Dua Pembalap Bersaudara Asal Bali Siap Ikuti CBR Race Day di Sentul
Cari Berita

Dua Pembalap Bersaudara Asal Bali Siap Ikuti CBR Race Day di Sentul

MARJIN NEWS
9 November 2018

Anggie dan Angga, sapaan akrab keduanya, bahkan sudah merasakan aroma panas kompetisi balap di Sirkuit Sentul sejak 2017 lalu. (Foto: Istimewa
DENPASAR, marjinnews.com - Putu Anggei Stefanus Nur Elvin (26) dan Made Manuel Anglo Nur Putra (24), adalah dua bersaudara asal Banjar Untal Untal, Desa Dalung, Kecamatan Kuta Utara, Kabupaten Badung, Bali. Keduanya memiliki hobi yang sama, balap motor.

Anggie dan Angga, sapaan akrab keduanya, bahkan sudah merasakan aroma panas kompetisi balap di Sirkuit Sentul sejak 2017 lalu. Dua bersaudara ini bisa mencicipi lintasan di Sentul, setelah tampil sebagai juara 2 Honda Modif Kontes 2016 dan 2017.

Selanjutnya pada tahun 2017, Angga mengikuti lomba Seri 2 di Sirkuit Sentul, namun gagal menaklukkan sirkuit yang sering digunakan untuk menyelenggarakan balap motor, ajang Asian F3, ajang A1 Grand Prix, ajang GP2 Asia dan tercatat pernah menjadi penyelenggara MotoGP hingga tahun 1997 itu.


Pada tahun 2018 ini, keduanya mengikuti Indonesia CBR Race Day (ICE DAY) 2018 di Sirkuit Sentul. Pada seri pertama ICE Day 2018, Anggie dan Angga turun di Kelas Sport 250 CC. Ketika itu, keduanya gagal masuk posisi 10 besar.

Sementara pada seri kedua ICE Day 2018 tanggal 16 September 2018, Angga mampu finish di urutan kelima. Menurut rencana, dua bersaudara ini akan kembali menjajal Sirkuit Sentul Desember mendatang, pada seri ketiga ICE Day 2018.

Ditemui di Denpasar, Jumat (9/11/2018), Anggie berharap, ia bersama sang adik bisa merajai Kelas Sport 250 CC dan menaklukkan sirkuit terbesar di Tanah Air itu.

"Kami tetap berusaha supaya menang dan mengharumkan nama Bali," tutur Anggie.

Untuk menghadapi ICE Day 2018 seri ketiga ini, Anggie dan Angga mengaku tak memiliki persiapan khusus. Keduanya hanya berharap latihan di Sirkuit Sentul, yang dilakukan 4 hari sebelum seri ketiga ICE Day 2018 dilaksanakan.


"Terus terang, memang sulit mendapatkan hasil maksimal, karena fasilitas untuk latihan cukup sulit di Bali. Kami baru bisa maksimal latihan jelang balap di Sentul. Tapi semoga hasilnya memuaskan," ujar Anggie.

Ia pun berharap, ke depan pemerintah bisa menyediakan fasilitas sirkuit di Bali. Ini penting, supaya anak - anak muda bisa menyalurkan hobinya di lintasan balap.

"Malu dengan tetangga, Malaysia. Karena itu kami berharap pemerintah harus bisa menyiapkan fasilitas sirkuit di Bali, juga memfasilitasi tempat latihan. Ini sekaligus untuk mengakomodir banyak anak muda yang suka balapan, sehingga mereka bisa menyalurkan hobi ke hal positif," tandas Anggie.

Selain itu, Anggie juga berharap agar pemerintah daerah di Bali bisa memfasilitasi para pembalap yang akan bertarung di level nasional maupun internasional. Apalagi, biaya yang dibutuhkan oleh pembalap lumayan besar.

"Ada banyak biaya yang biasanya kami tanggung sendiri dari kantong pribadi untuk mengikuti setiap kompetisi, sekitar Rp5 juta sampai Rp7 juta. Misalnya untuk desain motor, perlengkapan balap termasuk safety, biaya latihan, biaya pendaftaran, hingga biaya tiket dan akomodasi. Semoga ini juga bisa difasilitasi pemerintah maupun donatur," pungkas Anggie. (RN/MN)