Darurat Penyakit HIV/AIDS, Wagub: NTT Masuk Kategori Sudah Lampu Merah

Menu Atas

Cari Berita

Advertisement

Darurat Penyakit HIV/AIDS, Wagub: NTT Masuk Kategori Sudah Lampu Merah

MARJIN NEWS
7 November 2018



KUPANG, marjinnews.com – Wakil Gubernur (Wagub) NTT, Drs. Josef A. Nae Soi minta Komisi Penanggulan AIDS (KPA) Provinsi dan Kabupaten/Kota se-NTT untuk bekerja lebih cepat mencegah dan mengatasi kasus HIV/AIDS di daerah tersebut.

Hal itu disampaikan Nae Soi saat memberikan arahan sekaligus pembukaan kegiatan rapat kordinator (Rakor) enam bulanan KPA Provinsi NTT di Ruangan rapat gubernur di Jl. El Tari, Kelurahan oebobo, Kota Kupang pada, Selasa (6/11/2018) yang dihadiri oleh sekretaris KPA NTT, dr. Husen Pancratius, Kepala Biro Kesra NTT, Kepala Biro Humas NTT, perwakilan KPA Kabupaten/Kota se-NTT, Badan Narkotika Nasioanal (BNN) NTT, RSUD W. Z. Johanes, RS Bhayangkara, RS Wirasakti, LSM yang bergerak di bidang HIV/AIDS, komunitas pegiat HIV/AIDS, par Mahasiswa FKM undana serta undangan lainnya

“Ini perlu ada Kerjasama lintas sektoral harus terus diupayakan dalam menyelamatkan generasi muda dari virus mematikan ini,” kata Wakil Gubernur NTT, Josef Nae Soi.

Menurut Josef, Kasus HIV/AIDS di Indonesia sudah sangat tinggi. Provinsi NTT sendiri sudah masuk kategori lampu merah. Penyebarannya cukup merata di seluruh Kabupaten/Kota dan sebagian besar terjadi pada orang usia produktif, ” jelasnya.

Menurut Wagub NTT ini, data penderita HIV/AIDS di NTT sudah sangat mengkhawatirkan. Sampai dengan Juni 2018, ada 5.773 kasus di seluruh NTT. Kategori terinveksi Virus HIV ada 2.769 orang dan yang mengidap AIDS 3.004 orang. Yang meninggal karena kasus ini sejumlah 1.326 orang.

“Dalam visi NTT Bangkit Menuju Sejahtera, saya meminta kita semua bekerja lebih cepat dalam menanggulangi masalah kemanusiaan ini. Penting dapatkan data secara rinci, _by adress dan by name_ dari penderita agar dapat diobati. Juga untuk tindakan pencegahan, ” harap Ketua Harian KPA NTT ini.

Dalam rapat perdana bersama bersama jajaran KPA Provinsi dan Kabupaten/Kota serta mitra, Wagub menekankan tiga dimensi dalam penanggulangan HIV/AIDS. Dalam dimensi idealis, penyakit ini berbahaya serta tidak baik dari segi agama dan etika. Namun dalam dimensi realis, prilaku menyimpang tetap terjadi dan cenderung meningkat.

“Dalam dimensi fleksibilitas atau penanganan, kita perlu cari langkah-langkah konkret. Dimensi ideal digabungkan dengan realistis sehingga bisa capai apa yang kita harapkan, ” jelas Wagub Nae Soi.

Lebih lanjut, Wagub mengungkapkan perlu upaya responsif secara bersama. HIV/AIDS bukan hanya jadi urusan sektor kesehatan tetapi harus lintas sektoral.

“Ke depan, saya harapkan kita selalu berkomunikasi dengan pemuka agama. Supaya mereka juga bisa berikan konseling, penjelasan dan bimbingan kepada masyarakat. Begitupun dengan tokoh masyarakat, tokoh pemuda dan perempuan yang memiliki pengaruh atau konsen dengan generasi muda, ” harap Wagub.

Sementara itu, Imelda Manurung, Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Undana mengungkapakan, dari penelitiannya tentang HIV/AIDS di NTT sejak 2015 ditemukan peran pemuka agama sangat penting dalam pencegahan dan penanganan masalah ini. Juga pentingnya peran keluarga dalam pencegahan prilaku seks sesama lelaki atau gay.

“Dalam penelitian saya lainnya tentang prilaku seks di kalangan remaja khususnya anak SMA di Kalabahi dan Kota Kupang, ditemukan sebagian besar remaja sudah melakukan hubungan seksual. Bukan saja pegang tangan atau ciuman. Faktor utama yang dorong mereka berbuat hal ini adalah media sosial," jelas Imelda Manurung.

Selanjutnya, kata Irama, salah satu peserta yang adalah ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS) mengharapkan agar mereka diberi ruang dan waktu yang lebih luas untuk berkiprah. 

“Kami berharap dengan kepemimpinan bapak berdua, teman-teman saya khususnya yang masih muda dapat diberi kesempatan besar untuk bekerja. Karena kami tidak berbahaya," harap peserta ODHA tersebut. (*)

Editor: R. Nahal