Cintaku Kecantol Juragan Pisang

Menu Atas

Cari Berita

Advertisement

Cintaku Kecantol Juragan Pisang

Marjin News
2 November 2018


CERPEN, marjinnews.com - Kala itu, di saat fajar mulai terbit dari ufuk timur, hawa terasa dingin dan menusuk kalbu, angin sepoi-sepoi yang menerpa rambut nan ikal yang terurai kubiarkan begitu saja berantakan. Jambrut di pucuk-pucuk mulai mengalir dan berjatuhan di tanah. Jaket putih berbulu domba ala Korea dan secangkir kopi hangat khas Manggarai pun tak mampu menyaingi dinginnya kota Ruteng dan hatiku yang saat itu juga berlabuh bersama  suasana, tepatnya suasana rindu, rindu akan kehadiran seorang kekasih, sebut saja namanya Tinus.


Tinus adalah pria jangkun, berwajah oriental. Tinus adalah anak konglomerat dari pemilik Toko Sentosa Raya yang paling tenar di kota Ruteng, selain itu juga Tinus dikenal sebagai juragan pisang karena ia memiliki hampir 100 hektar lahan yang ditanami pohon pisang dan menjual hasilnya sendiri untuk memperoleh laba (biasa seorang pengusaha muda). Pisang tersebut tersedia dengan berbagai jenis. Ah, entahlah aku tak mengerti dengan jenis-jenis pisang yang ada di lahannya, yang pasti ada satu hal yang paling aku tahu tentang Tinus, yaitu dia adalah pria sederhana, tipe penyayang, juga memiliki keunikan dari ribuan makhluk perkasa yang diciptakan Tuhan di kota yang dijuluki sebagai surganya manggarai.

Oh iya, aku akan menceritakan awal pertemuanku dengan Tinus dan bagaimana keunikan kekasihku. Awal pertemuanku dengan Tinus merupakan sebuah kejadian yang tak disengajakan, saat itu aku yang adalah seorang siswi kelas 12 di salah satu sekolah negeri yang ada di Ruteng, hendak melaksanakan kegiatan praktik berkaitan dengan bidang studi Pertanian Organik, di mana kami diminta membuat olahan dari hasil kebun, contohnya kacang-kacangan, umbi-umbian dan pisang, serta masih banyak lainnya. Kelompok kami berinisiatif mengolah pisang menjadi berbagai makanan, salah satunya kue Tar. Untuk mendapatkan pisang sebanyak lima sisir dan yang bermutu, kami harus ke Pasar Puni.

Pasar Puni adalah salah satu nama pasar di Ruteng, karena rutenya yang dekat dengan rumah dan tak banyak buang waktu, kami memutuskan untuk berbelanja di sana. Usut punya usut, eh, malah cintaku kecantol juragan pisang anak konglomerat. Sebenarnya mimpi apa aku semalam, sampai jantungku berdetak tak menentu dan proses peredaran darah dalam tubuhku menjadi lebih cepat dari biasanya. Apakah ini yang namanya jatuh cinta dalam sebuah sikon yang tak memungkinkan? Yah, tak memungkinkan, kenapa demikian? Ah sudahlah, aku tak bisa menjelaskannya dengan kata-kata, takut dibilang hiperbola, maklumlah banyak heters. Maaf aku sudah melampaui batas, kita lanjutkan ceritanya.

Setelah keputusannya sudah disepakati dan saya yang diutus untuk berangkat ke pasar dari 5 anggota yang ada di kelompok. Ketika sampai di pasar, saya melangkah ke setiap stan untuk memilih pisang bermutu dengan harga yang terjangkau. Sebenarnya kalau mau bilang jujur, terlalu gampang untuk mengerti soal pisang yang bermutu, toh hanya dengan melihat warna dari kulit yang menguning dan postur pisang yang besar, aku sudah bisa menebak dengan presepsiku kalau itu bermutu.

Ketika masih memikirkan tentang bermutu dan tidaknya sebuah pisang di dalam otakku, eh tiba-tiba jidatku terbentur sebuah sisir pisang yang digantung, dan dengan cekatnya tanganku memegang benda yang ada di sekitar itu, kemudian menyandarkan kepalaku yang terasa lemas.

“Ah kampret “ erangku semakin memuncak.

Sungguh kepalaku sakit dan yang kulihat banyak kupu-kupu beterbangan (alias pusing tujuh keliling). Ketika kepalaku agak membaik, aku merasa ada yang aneh dengan benda yang kupakai untuk bersandar, aneh dengan suara tertawa yang begitu panas terdengar di kedua kupingku yang terbilang kecil nan imut, juga aneh dengan aroma yang terkesan membuatku betah untuk tetap merangkul dan menyandarkan kepalaku yang pening ini.

Sempat terpikir dalam benak,
"Ko ada wangi yang begitu nyaman di tengah pasar yang terbilang pekat dengan aroma amis dari berbagai barang yang dijual? Sungguh aneh" gumamku dalam hati.

Ketika aku membuka mata dengan posisi kepala masih bersandar dan tangan yang dalam keadaan merangkul, oh My God, aku tersentak kaget dan menolak benda tersebut. 
“maaf, a..a..aku, aku tak tahu apa yang terjadi dengan diriku, aku benar-benar kehilangan kendali saat sebuah sisir pisang itu terbentur mengenai jidatku. Ini benar dan bukan rekayasa. (kataku sambil memalingkan pandangan ke arah beberapa sisir pisang yang digantung  tepat disamping tubuhku).

"Oh Tuhan, apa yang terjadi, kenapa aku sebodoh ini, benda yang kurangkul dan kusandar ternyata adalah tubuh kekar milik pria tampan itu," gumamku dalam hati dengan tangan masih memijit jidat dan wajah memerah karena malu.

"sudahlah tak apa-apa, aku mengerti, aku yang harus meminta maaf, karena tali pengikat pisang jualanku tak kuat. Oh iya, jidatmu masih sakit? apa perlu ke dokter?" Tanya pria bertubuh kekar tersebut.

Ketimpa pisang pembawa cinta, coba saja jika aku pura-pura pingsan dan tetap mendekap tubuh yang layaknya binaragawan itu. Namun sayang pening di kepalaku hilang serentak saat mataku menatap matanya, seperti ada sebuah keajaiban yang muncul dari pancaran bola yang posisinya bertepatan di bawah alis itu. Aku baru sadar ternyata pangeran dengan wajah tampan, bukan hanya ada di dalam dongeng yang di tampilkan media audio visual, yaitu TV, tetapi ada di dunia nyata, tepatnya di sini, di Pasar Puni.

"Eh ko bengong, masih sakit ya? Ups hampir lupa, perkenalkan nama saya Tinus dan saya adalah pemilik stan pisang ini. kalau boleh tahu, kamu ke sini untuk berbelanja apa? siapa tahu saya bisa membantu" Kata Tinus sambil tersenyum manis.

"Saya Tince, saya ingin membeli pisang lima sisir, namun masih bingung memilih yang terbaik di antara berbagai jenis pisang yang ada, saking bingungnya, eh malah ditimpa sama pisang pula, apes banget kan hidup aku".

"Hahaha jadi kamu ingin membeli pisang? Ini sudah tersedia berbagai jenis, kamu bisa memilihnya".

"Itu dia alasannya, saya bingung harus memilih pisang dengan jenis apa, boro-boro mau memilih pisang, kalau jenis pisang saja aku tak tahu. Sebenarnya aku ingin membeli pisang yang bermutu serta cocok untuk pembuatan bergai jenis olahan, salah satunya kue Tar" kataku.

Setelah mendengar celotehku, pria idaman wanita itupun langsung berjalan dan memilih pisang yang sesuai dengan permintaan, sesekali matanya melirik dan bibir yang selalu memberikan senyum yang paling bisa buatku jatuh hati.  
Andai dia tahu apa yang aku rasa, atau semesta mengijinkanku untuk menjadi bagian dari hidupnya, aku tak akan muluk-muluk meminta, agar dia menjadi pacarku.

"Hey, jangan ngelamun terus, nanti terbentur pisang lagi, kan sakit, mending ke sini dan kecantol cintaku . Omong -omong semuanya 50.000, karena tadi jidatmu sakit ulah pisangku, ya sudah kamu bayar 40.000 saja" kata pria itu sambil tersipu malu.

Setelah semuanya selesai dibayar dan dibungkus rapi, akupun bergegas meninggalkan stan tersebut dan melangkah ke tempatku memarkirkan sepeda motor.

"Tince, tince.."

Suara tersebut begitu keras dan aku merasa ada orang di belakangku. Ah, pikiranku pun terasa tak karuan. Ketika aku membalikkan badan. Eh, ternyata pucuk dicinta ulampun tiba. Sumber suara tersebut adalah Tinus. Aku tahu pasti ini seperti adegan film, di mana si pemeran pria mengejar wanita idamannya dan meminta nomor hp atau ingin mengantarnya ke rumah.

Hahaha ups maaf salah lagi, sebenarnya tadi aku dengan sengajanya meletakkan hp di atas tempat duduk Tinus, biar terkesan romantis dan dia mengejarku. Ah, ternyata aku hebat dan Tinus terjebak, sejujurnya aku takut, jikalau endingnya tak seperti ini, yang ada hpku hilang dan dia tak mau bertanggung jawab. Untung saja selain gagah perkasa dia juga pria jujur.  

Setelah hp tersebut ada di tanganku, aku dan Tinus menghabiskan waktu kurang lebih lima menit lagi untuk sekadar berbincang-bincang, walaupun obrolan itu terkesan singkat, aku dan Tinus sudah layaknya teman yang sudah kenal begitu lama dan yang paling penting adalah bertukaran nomor hp. 

Setelah lama menjalin komunikasi dengan tinus baik lewat Hp dan sesekali kami berpapasan wajah, aku baru sadar ternyata Tinus adalah anak dari pasangan konglomerat yaitu pemilik Toko Sentos Raya. Namun sebelum aku mengetahui bahwa tinus adalah anak orang kaya, kami sudah hampir seminggu berpacaran, jadi aku tidak terkesan matrealistis. Walaupun selama aku menjalin hubungan dengan Tinus, banyak teman-teman serta orang terdekatku menertawakan hubungan kami, apalagi semenjak mereka tahu bahwa Tinus adalah seorang pedagang pisang di Pasar Puni.

Sudahlah, yang pasti aku tak pernah mempedulikan dia itu anak siapa, dari mana, dan apa pekerjaannya, selagi saling cinta dan berakhlak baik, kenapa tak dipertahankan saja. 
Ya, begitulah awal pertemuanku dengan Tinus, sebenarnya  masih banyak yang ingin kuceritakan tentang kisah cintaku dengan pria itu, namun sayang aku takut kopi yang kuseduh dingin dan aroma kopi yang tadinya pekat menari-nari di hidungku, perlahan-lahan mulai pergi, dan jam sudah menunjukan pukul 07.00, di mana aku harus siap berangkat ke sekolah.




Oleh: Rista Wagur
Komunitas Penulis Muda