Dia dari Matim, Kutemukan di Mabar, Ternyata Milik Orang Manggarai, Part.2

Foto: Melty Sain
CERPEN, marjinnews.com - Jemi. Maaf aku tidak bisa membalas chatmu dahulu. Kesetiaan yang selalu kutempelkan pada pakaian yang aku kenakan, tak bisa aku tanggalkan. Tetapi sebetulnya saat itu hatiku terbelah. Separuh untuknya, dan separuhnya lagi tertinggal di pertemuan pertama kita.

*****
Masa liburanku hampir berakhir. Tidak ada yang istimewa dari liburan kali ini. Hanya merasakan cinta yang bersemi, yang bertepuk sebelah tangan. Miris sekali. Siapa pun akan merasa patah hati jika berada di posisi sepertiku.

Ana, gadis yang kutemukan di Pesta Sekolah bulan lalu terus saja mengusik ketenanganku. Aku merindukan sebuah cinta yang terlalu nihil untuk diharapkan. Mungkin, seumpama anak kecil yang ingin berseragam polisi. Kira-kira seperti itulah yang terjadi padaku. Aku terlalu yakin dengan sebuah kebersamaan yang singkat. 

Jika saja Ana tidak ada di pesta sekolah waktu itu, mungkin tidak pernah ada perasaan yang tak karuan seperti ini. Mungkin aku akan menemukan gadis lain, yang tentunya masih sendiri. Yang belum ada kekasih. Tetapi nasib memang selalu tak terduga. Kita tidak bisa memilih. Betul-betul tidak bisa.

Hari ini aku pergi ke Ruteng, untuk menjual cengkeh. Kami berangkat pagi sekali dari rumah. Kata ibu, biar nanti kami bisa cepat sampai di rumah paman. Saudaranya ibuku. Ya, ibuku memang berasal dari Leda. Sebuah tempat yang terletak di pinggiran kota Ruteng. Tempat di mana orang sering membeku bersama angin dan kabut.

Sekitar pukul 08:00 pagi kami sampai di Ruteng. Kami langsung menimbang cengkeh. Ibu menyuruh pak Sopir agar menurunkan cengkeh-cengkeh itu di Toko Cahaya Golo Watu Ruteng. Tetapi seorang penumpang memberi saran agar menjualnya di Toko Karot Makmur. Kata penumpang itu, di Toko Cahaya Golo Watu, harganya memang bagus. Hanya saja yang punya toko biasanya bermain di dacing.

Aku tidak begitu mengerti maksudnya, tetapi kulihat ibu mengangguk setuju. Berkat informasi dari penumpang tersebut ibu akhirnya menurunkan cengkeh-cengkehnya di depan Toko Karot Makmur. 

Ketika kutanya kenapa ibu percaya saja dengan ucapan penumpang tadi. Ibu hanya tersenyum dan bilang, “nana, kadang kita harus percaya dengan sesuatu yang kebetulan, siapa tahu ucapan penumpang tadi benar adanya.”

Aku sebetulnya ingin mengeluarkan kalimat pembelaan. Tetapi, sudahlah. Kubiarkan saja. Toh jika aku mengatakan harus membawa ke Toko Cahaya Golo Watu juga belum tentu lebih baik, karena yang kutahu toko-toko di sini sama saja. Sama-sama curang.

Lihat saja harga komoditi yang dijual ke sini. Para pemilik toko dengan seenaknya menetapkan harga. Penerapan pasar monopsoni di sini memang sangat kental. Aku tidak mengerti, kira-kira pemerintah yang bertugas mengontrol dan menyeimbangkan harga, ke mana?

Atau pun Wakil Rakyat yang bertugas mengawasi peran pemerintah, kira-kira mereka lagi ke mana? Ah, sudahlah. Percuma juga memikirkan hal yang terlalu rumit seperti ini.

Seperti yang diperintahkan ibu, aku kemudian mengangkat cengkeh-cengkeh itu, membawanya ke dalam toko. Senyum semringah dari sang pemilik toko tergurat di bibir tebalnya. Lipstik merah noraknya membuat perutku mual.

Dia kemudian berteriak memanggil anak buahnya, agar segera menimbang cengkeh yang aku bawa. Seorang pemuda jangkung dengan rambut tak terurus mendekatiku, lalu mengangkat cengkeh-cengkeh itu ke timbangan. Sesaat setelah itu pemilik tokoh itu memberikan nota pembelian berserta uang kepada ibu.

Kami kemudian melangkah keluar toko. Baru saja kami melewati batas pintu, seseorang memanggilku dari dalam mobil sedan berwarna hitam.

“Jem…Jemi…”

Aku menoleh pandang ke arah sumber suara. Seorang gadis sedang melambaikan tangan sambil tersenyum ke arahku. 

Gadis itu adalah Ana. Gadis yang terus mengusik malamku yang sepih. Dia kemudian turun dari mobilnya. Melangkah ke arahku. Sedang aku tetap berdiri membeku bersama ketidaksiapanku menemuinya.

“Hai, kamu apa kabar? Sapanya sambil menjabat tanganku.

Lembut tangannya masih sama dengan yang aku rasakan sebulan yang lalu. Lagi-lagi ada gempita-gempita kecil yang bersorak di dadaku. Aku tak kuasa menahan gemetar urat nadi yang bergelora dalam batinku.

Aku sejenak tak bersuara, terbius oleh aroma kasmaran yang memuncak. Lalu imajinasiku berhenti tepat di menit ketika aku mengirim chat untuk yang terakhir kalinya dengan dia. Aku berniat untuk bertanya kepadanya saat itu. Tapi aku tidak berani.

“Jemi. kamu kok bengong. Kamu apa kabar?” hardiknya sembari menanyakan pertanyaan yang sama, yang belum sempat aku jawab tadi.

“Ka..kabar baik.. kamu apa kabar?” ucapku terbata-bata, sambil tersenyum. Saat itu aku telah memamerkan senyum terbaik yang kupunya.

“Kamu ngapain kesini? Tanyanya keheranan.

“Aku? Aku sedang menemani ibu menjual cengkeh di Toko ini.”Jawabku sembari menunjuk ke arah ibuku yang masih sibuk menghitung uang di depan pintu toko.

“Oh iya. Kebetulan sekali. Sebentar malam datanglah ke Villa ayahku. Tempatnya berada di atas bukit itu. Di Wae Lengkas. Kamu tahu kan tempatnya?” Katanya sambil menunjuk ke arah barat.

“Nanti deh, aku dan teman-temanku yang jemput,” lanjutnya.

“Tapi. Kita mau buat apa ke sana”. Tanyaku bingung bercampur senang. Bagaimanapun juga diajak oleh orang yang kita kagum rasanya benar-benar sesuatu sekali.

“Hari ini ulang tahunku. Dan aku membuat acaranya di tempat itu.” Jawabnya. 

“Boleh minta nomormu. Soalnya handponeku hilang pas pulang ke Mano kemarin,” katanya lagi sambil mengeluarkan handpone dari saku tasnya.

“Boleh," jawabku.

Aku membacakan nomorku untuknya. Setelah itu dia langsung pamit padaku dan juga pada Ibuku. Katanya dia mau pergi belanja untuk persiapan acaranya sebentar malam. 

“Kelihatan sekali dia dari keluarga yang berada.”Gumamku dalam hati.

Setelah itu dia masuk mobil. Aku terus mengamati mobilnya hingga mobil itu hilang tertelan pengkolan di ujung jalan itu. Sementara itu gerimis tipis mulai tercurah. Langit sudah mulai mendung.

Kali ini memang musim hujan datang terlambat, bahkan di Kota ini. Kota yang sering dijuluki kota hujan. Hampir saja harapanku mengering bersama keinginan yang hampir pupus. 

Tetapi  hari ini, semuanya kembali basah. Harapanku kembali hidup. Hujan yang tercurah hari ini dan pertemuan dengan Ana, merupakan sebuah petanda baik. setidaknya begitu menurutku.

 Ibu yang dari tadi sibuk membeli kue-kue di penjual asongan di depan toko, kemudian memanggilku. 

“Ayo kita ke rumah pamanmu.” Ajak ibu.

Lima belas menit kemudian kami sampai di rumah Paman. Tak banyak hal yang kami lakukan di sana. Hanya ibu yang begitu bersemangat menceritakan tentangku kepada Paman. 

Ibu membesar-besarkan pekerjaanku sebagai wartawan di salah satu media daring lokal. Aku agak malu karena itu. Tetapi, memang begitulah orang tua selalu bangga dengan anak-anaknya.

****

Sore harinya, ketika kabut dan angin menyatu. Hawa dingin menusuk sampai ke sum-sum tulangku. Aku tersiksa menahan dingin yang tersalurkan melalui air keran di kamar mandi.

Sebetulnya saat itu aku dengan berat hati bersentuhan dengan air, tetapi demi menghadiri pesta ulang tahunnya Ana aku bersedia membanjiri tubuhku yang menggigil dengan air yang hampir membeku.

Ketika aku baru selesai saja ganti pakaian, bunyi klakson mobil dari depan rumah terdengar. Aku langsung menebak, itu pasti Ana dan kawan-kawannya. Aku pergi keluar rumah menemui mereka yang masih tidak keluar dari mobil.

“Kalian cepat juga. Perasaan aku baru mengirim lokasi beberapa menit yang lalu.” Ucapku sekadarnya. Biar ada bahan omongan.

Dua puluh menit yang lalu memang aku telah mengirim lokasiku kepada Ana. Lengkap dengan foto rumahnya pamanku. Rumah pamanku tepat berada di samping jalan raya. Jadi tidak sulit bagi Ana dan teman-temannya menemukan rumah ini. 

“Iya dong.” Ucap Ana sambil tersenyum dengan manisnya.

“Ayo masuk.”Ajaknya lagi.

“Sebentar. Saya pamit ke ibu dan paman dahulu,” jawabku, sembari masuk ke rumah.

Kami akhirnya sampai di Vila, yang merupakan tempat tujuan kami. Beberapa menit kemudian pesta ulang tahunnya dipergelarkan. Aku memberikan sebuah kado kepada Ana. Kado yang tadi siang aku beli di Swalayan Pagi.

Acaranya sangat seru. Banyak teman-temannya yang hadir. Pria dan wanita. Tetapi aku tidak melihat kebahagiaan di mata Ana. Tawanya memang selalu pecah. Namun di ujung tawanya ada kesepian yang ter garis. Aku bisa melihatnya.

Lalu di penghujung acara, entah ada angin apa, Ana mengajak aku ke halaman depan Villa. Kami hanya berduaan di situ. Teman-temanya ada di dalam ruangan. Mereka sedang menikmati pesta itu dengan berbagai musik yang membuat kepalaku pening. 

Langit malam berbinar. Cahaya purnama pertama di awal Oktober tahun ini memang memukau. Mungkin sedang bersuka karena salah satu bidadari di bumi ini sedang merayakan hari lahirnya. Mungkin.

“Jemi. Maaf aku tidak bisa membalas chatmu dahulu. Kesetiaan yang selalu kutempelkan pada pakaian yang aku kenakan tak bisa aku tanggalkan. Tetapi sebetulnya saat itu hatiku terbelah. Separuh untuknya, dan separuhnya lagi tertinggal di pertemuan pertama kita.” Ujarnya dengan sedikit menahan suaranya.

Seperti membisik, tetapi tegas. Sedang aku hanya diam. Senang dan bahagia, namun tertahan di ujung lidah.

“Tetapi, ternyata kesetiaan yang selalu kuusahakan, kandas tertindas oleh pengkhianatan yang dilakukan oleh Paulus, kekasihku. Kau tahu, aku begitu kecewa,” ujarnya lagi. 

Kali ini air mata berjatuhan dari matanya. Dia menangis terseduh-seduh. Kepalanya bersandar di bahuku. Aku membeku. Dia bersandar cukup lama.

“Lalu bagaimana selanjutnya. Maksudku hubungan kalian?” Tanyaku. 

Antara penasaran dan prihatin. Aku tidak bisa membedakan keduanya. Jujur aku senang jika mereka putus, tetapi prihatin dengan tangisnya yang pecah. Jadi tidak adil juga jika aku terlalu senang.

“Sudah putus.” Jawabnya manja sembari menyeka air matanya.

“Oh, maafkan aku yang telah lancang menanyakan hal yang privat seperti ini.” Ucapku setengah merajut.

Jujur aku merasa bersalah. Tidak enak hati aku menanyakan hal tersebut kepadanya. Nanti aku dikira sedang kepoin plus modusin dia. Tetapi, sepertinya aku memang sedang melakukan keduanya.

“Tidak apa-apa kali.” Ucapnya seolah itu tidak penting baginya.

Kami kemudian menyepi berdua di depan teras Villa itu. Memandang langit malam yang begitu bersuka. Tidak ada suara yang keluar dari mulut kami berdua. Hanya embusan napas yang bergantian keluar yang terdengar. Dan Ana masih betah menyandarkan kepalanya di bahuku. 

Setelah pukul 24:00 Wita, aku diantar kembali ke rumah olehnya dan oleh teman-temannya. Ketika mereka sudah pergi aku langsung merindukannya. Aku merindukan dia yang tadi bersandar manja di bahuku. Aku merindukan dia yang tadi bercurhat manja denganku. Aku merindukannya.

Kami memang belum berpacaran. Dan dia bisa saja kembali kepada kekasihnya. Tetapi perihal di undang ke pesta ulang tahunnya dan berduaan di teras depan Vila tadi adalah sebuah awal yang baik. 

Bagaimana pun, dia juga telah mengatakan bahwa separuh hatinya sempat tertinggal di pertemuan pertama kami. Kuharap hatinya masih di sana. Di tempat pesta sekolah sebulan yang lalu.

Aku tidak tahu bagaimana kelanjutan dari kisah ini nantinya. Toh, hidup kita ini seperti lemparan dadu. Kita hanya bisa menebak, tapi tak kuasa mengatur dadu mana yang keluar.

Namun sebagai hamba yang percaya kepada Tuhan pantaslah kita berdoa agar sesuatu yang baik terjadi. Maka aku mohon berdoalah agar kelanjutan kisah ini lebih baik dari sebelumnya. Berdoalah agar aku lekas berhasil memiliki Ana. Berdoalah untuk tulisanku selanjutnya.


Oleh: Remigius Nahal
Penulis adalah Pecinta Kopi Manggarai

Catatan Penulis: Cerita ini hanyalah fiktif belaka. Apa bila ada kesamaan nama tokoh dan nama tempat itu hanya kebetulan.

COMMENTS

Name

Artikel,140,Bali,109,Bedah Buku,1,Ben Senang Galus,1,Bencana Alam,1,Berita,144,Bhineka,2,BNI,1,Bola,2,bom,1,Bom Bunuh Diri,4,Borong,3,BPJS,1,Budaya,41,Bung Karno,1,Bunuh Diri,3,Bupati Mabar,1,Camilian,1,Cerpen,175,Chelsea Islan,1,Chiristian Rotok,1,Daerah,537,Daerah. Riau,1,Dana Desa,1,Dari Kami,2,Demokrasi,22,Denpasar,18,Desa,2,Destinasi,1,Diaspora,2,Dilan,4,Donny Isman,1,DPR RI,4,E-KTP,4,Editorial,34,Ekonomi,5,Ekspresi,1,Ende,6,Entrepreneur,1,Feature,36,festival Komodo,2,Film,7,Filsafat,2,Fitur,1,Flobamora Cup,1,Flores,11,Focus Discussion,4,FPI,1,Gantung diri,2,Gaya,1,gaya hidup,4,Gedged,1,Gempa,6,Gereja,3,Gereja Katolik,3,Gerindra,1,GMKI,1,GMNI,3,Golkar,1,Gusti Dulla,1,HAM,1,Hand Phone,1,Hari Buruh,2,hari buruh internasional,1,Hari Perempuan Internasional,1,Hiburan,25,HMPCK,1,Hoax,2,hukum,60,Human Trafficking,4,IBT Expo,1,Idul Fitri,1,IJM,1,IKEMAS CUP,7,Imlek,1,Indonesia,1,Indonesian Idol,8,Inspirasi,13,Internasional,16,Internet,2,Investasi,1,Iriana Jokowi,1,Ivan Nestorman,1,IYC Jatim,1,Jabar,1,JAD,1,Jakarta,5,Jatim,3,Jawa Tengah,1,Jawa Timur,1,JK,1,Jogyakarta,2,Jokowi,18,JRUK Sumba,2,jurnal Terbaru,1,jurnalistik,3,Kalimantan,5,Kampanye,2,Kampus,3,Kapolri,1,Kar. Ilmiah,4,Karanganyar,1,Karya Sastra,272,KDRT,1,Keagamaan,7,kebakaran,4,Kebangsaan,1,kebudayaan,2,kecelakaan,2,Kecelakaan Lalu Lintas,2,Kediri,2,Kejadian. Jakarta,1,kejahatan,2,Kemahasiswaan,2,Kemanusiaan,62,kemenkominfo,1,Kemiskinan,2,kepala daerah,1,Kepemuaan,5,Kepemudaan,154,kepemudan,8,kerohanian,2,Kesehatan,8,Ketahanan Nasional,1,KNPI,2,Komodo,9,Komunikasi,1,Komunitas,5,Koperasi,1,Korban,1,Korupsi,60,KPK,12,KPU,1,Kreatif,1,Kriminal,51,Kritik Sastra,4,Kupang,24,Labuan Bajo,51,Lakalantas,9,Larantuka,1,Lembata,2,Lifestyle,6,Lingkungan Hidup,15,Literasi,14,lombok,1,LP Cipinang,1,Luar Negeri,4,Mahasiswa,41,Makanan Khas,1,Makasar,6,Makassar,4,Malang,3,Manggarai,112,Manggarai Barat,20,Manggarai Timur,24,Marianus Sae,1,Marion Jola,3,Masalah Rokok,1,Masyarakat,1,Mataram,2,Maumere,7,Media,2,Media Sosial,3,Medsos,2,Mendikbud,3,Menkominfo,1,Milenials,52,Motang Rua,1,Muda Petani,1,musik,1,Narkoba,8,Nasional,275,Natal,19,Ngada,7,Novanto,2,Novel,16,NTT,200,Nyepi,2,Olahraga,11,Opini,400,Orang Muda,15,Otomotif,1,OTT,2,Papua,15,Pariwisata,26,Partai Politik,25,Pasangan,16,Paskah,2,pelajar,2,Pembangunan,5,pemerkosaan,1,Pemilu,17,Pemuda,3,Pencurian,2,Pendidikan,89,Penerbangan,4,penyanyi,1,Peradi,1,Perdamaian,1,Perempuan,20,Perindo,1,Peristiwa,1031,Peritiwa,2,Pers,3,Perzinahan,1,Petani,1,Piala Dunia,1,Piala Oscar,1,pileg 2019,1,Pilgub,41,Pilkada,102,Pilpres 2019,23,PKRI,1,PKS,1,PMII,1,PMKRI,22,PMKRI Bogor,1,Pmkri Jogja,1,Poco Ranaka,1,Pojok Redaksi,34,Polisi,25,politik,90,Politikus,6,POLRI,5,PP PMKRI,1,Pristiwa,31,Prosa,1,PSK,1,Puisi,85,Puteri Indonesia,2,Radikalisme,1,Ratna Sarumpaet,4,Refleksi,15,reformasi,1,Regional,6,Religi,2,Remaja,1,Rensi Ambang,1,Riau,1,Ricuh,1,Rindu,1,Risma,1,Rizieq Shihab,7,Rote Ndao,1,Ruteng,26,RUU,1,Sabu,1,Sail Komodo,1,Sajak,9,Sam Aliano,1,Sastra,3,Sejarah,2,Sekilas Info,23,seleb,1,Selebritas,18,Sidoarjo,1,situs pornografi,1,Somasi,1,Sosial,3,Sosial Politik,1,Sosok,19,Sospol,39,Start Up,1,Suara Muda,45,Sumba,8,Surabaya,36,Tahun Baru,9,Tahun Baru. Remigius Nahal,1,Tarakan,1,Tata Kota,1,Teknologi,11,Tentang Mereka,44,Tenun Manggarai,1,Terorisme,16,Terorismes,4,TKI,4,TNI,1,TNK,1,Togar Situmorang,5,Tokoh,17,Tol Laut,1,Toleransi,2,Tour Jurnalistik,1,traveling,9,UNITRI-Malang,1,Unwira,1,UU MD3,7,Valentine,2,Viral,3,Wisata,4,Wisuda,1,WNA,1,
ltr
item
Muda Membaca Dunia: Dia dari Matim, Kutemukan di Mabar, Ternyata Milik Orang Manggarai, Part.2
Dia dari Matim, Kutemukan di Mabar, Ternyata Milik Orang Manggarai, Part.2
https://4.bp.blogspot.com/-yN_PuzDMS14/W-MhW75uVFI/AAAAAAAADiI/F_Pakzp31g8nKIN2X6Q8p8X9OujI2hWrACLcBGAs/s320/20181108_012855.png
https://4.bp.blogspot.com/-yN_PuzDMS14/W-MhW75uVFI/AAAAAAAADiI/F_Pakzp31g8nKIN2X6Q8p8X9OujI2hWrACLcBGAs/s72-c/20181108_012855.png
Muda Membaca Dunia
http://www.marjinnews.com/2018/11/dia-dari-matim-kutemukan-di-mabar-ternyata-milik-orang-manggarai-part-2.html
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/2018/11/dia-dari-matim-kutemukan-di-mabar-ternyata-milik-orang-manggarai-part-2.html
true
971126874416220402
UTF-8
POSTINGAN LAIN Not found any posts LAINNYA Selengkapnya Reply Cancel reply Delete Oleh Home PAGES Kiriman Baca Semua Rekomendasi untuk Anda LABEL ARCHIVE CARI Semua Kiriman Tidak Ditemukan Apa yang Anda Cari Back Home Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 menit yang lalu $$1$$ minutes ago 1 Jam yang lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Pengikut Ikuti THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy