Alfonsus Oma Deak, Si Anak Hilang dari Sumba
Cari Berita

Alfonsus Oma Deak, Si Anak Hilang dari Sumba

MARJIN NEWS
4 November 2018

SOSOK, marjinnews.com - Alfonsus Oma Deak, nama laki-laki paruh baya asal Sumba tersebut mungkin asing di telinga pembaca sekalian. Namun, keasingan ini justrulah menjadi pengantar yang sangat baik untuk kita dapat mengenal pria kelahiran Karawatu 25 Oktober 1982 ini.

Alfons begitu dia akrab disapa merupakan anak yang lahir dan tumbuh di kampung terpencil di Desa Kadumbul, Kecamatan Pandawai, Kabupaten Sumba Timur. Sebagai sulung dari tujuh bersaudara, anak dari pasangan Petrus Deak dan Mathelda Oma Lay (Alm.) tersebut besar dengan perjuangan hidup luar biasa.

Semuanya bermula sejak tahun 2000 silam. Alfons yang menyadari kemampuan keluarganya dalam hal ekonomi masih sangat tertatih-tatih memilih merantau ke Surabaya pasca menyelesaikan pendidikan menengah di SMA Negeri 2 Waingapu.

"Ketika kita sadar bahwa kita itu miskin, tidak ada pilihan lain bagi kita untuk menentukan sikap selain dua hal: mati atau terus bertahan hidup dengan konsekuensi kita siap bekerja keras!" Kata Alfons sewaktu berbincang-bincang dengan marjinnews.com beberapa waktu lalu.

Pada waktu itu, Alfons datang hanya bermodal ijazah SMA dengan sedikit bekal pemberian orang tua untuk melanjutkan studi di perguruan tinggi. Namun, Alfons tidak patah arang. Dia berhasil menyelesaikan studi dengan rentang waktu cukup singkat 3,5 tahun di Sekolah Tinggi Teologi Injili Indonesia (STII) Surabaya. Padahal waktu itu dia harus membagi waktu dengan kesibukan kuliah dan bekerja agar bisa bertahan hidup.

"Saya beruntung lahir dari keluarga miskin. Setidaknya saya tidak pernah memiliki pilihan untuk menghabiskan banyak waktu saya berleha-leha dan terbuang percuma" katanya.

Pada saat mendengar Alfons berkata begitu, marjinnews.com sempat melempar pikirannya sangat jauh entah kemana. Seketika itu juga, pikiran itu bermuara kepada apa yang pernah dikatakan oleh seorang pengusaha ternama di dunia: Bill Gates, "Jika anda terlahir miskin, itu bukan salah anda. Namun jika anda mati miskin, berarti anda salah besar".

Entah Alfons pernah membaca apa yang dikatakan Bos Microsoft itu apa belum, intinya dialah orang pertama yang marjinnews.com temui paling tepat dalam memaknai ungkapan Bill Gates itu.

Terkait Alfons, apa sebenarnya hal istimewa dari ayah seorang Princess Nathanya Deak ini? Dari sekian banyak tokoh yang menginspirasi di Indonesia mahaluas ini mengapa dia dipilih?

Puncak pertemuan kami dengan Alfons adalah ketika pameran Indonesia Bagian Timur (IBT) Expo tengah berlangsung di Hotel Garden Palace, Surabaya pada 31 Oktober 2018 lalu. Selain Arif Kurniawan, Pemimpin Kantor Cabang Pusat Promosi Investasi Produk dan Jasa Unggulan Daerah (P2IPJUD) NTT di Surabaya, ada seorang lelaki berpakaian adat Sumba cukup sibuk menyapa semua peserta acara.

Dengan usianya yang sudah memasuki 36 tahun, jarang kami menemukan orang seperti itu. Menyapa dengan ramah dan bahkan turut mengurus dan membagi makanan kepada peserta pameran asal NTT tanpa sedikit pun rasa cangggung melekat dalam dirinya.

"Alfons sangat luar biasa. Hanya bermodal kecintaannya terhadap budaya dan pariwisata NTT, dia cukup memiliki andil besar dalam acara seperti ini sejak tahun 2016. Tanpa dibayar, dia siap melayani dengan sungguh" ujar Arif.

Bukan hanya itu, dari beberapa kawan yang tergabung dalam organisasi daerah Ikatan Keluarga Besar Sumba (IKBS) Surabaya kami mendapat cerita sangat menyentuh relung hati. Suami dari Merry Diana Gerung ini pernah berhasil mengurusi pernikahan 21 pasangan tidak mampu asal Sumba di Surabaya dengan jaringan dan kemampuan yang dia miliki. Tidak tanggung-tanggung hal-hal kecil seperti cincin pernikahan hingga gedung acara dia upayakan dengan segala keterbatasan dalam dirinya.

"Saya mungkin pengaruh lahir dari keluarga yang serba kekurangan adik, sehingga ketika melihat orang lain kesusahan itu membuat saya tidak lagi memikirkan diri sendiri" ujar Alfons dengan perasaan tidak enak karena takut dinilai menghitung-hitung perbuatan baiknya.

Masih banyak hal-hal lain tentang Alfons yang belum sempat tertulis. Namun, jika anda pernah melihat orang dengan pakaian adat Sumba melakukan Fashion on Walk di jalan raya Surabaya yang panas, dialah salah satunya.

Dengan segala sesuatu yang telah dilakukan Alfons selama hidupnya kurang lebih 18 tahun, ternyata masih ada satu yang belum terwujud yaitu kembali pulang ke kampung halaman. Kembali pulang menurut Alfons bukanlah sebuah pekerjaan semacam liburan atau sekedar mengisi waktu luang apalagi dengan kondisinya sekarang di Surabaya.

"Kita sudah melakukan banyak hal untuk kota ini adik. Bukan untuk kita tetapi untuk mereka. Oleh karena itu, saya ingin pulang. Ke rumah sederhana orang tua saya. Kepada masyarakat yang telah dengan caranya masing-masing membesarkan dan mendidik saya hingga seperti sekarang. Bukan untuk mencari pekerjaan, meski belum cukup mapan dengan kondisi seperti sekarang ini saya merasa sudah cukup untuk diri sendiri. Saatnya ke daerah, kita tuntaskan mimpi yang dulu sampai sekarang menjadi bunga tidur sepanjang malam" ujar Alfons.

Demikianlah sekelumit cerita singkat perjalanan seorang Alfonsus Oma Deak. Dia seperti seorang anak yang hilang dalam cerita Kitab Suci. Namun, tanpa sedikit pun penyesalan. Baginya, hidup merupakan bagian dari sebuah cerita  setiap manusia yang punya hak mengarang narasinya sendiri. Kembali pulang ke rumah, mengabdi kepada masyarakat. Hanya itulah cita-citanya kini. (EC/MN)