Dia dari Matim, Kutemukan di Mabar, Ternyata Milik Orang Manggarai, Part.3

Foto: Melty Sain
CERPEN, marjinnews.com - Aku tahu saat dia mengatakan itu, sebetulnya ada kesedihan di matanya. Dia juga sepertinya merasa berat dengan perpisahan yang entah sampai kapan lagi bisa ketemu. Kuharap segera. Semoga juga dia berharap demikian.

***
Hari ini aku berada di Bandara Ngurah Rai-Bali. Tujuanku kesini adalah untuk menjeput Ana. Dia adalah gadis yang telah membuatku jatuh cinta. Dia adalah gadis yang aku tulis di dua tulisanku sebelumnya.

Aku percaya bahwa tulisan ini pun belum merupakan babak terakhir dari yang perlu kuceritakan. Sebab sampai sekarang rasa cintaku kepadanya masih menggantung, mengambang, tidak ada kepastian yang mengikat.

Bahkan setelah pertemuan kami di Ruteng beberapa minggu yang lalu, tak juga mengantar kami pada sebuah hubungan yang biasa orang menyebutnya pacaran. 

Ya, begitulah. Seperti yang aku bilang di tulisan pertama bahwa Ana bukanlah gadis sembarangan. Tak mudah baginya menyerahkan perasaannya kepada orang lain, yang walaupun dia telah dihempaskan oleh kekasih berengseknya. 

Lima puluh menit telah berlalu, Ana belum juga menunjukkan batang hidungnya. Aku menghubunginya tapi tidak tersambung. Katanya dua jam yang lalu, bahwa mereka sudah mulai terbang dari Labuan Bajo. Dan itu artinya, dia sudah sampai 1 jam yang lalu. 

Tetapi kenapa dia belum muncul juga? Aku mulai khawatir. Jangan sampai hal buruk terjadi padanya. Aku betul-betul tidak mau.

Beberapa menit kemudian, saat kecemasan masih terus meneror ketenanganku, seorang sosok manis tinggi dengan celana jeans pendek dan atasan kaos putih polos muncul dari pintu kedatangan domestik. 

Senyum semringah tergurat di bibirnya. Dia adalah Ana. Gadis yang membuat aku bersandar sabar menunggu di terminal kedatangan domestik ini.

“Kamu kenapa lama sekali?” Tanyaku dengan raut muka kesal. Namun tentu saja ekspresi itu hanya dibuat-buat

“Tadi penerbangannya diundur. Pesawat kami tadi seharusnya take off pukul 12.00 Wita tapi di tunda ke pukul 12.45 Wita. Nah pas itu hpku lowbet, jadi tidak sempat deh aku ngasih tau kamu. Maaf ya,, maaf. Pliss,” ucapnya merajut dengan ekspresi manjanya. 

Saya bisa jamin, ekspresi manjanya itu bisa meluluhkan semua hati kaum pria yang melihatnya.

“Iya, iya. Kali ini kumaafkan kau.” Jawabku sembari mencubit ujung hidung peseknya.

“Ihh. Sakit tau”. Hardiknya dengan roman muka ngambek. Tapi ngambek-ngambek manja, begitu. Jujur saja aku semakin tidak tahan melihatnya. Maunya bibir ini lekas mendarat di pipihnya. Tapi apa daya, aku tak punya kuasa untuk melakukan itu.

Karena jam sudah menunjukkan pukul 14.05 Wita, dan aku sudah lapar. Maka aku pun mengatakan kepadanya agar mampir sejenak di warung yang terletak tidak jauh dari Bandara. Dia mengiakannya.

Setelah makan, kami mendekati sebuah mobil taksi yang sedang parkir di parkirkan Bandara. Sopir taksi itu kebetulan lagi tidak ada penumpang. Dia begitu gembira ketika aku memintanya mengantar kami ke Terminal Ubung.

“Pak, sebentar kita mampir di Sesetan, ya. Aku mau mengambil barang-barangku yang tadi pagi aku titipkan di Kontrakan saudaraku." Pintaku kepada pak sopir.

“Baik, mas,” jawab pak sopir.

Oh, iya aku hampir lupa menceritakannya, kalau sebetulnya aku juga baru sampai di Bali hari ini. Tetapi aku menggunakan transportasi laut, yaitu Kapal Tilong Kabila. 

Sebenarnya aku juga ingin naik pesawat. Biar bisa barengan sama Ana. Tetapi karena ada banyak barang yang mesti aku bawa, jadinya aku terpaksa naik Kapal.

Satu minggu sebelum ke sini aku pernah meminta Ana agar naik kapal saja. Tetapi dia menolak. Katanya Mamanya tidak memberikan ijin, sebab sekarang Indonesia lagi darurat gempa. 

Ya, begitulah. Selalu ada penghalang yang menghentikan kami untuk bersama. 
Tetapi aku yakin kali ini tidak lagi. 

Perjalanan dari Bali menuju Malang tentu akan terjadi tanpa ada yang menghentikan kami lagi. Bahkan tidak oleh Paulus, mantan pacarnya.

“Bagaimana liburanmu.” Tanya Ana, di sela-sela kantukku. Saat itu taksi yang kami tumpangi masih melaju dengan kecepatan normal.

“Bermakna sekali, sebab Tuhan mempertemukan aku dengan Bidadari.” Jawabku menggodanya.

“Hmmm. Mulai gombal lagi.” Jawab Ana, sambil menyungging sebutir senyum di bibirnya.

“Eh. Bukan Gombal. Aku serius.” Ujarku sembari mengangkat jari telunjuk dan jari tengahku. 

Biasanya umat kristiani meyakini itu adalah sumpah. Dua jari itu masing-masingnya melambangkan langit dan bumi. Artinya bahwa langit dan bumi yang menjadi saksi bahwa apa yang aku katakan itu benar adanya. Kurang lebih seperti itu.

“Tapi sayangnya Bidadari itu tak menaruh hati padaku” lanjutku.

“Jangan bahas itu lagi ah.” Kata Ana yang sepertinya tidak nyaman dengan obrolan itu.

“Baiklah Kanjeng Mami.” Jawabku dengan perasaan bersalah dan sedikit bercampur malu. Sedang Ana hanya menatapku sambil tersenyum dan sekali mengangguk.

Tak terasa kami sudah sampai di Terminal Ubung. Perjalanan dari Bandara ke sini, menghabiskan waktu kurang lebih satu jam-an. 

Aku sedikit merasa kelelahan. Kurasa Ana juga begitu. Aku kemudian memberikan biaya ongkos ke Sopir taksi tersebut. 

Ketika kami turun, kernet yang sedari tadi menghampiri taksi yang kami tumpangi langsung menggapai tasnya Ana. Katanya bahwa mereka menyediakan jasa transportasi ke Malang. 

Tentu saja aku sedikit tensi melihat tingkah kernet tersebut, sebab dia tidak memiliki etika yang baik Tetapi untunglah Ana berhasil menenangkan aku, dan pertikaian pun berhasil dihindari.

Aku lalu mengambil kembali tas yang diambil oleh kernet tadi. Kemudian kami pergi ke konter yang merupakan tempat penjualan tiket bus. Beruntunglah, sebab tiket menuju Malang masih tersedia, dan akan berangkat dua puluh menit lagi. 

Untuk mengisi waktu, sebelum berangkat, kami membeli beberapa bungkus snack, serta sebungkus rokok. Barang kali nanti bisa kuisap jika bus berhenti di perjalanan. 

Setelah dua puluh menit, Kernet bus yang akan kami tumpangi, menyuruh kami agar lekas naik. Kami dengan semangat masuk dan mengambil tempat duduk paling belakang, meskipun sebetulnya tempat duduk harus sesuai dengan yang tercatat di tiket. 

Tetapi dengan kemampuan negosiasiku yang lumayan hebat, akhirnya kami dipersilahkan duduk di belakang oleh kernet tersebut. Terserah kernet itu mau bilang apa saja dengan yang punya bangku belakang ini. 

Perjalanan kami berdua pun dimulai. Ini merupakan perjalanan perdana yang melibatkan aku dan Ana, dan penumpang yang lain yang tentu tidak penting aku selipkan di tulisan ini nama-nama mereka.

Bus melaju dengan kecepatan yang stabil. Satu persatu rumah-rumah warga Bali kami tinggalkan. 

Ada kesenangan yang mengalir di nadiku. Sebab untuk pertama kalinya aku satu bus dengan orang yang aku cintai. Apalagi perjalanannya akan lumayan panjang.

Yang membuat perjalanan ini bermakna adalah, ketika Ana sesekali tertidur manja di bahuku. 

Ah, Ana, bahu ini memang sengaja diciptakan untuk disandari oleh gadis sepertimu. Di perjalanan juga Ana kerap berbicara manja sekali. 

Dan aku, aku berperan seperti layaknya sudah menjadi kekasihnya. Aku merespons dengan manis sekali. (Kalian pasti mengertilah apa yang mesti kalian lakukan jika berada di posisiku).

Ketika sampai di Pelabuhan Gili Manuk, Bus yang kami tumpangi di periksa oleh petugas. Mereka memeriksa asal-asal saja. Lalu mempersilahkan pak Sopir Bus agar lekas melanjutkan perjalanan. 

Aku melihat Ana masih tertidur. Ketika dia tidur aku dengan bebas memandanginya. Sumpah, wajahnya begitu ayu saat sedang tidur. 

Benar kata orang bahwa pesona kecantikan wanita akan keluar ketika mereka tengah meraba alam mimpi. Buktinya hari ini aku melihat Ana semakin cantik saja.

****
Pukul 16.00 Wita kami sampai di sini, di Malang. Dari Bali menuju Malang menghabiskan waktu kurang lebih dua puluh empat jam. 

Begitulah. Perjalanannya cukup melelahkan, tetapi aku menikmatinya. Kuharap Ana juga demikian, bisa menikmatinya. 

Di terminal, seseorang telah menjemput Ana. Kebetulan sekali, temannya itu juga merupakan teman kelasku di Universitas Kanjuruan Malang. 

Namanya Maria. Nama lengkapnya Maria Oktaviani Banggur. Maria terkenal cantik dan heboh. Di kelas semua orang sangat senang dengannya. Termasuk aku. Tetapi tentu aku tidak sampai jatuh cinta dengannya. Hanya mengaguminya saja.

“Kok kalian bisa saling kenal. Kalian ketemu di mana?" Tanya Maria penasaran.

“Panjang ceritanya, Mar. Nanti minta Ana aja deh yang jelasin ke kamu.” Jawabku.

Kami kemudian mencari mobil angkot yang bisa kami gunakan untuk mengantar kami ke kontrakan kami masing-masing. 

Tak butuh waktu lama bagi kami untuk menemukan mobil angkot tersebut, sebab di sini tidak beda jauh dengan di Manggarai. Mobil-mobil angkot berhamburan cukup banyak di terminal.

Di perjalanan aku sempat meminta Ana agar besok jangan dulu langsung ke Surabaya. Sebab aku mau mengajaknya jalan-jalan keliling Kota Malang ini. Tetapi sayang sekali. 

Katanya dia harus berangkat besok, sebab lusa mereka sudah mulai kuliah. Satu-satunya alasan dia kesini adalah ingin bertemu dengan Maria. Begitulah yang dia katakan tadi. 

Aku kemudian tidak memaksanya. Sebagai gantinya, aku kemudian meminta kepadanya, agar nanti malam pukul 19.00 WIB, dia harus menemaniku minum kopi di kedai kopi yang letaknya tidak jauh dengan tempat kontrakannya Maria. Dan syukurlah dia mau.

Ketika sampai di depan kontrakannya Maria, mereka pun turun. Aku mengingatkan Ana sekali lagi, agar sebentar jangan sampai lupa dengan janji yang telah dia sampaikan tadi. 

Tepat pukul 19.00 aku menjemput Ana di kontrakannya Maria. Kali ini Ana mengenakan celana panjang dengan baju kaos abu, dan jaket levis yang agak kusam. Sumpah kali ini Ana keren sekali, meskipun nyatanya aku selalu melihat dia begitu. Selalu keren.

Kami kemudian duduk di meja yang terletak di dekat jendela kaca. Aku memilih tempat duduk di situ, agar jika nanti kami kehabisan bahan obrolan, aku bisa berguyon tentang orang yang sementara lewat di jalanan. Begitulah yang aku pikirkan.

“Maria bilang apa tadi ketika aku menjemputmu?” Tanyaku sembari menggapai pegangan cangkir kopi.

“Tidak ada. Dia hanya pesan, agar aku jangan lama-lama.”Jawabnya. 

Tiga puluh menit telah berlalu. Sudah banyak sekali hal yang telah kami perbincangkan. Tetapi tidak termasuk hal asmara. 

Aku tidak berani membuka topik itu lagi, sebab aku masih ingat yang disampaikan Ana di Perjalanan dari Bandara menuju Terminal Ubung kemarin. Katanya dia tidak mau membahas itu lagi. 

“Jika kamu berada di posisiku. Kira-kira apa yang akan kamu lakukan? Apakah kamu akan melepaskan kekasih yang telah mengkhianatimu? Yang notabene kamu sudah berpacaran dari sejak kamu SMP kelas dua.” Tanyanya memecah keheningan.

Saat dia mengatakan itu, ada sedih yang tergurat di ujung matanya. Dia seperti merasa sangat sakit dengan apa yang telah dilakukan oleh Paulus, kekasihnya.  

Aku kasihan juga kepadanya, sebab dia telah menjadi budak atas perasaannya sendiri. Selain itu dia juga menjadi korban dari hubungan yang hanya mementingkan durasi yang lama, yang sebetulnya kualitas dari hubungan itu sudah tercoreng. Aku tidak habis pikir, bagaimana bisa gadis seayu Ana bisa disakiti oleh lelaki.

“Bukankah kamu sudah memilih putus dengannya?, perasaan pas di hari ulang tahunmu, kamu bilang sudah putus dengannya.” Tanyaku penasaran.

“Betul. Tapi dia tidak mau.” Jawabnya.

“Ya sudah. Jika kamu memang masih ingin mempertahankannya, silakan. Toh, kamu juga yang menjalaninya nanti." Ujarku. 

Apa yang aku sampaikan itu sebetulnya tidaklah mewakili apa yang hatiku suarakan. Hatiku tentu saja ingin mengatakan agar mereka putus saja. Dan aku siap menjadi penghapus laranya. Tetapi tidaklah elok jika aku mengatakan itu kepadanya.

“Terima kasih ya, Jemi. Karena selalu ada untuk aku. Jika tiba waktunya, kuharap Tuhan bisa membuatku melupakan Paulus.” Katanya.

“Aku sebenarnya mau-mau saja jika menjadi pacarmu sekarang. Tapi aku takut menyakitimu. Aku takut jika sewaktu-waktu kita sudah jadian, sebelum aku bisa melupakan Paulus secara sempurna, aku kemudian berpaling dan memilih bersama Paulus lagi. Aku hanya takut itu. Kamu tidak pantas untuk disakiti.” Lanjutnya. Kali ini ucapannya terdengar sangat lirih.

“Tidak apa-apa. Aku tetap akan menunggumu di tempat di mana seharusnya aku berada. Jika di ujung penantian itu adalah kita, maka aku akan tunggu hingga detak detik berhenti di sana.” Jawabku.

Saat itu aku sedikit tenang, sebab Ana sudah menjelaskan kenapa dia tidak juga membuka hatinya untuk aku. Yang meskipun ada separuh rasanya untukku. Tetapi karena dia menghargai hubungannya sudah terlampau lama, maka dia memutuskan untuk tidak gegabah mengambil keputusan. Aku rasa gadis seperti dia sangat jarang ada di bumi ini. 

“Tetapi jangan sampai menungguku membuatmu terluka. Ingat!, aku tidak pernah memintamu menunggu." Katanya dengan roman muka serius.

“Iya. Aku tahu. Dan aku sadar konsekuensi. Santai saja”. Ucapku sembari menggapai cangkir kopi yang isinya sudah hampir habis. 

Pembicaraan kami pun berakhir ketika Maria menelepon dan meminta Ana agar lekas pulang, sebab dia juga kesepian sendiri di Kontrakannya. Aku kemudian membayar tagihan di Kasir lalu mengantar Ana kembali ke Kontrakannya Maria. 

Besok katanya, Ana berangkat pagi sekali. Sekitar pukul 04.00 WIB. Jadi aku tidak bisa melihatnya lagi besok. Maka, aku mengatakan salam perpisahan malam ini juga. 

“Kamu hati-hati ya, besok. Semoga kita bisa bertemu lagi di lain waktu. Jangan lupa saling mengabari. Jangan tunggu aku terus yang mendongengimu”. Ucapku. 

“Iya. Terima kasih. Kamu juga baik-baik di sini ya. Aku akan selalu mengingatmu.” Ucapnya. 

Aku tahu saat dia mengatakan itu, sebetulnya ada kesedihan di matanya. Dia juga sepertinya merasa berat dengan perpisahan yang entah sampai kapan lagi bisa ketemu. Kuharap segera. Semoga juga dia berharap demikian.

Setelah itu aku langsung kembali ke kontrakanku. Di jalan aku melamun, membayangkan kira-kira apa yang terjadi selanjutnya. Apakah aku dan Ana akan menjadi kekasih, nantinya?Semoga saja.

Oleh: Remigius Nahal
Penulis adalah Pecinta Kopi Manggarai

COMMENTS

PUISI$type=carousel$sn=0$cols=3$va=0$count=5

POJOK REDAKSI$type=grid$count=3$m=0$sn=0$rm=0

Name

Artikel,140,Bali,115,Bedah Buku,1,Ben Senang Galus,1,Bencana Alam,1,Berita,162,Bhineka,2,BNI,1,Bola,2,bom,1,Bom Bunuh Diri,4,Borong,3,BPJS,1,Budaya,41,Bung Karno,1,Bunuh Diri,3,Bupati Mabar,1,Camilian,1,Cerpen,182,Chelsea Islan,1,Chiristian Rotok,1,Daerah,570,Daerah. Riau,1,Dana Desa,1,Dari Kami,3,Demokrasi,22,Denpasar,18,Desa,2,Destinasi,1,Diaspora,2,Dilan,4,Donny Isman,1,DPR RI,4,E-KTP,4,Editorial,37,Ekonomi,5,Ekspresi,1,Ende,6,Entrepreneur,1,Feature,36,festival Komodo,2,Film,7,Filsafat,2,Fitur,1,Flobamora Cup,1,Flores,11,Focus Discussion,4,FPI,1,Gantung diri,2,Gaya,1,gaya hidup,8,Gedged,1,Gempa,6,Gereja,4,Gereja Katolik,4,Gerindra,1,GMKI,1,GMNI,7,Golkar,1,Gusti Dulla,1,HAM,1,Hand Phone,1,Hari Buruh,2,hari buruh internasional,1,Hari Perempuan Internasional,1,Hiburan,27,HMPCK,1,Hoax,2,hukum,61,Human Trafficking,4,IBT Expo,1,Idul Fitri,1,IJM,1,IKEMAS CUP,7,Imlek,1,Indonesia,1,Indonesian Idol,8,Inspirasi,15,Internasional,16,Internet,2,Investasi,1,Iriana Jokowi,1,Ivan Nestorman,1,IYC Jatim,1,Jabar,1,JAD,1,Jakarta,5,Jatim,3,Jawa Tengah,1,Jawa Timur,1,JK,1,Jogyakarta,2,Jokowi,18,JRUK Sumba,2,jurnal Terbaru,1,jurnalistik,3,Kalimantan,5,Kampanye,2,Kampus,3,Kapolri,1,Kar. Ilmiah,4,Karanganyar,1,Karya Sastra,278,KDRT,1,Keagamaan,7,kebakaran,4,Kebangsaan,1,kebudayaan,2,kecelakaan,2,Kecelakaan Lalu Lintas,2,Kediri,2,Kejadian. Jakarta,1,kejahatan,2,Kemahasiswaan,2,Kemanusiaan,62,kemenkominfo,1,Kemiskinan,2,kepala daerah,1,Kepemuaan,5,Kepemudaan,156,kepemudan,8,kerohanian,2,Kesehatan,8,Ketahanan Nasional,1,KNPI,2,Komodo,9,Komunikasi,1,Komunitas,5,Koperasi,1,Korban,1,Korupsi,60,KPK,12,KPU,1,Kreatif,1,Kriminal,51,Kritik Sastra,4,Kupang,24,Labuan Bajo,52,Lakalantas,9,Larantuka,1,Lembata,2,Lifestyle,6,Lingkungan Hidup,15,Literasi,14,lombok,1,LP Cipinang,1,Luar Negeri,5,Mahasiswa,42,Makanan Khas,1,Makasar,6,Makassar,4,Malang,3,Manggarai,117,Manggarai Barat,20,Manggarai Timur,24,Marianus Sae,1,Marion Jola,3,Masalah Rokok,1,Masyarakat,1,Mataram,2,Maumere,7,Media,2,Media Sosial,3,Medsos,2,Mendikbud,3,Menkominfo,1,Milenials,62,Motang Rua,1,Muda Petani,1,musik,1,Narkoba,8,Nasional,291,Natal,19,Ngada,7,Novanto,2,Novel,16,NTT,257,Nyepi,2,Olahraga,11,Opini,416,Orang Muda,15,Otomotif,1,OTT,2,Papua,15,Pariwisata,27,Partai Politik,25,Pasangan,19,Paskah,2,pelajar,2,Pembangunan,5,pemerkosaan,1,Pemilu,17,Pemuda,3,Pencurian,2,Pendidikan,89,Penerbangan,4,penyanyi,1,Peradi,1,Perdamaian,1,Perempuan,20,Perindo,1,Peristiwa,1136,Peritiwa,2,Pers,3,Perzinahan,1,Petani,1,Piala Dunia,1,Piala Oscar,1,pileg 2019,1,Pilgub,41,Pilkada,102,Pilpres 2019,23,PKRI,1,PKS,1,PMII,1,PMKRI,22,PMKRI Bogor,1,Pmkri Jogja,1,Poco Ranaka,1,Pojok Redaksi,37,Polisi,25,politik,90,Politikus,6,POLRI,5,PP PMKRI,1,Pristiwa,31,Prosa,1,PSK,1,Puisi,87,Puteri Indonesia,2,Radikalisme,1,Ratna Sarumpaet,4,Refleksi,15,reformasi,1,Regional,6,Religi,2,Remaja,1,Rensi Ambang,1,Riau,1,Ricuh,1,Rindu,1,Risma,1,Rizieq Shihab,7,Rote Ndao,1,Ruteng,26,RUU,1,Sabu,1,Sail Komodo,1,Sajak,9,Sam Aliano,1,Sastra,3,Sejarah,2,Sekilas Info,24,seleb,1,Selebritas,19,Sidoarjo,1,situs pornografi,1,Somasi,1,Sosial,3,Sosial Politik,1,Sosok,19,Sospol,39,Start Up,1,Suara Muda,68,Sumba,8,Surabaya,36,Tahun Baru,9,Tahun Baru. Remigius Nahal,1,Tarakan,1,Tata Kota,1,Teknologi,11,Tentang Mereka,46,Tenun Manggarai,1,Terorisme,16,Terorismes,4,TKI,4,TNI,1,TNK,1,Togar Situmorang,7,Tokoh,17,Tol Laut,1,Toleransi,2,Tour Jurnalistik,1,traveling,10,UNITRI-Malang,1,Unwira,1,UU MD3,7,Valentine,2,Viral,3,Wisata,5,Wisuda,1,WNA,1,
ltr
item
MARJINNEWS.COM: Dia dari Matim, Kutemukan di Mabar, Ternyata Milik Orang Manggarai, Part.3
Dia dari Matim, Kutemukan di Mabar, Ternyata Milik Orang Manggarai, Part.3
https://4.bp.blogspot.com/-fFGWTtMuEQc/W-w2Gr4ZrGI/AAAAAAAADpY/nC0vGDcgMlgo3Oybgq4p13BYUzh58OQ3QCLcBGAs/s320/20181114_223445.jpg
https://4.bp.blogspot.com/-fFGWTtMuEQc/W-w2Gr4ZrGI/AAAAAAAADpY/nC0vGDcgMlgo3Oybgq4p13BYUzh58OQ3QCLcBGAs/s72-c/20181114_223445.jpg
MARJINNEWS.COM
http://www.marjinnews.com/2018/11/dia-dari-matim-kutemukan-di-mabar-ternyata-milik-orang-manggarai-part-3.html
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/2018/11/dia-dari-matim-kutemukan-di-mabar-ternyata-milik-orang-manggarai-part-3.html
true
971126874416220402
UTF-8
POSTINGAN LAIN Not found any posts LAINNYA Selengkapnya Reply Cancel reply Delete Oleh Home PAGES Kiriman Baca Semua Rekomendasi untuk Anda LABEL ARCHIVE CARI Semua Kiriman Tidak Ditemukan Apa yang Anda Cari Back Home Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 menit yang lalu $$1$$ minutes ago 1 Jam yang lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Pengikut Ikuti THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy
close