Dia dari Matim, Kutemukan di Mabar, Ternyata Milik Orang Manggarai, Part.4

Foto: Melty Sain
CERPEN, marjinnews.com - Ini adalah tulisanku yang ke empat. Pada tulisan kali ini mungkin hanya kehampaan yang ada. Sebab rindu ini seperti rindu yang hampa. Rindu tak bertuan. Aku pernah bertanya kepada langit yang paling tinggi. Pertanyaanku kurang lebih seperti ini: “apakah Ana pantas untuk kutunggu? Sementara separuh dari dirinya adalah milik laki-laki lain”. Tetapi seperti biasa, langit selalu diam.

***
Layaknya Kota Ruteng, Kota Malang pun demikian dinginnya. Sampai-sampai aku hampir membeku. Tetapi bagiku dingin yang disebabkan oleh atmosfer yang tipis ini hanyalah persoalan biasa. Sebab aku sudah terlatih dengan keadaan seperti ini. Bayangkan aku telah menetap di sini selama satu tahun lebih. Jadi, mudah saja bagiku mengatasi keadaan ini.

Tetapi yang menjadi persoalan adalah ketika dingin bertemu dengan rindu. Itu betul-betul sebuah perjumpaan yang langka, yang tidak bisa dihadapi oleh lelaki pemuja keindahan sepertiku. 

Dingin ini tentu saja membuat aku mengenang kembali jemariku yang tersesat di helaan rambutnya Ana yang panjang. Dingin ini membuat aku teringat tentang Ruteng yang membawa aku ke pesta ulang tahunnya. Dingin ini membuat aku merindukannya. 

“Ana. Apa kabar kamu?” Tanyaku kepada kabut yang beterbangan mencari angin ke puncak Gunung Bromo.

Saat itu aku berada di bawah kaki gunung Bromo. Aku pergi ke sana bersama dengan teman-teman kelasku. Karena ini merupakan perjalanan yang mewajibkan semua anggota kelas ikut, maka secara otomatis Maria juga ikut. Maria adalah temannya Ana, seperti yang sudah aku ceritakan di tulisanku sebelumnya. 

Perjalanan kami memang sangat seru. Tetapi mungkin itu hanya dirasakan oleh teman-temanku, karena saat itu sebetulnya jiwaku telah pergi ke dimensi yang berbeda. Pergi bersama kabut untuk menemui angin. Pergi untuk menceritakan perihal rindu ini kepada angin. 

“Kamu kenapa tidak terlihat senang dengan perjalanan ini? Kamu sedang merindukan sahabatku, ya?” Kata Maria mengejek. 

Aku terperangah. Kaget, sebab tiba-tiba saja Maria muncul dan menepuk pundakku sembari menanyakan pertanyaan yang persis sama seperti yang sedang aku pikirkan. Khususnya di bagian yang merindukan Ana.

“Kamu ini, bikin kaget saja.” Hardikku. 

Saat  itu aku sengaja tak menggubris pertanyaannya. Aku takut terbawa perasaan. Lagi pula semenjak keberangkatan Ana dari sini, dari Malang, Maria enggan membicarakan tentangnya. Bahkan ini sudah empat bulan lamanya. Aku juga tidak mau menanyakan tentang Ana kepadanya. Aku takut yang terdengar dari Maria hanyalah kekecewaan. 

“Sengaja ya, kamu tidak membicarakan tentang Ana?” Telisik Maria. Dia tersenyum sembari mengangkat alisnya beberapa kali. Persis seperti orang yang sedang bermain mata.

“Kamu jangan asal bicara Mar” Jawabku menepis, tanpa memberikan pernyataan argumentasi.

“Terus, kenapa selama ini kamu tidak berbicara tentang Ana? Ayoo, kenapa coba?” Tanya Maria

“Untuk apa? Lagi pula kami hanya sebatas teman. Tidak lebih. Jadi tidak ada yang perlu aku ceritakan” Jawabku sedikit kesal.

“Seorang pria dan seorang wanita satu bus dari Bali menuju Malang itu bukan hal yang biasa loh. Apalagi jika sudah direncanakan berdua. Aiis. Itu sudah layak disebut dengan sesuatu yang lebih dari teman.” Kata Maria lagi.

“Mungkin teman dekat.” Timpalku.

“Jika hanya teman dekat, kenapa waktu itu kamu hanya ajak dia ke kedai kopi, sedangkan aku tidak kamu ajak?” Kata Maria.

“Mar, kamu sudah seperti seorang polisi yang sedang menginterogasi tersangka pelaku kriminal saja sekarang.” Kataku sembari menyeruput kopi.

“Ada yang perlu kuceritakan nanti setelah kita pulang dari sini. Ini tentang Ana” Ucap Maria sambil beranjak pergi dari hadapanku. 

***
Hari itu, saat selepas kami UAS, Maria mendekatiku, dan duduk tepat di sebelahku. Bangku yang kami tempati terletak di lorong kampus. Tepatnya di depan taman. Teman-teman yang lain sudah pada pulang. Hanya ada beberapa anak BEM yang masih mondar-mandir di poskonya masing-masing. 

 “Liburan kali ini kamu ke mana?” Tanya Maria membuka pembicaraan.

“Entahlah. Mungkin ke Manggarai. Pulang untuk menemui rumah lagi.” Jawabku. 

“Kenapa kamu tidak ke Surabaya saja, dan menemui Ana di sana.” Tanya Maria

Aku memilih tidak menjawabnya. Membiarkan dia mencerna sendiri pertanyaannya. Sebab aku tahu dia sengaja mengumpan dengan pertanyaan yang seperti itu, biar pembicaraan kami cair. Tetapi sayangnya, yang terjadi malah sebaliknya. Aku malah membeku bersama sebuah nama. Nama yang baru saja dia sebutkan. 

Langit kala itu masih mendung. Cahaya matahari masuk menerobos melalui sela-sela awan yang menggumpal. Aku pun sudah bisa menebak bahwa sebentar lagi pasti akan hujan.

“Mendung tandanya akan hujan. Diam tandanya sedang merindu.” Gerutu Maria sambil menengadah ke langit.

“Jadi apa yang perlu kamu ceritakan kepadaku.” Tanyaku spontan saja kepada Maria.

“Ini tentang Ana, Jemi. Dia pernah bilang bahwa hatinya terbelah. Separuh untuk Paulus. Separuhnya lagi untuk kamu.” Ucap Maria sembari mengeluarkan minuman dari tasnya.

Aku tidak memotong pembicaraannya. Pernyataan Maria sangat menarik. Pernyataan itu juga pernah keluar sendiri dari mulutnya Ana, dan didengar oleh kupingku sendiri. Aku rasa Ana sangat serius tentang hatinya yang terbelah. Buktinya dia bahkan mengatakan hal yang sama kepada Maria. 

Suara Maria yang masih jeda kemudian diisi oleh rintik-rintik hujan yang sudah mulai jatuh. Di seberang taman, satu persatu anak-anak BEM yang tadi sibuk di poskonya, bubar. Dan kini lingkungan kampus mulai sepih.

Sementara itu Pak Suripto yang adalah satpam di Kampus itu sedang mengelilingi kompleks Kampus. Barang kali dia sedang mengecek sesuatu yang tidak beres. Aku tentu tidak peduli dengan apa yang Pak Suripto lakukan. Aku hanya menunggu pernyataan Maria yang selanjutnya.

“Ana begitu jatuh hati padamu. Tetapi tidak mudah juga baginya untuk melepas Paulus. Mereka sudah terlalu lama bersama. Hubungan mereka sudah diketahui oleh keluarga mereka masing-masing,” lanjut Maria.

“Lantas apa yang harus aku lakukan?” Tanyaku.

Akhirnya aku terpancing juga dengan tak-tik yang dimainkan Maria. Habisnya dia membahas dengan sangat blak-blakan. Aku melihat dia tersenyum. Dia mungkin bangga karena berhasil mengumpan suaraku keluar dari tenggorokan. 

“Itu tergantung kamu, Jem. Jika memang hatimu begitu kuat memeluk rindu untuk Ana, maka berjuanglah. Hidup memang begitu. Keras dan tidak adil. Bahkan untuk cinta sekalipun. Jika kamu diam dan tak berusaha, maka jangan harap cinta sejati menghampirimu. Kejarlah jika kamu menginginkannya.” Ucap Maria sembari mengarahkan botol minuman ke mulut.

“Ok. Kalau begitu Natal kali ini kita ke Surabaya.” Kataku penuh semangat.

“Tetapi, apa kamu sudah menghubungi Ana?” Tanya Maria.

“Tidak. Kami bahkan tidak pernah saling mengabari.” Kataku lesu sambil menunduk pasrah.

Semenjak Ana ke Surabaya, semenjak itu pula jejak komunikasi kami hilang. Yang tersisa dari pertemuan dan kebersamaan singkat kami adalah rindu tak bertuan dan perasaan tak karuan ini. 

Tidak ada yang lebih membuat perasaan tersiksa selain perasaan yang digantungkan. Ana mungkin menggantung perasaanku, tetapi aku yakin dia juga tersiksa karena itu, sebab seperti yang dikatakan Maria tadi bahwa hatinya sudah terbelah. 

“Kalau begitu, kamu hubungi dia sekarang. Lalu kabari tentang rencanamu ke Surabaya.” Perintah Maria. 

Tak terasa hari sudah sore. Hujan juga sudah redah. Kami hampir kehabisan kata-kata untuk menceritakan tentang Ana, gadis dari Matim yang telah memperbudak perasaanku. Ada banyak hal yang Maria ceritakan. Tetapi yang paling penting dari semuanya adalah perihal perasaan Ana untukku. Perasaan yang terbelenggu oleh kesetiaannya pada cinta yang telah berlangsung lama. 

Aku berjanji pada Maria bahwa selepas pulang dari kampus, aku akan langsung menghubungi Ana. Aku akan menceritakan niatku untuk berlibur ke Surabaya. Ke kota yang menjadi tempat Ana tinggal. 

***
Di Stasiun Kereta Tawang Alun aku dan Maria duduk menunggu kereta. Hari ini kami akan berangkat ke Surabaya. Aku membawa satu kover kecil dan satu tas ransel mini. Sedangkan Maria membawa satu kover besar, satu tas ransel sedang, dan satu tas kecil yang biasa dia pakai jika hendak jalan-jalan. 

Setelah tiga puluh menit kami menunggu, barulah keretanya datang. Bunyi peluit panjang kondektur sungguh memekikkan telinga. Hiruk pikuk orang yang turun dari kereta membuat kepalaku pusing. 

Ketika semua penumpang yang tadi diangkut kereta itu turun, kondektur di kereta itu pun langsung mempersilahkan kami masuk. Di samping jendela kereta, aku duduk. 

Musim hujan kali ini sedang diam. Hujan seperti sedang mempersilahkan bumi untuk menghangatkan dirinya. Padi-padi yang terbentang di persawahan di samping kiri dan kanan rel kereta api itu menari dengan riangnya. Angin bertiup cukup kencang tapi lembut. Bunga-bunga dari padi-padi itu tersenyum genit. 

Pertengahan Desember memang merupakan permulaan musim hujan yang berkepanjangan yang kalau dalam bahasa Manggarainya adalah “dureng”. Tetapi hari ini sepertinya tidak akan ada hujan. Hari ini mungkin hujan sedang jatuh cinta dengan matahari. Mungkin. 

Di dalam kereta, aku kembali mengingat Ana. Aku ingat ketika kami berjumpa pertama kalinya di pesta sekolah yang diadakan oleh Kades di Kampungku. Aku ingat saat kami bersua di bawah teduhnya pohon ketapang di pesisir Pantai. Nanga Lili. 

Kala itu aku sudah sangat yakin bahwa dia akan segera menjadi kekasihku. Tetapi kenyataan menjawab lain. Terkadang hidup memang begitu, dan semesta punya rencana tersendiri untuk mempertemukan dua insan.

Melalui pertemuan itu, semesta mencoba merancang sebuah proses yang sangat misterius. Sebuah proses yang tentunya memakan waktu yang bervariasi. Bahkan ada pertemuan yang terkadang hanya akan menjadi sebuah pertemuan biasa,  yang tak berlanjut ke sesuatu yang berarti, yang mungkin hanya akan berlalu seiring dengan bergantinya jarum jam dinding di kamar tidur. 

Tetapi pertemuan Ana dan aku bukanlah pertemuan yang seperti itu. Pertemuan kami adalah sebuah pertemuan yang pasti akan berlanjut ke tahap yang lainnya. Setidaknya aku meyakini itu. Sebab jika tidak. Aku tentu tidak berada di dalam kereta ini sekarang.

***
Satu jam lagi kami akan sampai di Surabaya. Hatiku sudah mulai dag-dig-dug. Membayangkan bagaimana ekspresi Ana ketika melihatku nanti. Perasaan itu membuat aku tak sabar ingin cepat sampai di Stasiun Jayabaya. 

Semoga saja pertemuan kami kali ini akan membuat kami bersatu dalam hubungan pacaran. Dan tidak lagi berputar dalam lingkaran yang tidak jelas, yang sama seperti selama ini sering aku rasakan. Semoga saja. AMIN.

Oleh: Remigius Nahal
Penulis adalah Pecinta Kopi Manggarai

COMMENTS

PUISI$type=carousel$sn=0$cols=3$va=0$count=5

POJOK REDAKSI$type=grid$count=3$m=0$sn=0$rm=0

Name

Artikel,140,Bali,115,Bedah Buku,1,Ben Senang Galus,1,Bencana Alam,1,Berita,162,Bhineka,2,BNI,1,Bola,2,bom,1,Bom Bunuh Diri,4,Borong,3,BPJS,1,Budaya,41,Bung Karno,1,Bunuh Diri,3,Bupati Mabar,1,Camilian,1,Cerpen,182,Chelsea Islan,1,Chiristian Rotok,1,Daerah,570,Daerah. Riau,1,Dana Desa,1,Dari Kami,3,Demokrasi,22,Denpasar,18,Desa,2,Destinasi,1,Diaspora,2,Dilan,4,Donny Isman,1,DPR RI,4,E-KTP,4,Editorial,37,Ekonomi,5,Ekspresi,1,Ende,6,Entrepreneur,1,Feature,36,festival Komodo,2,Film,7,Filsafat,2,Fitur,1,Flobamora Cup,1,Flores,11,Focus Discussion,4,FPI,1,Gantung diri,2,Gaya,1,gaya hidup,8,Gedged,1,Gempa,6,Gereja,4,Gereja Katolik,4,Gerindra,1,GMKI,1,GMNI,7,Golkar,1,Gusti Dulla,1,HAM,1,Hand Phone,1,Hari Buruh,2,hari buruh internasional,1,Hari Perempuan Internasional,1,Hiburan,27,HMPCK,1,Hoax,2,hukum,61,Human Trafficking,4,IBT Expo,1,Idul Fitri,1,IJM,1,IKEMAS CUP,7,Imlek,1,Indonesia,1,Indonesian Idol,8,Inspirasi,15,Internasional,16,Internet,2,Investasi,1,Iriana Jokowi,1,Ivan Nestorman,1,IYC Jatim,1,Jabar,1,JAD,1,Jakarta,5,Jatim,3,Jawa Tengah,1,Jawa Timur,1,JK,1,Jogyakarta,2,Jokowi,18,JRUK Sumba,2,jurnal Terbaru,1,jurnalistik,3,Kalimantan,5,Kampanye,2,Kampus,3,Kapolri,1,Kar. Ilmiah,4,Karanganyar,1,Karya Sastra,278,KDRT,1,Keagamaan,7,kebakaran,4,Kebangsaan,1,kebudayaan,2,kecelakaan,2,Kecelakaan Lalu Lintas,2,Kediri,2,Kejadian. Jakarta,1,kejahatan,2,Kemahasiswaan,2,Kemanusiaan,62,kemenkominfo,1,Kemiskinan,2,kepala daerah,1,Kepemuaan,5,Kepemudaan,156,kepemudan,8,kerohanian,2,Kesehatan,8,Ketahanan Nasional,1,KNPI,2,Komodo,9,Komunikasi,1,Komunitas,5,Koperasi,1,Korban,1,Korupsi,60,KPK,12,KPU,1,Kreatif,1,Kriminal,51,Kritik Sastra,4,Kupang,24,Labuan Bajo,52,Lakalantas,9,Larantuka,1,Lembata,2,Lifestyle,6,Lingkungan Hidup,15,Literasi,14,lombok,1,LP Cipinang,1,Luar Negeri,5,Mahasiswa,42,Makanan Khas,1,Makasar,6,Makassar,4,Malang,3,Manggarai,117,Manggarai Barat,20,Manggarai Timur,24,Marianus Sae,1,Marion Jola,3,Masalah Rokok,1,Masyarakat,1,Mataram,2,Maumere,7,Media,2,Media Sosial,3,Medsos,2,Mendikbud,3,Menkominfo,1,Milenials,62,Motang Rua,1,Muda Petani,1,musik,1,Narkoba,8,Nasional,291,Natal,19,Ngada,7,Novanto,2,Novel,16,NTT,257,Nyepi,2,Olahraga,11,Opini,416,Orang Muda,15,Otomotif,1,OTT,2,Papua,15,Pariwisata,27,Partai Politik,25,Pasangan,19,Paskah,2,pelajar,2,Pembangunan,5,pemerkosaan,1,Pemilu,17,Pemuda,3,Pencurian,2,Pendidikan,89,Penerbangan,4,penyanyi,1,Peradi,1,Perdamaian,1,Perempuan,20,Perindo,1,Peristiwa,1136,Peritiwa,2,Pers,3,Perzinahan,1,Petani,1,Piala Dunia,1,Piala Oscar,1,pileg 2019,1,Pilgub,41,Pilkada,102,Pilpres 2019,23,PKRI,1,PKS,1,PMII,1,PMKRI,22,PMKRI Bogor,1,Pmkri Jogja,1,Poco Ranaka,1,Pojok Redaksi,37,Polisi,25,politik,90,Politikus,6,POLRI,5,PP PMKRI,1,Pristiwa,31,Prosa,1,PSK,1,Puisi,87,Puteri Indonesia,2,Radikalisme,1,Ratna Sarumpaet,4,Refleksi,15,reformasi,1,Regional,6,Religi,2,Remaja,1,Rensi Ambang,1,Riau,1,Ricuh,1,Rindu,1,Risma,1,Rizieq Shihab,7,Rote Ndao,1,Ruteng,26,RUU,1,Sabu,1,Sail Komodo,1,Sajak,9,Sam Aliano,1,Sastra,3,Sejarah,2,Sekilas Info,24,seleb,1,Selebritas,19,Sidoarjo,1,situs pornografi,1,Somasi,1,Sosial,3,Sosial Politik,1,Sosok,19,Sospol,39,Start Up,1,Suara Muda,68,Sumba,8,Surabaya,36,Tahun Baru,9,Tahun Baru. Remigius Nahal,1,Tarakan,1,Tata Kota,1,Teknologi,11,Tentang Mereka,46,Tenun Manggarai,1,Terorisme,16,Terorismes,4,TKI,4,TNI,1,TNK,1,Togar Situmorang,7,Tokoh,17,Tol Laut,1,Toleransi,2,Tour Jurnalistik,1,traveling,10,UNITRI-Malang,1,Unwira,1,UU MD3,7,Valentine,2,Viral,3,Wisata,5,Wisuda,1,WNA,1,
ltr
item
MARJINNEWS.COM: Dia dari Matim, Kutemukan di Mabar, Ternyata Milik Orang Manggarai, Part.4
Dia dari Matim, Kutemukan di Mabar, Ternyata Milik Orang Manggarai, Part.4
https://2.bp.blogspot.com/-cK7q66Vi3F4/W_bwcg-vhfI/AAAAAAAADxQ/HqcXLsl3DTAdgtR13hS1pL6Ly5QNWdc1ACLcBGAs/s320/20181123_020725.jpg
https://2.bp.blogspot.com/-cK7q66Vi3F4/W_bwcg-vhfI/AAAAAAAADxQ/HqcXLsl3DTAdgtR13hS1pL6Ly5QNWdc1ACLcBGAs/s72-c/20181123_020725.jpg
MARJINNEWS.COM
http://www.marjinnews.com/2018/11/dia-dari-matim-kutemukan-di-mabar.html
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/2018/11/dia-dari-matim-kutemukan-di-mabar.html
true
971126874416220402
UTF-8
POSTINGAN LAIN Not found any posts LAINNYA Selengkapnya Reply Cancel reply Delete Oleh Home PAGES Kiriman Baca Semua Rekomendasi untuk Anda LABEL ARCHIVE CARI Semua Kiriman Tidak Ditemukan Apa yang Anda Cari Back Home Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 menit yang lalu $$1$$ minutes ago 1 Jam yang lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Pengikut Ikuti THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy
close