Dia dari Matim, Kutemukan di Mabar, Ternyata Milik Orang Manggarai

Foto: Melty Sain

CERPEN, marjinnews.com - “Jika purnama yang terakhir selesai, barulah kamu boleh mencintaiku. Sebab bukan cinta namanya bila ada cinta lain yang dikhianati.”

*****
Bulan Mei identik dengan musim pesta sekolah di bumi Nuca Lale. Di antara Mei sampai kisaran September adalah saat-saat yang sangat beruntung bagi kawula muda di Manggarai Raya. Bagi para remaja di tanah Congka Sae, pesta sekolah tetap menjadi medan untuk mendapatkan tambatan hati.

Rentang waktu dari bulan Mei hingga September ini juga adalah saat yang sangat baik bagi orang Manggarai Raya. Sebab, sedang menikmati musim petik kopi, panen padi dan yang terakhirnya musim kemiri. Beruntunglah, sehingga dompet terus membengkak.

Biasanya, jadi buruh petik kopi atau buruh angkut padi dari sawah tidak menjadi masalah. Hanya demi mendapatkan uang untuk biaya pergi pesta.

Saat itu aku berstatus mahasiswa di salah satu perguruan tinggi di kota Malang, Jawa timur. Saat libur UAS di semester 2 aku pulang kampung.

Kampungku terletak di pesisir selatan Lembor Raya, Mabar (Manggarai Barat). Tepatnya di Nanga Lili. Disitulah aku dilahirkan dan dibesarkan oleh papa dan mama.

Tempat ini terkenal dengan pantainya yang indah. Orang Manggarai Raya menyebutnya pantai Nanga Lili. Pantai ini sering dikunjungi oleh warga Manggarai Raya untuk berwisata.

Sudah dua Minggu aku menikmati liburan. Dalam mengisi waktu liburanku ini, aku membantu Orang tua menjaga kios. Jika jenuh, aku sesekali pergi mandi ke pantai Nanga Lili yang jaraknya tak jauh dari rumahku.

Baiklah, biar tidak melebar terlalu jauh, izinkan aku mempersingkat alur cerita ini. Jadi ceritanya begini, pada saat itu giliran anaknya Pak Kades yang dipestakan.

Sehari sebelum acara pesta sekolah itu dimulai, kami muda-mudi kampung sudah menyiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan pesta tersebut, termasuk memilih pakaian terbaik, sepatu terkeren, dan gaya cukur rambut termodern. Semua itu kami lakukan  demi bisa tampil maksimal di pesta itu.

Aku mempersiapkan sesuatu yang lebih, sebab aku dipercayakan untuk menjadi MC (Master Of Ceremony). Sebuah jabatan dalam kepanitian yang paling serem. Apalagi bagi orang yang kuped (Kurang percaya diri) sepertiku.

Tepat pukul 19:00 Wita, ketua panitia menginstruksikan kepadaku agar lekas membuka acara. Dengan sedikit gugup aku memegang mic, mengucapkan basi-basi yang biasa disampaikan oleh pembawa acara.

Satu menit kemudian, setelah aku menyampaikan kalimat pembuka, segerombolan muda-mudi dari kampung sebelah memasuki kemah dan menjawat pengantin pesta. Salah satu gadis di antara mereka berhasil membuatku tersihir.

Dia mengenakan dress warna merah maron. Dengan High Heels sebagai alas kakinya yang panjang. Dibandingkan denganku, gadis itu sepertinya sedikit lebih tinggi dariku.

Dia berjalan begitu anggun. Sehingga membuat dua orang teman wanitanya yang berjalan tepat dibelakangnya terlihat kampungan. Bukan ngeledek, tapi begitulah kenyataannya.

Sedangkan lima orang bujang jantan yang segerombolan dengan mereka tampil dengan tengiknya. Aku bisa menebak bahwa bujang-bujang itu adalah anak kuliahan yang lebih mencintai motor ketimbang buku-buku yang mereka beli.

Setelah mereka menjawat pengantin, Marsel yang menjabat sebagai pengantar tamu ke tempat duduk mempersilahkan mereka duduk di samping meja operator, tepat di sebelahku. Aku merasa terjebak di antara senang dan takut yang luar biasa  hebat.

Tetapi sebagai lelaki dan sebagai MC pada acara itu, aku berusaha bersikap biasa-biasa saja. Aku berusaha melawan ketakutan yang memberontak di dadaku.

“Hai. Namaku Jemi. Namamu siapa?” Ucapku sambil mengulurkan tangan.

Dia terkesiap. Lalu tersenyum canggung ke arahku. Matanya membidik tepat di bola mataku.

Aku tergelepek. Terdiam sejenak. Tersihir oleh keindahan matanya yang menghiasi wajahnya yang bulat melonjong. Betul-betul perpaduan yang sempurnah. Aku rasa dia diciptakan ketika Tuhan sedang bersafari ke Taman Firdaus/Eden.

“Namaku Ana”. Sahutnya sambil menjabat tanganku.

Tangannya yang kecil mungil dan pajang terasa sangat halus. Mungkin lebih halus dari kain sutra terbaik yang pernah ada. Aku bisa menjamin, Ana bukanlah orang sembarangan. Aku bisa merasakannya. Auranya memancarkan pesona wanita keturunan kerajaan.

Aku menyalami teman-temannya juga, termasuk kelima bujang tengik tadi. Mereka bertanya beberapa hal kepadaku. Aku tidak begitu peduli. Aku hanya menjawab sekenanya saja. Sedangkan Ana hanya terdiam. Dia kalem dan tak banyak tingkah.

"Satu kampung dengan mereka Nela?" Tanyaku kepadanya.

"Tidak kaka, saya dari Matim (Manggarai Timur)" jawabnya.

"Hae, jauh bangat, datang pesta ke sini," jawabku pura-pura dengan mimik penasaran.

"Heheheh, gini kaka, kebetulan saya dengan Nela sepupuan. Jadi saya datang libur di mereka. Pas ada pesta gini. Nela tadi ajak," terang Ana dengan nada tenang.

"Gitu ya, Nu. Sori siapa tadi namanya. Saya lupa ewm. Heheheh," tanyaku pura-pura. Biar makin lama ngobrol.

"Ana kaka," jawabnya dengan senyuman.

"Nama yang bagus. Dan Pas," cetusku.

"Emangnya kenapa kaka," tanya Ana kembali.

"Hahahha. Tidak enu. Eh, Ana Maksudnya." Jawabku membuatnya semakin hangat diperkenalan itu.

***
Lalu tibalah kami di puncak acara. Detik-detik itu adalah waktu yang selalu ditunggu oleh kaum kami (Pemuda), sebab saat itu adalah waktu yang tepat untuk menunjukkan pesona kami melalui Joget.

Sementara joget, aku selalu menyempatkan diri untuk menengok Ana. Dia tidak pernah ikut berjoget. Bahkan ini sudah lagu kelima. Berdansa juga tidak pernah. Banyak yang menawarinya, tapi dia menolak. Dia hanya memperhatikan orang-orang. Sesekali dia tersenyum ketika melihat gelagat om-om yang berjoget dalam keadaan mabuk.

“Apakah malam ini terlalu muram bagimu untuk berdansa?" Ucapku sembari duduk di sebelahnya. Saat itu musik dansa sedang berdendang. Dan dia baru saja menolak empat pria yang menawarinya berdansa.

“Aku tidak pandai berdansa. Lagi pula bukankah kita hanya boleh berdansa dengan orang yang tepat?” Jawabnya sembari meluncurkan sebuah pertanyaan yang  membuat aku kikuk.

“Bukankah jika sedang berpesta, kita boleh berdansa dengan siapa saja? Aku melempar pertanyaan tandingan.

“Aku rasa tidak.” Jawab Ana dengan sedikit angkat dagu.

“Kalau begitu, maukah kamu berdansa denganku?” Pintaku.

Saat mengatakan itu, aku sengaja tidak memandanginya. Aku tidak mau dia melihat ketakutan yang tergaris di pelupuk mataku.

“Mungkin.” Sahutnya polos.

“Kok mungkin? Aku butuh kepastian." Rengekku yang sudah tidak tahan lagi ingin berdansa denganya.

“Setelah ini. Setelah musik dansa ini selesai, barulah kamu boleh mengajakku berdansa.” Ucapnya.

Waktu itu, dia tidak menoleh ke arahku. ketika menjawab pertanyaanku. Seingatku, kami tidak lagi saling bertatap ketika aku memintanya berdansa. Kurasa dia sedang merona. Mungkin. Semoga saja.

Musik dansa yang berikutnya berlalu. Aku menagih janjinya tadi. Dia menepatinya. Akhirnya kami berdansa (tidak perlulah, aku menceritakan secara detail saat kami berdansa).

Musik dansa selanjutnya diputar lagi. Kami berdansa lagi. Begitu seterusnya. Dan yang bisa berdansa dengannya malam itu hanya aku seorang. Aku betul-betul orang paling bahagia malam itu.

“Mungkin kah ada decak kagum dalam hatinya untukku?” Ah…. Aku kege’eran sekali waktu itu.

****
Malam telah usai. Keramaian malam pesta hilang bersamaan dengan terbitnya cahaya di ufuk Timur. Aku merasakan rindu yang luar biasa berkecamuk. Padahal baru satu jam Ana beranjak pergi dari kampungku.

Malam itu kami tidak bisa berbagi cerita. Kami hanya bicara sebentar, lalu terdiam canggung. Selain karena kami baru kenal dan belum akrab, itu juga terjadi karena bunyi musik yang terlalu keras. Jadi percuma juga. Nanti pasti tidak saling mendengarkan.

Untunglah waktu itu aku berhasil mendapatkan nomor handphonenya. Sehingga ketika sore harinya, aku langsung menghubunginya via chat WhatsApp.

“Selamat sore. Semoga dansa kita tadi malam tidak lekas membuatmu tidur seharian," pesan pertama yang kukirim ke Ana semenjak pesta itu.

"Aku bahkan belum tidur dari tadi pagi. Aku sedang merindukan malam," jawabnya di pesan itu.

“Merindukan malam, apa merindukan aku?”Jawabku  singkat.

“Ah. Kamu kepedean deh," timpal Ana.

“Hhaha.. Bercanda.  Tapi bolehlah, sesekali kita jalan-jalan ke Pantai Nanga Lili. Mumpung masih libur. Dan kamu masih berada disini." Ajakku sengaja.

“Boleh. Kalau kamu ada waktu," jawab Ana.

“Aku selalu ada waktu. Apalagi untuk menemani bidadari. Wkwkwk,,, Hari minggu bisa?”

“Hmm,, Mulai gombal sudah… Ok, bisa.”

***

Hari minggu telah tiba. Aku bergegas untuk mempersiapkan segala sesuatu. Rambut yang kemarin baru dicukur tampak membuatku semakin ganteng. Aku ingin membuat Ana terpana. Sangat ingin.

Aku menghidupkan sepeda motor dinas milik Ayah. Tidak lupa aku mencopot pelat merah yang terpasang di sepatbor depan dan belakang, lalu membiarkannya kosong. Kemudian aku menjemput Ana ke rumahnya.

Jarak rumah mama kecilnya Ana dengan rumahku tidak terlalu jauh. Hanya empat kilo meter.

Ketika sampai di Pantai Nanga Lili kami berjalan kaki. Menyusuri pesisir pantai itu. Menikmati hangat pasir pantai yang mengenai telapak kaki kami. Lalu menyempatkan diri untuk duduk bersua di bawah rimbunnya pohon Ketapang yang tumbuh di pesisir pantai itu.

Aku kemudian mulai membuka topik pembicaraan dengan tema yang sangat relevan dengan batinku yang terus membisik tentang cinta. Ya itulah tema pembicaraan kami waktu itu, tentang cinta.

“Ana. Bagaimana jika aku mencintaimu?”

Ana terlihat tidak terkejut dengan pertanyaanku. Sepertinya dia sudah tahu, cepat atau lambat aku akan mengatakan kebenaran tentang perasaanku padanya. Dia pasti sudah menduganya. Aku tahu itu.

“Apakah itu artinya dia akan menerimaku?" Bisik kecil di hatiku saat itu.

Dia menatapku dan tersenyum, tetapi sunyi. Dia tidak mengatakan sesuatu. Lalu kemudian dia berpaling muka, menghadap ke laut. Dia seperti sedang merindukan sesuatu yang berada di seberang lautan itu.

“Di seberang sana, ada seorang lelaki yang sedang menungguku pulang. Dia lelakiku. Dia berasal dari Manggarai Tengah (Kab.Manggarai).” Ucapnya dengan setengah menahan suara di tenggorokan.

“Jika purnama yang terakhir selesai, barulah kamu boleh mencintaiku. Sebab bukan cinta namanya bila ada cinta lain yang dikhianati”. Lanjut Ana lagi.

Perkataan Ana ini adalah kalimat terakhir dari perbincangan kami waktu itu. Setelah penolakan yang disertai alasan yang tegas itu, aku mengasingkan diri dalam kesendirian. Hanya patah hati dan sunyi yang menjadi temanku waktu itu, bahkan sampai sekarang.

Aku kecewa pada waktu yang mempertemukan kami. Kenapa juga kami dipertemukan jika tidak untuk disatukan? Apakah Alam Semesta sedang menguji perasaanku?

Jika demikian maka pantaslah aku mengikhlaskan penolakan itu. Tetapi, lelaki selalu keras kepala bukan? Aku masih ingat waktu itu aku pernah mengirim pesan via chat WhatsApp kepadanya. Isi pesannya begini, "Ana. Cinta adalah nasib yang tersebar. Dan kamu boleh memilih. Termasuk memilihku menjadi kekasihmu. Kabari aku jika hatimu bersedia untuk aku bahagiakan. Dan ketahuilah aku akan selalu menunggumu hingga musim terakhir selesai."

Dia sudah membaca pesan itu, tetapi tidak membalasnya. Mungkin baginya tidak penting. Tetapi aku tetap yakin, pertemuan kami di pesta sekolah waktu itu bukanlah sebuah kebetulan. Ada maksud terselubung yang direncanakan Semesta untuk kami. Aku yakin itu.

Jika Ana sudah membalas pesanku itu, aku janji akan menulis lanjutan kisahnya di sini. Di media ini. Maka berdoalah untukku. Untuk cintaku. Untuk tulisanku selanjutnya.

Oleh: Remigius Nahal
Penulis adalah Pecinta Kopi Manggarai.

Catatan Penulis: Cerita ini hanyalah fiktif belaka. Apa bila ada kesamaan nama tokoh dan nama tempat itu hanya kebetulan.

Keterangan: Enu/Nu: Panggilan untuk wanita di Manggarai

COMMENTS

Name

Artikel,140,Bali,108,Bedah Buku,1,Ben Senang Galus,1,Bencana Alam,1,Berita,142,Bhineka,2,BNI,1,Bola,2,bom,1,Bom Bunuh Diri,4,Borong,3,BPJS,1,Budaya,41,Bung Karno,1,Bunuh Diri,3,Bupati Mabar,1,Camilian,1,Cerpen,174,Chelsea Islan,1,Chiristian Rotok,1,Daerah,529,Daerah. Riau,1,Dana Desa,1,Dari Kami,2,Demokrasi,22,Denpasar,18,Desa,2,Destinasi,1,Diaspora,2,Dilan,4,Donny Isman,1,DPR RI,4,E-KTP,4,Editorial,34,Ekonomi,5,Ekspresi,1,Ende,6,Entrepreneur,1,Feature,36,festival Komodo,2,Film,7,Filsafat,2,Fitur,1,Flobamora Cup,1,Flores,11,Focus Discussion,4,FPI,1,Gantung diri,2,Gaya,1,gaya hidup,4,Gedged,1,Gempa,6,Gereja,3,Gereja Katolik,3,Gerindra,1,GMKI,1,GMNI,3,Golkar,1,Gusti Dulla,1,HAM,1,Hand Phone,1,Hari Buruh,2,hari buruh internasional,1,Hari Perempuan Internasional,1,Hiburan,25,HMPCK,1,Hoax,2,hukum,59,Human Trafficking,4,IBT Expo,1,Idul Fitri,1,IJM,1,IKEMAS CUP,7,Imlek,1,Indonesia,1,Indonesian Idol,8,Inspirasi,13,Internasional,16,Internet,2,Investasi,1,Iriana Jokowi,1,Ivan Nestorman,1,IYC Jatim,1,Jabar,1,JAD,1,Jakarta,5,Jatim,3,Jawa Tengah,1,Jawa Timur,1,JK,1,Jogyakarta,2,Jokowi,18,JRUK Sumba,2,jurnal Terbaru,1,jurnalistik,3,Kalimantan,5,Kampanye,2,Kampus,3,Kapolri,1,Kar. Ilmiah,4,Karanganyar,1,Karya Sastra,272,KDRT,1,Keagamaan,7,kebakaran,4,Kebangsaan,1,kebudayaan,2,kecelakaan,2,Kecelakaan Lalu Lintas,2,Kediri,2,Kejadian. Jakarta,1,kejahatan,2,Kemahasiswaan,2,Kemanusiaan,62,kemenkominfo,1,Kemiskinan,2,kepala daerah,1,Kepemuaan,5,Kepemudaan,154,kepemudan,8,kerohanian,2,Kesehatan,8,Ketahanan Nasional,1,KNPI,2,Komodo,9,Komunikasi,1,Komunitas,5,Koperasi,1,Korban,1,Korupsi,60,KPK,12,KPU,1,Kreatif,1,Kriminal,51,Kritik Sastra,4,Kupang,24,Labuan Bajo,51,Lakalantas,9,Larantuka,1,Lembata,2,Lifestyle,6,Lingkungan Hidup,15,Literasi,14,lombok,1,LP Cipinang,1,Luar Negeri,4,Mahasiswa,41,Makanan Khas,1,Makasar,6,Makassar,4,Malang,3,Manggarai,112,Manggarai Barat,20,Manggarai Timur,24,Marianus Sae,1,Marion Jola,3,Masalah Rokok,1,Masyarakat,1,Mataram,2,Maumere,7,Media,2,Media Sosial,3,Medsos,2,Mendikbud,3,Menkominfo,1,Milenials,51,Motang Rua,1,Muda Petani,1,musik,1,Narkoba,8,Nasional,275,Natal,19,Ngada,7,Novanto,2,Novel,16,NTT,199,Nyepi,2,Olahraga,11,Opini,400,Orang Muda,15,Otomotif,1,OTT,2,Papua,15,Pariwisata,26,Partai Politik,25,Pasangan,15,Paskah,2,pelajar,2,Pembangunan,5,pemerkosaan,1,Pemilu,17,Pemuda,3,Pencurian,2,Pendidikan,89,Penerbangan,4,penyanyi,1,Peradi,1,Perdamaian,1,Perempuan,20,Perindo,1,Peristiwa,1021,Peritiwa,2,Pers,3,Perzinahan,1,Petani,1,Piala Dunia,1,Piala Oscar,1,pileg 2019,1,Pilgub,41,Pilkada,102,Pilpres 2019,23,PKRI,1,PKS,1,PMII,1,PMKRI,22,PMKRI Bogor,1,Pmkri Jogja,1,Poco Ranaka,1,Pojok Redaksi,34,Polisi,25,politik,89,Politikus,6,POLRI,5,PP PMKRI,1,Pristiwa,31,Prosa,1,PSK,1,Puisi,84,Puteri Indonesia,2,Radikalisme,1,Ratna Sarumpaet,4,Refleksi,15,reformasi,1,Regional,6,Religi,2,Remaja,1,Rensi Ambang,1,Riau,1,Ricuh,1,Rindu,1,Risma,1,Rizieq Shihab,7,Rote Ndao,1,Ruteng,26,RUU,1,Sabu,1,Sail Komodo,1,Sajak,9,Sam Aliano,1,Sastra,3,Sejarah,2,Sekilas Info,23,seleb,1,Selebritas,18,Sidoarjo,1,situs pornografi,1,Somasi,1,Sosial,3,Sosial Politik,1,Sosok,18,Sospol,39,Start Up,1,Suara Muda,43,Sumba,8,Surabaya,36,Tahun Baru,9,Tahun Baru. Remigius Nahal,1,Tarakan,1,Tata Kota,1,Teknologi,11,Tentang Mereka,43,Tenun Manggarai,1,Terorisme,16,Terorismes,4,TKI,4,TNI,1,TNK,1,Togar Situmorang,5,Tokoh,17,Tol Laut,1,Toleransi,2,Tour Jurnalistik,1,traveling,9,UNITRI-Malang,1,Unwira,1,UU MD3,7,Valentine,2,Viral,3,Wisata,4,Wisuda,1,WNA,1,
ltr
item
Muda Membaca Dunia: Dia dari Matim, Kutemukan di Mabar, Ternyata Milik Orang Manggarai
Dia dari Matim, Kutemukan di Mabar, Ternyata Milik Orang Manggarai
https://4.bp.blogspot.com/-_tWzeWSwqcQ/W9y0rCZcw9I/AAAAAAAADdY/mfF46CE74BM-HRAIj-12gneFp6hHwA9BACLcBGAs/s320/20181103_043246.png
https://4.bp.blogspot.com/-_tWzeWSwqcQ/W9y0rCZcw9I/AAAAAAAADdY/mfF46CE74BM-HRAIj-12gneFp6hHwA9BACLcBGAs/s72-c/20181103_043246.png
Muda Membaca Dunia
http://www.marjinnews.com/2018/11/dia-dari-matim-kutemukan-di-mabar-ternyata-milik-orang-manggarai.html
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/2018/11/dia-dari-matim-kutemukan-di-mabar-ternyata-milik-orang-manggarai.html
true
971126874416220402
UTF-8
POSTINGAN LAIN Not found any posts LAINNYA Selengkapnya Reply Cancel reply Delete Oleh Home PAGES Kiriman Baca Semua Rekomendasi untuk Anda LABEL ARCHIVE CARI Semua Kiriman Tidak Ditemukan Apa yang Anda Cari Back Home Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 menit yang lalu $$1$$ minutes ago 1 Jam yang lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Pengikut Ikuti THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy