

Cara kerja Ilmu Ekonomi justru tidak bertentangan dengan visi moral iman. Iman hanya menjadi otentik ketika disertai tindakan. Santo Paulus menuliskan bahwa iman tanpa perbuatan adalah keisa-siaan. Iman menuntut fakta bukan ilusi seperti yang dituduhkan kepadanya.

Sebagaimana ilmu, imanpun diuji dalam menghadapi keterbatasan-keterbatasan dunia. Namun ketika suatu bangsa lebih memilih untuk saling membenci daripada saling mencintai, saling memfitnah daripada saling percaya, mengutamakan kemenangan daripada keadilan, menempatkan kepentingan kelompok di atas kemaslahatan bersama, mengedepankan identitas daripada daripada solidaritas, lalu memperjuangkannya atas nama iman maka dari sudut pandang oportunity cost (biaya peluang) dalam Ilmu Ekonomi, kita memilih peluang yang berotensi hight risk low return sebuah pilihan tindakan yang irasional secara ekonomis baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

Baca Juga: Revitalisasi Gerakan Mahasiswa untuk menjawab tantangan kontemporer bangsa

Lantas, apakah dari kaca mata iman tindakan hight risk low return ini realistis?, jawabannya jelas tidak! sebab pilihan tindakan  tidak memenuhi rasionalitas ekonomi dan bertolakbelakang  dengan iman.

Realitas sosial merupakan cerminan nalar masyarakatnya. Kacaunya narasi ruang publik kita merupakan implikasi dari cara kerja nalar kita yang berusaha menempatkan tindakan merugikan bangsa sendiri daripada tindakan yang mendatangkan manfaat.

Cinta kasih, solidaritas, keadilan sosial, toleransi, dan optmisme menjadi tidak realistis dan mungkin dianggap utopia, sementara kebencian, fitnah, heat spech, hoax menjadi fakta. Ketika kita gagap dan latah dalam menalar dan mengembangkan ilmu pengatahuan demi meningkatkan kualitas kemanusiaan bangsa, Iman yang seharusnya memandu  pranata sosial justru didistorsi oleh ilusi–ilusi kekuasaan yang bertopeng alim ulama berwatak Yudas Iskariot.

Akibatnya, kita menjadi bangsa yang sangat tinggi inkosnsistensinya dan mengkhianati diri sendiri. Lantas anda bertanya pada saya, kita harus bagaimana? Meminjam istilah Cak Lontong, untuk pertanyaan ini saya hanya bisa menjawab: mikir dong!

Oleh: Stenly Jemparut