Dunia Maya Harus Menjadi Ruang Aman untuk Perempuan
Cari Berita

Dunia Maya Harus Menjadi Ruang Aman untuk Perempuan

MARJIN NEWS
18 November 2018

Gambar: Ilustrasi
OPINI, marjinnews.com - Perempuan, dalam status sosialnya, berada dalam warga kelas dua di bawah laki-laki. Pertanyaannya, apakah budaya patriarki menjadi penyebab kegagalan perempuan untuk mengambil posisi yang setara secara intelektual dan profesional? Ya. Ada batasan pembeda yang dikaburkan dalam budaya ini. Pembedaan sosial, politik dan ekonomi berakar pada struktur anatomi dan psikologis.

Perempuan Indonesia masih berkutat pada pengertian paradoks yang mana masih memperjuangkan kesetaraan gender dan memberikan sedikit kebebasan ruang gerak, tetapi, akar nilai tradisi masih kuat dan tetap menghalangi serta cenderung memposisikan perempuan sebagai subordinat laki-laki.

Akibatnya, ketimpangan gender akan terus ada dalam kontrol dan dominasi laki-laki dalam bermasyarakat. Perempuan akan selalu dijadikan obyek dan tak jarang mengalami kekerasan, pelecehan seksual, penganiayaan, intimidasi, pemerkosaan, dan pembunuhan. Kewajaran ini dianggap dan dipahami oleh masyarakat sebagai wujud dari eksistensi laki-laki dengan segala sikap dominasi.

Di era digital ini telah berkembang kekerasan terhadap kaum perempuan dengan memanfaatkan akses teknologi atau kerap dikenal sebagai cyber crime. Perempuan sering menjadi korban dari cyber crime. Produk budaya dan nilai tradisional mempengaruhi fenomena ini.

Menurut Komnas Perempuan, kekerasan berbasis siber ini adalah kekerasan yang muncul ke permukaan dengan masif, namun kurang dalam pelaporan dan penanganan. Dampak dari kejahatan berbasis siber ini dapat menjatuhkan hidup perempuan, menjadi korban berulang kali, dan dapat terjadi seumur hidup.

Komnas Perempuan mencatatkan ada 98 kasus yang tergolong dalam cyber crime di tahun 2017. Dalam rentang waktu selama tahun 2017 terdapat 65 kasus kekerasan siber yang dilaporkan kepada Komnas Perempuan. Kekerasan yang dilaporkan pun beragam dan mirisnya dilakukan oleh orang terdekat. Ragam kekerasan siber yang dilakukan oleh orang terdekat ini dalam bentuk ancaman penyebaran foto dan video pribadi, serta ancaman verbal.

Tidak terbatasnya dunia maya menjadi satu ruang bebas bagi pelaku yang bahkan tidak mengenal korban secara personal. Seperti kolega, supir taksi online, pengikut dalam laman pribadi media sosial, dan bahkan orang yang tidak dikenal atau belum pernah ditemui sekalipun bisa menjadi pelaku karena berlindung pada anonimitas.

Indonesia memiliki pekerjaan rumah yang serius dalam menangani kekerasan terhadap perempuan di dunia siber. Hal yang harus diperhatikan adalah upaya yang serius dalam bidang hukum dan budaya. Produk hukum dalam tata kelola penggunaan internet harus memiliki dimensi pencegahan kekerasan terhadap perempuan secara mendetil yang tidak hanya berkutat pada konteks pornografi.

Selain itu, budaya digital citizenship yang berkeadilan gender dalam media sosial harus dibangun. Hal ini berarti bahwa norma kepantasan dan bertanggung jawab harus diutamakan dalam bersosialisasi di dunia maya agar ruang aman bagi perempuan di dunia maya tidak tergerus.

Oleh: Andreas Pengki