Benediktus Andries, Dokter Muda yang Mengabdikan Diri di Pedalaman Papua

dr Benediktus Andries (Foto: Istimewa)
INSPIRASI, marjinnews.com - Hidup yang tidak direnungkan adalah hidup yang tidak layak untuk dihidupi. Demikian kata seorang Socrates, filsuf berkebangsaan Romawi yang sangat terkenal itu. Berbicara tentang hidup, berarti kita akan lebih mendekatkan diri kepada waktu (time) dan pilihan (choice). Setiap orang memiliki waktunya tersendiri untuk menikmati hidup entah dia hendak menjalani sesuatu yang buruk atau baik itu tergantung pada pilihannya sendiri.

Demikian juga halnya yang dilakukan oleh seorang dr Benediktus Andries yang memilih bekerja di Timika, Papua sebagai panggilan hidupnya. Bagi sebagian orang pilihan semacam itu adalah hal biasa, namun menjadi sangat luar biasa ketika dilakukan oleh seorang dokter muda asal Jakarta, sebuah kota metropolis yang notabene  bisa memberikannya apa saja untuk bisa dia nikmati.

Pria yang akrab disapa Andries tersebut memiliki tujuan hidup sangat mulia yaitu ingin mendedikasikan ilmu dan pengetahuannya kepada masyarakat Papua.  Andries saat ini bekerja sebagai peneliti di Pusat Penelitian Malaria Timika di Kabupaten Mimika, Papua. Pusat penelitian tersebut adalah kerja sama antara Rumah Sakit Mitra Masyarakat (RSMM) Timika dengan Yayasan Pengembangan Kesehatan dan Masyarakat Papua (YPMKP).


Sebelum bergabung dengan YPMKP, Andries terlebih dahulu bekerja sebagai dokter umum di RSMM. Kondisi Timika yang tinggi angka malarianya menjadi perhatian pria asal Bogor itu. Sempat mengikuti program internship di Pulau Sumbawa, NTB, Andries memang memilih ingin memberdayakan kemampuannya untuk masyarakat di daerah yang masih kekurangan mendapat pelayanan medis.

"Setelah selesai internship langsung ke Timika. Awalnya kontrak dengan RSMM, lalu diangkat jadi karyawan tetap. Saya resign lalu pindah ke yayasan untuk penelitian itu," ungkap pria yang masih berusia 29 tahun tersebut.

Anak bungsu dari dua bersaudara ini mendapat restu dari orang tuanya untuk pergi jauh dari rumah demi memberikan pelayanannya bagi masyarakat Papua. Harapan Andries bekerja dalam penelitian adalah untuk membantu membebaskan Papua dari malaria. Papua merupakan wilayah dengan tingkat malaria tertinggi di Indonesia.

Meski Kota Timika sudah cukup ramai, namun daerah tersebut merupakan salah satu lokasi tempat sering terjadinya konflik. Beberapa tantangan lain juga ada. Namun itu tak menjadi hambatan bagi Andries untuk bekerja.


"Medan di Timika memang nggak gitu mudah, image di Ibu Kota kan di sini sudah jauh, aksesnya susah, tantangan besar, fasilitas nggak secanggih daerah kota, hiburan apalagi, sering terjadi perang pula. Soal keamanan nggak ada yang bisa jamin sepenuhnya," ucap lulusan Universitas Atma Jaya Jakarta itu.

Meski begitu, Andries mengaku tidak takut dan memilih untuk mendengar kata hatinya dibanding ketakutan pada tantangan yang ada. Ia menegaskan biarpun Papua jauh, tapi tetap masih bagian Indonesia dan seharusnya tidak dibeda-bedakan dengan daerah lainnya.

"Saya nggak takut, kalau umur sudah ada yang atur. Buat saya, saya menjunjung tinggi profesi. Dokter itu melayani dan bekerja untuk kepentingan masyarakat. Nggak semua orang bisa menjadi dokter. Saat sudah menjadi dokter, harapannya kita bisa mengaplikasikan apa yang kita miliki untuk masyarakat," tutur Andries seperti dilansir detik.com


"Orang banyak yang anggap Papua jauh banget. Papua itu tetap Indonesia. Justru itu mereka, masyarakatnya, butuh kita. Jangan mikir yang jauh-jauh dulu, mungkin yang buat kita kecil, di sini itu buat mereka artinya bisa sangat besar," lanjut dia.

Hal tersebut dirasa perlu disampaikan karena ada kesenjangan dalam penempatan tenaga medis di Papua. Padahal masyarakat di Bumi Cenderawasih tersebut rentan dengan penyakit dan perlu mendapat banyak bantuan namun yang didapat tidaklah banyak.

"Papua cukup terkenal dengan masalah kesehatan, butuh banget tenaga kesehatan, dan nggak banyak yang mau datang. Saya sampaikan ini agar teman-teman untuk lebih berani lagi dan jangan pernah takut keluar dari zona nyaman," kata Andries.

Ini bukan hanya semata menjadi sebuah teori bagi pria kelahiran 30 Agustus 1988 itu. Sebab Andries pernah mendapat sedikit kekerasan ketika bekerja dari salah seorang warga Timika ketia ia sedang berusaha mengobatinya. Tapi itu tak memupuskan niatnya untuk terus mengabdikan tenaga dan pikirannya di Papua.


"Saya pernah dapat kekerasan fisik dari masyarakat asli. Saya pernah ditinju di kepala saya, ketika lagi proses pelayanan. Mungkin karena ramai jadi ada kesalahpahaman. Orang sedang tidak sehat dan tidak fit. Jadi dia nggak bisa optimal untuk mikir mana yang salah dan mana yangg benar," kisahnya.

"Balik lagi karena mereka nggak ngerti. Pola pikirnya agak berbeda, tapi tidak semua. Tapi dengan seperti ini, justru kehadiran kita diperlukan. Siapapun yang mau terlatih dan ditempa lebih baik harus mau datang ke tempat yang paling susah dulu," sambung Andries.

Selama bekerja di Papua, banyak hikmah yang ia petik selama ini. Tak sedikit hal-hal positif yang ia temukan dan semakin bertambah setiap waktunya. Pelajaran yang dinilai Andries sangat berharga tersebut belum tentu didapatnya jika bekerja di kota metropolitan.

"Kadang mereka bisa ngomong yang nggak enak, tapi itu untuk melatih kesabaran. Kalau mau diambil positif, banyak yang bisa dipelajari. Dari masyarakat asli, banyak yang nggak beruntung untuk bisa jadi dokter," sebutnya.


Bukan hanya dari sisi pendidikan saja, dari segi pelayanan kesehatan di Papua dibandingkan dengan kota-kota besar, sangat terlihat perbedaannya. Termasuk ketersediaan petugas medis sebab lebih banyak yang memilih untuk bekerja di kota-kota besar, terutama di Pulau Jawa.

"Kalau di kota besar kita berlomba-lomba meningkatkan kualitas hidup, dengan berbagai fasilitas, untuk melengkapi kehidupan, menambah hal-hal tersier. Kalau di sini, buat mereka untuk hidup tanpa penyakit dan tidak kurang gizi saja, itu sudah nggak mudah," terang Andries.

Melihat kondisi Papua yang masih jauh dibandingkan warga di kota maju, anak terakhir dari dua bersaudara ini bercita-cita ingin mengambil pendidikan spesialis anak di UGM, Yogyakarta. Harapannya adalah agar ia bisa membantu untuk meningkatkan kualitas sumber daya di Bumi Cenderawasih itu.


"Saya minat di anak, saya ingin mereka bisa hidup berkualitas, karena mereka yang akan menjadi generasi penerus. Makanya saya mau sekolah lagi ambil spesialis anak, buat menjamin mereka nggak cuma hanya sekadar hidup tapi berkembang dan memiliki kualitas," kata Andries mengungkapkan tujuan mulianya.

"Saya ingin kembali menegaskan bahwa Papua adalah bagian dari Indonesia meski memang jauh dari Ibu Kota. Maka peran dokter anak itu sangat penting juga. Selama ini mungkin yang tertarik datang banyak, tapi begitu sudah melihat adanya cobaan, maka yang bertahan jadi nggak banyak. Bahasanya, di sini perlu tenaga yang bukan cuma ahli atau terampil, tapi juga punya hati untuk Papua," imbuh dia.

Tujuan besar itu ada pada hati dan nurani Andries dan ia mengaku melakukan apa yang terbaik yang bisa dilakukannya untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat sesuai bidangnya. Bahkan ia harus rela mengorbankan waktu atau kehidupan sosial maupun pribadinya.

Ternyata dokter berparas ganteng ini masih jomblo. Waktunya yang masih tercurah akan pekerjannya, membuat Andries memilih tidak menjalin hubungan asmara terlebih dahulu untuk saat ini.

"Saya masih single, saya belum punya pacar. Untuk sekarang saya rasa akan lebih produktif seperti itu. Kalau pasangan jauh, jadinya akan menghambat juga. Jadi untuk saat ini saya lebih fokus untuk pekerjaan ini," aku Andries.

Karena pekerjaannya yang cukup menyita waktu, maka ia selalu memanfaatkan waktu sebaik mungkin ketika mendapat jatah cuti. Andries pasti akan pulang ke Jakarta menemui keluarganya. Namun jika hanya libur biasa, pria yang hobi berolahraga ini akan menghabiskan waktu berkumpul dengan teman-temannya yang ada di Timika. Khususnya para pendatang.

"Kalau cuti saya terbang ketemu keluarga. Hiburan saya kumpul sama temen-temen. Di sini sudah ada tempat fitnes juga lho, saya kadang pakai waktu libur untuk olahraga. Tapi sebenarnya biasanya nggak begitu banyak punya waktu luang juga," pungkasnya sambil tergelak. (AA/MN)

*) Dirangkum dari berbagai sumber

COMMENTS

Name

Artikel,140,Bali,113,Batam,1,Bedah Buku,1,Ben Senang Galus,1,Bencana Alam,1,Berita,151,Bhineka,2,BNI,1,Bola,2,bom,1,Bom Bunuh Diri,4,Borong,3,BPJS,1,Budaya,41,Bung Karno,1,Bunuh Diri,3,Bupati Mabar,1,Camilian,1,Cerpen,176,Chelsea Islan,1,Chiristian Rotok,1,Daerah,545,Daerah. Riau,1,Dana Desa,1,Dari Kami,3,Demokrasi,22,Denpasar,18,Desa,2,Destinasi,1,Diaspora,2,Dilan,4,Donny Isman,1,DPR RI,4,E-KTP,4,Editorial,35,Ekonomi,5,Ekspresi,1,Ende,6,Entrepreneur,1,Feature,36,festival Komodo,2,Film,7,Filsafat,2,Fitur,1,Flobamora Cup,1,Flores,11,Focus Discussion,4,FPI,1,Gantung diri,2,Gaya,1,gaya hidup,4,Gedged,1,Gempa,6,Gereja,3,Gereja Katolik,3,Gerindra,1,GMKI,1,GMNI,4,Golkar,1,Gusti Dulla,1,HAM,1,Hand Phone,1,Hari Buruh,2,hari buruh internasional,1,Hari Perempuan Internasional,1,Hiburan,26,HMPCK,1,Hoax,2,hukum,60,Human Trafficking,4,IBT Expo,1,Idul Fitri,1,IJM,1,IKEMAS CUP,7,Imlek,1,Indonesia,1,Indonesian Idol,8,Inspirasi,13,Internasional,16,Internet,2,Investasi,1,Iriana Jokowi,1,Ivan Nestorman,1,IYC Jatim,1,Jabar,1,JAD,1,Jakarta,5,Jatim,3,Jawa Tengah,1,Jawa Timur,1,JK,1,Jogyakarta,2,Jokowi,18,JRUK Sumba,2,jurnal Terbaru,1,jurnalistik,3,Kalimantan,5,Kampanye,2,Kampus,3,Kapolri,1,Kar. Ilmiah,4,Karanganyar,1,Karya Sastra,273,KDRT,1,Keagamaan,7,kebakaran,4,Kebangsaan,1,kebudayaan,2,kecelakaan,2,Kecelakaan Lalu Lintas,2,Kediri,2,Kejadian. Jakarta,1,kejahatan,2,Kemahasiswaan,2,Kemanusiaan,62,kemenkominfo,1,Kemiskinan,2,kepala daerah,1,Kepemuaan,5,Kepemudaan,155,kepemudan,8,kerohanian,2,Kesehatan,8,Ketahanan Nasional,1,KNPI,2,Komodo,9,Komunikasi,1,Komunitas,5,Koperasi,1,Korban,1,Korupsi,60,KPK,12,KPU,1,Kreatif,1,Kriminal,51,Kritik Sastra,4,Kupang,24,Labuan Bajo,51,Lakalantas,9,Larantuka,1,Lembata,2,Lifestyle,6,Lingkungan Hidup,15,Literasi,14,lombok,1,LP Cipinang,1,Luar Negeri,4,Mahasiswa,42,Makanan Khas,1,Makasar,6,Makassar,4,Malang,3,Manggarai,113,Manggarai Barat,20,Manggarai Timur,24,Marianus Sae,1,Marion Jola,3,Masalah Rokok,1,Masyarakat,1,Mataram,2,Maumere,7,Media,2,Media Sosial,3,Medsos,2,Mendikbud,3,Menkominfo,1,Milenials,52,Motang Rua,1,Muda Petani,1,musik,1,Narkoba,8,Nasional,276,Natal,19,Ngada,7,Novanto,2,Novel,16,NTT,204,Nyepi,2,Olahraga,11,Opini,403,Orang Muda,15,Otomotif,1,OTT,2,Papua,15,Pariwisata,26,Partai Politik,25,Pasangan,16,Paskah,2,pelajar,2,Pembangunan,5,pemerkosaan,1,Pemilu,17,Pemuda,3,Pencurian,2,Pendidikan,89,Penerbangan,4,penyanyi,1,Peradi,1,Perdamaian,1,Perempuan,20,Perindo,1,Peristiwa,1040,Peritiwa,2,Pers,3,Perzinahan,1,Petani,1,Piala Dunia,1,Piala Oscar,1,pileg 2019,1,Pilgub,41,Pilkada,102,Pilpres 2019,23,PKRI,1,PKS,1,PMII,1,PMKRI,22,PMKRI Bogor,1,Pmkri Jogja,1,Poco Ranaka,1,Pojok Redaksi,35,Polisi,25,politik,90,Politikus,6,POLRI,5,PP PMKRI,1,Pristiwa,31,Prosa,1,PSK,1,Puisi,85,Puteri Indonesia,2,Radikalisme,1,Ratna Sarumpaet,4,Refleksi,15,reformasi,1,Regional,6,Religi,2,Remaja,1,Rensi Ambang,1,Riau,1,Ricuh,1,Rindu,1,Risma,1,Rizieq Shihab,7,Rote Ndao,1,Ruteng,27,RUU,1,Sabu,1,Sail Komodo,1,Sajak,9,Sam Aliano,1,Sastra,3,Sejarah,2,Sekilas Info,23,seleb,1,Selebritas,18,Sidoarjo,1,situs pornografi,1,Somasi,1,Sosial,3,Sosial Politik,1,Sosok,19,Sospol,39,Start Up,1,Suara Muda,49,Sumba,8,Surabaya,36,Tahun Baru,9,Tahun Baru. Remigius Nahal,1,Tarakan,1,Tata Kota,1,Teknologi,11,Tentang Mereka,44,Tenun Manggarai,1,Terorisme,16,Terorismes,4,TKI,4,TNI,1,TNK,1,Togar Situmorang,7,Tokoh,17,Tol Laut,1,Toleransi,2,Tour Jurnalistik,1,traveling,9,UNITRI-Malang,1,Unwira,1,UU MD3,7,Valentine,2,Viral,3,Wisata,4,Wisuda,1,WNA,1,
ltr
item
Muda Membaca Dunia: Benediktus Andries, Dokter Muda yang Mengabdikan Diri di Pedalaman Papua
Benediktus Andries, Dokter Muda yang Mengabdikan Diri di Pedalaman Papua
Bagi sebagian orang pilihan semacam itu adalah hal biasa, namun menjadi sangat luar biasa ketika dilakukan oleh seorang dokter muda asal Jakarta, sebuah kota metropolis yang notabene bisa memberikannya apa saja untuk bisa dia nikmati.
https://2.bp.blogspot.com/-iu0N0v2-Cno/W-Ucl1etoHI/AAAAAAAADtg/dSvo7tdWAwwhWH6CUjzzwu4ryNymAFEmACLcBGAs/s320/dr%2Bandries.jpg
https://2.bp.blogspot.com/-iu0N0v2-Cno/W-Ucl1etoHI/AAAAAAAADtg/dSvo7tdWAwwhWH6CUjzzwu4ryNymAFEmACLcBGAs/s72-c/dr%2Bandries.jpg
Muda Membaca Dunia
http://www.marjinnews.com/2018/11/andries-dokter-muda-yang-mengabdikan-diri-di-pedalaman-papua.html
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/2018/11/andries-dokter-muda-yang-mengabdikan-diri-di-pedalaman-papua.html
true
971126874416220402
UTF-8
POSTINGAN LAIN Not found any posts LAINNYA Selengkapnya Reply Cancel reply Delete Oleh Home PAGES Kiriman Baca Semua Rekomendasi untuk Anda LABEL ARCHIVE CARI Semua Kiriman Tidak Ditemukan Apa yang Anda Cari Back Home Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 menit yang lalu $$1$$ minutes ago 1 Jam yang lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Pengikut Ikuti THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy